Samsara (Putu Fajar Arcana)
May, 25th 2011
Putu Fajar Arcana yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kultur Bali seringkali menggarap tema-tema yang memperlihatkan fenomena identitas itu. Tema-tema itu akibatnya kerap bersifat klise dan dangkal. Tema-tema itu antara lain masalah seputar kasta, perkawinan yang terhalangi, pertarungan adat istiadat yang lapuk, juga konflik antar generasi yang melulu mengedepankan perbedaan.
Karya-karya Fajar seringkali berkutat dengan perihal etnis Bali. Unsur Bali selalu mewarnai tiap cerpen-cerpennya. Bali yang dikenal sebagai surga bumi digambarkan Fajar dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa Bali dengan besarnya kecantikan dan eksotikanya juga mengalami keruwetan di dalamnya, terutama mengenai masyarakat asli Bali dan kulturnya.
Samsara adalah kumpulan cerpen Fajar yang terbit pada 2005. Buku ini berisi 12 cerpen yang semuanya terangkum dalam satu tema yang sama, yaitu kematian atau maut. Selain masalah tema yang mencelat dari ciri khasnya, Fajar sepertinya juga ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dari segi unsur-unsur intrinsiknya. Unsur-unsur tersebut tidak lagi mengambil Bali sebagai esensi cerita. Misalnya, tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ini sebagian besar tidak lagi menggunakan nama-nama khas Bali, latar tempat hampir tidak mengambil latar pemandangan atau pedesaan indah di Bali.
Melalui cerpen-cerpennya terlihat bahwa terdapat benang merah yang muncul--selain tema kematian tadi--bahwa ada beberapa persoalan yang menjadi permasalahan utama cerpen-cerpen ini. Misalnya, masalah reinkarnasi yang muncul pada beberapa cerpen, seperti pada “Requirem” yang bercerita tentang tokoh Derida yang terlalu banyak dosa sehingga ia harus reinkarnasi menjadi anjing, “Drupadi” yang menceritakan Raytina, reinkarnasi dari Drupadi dan juga tokoh Kakek yang merupakan reinkarnasi dari anjing Yudhistira yang setia. Pada “Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu”, tokoh Aku adalah seorang pengusaha yang merupakan reinkarnasi dari seorang pelajar dituduh komunis pada zaman dahulu. Lalu, pada “Aku Cemas Menunggu Matahari” yang bercerita tentang tokoh Rakay yang merupakan reinkarnasi dari seorang kurir pada zaman Belanda, dan terakhir pada “Aku Temukan Diriku Terkapar di Ruang Penyekapan”.
Permasalahan lain yang diangkat adalah cerita bunuh diri yang muncul pada “Lantai Tiga Belas” dan “Perselingkuhan Ayah”. Ada pula cerita yang mengambil persoalan tentang kematian seseorang yang berbuntut ajaib, seperti pada “Lelaki yang Berumah di Halte” dan “Kado yang Terlambat Tiba”. Keajaiban lolos dari maut pun muncul pada “Kereta Senja”. Cerpen ini satu-satunya cerpen yang ceritanya tidak berakhir dengan kematian.
Dari kesebelas cerpen yang berakhir dengan kematian seorang tokoh, baik tokoh utama atau pun bukan, terdapat tujuh cerpen yang mengambil sudut penceritaan dari si tokoh utama yang meninggal. Tokoh Aku yang sudah mati diposisikan sebagai pencerita (“Requiem”, “Drupadi”, “Baru Saja Kusadari tentang Kematian”, “Lantai Tiga Belas”, “Menjelang Tidur Kunyalakan Lampu”, “Aku Cemas Menunggu Matahari”, dan “Aku Temukan Diriku Terkapar di Ruang Penyekapan”).
Dalam cerpen ini, kematian digambarkan bukan akhir dari kehidupan. Fajar seperti ingin mengatakan bahwa setelah kematian masih ada kehidupan lain yang menunggu. Kematian diceritakan dengan gaya penceritaan yang santai. Bahwa maut adalah suatu hal yang mengerikan, tidak tergambar pada cerpen-cerpen Fajar ini.
Hanya saja alur yang melulu menceritakan kematian terasa membosankan karena sebagian besar cerpen-cerpen dalam Samsara ini akhir ceritanya mudah ditebak. Pada akhir cerita selalu ada tokoh yang mati, entah itu tokoh utama atau bukan.
Fast Track:
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005, 118 halaman
Harga: Rp27.500
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter
0 Comments
Be the first to comment.