Kleting Titis Wigati, the 'Talented One'
January, 29th 2010 | by Pinky Olivia | 0
"Fashion Show Too High Production, In A Hotel, I Don’t Think So!"
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Sore itu, saya asyik ngobrol dengan sosok wanita kreatif di balik kesuksesan Kle, clothing line yang sedang 'panas' di Jakarta. Sosok kelahiran 16 November ini baru saja mendapat predikat Young Talented Designer dari Cleo Fashion Award.
Kenapa nama clothing line Anda Klé?
Itu dari nama gue. Karena nama gue cukup unik, nggak ada duanya. Hanya saja, nama gue, kan, susah. Waktu sekolah di Milan juga semua orang kesulitan menyebut nama gue, Klenting. Jadilah gue cukup dipanggil Kle. Sebenarnya, pencarian nama ini simpel dan personal. Arti nama itu cukup universal, termasuk short nama gue.
Apakah rancangan Anda hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu?
Sebenarnya, semua orang pantas. Sebab, gue nggak mau membatasi orang. Gue lebih bersikap netral dalam desain dan melihat kepribadian secara luas. Klé bisa untuk orang yang kepercayaan dirinya tinggi. Hanya, alangkah baiknya jika orang-orang ‘biasa’ atau pemalu yang mengenakan Klé bisa tampil lebih percaya diri, berkarakter, and at the same time, playful with confidence.
Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk mempersiapkan koleksi?
Dibilang cepat, nggak. Dibilang lama, nggak juga. Kebetulan, dua tahun terakhir gue membuat garmen di rumah sambil mempersiapkan segalanya untuk koleksi gue. Kalau dihitung per koleksi, 1 koleksi perlu waktu 1,5 bulan dan 1 koleksi 24 style. Untuk Silent Bliss 30 style dan Harvey Nichols 12 outfit. Kira-kira, 25 style yang setiap style tersedia 25 piece dengan ukuran S, M, dan L.
Di mana saja karya Anda bisa didapat?
Sekarang, sih, baru dijual di Jakarta. Kalau lancar, semoga dapat buyer dari luar. Gue juga berkolaborasi dengan Harvey Nichols untuk Februari awal. Rancangannya lebih eksklusif, tapi dengan koleksi yang lebih mahal. Desainnya juga lebih elaborate. Fabrics yang digunakan tentu lebih high (baca: bagus). Harganya akan dibanderol sekitar Rp2–4 juta.
Kabarnya, Anda pernah bekerja di Hongkong?
Ya, 60 Far East Hongkong memegang Miss Sixty, Energie, dan Kilah. Tapi, gue hanya pegang, sebagai product development assisstant. Main design dikirim dari Italia. Gue bantu mereka membuat development-nya. Kami sourcing bahan, kirim ke Italia, mereka approve, kami buat koleksi. In between collection, gue juga desain dan jahit. Waktu Miss Sixty baru buka di Jakarta, ada silk warna coklat, itu gue yang buat.
Selain itu, gue sempat juga kerja di BERIK (Brand Motorcycle Outfit), technical outfit yang mensponsori Loris Capirossi, pembalap MotoGP). Gue diberi kepercayaan untuk mendesain casual outfit, bukan technical outfit-nya. Tantangan di BERIK, gue belajar untuk tidak terlalu idealis. Walau begitu, gue berusaha tetap mengerti pasar, tapi tetap mempertahankan gaya gue. Masih ada nafas gue-nya, lah.
Perbedaan fashion Jakarta dan Hongkong dari segi market dan style?
Di Hongkong, market buying power-nya besar sekali. Segala macam dibeli. Segmennya jelas. Di sana, mereka tahu style. At least they have their own personal style but they don’t have personality. Market-nya juga lebih bagus dan mendunia. Tapi, mereka kaku. Beda kalau di Indonesia. Setiap orang punya gaya sendiri, dan personality.
Tolong ceritakan tema Fall/Winter Anda kemarin?
Oh, temanya obscurity; gelap, tegas, something we should breakthrough. Warna yang dipakai juga gelap-gelap, seperti broken white, abu-abu, dan hitam. Line-nya ’keras’ dengan desain yang lebih konservatif, karena untuk usia 20–40. Meskipun begitu, semua bisa mengenakan tergantung paduannya.
Bisa Anda ceritakan tentang koleksi Spring/Summer '10 yang bertema Silent Bliss?
Persiapannya cepat banget, dimulai dari September dan November sudah siap fashion show. Pattern-nya dibantu teman gue, Yuriza Kenobi. Konsepnya, segala macam nyambung dengan perasaan. Menyatukan apa yang bisa incooperated dengan desain. Saat itu, perasaan gue lagi enak banget. Inspirasinya dari perasaan senang, bebas, lega, pokoknya bliss. Ceritanya ada ray of light, like you're in a lake. Mengkilat, images, thoughts. Sesuatu yang nggak bisa loe gambarkan, tapi menunjukkan rasa tenang dan damai.
Kenapa orang harus membeli koleksi Klé?
Mungkin, bisa mendongkrak kepercayaan diri untuk pembeli. Selain itu, gue ingin desainer Indonesia maju. Karena kita nggak kalah dengan desainer luar, dengan mass production yang sudah ada. Selain bisa gaya, bagus, dan tampil percaya diri, kita juga bisa mengangkat industri mode Indonesia.
Ada niat untuk membuat second line atau couture?
Kalau couture, nggak ya. Soalnya, gaya gue belum terlalu “duaaar”. Mens wear, sih.
Lalu, di Harvey Nichols?
Koleksi di sana hanya lebih eksklusif saja. Gue buat lebih limited. Barangnya nggak sebanyak Klé. Hanya baju dan sepatu saja.
Siapa desainer dunia idola Anda?
Ada tiga. Pertama, Alexander McQueen. Dia, tuh, segala-galanya jelas. Koherensinya untuk satu koleksi bagus banget. Lalu, ada desainer Italia yang tidak begitu tenar. Namanya, Antonio Marras. Dia pernah jadi creative director Kenzo. Kenapa? Sebab, detail, rancangan, dan konsepnya bagus serta nggak terlalu berlebihan. Koleksinya menyentuh. Pertama kali nonton fashion show-nya, gue nangis. Gila, kok, romantis banget! Itu pertama kali gue mengerti kalau loe desain baju, bukan hanya mendesain, tapi juga harus memasukkan jiwa loe. Makanya, gue sering menggunakan perasaan di setiap koleksi gue. Begitu kena di hati, loe seperti berpikir, its not only a piece, soul, ini nyawa.
Menurut Anda, kekurangan dan kelebihan dunia fashion Indonesia saat ini?
Kekurangan, industrinya masih agak kurang. Pabrik yang maunya minimum ordernya banyak banget. Satu lagi, kepercayaan masyarakat. Kalau dari style, mulai dari konsep segala macam, every designer has their own style. No one can judge actually. Semacam, “Ah, ini jelek, itu jelek.” Dari kejelekan itu loe nggak tahu konsepnya apa. Jadi satu yang paling kurang adalah kepercayaan masyarakat untuk membeli produk rancangan desainer Indonesia. Tanpa itu, kita nggak bisa create lebih bagus dan menjanjikan. Ya, kan?
Pernah blank kehabisan ide saat mendesain?
Pernah banget! Kalau begitu, biasanya gue tidur.
Akan seperti apa Kle’ 10 tahun mendatang?
Insya allah buyer Klé sudah banyak di seluruh dunia. Bulan Maret juga Klé membuka flagship store di Grand Indonesia.
Obsesi Anda sendiri tahun depan?
Ingin mengadakan show tunggal. Sudah terbayang konsepnya. Tapi, fashion show too high production, in a Hotel, I don’t think so. Just wait and see, gue ingin membuat sesuatu. I won’t let you know.
What's Kleting in three words?
Fearless, playful, determination.




0 Comments
Be the first to comment.