HOT SEAT

Syahmedi Dean

February, 10th 2010 |  by  Putri Ningrum  | 0

"Benci Nggak Benci Pasti Dibaca!"

Di serial ini, saya ingin mencerminkan lifestyle-nya fashion Di serial ini, saya ingin mencerminkan lifestyle-nya fashion

Selama ini saya hanya menjalankan semuanya begitu saja Selama ini saya hanya menjalankan semuanya begitu saja

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Senin adalah awal minggu yang menjadi momok banyak orang. Tapi, tidak bagi saya yang kala itu sedang menikmati ‘crispy’-nya celotehan penulis “abso–fashion-lutely” yang baru menelurkan buku terbarunya.

Kesibukan saat ini?

Sekarang, saya Design Consultant dan PR Consultant untuk produk-produk lifestyle dan fashion. Selain itu, saya juga sedang menggarap novel terbaru dan menjadi kontributor beberapa majalah, termasuk area yang teksnya telat terus. Ha-ha-ha.

Apakah Anda akan terus bergelut di dunia tulis-menulis?

Ya. Saya sedang memformulasikan suatu pekerjaan yang menghasilkan uang tanpa berkeringat, dan menulis adalah jawabannya. Saya ingin skill menulis saya growth bersamaan dengan usia. Mungkin 10 tahun ke depan, cara pandang saya terhadap sesuatu akan berubah menjadi lebih baik.

Menulis buku bagi Anda sesuatu yang serius atau hanya selingan?

Serius. Sekarang ini, saya sedang mencoba pula berbagai kemungkinan. Dan, sekarang saya sedang membuat film semi-dokumenter tentang fashion jurnalism sebagai script writer dan sutradara. Samuel Mulia yang akan jadi bintang utamanya.

Bisa ceritakan tentang Apa Maksud Setuang Air Teh (AMSAT)?

Ini seri final dari keeempat novel fiksi saya yang sebenarnya masing-masing dapat berdiri sendiri. Melalui keempatnya, saya ingin memotret kehidupan urban dari sisi orang majalah. Bagaimana berinteraksi sosial, harapan, perasaan cinta, dan cita-cita terjadi pada orang permajalahan. Yang ingin saya gambarkan adalah apakah kerja dan cinta itu murni dari hati atau terbentuk dari sifat kota (padat dan macet) ataupun tergerak oleh lingkungan pekerjaan. Selain itu, saya juga ingin mengangkat kesenangan berinteraksi dengan kalangan fashion. Saya pikir lahan ini dicintai banyak orang. Benci atau tidak benci pasti dibaca.

Tokoh-tokohnya benar-benar fiktif atau terinspirasi dari orang-orang dekat?

Semuanya fiktif dan merepresentasikan ‘kisah’ yang dialami di dunia majalah. Saya juga menggunakan permainan bahasa yang tangkas yang digunakan orang-orang majalah. Misalnya, seperti ngeles yang biasa dilakukan orang majalah. Ngeles itu indah dan itu saya gambarkan di sini. He-he-he. Untuk tokoh, seperti dalam kebutuhan cerita yang biasa saja. Dan, dari semuanya itu, saya tempatkan semua di empat tokoh utama dengan mengambil sedikit dari teman saya yang A, B, C, dan seterusnya.

Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk menyelesaikan AMSAT?

Sebenarnya, AMSAT sudah saya mulai dari 2007. Tapi, karena tuntutan pekerjaan, ya, terpaksa tertunda. Saat ingin memulai lagi, agak sulit bagi saya terutama untuk menghidupkan kembali arwah-arwah dari keempat ‘anak-anak’ saya. Ada yang kayaknya kurang bencong, kurang culas, tapi untungnya, setelah melalui proses yang agak panjang dapat terselesaikan juga dengan tetap mendapatkan ‘crispy’-nya apalagi setelah hang out lagi bareng orang fashion.

Untuk pemilihan judul yang catchy, apakah ada alasan tertentu?

Di serial ini, saya ingin mencerminkan lifestyle-nya fashion. Di bisnis fashion, mereka senang dengan penyingkatan, misalnya DKNY, ZA, sampai dengan D&G. Itu saya cerminkan dalam permainan judul. Nah, untuk judul, saya ingin yang gampang diingat, gampang dieja, dan keluarnya formulasi singkatan ini. Melalui ”Apa Maksud Setuang Air Teh” (AMSAT), saya ingin mencari sebuah aktivitas yang mencerminkan interaksi sosial yang hits dan pilihannya jatuh kepada aktivitas minum teh. Apalagi, orang-orang majalah sering nongkrong di kafe dan kalau akhir bulan, teh menjadi ’andalan’ mereka.

Apa arti ”Apa Maksud Setuang Air Teh” (AMSAT) bagi Anda? 

Pencapaian taraf menulis saya sampai selevel ini. Karena di ketiga novel saya sebelumnya, setiap masukan dan kritikan saya jadikan pelajaran. Dalam AMSAT, setiap pelajaran saya blend. Selain itu, saya juga ingin menunjukkan bahwa dengan kritik dan masukan mereka saya bisa jadi seperti ini.

Setelah ini, karya seperti apa lagi yang ingin Anda telurkan?

Sekarang, saya sedang membuat novel tentang keadaan masyarakat di perkebunan karet Sumatra Utara. Masih hangat dalam ingatan saya tentang kehidupan mereka karena saya berasal dari sana. Untuk yang ini, saya ingin memotret banyak aspek dan tentu tak ketinggalan cerita cinta dan warna fashion-nya. He-he-he. Tapi, dalam perjalanan, cerita lokasinya akan berada di garis imigrasi, yaitu Tebing Tinggi, Medan, Singapura, dan Hongkong.

Kesulitan penggarapan novel Anda yang sekarang?

Mengalokasikan waktu untuk ke sana lagi dan mempelajari bahasa-bahasa slang chinesse itu jadi tantangan utama.

Bagaimana bisa mencetuskan ide-ide seperti yang tertuang dalam tulisan Anda?

Ya, only based on something that happen at the moment. Ha-ha-ha! Kadang-kadang juga mentok nggak ada ide. Jadi, saya suka melempar sesuatu yang asal ke public melalui Facebook. Atau, kalau benar-benar sedang mind block, maka saya justru harus main dengan orang-orang di luar lingkungan sehari-hari.

Sudah ada tawaran untuk memfilmkan novel Anda?

Waktu itu, pada 2005, Jakarta Paris via French Kiss (JPVFK) sempat ditawari Nokia untuk dijadikan film. Tapi, saat itu, pihak Nokia inginnya dengan Nia Dinata. Sementara waktu itu, Nia sedang dalam proses pembuatan Berbagi Suami. Jadi, akhirnya batal. Namun, untuk semua novel saya, saya buat sedeskriptif mungkin memvisualisasikannya agar sewaktu-waktu kalau ada yang tertarik memfilmkannya jadi lebih mudah.

Selama ini, apa yang telah Anda kontribusikan bagi Indonesia?

Dari dulu, semenjak di majalah, saya mewajibkan para penulis untuk menggunakan judul dan subjudul dengan bahasa Indonesia. Memang, rasanya setengah mati. Tapi, itu salah satu usaha saya sebagai bukti kepedulian dan kecintaan saya pada Indonesia. Lagipula, ketika di market hasilnya lebih terasa berkarakter.

Sepuluh tahun dari sekarang, seorang Syahmedi Dean akan menjadi seperti apa?

Wah, apa ya? Saya tidak pernah memikirkan. Selama ini saya hanya menjalankan semuanya begitu saja.

Bookmark and Share

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.