Jakarta Kotor Namun Apapun Bisa Menghasilkan Uang
February, 11th 2010 | by Hanindyo Suropati | 3
Dapin (55 tahun)
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Akhir-akhir ini hampir di setiap perempatan lampu merah di Jakarta terdapat atraksi topeng monyet. Saya pun teringat kembali hiburan masa kecil dan penasaran untuk ‘menginterogasi’ sang pawang. Inilah hasilnya.
Apakah Anda asli Jakarta?
Saya dari Brebes. Pindah ke Jakarta pas zaman pak Harto jadi Presiden. Kira-kira pada 1979 lah.
Sebenarnya apa sebutan untuk pekerjaan ini?
Yah, topeng monyet lah mas. Apalagi emangnya.
Ha-ha, saya mengira ada sebutan lainnya. Sudah berapa lama bapak menjalani pekerjaan ini?
Kurang lebih 6 tahun. Mulai dari 2003 sampai sekarang.
Siapa nama monyet ini dan apa kelebihannya?
Uchil, dia sudah bersama saya sejak memulai pekerjaan ini. Dia baik, tidak galak, dan penurut. Makanannya pun murah hanya nasi kaya saya, ha-ha.
Monyet ini milik Bapak sendiri?
Bukan. Saya menyewanya, ongkosnya Rp25.000/hari.
Apa pekerjaan Bapak sebelumnya?
Pedagang nasi goreng di depan Kodim Jatinegara selama bertahun-tahun, namun sejak digusur saya beralih ke pekerjaan ini.
Bapak menyukai pekerjaan ini?
Yah lebih baik daripada jadi tukang nasi goreng. Karena pekerjaan ini lebih mudah dan tidak capek. Tidak perlu belanja, masak, membuat bumbu, dan lainnya.
Adakah momen-momen tertentu dimana Anda ’ditanggap’ dan pendapatannya cukup banyak?
Ketika Maulid-an dan perayaan hari kemerdekaan RI, saya bisa mendapatkan Rp150.000-Rp200.000. Kalo harian saya keluar masuk kampung paling banyak Rp.50.000
Menurut Anda apa kekurangan dari kota ini?
Sekarang Jakarta tidak bersih dan lowongan pekerjaannya semakin sedikit.
Mengapa Anda hijrah dan menetap di Jakarta?
Di Jakarta usaha apapun bisa menghasilkan uang. Kalo di kampung kan susah, kudu nyangkul dulu.




sister of silence
February, 11th 2010
maksud dari judul Dapin (55) apa ya? gak ngerti. :)