Wanderer, Perkelanaan Ditemani Ribuan Denting
February, 23rd 2010 | by Astri Apriyani | 1
Sang pianis pernah mengatakan ingin membuat musik klasik jadi kembali hip dengan memasukkan unsur kekinian. Saya mencoba menikmati konser dan mencari-cari apa yang 'baru' di sana.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Memasuki Gedung PPHUI Kuningan, pikiran saya terfokus pada satu hal: apakah kesegaran yang akan ditawarkan pianis 25 tahun ini dalam resital perdananya di Indonesia? Apa pula yang akan dia suguhkan agar para pengunjung, terutama yang bertelinga awam seperti saya, tetap duduk di tempatnya? Saya merasa harus mencoba perkelanaan yang digelar Ferdy Tumakaka 18 Februari lalu dalam resital piano perdananya, Wanderer.
Tampil dengan outfit simple; berkemeja santai, bercelana bahan, dan sandal, berganti atasan batik di tengah konser; Ferdy menampakkan diri di hadapan penonton. Itu tepat pukul 20.00. Ferdy terburu-buru duduk di depan piano dan memainkan track pertama, "French Suite" milik Bach. Dramatisasi dan kekuatan emosi pada musik Bach segera memenuhi PPHUI. Mengenai keahlian Ferdy, sudah tidak perlu lah dibahas lagi. Jika Richard Wagner, pakar musik dan komponis Jerman, pernah bicara soal Bach begini: the most stupendous miracle in all music. Mungkin, soal Ferdy saya bisa bilang, saat ini dia pianis muda yang punya potensi kuat mengangkat musik klasik di Indonesia.
Beralih ke list kedua, "Wanderer Fantasy" karya Franz Schubert. Lagu ini dikatakan sebagai nomor yang luar biasa sulit dalam sejarah repertoire piano. Bahkan, Schubert sendiri pernah menyatakan dalam konsernya, "Suruh saja setan yang memainkannya. Saya tidak mampu." Namun, dengan rasa dan teknik ala dirinya, "Wanderer Fantasy" jadi tampil sangat "cantik" di tangan Ferdy. Dan, tantangan positif ini terselesaikan dengan baik.
Selepas jeda, pertunjukan dilanjutkan dengan "Images, Book 1" milik Debussy yang berisi tiga lagu; Reflets dans L'eau, Hommage a Rameau, dan Mouvement. Lalu, "In the Kraton" karya Leopold Godowsky. Dibuka sajak yang dibawakan Nicolas Saputra, lagu ini merupakan yang terindah menurut saya. Bukan hanya karena berisi tentang kesan Godowsky soal Jawa, tapi Ferdy memang membawakannya dengan syahdu. Menghipnotis, mungkin kata yang tepat. Membuat saya bisa 'melihat' keindahan Jawa versi Godowsky. Sebagai penutup yang manis, "Bolero" karya Chopin yang rumit, tapi menyenangkan dimainkan.
Peralihan dinamika lembut-keras atau sebaliknya dan perubahan tempo cepat-lambat/lambat-cepat, ya, pasti sudah dia pahami, serta ditampilkan nyaris tanpa cela. Itu teknis. Sementara, untuk rasa, saya bisa bilang dari sisi orang awam, Ferdy Tumakaka sukses membuat saya curious pada apa yang akan dia tampilkan selanjutnya. Dan, bagusnya, sama sekali tidak membosankan. Tapi, mengenai kebaruan yang dia ingin sampaikan, tunggu dulu. Ini masih seperti musik klasik yang saya dengar selama ini, meskipun memang ada interpretasi baru di sana-sini dari sang pianis. Sukses, Ferdy Tumakaka!
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter




keriting
February, 24th 2010
News Good, I like this :P