TRAVEL

Berkelana ke Negeri Naga, Part Two: Shenzhen

March, 1st 2010 |  by  Martin Johnindra  | Comments: 4

Setelah menikmati tiga hari dua malam di Hong Kong, saatnya saya untuk berpindah kota. Shenzhen di Cina Daratan menjadi destinasi berikutnya.

Salah satu 'sudut' Shenzhen Salah satu 'sudut' Shenzhen

'Arc de Triomphe' di Cina? by Indera Dewaputera 'Arc de Triomphe' di Cina? by Indera Dewaputera

Ada pula 'Taj Mahal' di Cina Ada pula 'Taj Mahal' di Cina

Welcome to China Folk Culture Village Welcome to China Folk Culture Village

Miniatur Dali Three Ancient Pagodas Miniatur Dali Three Ancient Pagodas

Show menakjubkan! by Indera Dewaputera Show menakjubkan! by Indera Dewaputera

Lo Wu Commercial City Lo Wu Commercial City

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Berlokasi di Pearl Delta River, ini sebenarnya merupakan sebuah kota ‘baru’ di Cina Daratan. Dibangun pada era pemerintahan Deng Xiaoping tahun 1979, Shenzhen dijadikan kota ekonomi baru guna menyaingi Hong Kong kala itu. Bahkan, ia sempat pula menjadi kota termaju di jamannya mengalahkan Shanghai.

Saya memasuki Shenzhen dari Hong Kong melalui Hong Kong-Shenzhen Western Corridor. Jembatan sepanjang 5,5 km ini menjadi jalur masuk menuju dua kota besar ini. Ya, jarak antara keduanya memang tidak terlalu jauh. Setelah menyebrang, saya sampai di Shenzhen Bay Control Point untuk urusan keimigrasian. Lucunya, jarak antara titik pemeriksaan di dalam gedung ini hanya berjarak sekian meter saja, inilah sebuah kenyataan dari diberlakukannya pemerintahan satu negara dua sistem.

Keluar dari gedung ini, saya mulai bergerak ke pusat kota. Saya merasakan satu hal yang menarik. Suasana kota ini nampak jauh berbeda dari Hong Kong. Menurut saya, kota ini masih menyisakan ‘dingin’-nya sebuah negara bekas komunis. Gedung-gedung yang kaku dan cenderung kuno, jalan raya yang lebar, serta perilaku masyarakatnya yang cenderung tidak ramah dan tertutup. Ini merupakan sebuah pengalaman psikologis dan juga antropologis menarik bagi saya.

Cukuplah membahas tentang kondisi kota ini. Kini saatnya menyibak sisi menariknya. Shenzhen memiliki beberapa travelling spot favorit yang unik, pertama adalah Shenzhen Windows of The World. Di tempat ini Anda bisa berkeliling dunia dalam waktu dua jam dengan berjalan kaki. Mengapa, sebab dalam kawasan seluas 480.000 m² ini terdapat berbagai miniatur objek-objek wisata dunia ternama, seperti Alcazar Castle, Taj Mahal, Arc de Triomphe, Sydney Opera House, hingga Candi Borobudur. Cobalah pula Alps Indoor Ski Dome untuk menikmati salju dan ski dalam ruangan.

Usai ‘berkeliling dunia’, kini saatnya ‘berkeliling Negeri Cina’ di Shenzhen Splendid China and China Folk Culture Village. Area seluas 22 hektar ini berisikan miniatur aneka scenic spot di Cina, misalnya Tembok Besar, Dali Three Ancient Pagodas, Scenery of Lijiang, dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, rumah-rumah tradisional dari berbagai suku bangsa yang tersebar di Cina Daratan, seperti suku Uygur dan Tibet bisa dilihat. Anda pun dapat pula menyaksikan berbagai kesenian tradisional dari etnis-etnis tersebut. Di dalam kawasan luas ini tersebar pula berbagai toko maupun kios suvenir menarik khas Cina. Sebagai penutupnya, pada malam hari Anda harus menyaksikan open-air evening show, Dancing with The Dragon and The Phoenix di Phoenix Plaza. Show ini menceritakan cerita rakyat mengenai asal usul negeri Cina. Tarian tradisional dan kontemporer dipadukan dengan alunan musik dan juga teknologi mutakhir menjadikan show selama kurang dari dua jam terasa tidak membosankan.

Nah, tujuan lain yang pastinya diincar wisatawan di kota ini adalah Lo Wu Commercial City. Jika Anda memasuki kawasan ini, suasananya memang seperti pusat belanja Mangga Dua di Jakarta. Mengapa? Lo Wu merupakan tempat belanja yang menjual aneka barang, mulai dari perhiasan, tas, baju, hingga elektronik. Namun, satu hal yang patut dicatat, hampir bisa dipastikan semua yang dijual di sini adalah barang tiruan. Jadi, Anda harus pandai memilih dan juga berani menawar harga.
Terakhir, Shenzhen juga merupakan kota yang tepat bagi Anda untuk berburu aneka obat herbal tradisional Cina yang dikenal ampuh selama bertahun-tahun untuk melawan berbagai penyakit. Tapi, patut diingat oleh Anda untuk senantiasa berani menawar dan membeli apa yang benar-benar dibutuhkan. Sebab, kerap kali mereka akan sedikit memaksa Anda memborong obat-obatan yang mungkin tidak terlalu dibutuhkan.

Perjalanan saya di negeri Cina masih berlanjut. Ikuti terus catatan perjalanan saya di kota Macau pada posting selanjutnya!

Contact the writer at martin.johnindra@mediasatu.com
Follow him on twitter

Comments

Bernie

June, 18th 2010

Numpang nanya ya Pak... kalau dari HK ke Shenzhen, makan waktu perjalanan berapa lama ya? Lebih dekat mana ya, HK-SZ atau GZ-SZ? Kemudian, apakah dibutuhkan Visa khusus? Terima kasih sebelumnya....

anno'

August, 15th 2010

ikut pertanyaan atas..visa yg di china berlaku gak di HK ?....

Martin

August, 16th 2010

@ Bernie: Dari HK ke Shenzhen kalo melalui jembatan Hong Kong-Shenzhen Western Corridor sekitar 10-15 menit saja. untuk masuk ke Shenzhen (China Mainland) dibutuhkan visa...

@Anno: Visa untuk China Mainland bisa untuk masuk ke HK... Tapi sebenarnya kalo dari Jakarta langsung ke HK, nggak perlu pakai visa...

Iyank

January, 27th 2011

Maaf pak mau numpang tanya .
Kalo jarak window of the world k splendid china deket gak ?! Kira2 tmpat ny bgus n berkesan yang mana !?
Mohon dbalas .. Saya perlu refrensi
Trmksh sblmny :)

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.