Jika saya mampu memecah raga menjadi 19, sesuai jumlah panggung yang ada, ini akan jadi lebih mudah. Ok, saya tahu itu konyol. So, this is the best i could get. Simak pengalaman saya menghadiri festival Jazz terbesar di Indonesia ini pada 5, 6, 7 Maret lalu.

Day One

Venue baru yang terletak di JIExpo, Kemayoran, memang membawa ketertarikan tersendiri untuk menghadiri Axis Java Jazz Festival 2010 kali ini. It’s bigger than ever, seperti yang Anda sudah tahu. John Legend, yang menjadi magnet penyedot massa utama, dijadwalkan tampil hari ini juga. Sebuah pembukaan yang manis bagi sebuah festival  yang ingin langsung menyedot perhatian. Tapi, siapa pula yang punya ide menaruh show-nya di 20.30? Anda tahu, bahwa rush hour hari Jumat plus sebuah festival super besar bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan terkait dengan lalu-lintas. Untungnya, panitia cepat tanggap dan mengendurkan jadwal tampilnya. John Legend telat tampil, tapi pembeli tiket diuntungkan.

Penampilan John Legend yang memang telah ditunggu-tunggu –mengingat tiket special show nya sudah ludes sejak sebelum acara- ternyata berjalan mulus. Ia punya karisma, punya lagu yang sudah familiar di kuping penonton, dan punya kualitas. Tak heran, banyak yang sing along ketika ia menyanyikan lagu-lagu andalannya seperti "Save Room" dan "Ordinary People". Oh, Melanie Ricardo mungkin jadi orang yang paling beruntung malam itu, setelah John mengajaknya berdansa di sela-sela penampilan.

Satu lagi yang perlu ditonton malam itu ialah Eric Bennet. Ia diiringi oleh Ron King Big Band yang benar-benar luar biasa. Eric tampil dengan setelan jas, dasi hitam, dan kacamata hitam. Ditambah suara empuk dengan vibra yang akurat, ia benar-benar bisa membuat jatuh hati wanita di era 80-an. Meski demikian, ia seperti bermain di nada-nada yang 'aman'. Memang banyak improvisasi yang dilakukan, tapi tak ada yang benar-benar membuat saya merinding mendengarnya. 

Yang paling menarik buat saya malam itu justru penampilan The Rat Pack yang didatangkan langsung dari Vegas. Ini seperti memindahkan ambience sebuah kasino ke JIExpo. Dan, mereka yang merupakan impersonator dari karakter Dean Martin, Frank Sinatra, dan Sammy Davis Jr. ini benar-benar menghibur dengan karakter unik masing-masing. Mereka mengajak penonton bernyanyi, berdansa, dan bahkan tertawa. Ya, ini harfiah. Jika bukan penyanyi, mereka tentu sangat berbakat menjadi pelawak. Pertunjukkan mereka yang dengan gemilang membawa penonton kembali ke era 60-an mengakhiri hari pertama saya di Axis Java Jazz Festival 2010.

Day Two

Hari kedua saya awali dengan menonton Endah N Rhesa yang main di panggung akustik kecil di dekat lobi. Apa yang terlihat di sana sungguh luar biasa, para penonton rela duduk berdesak-desakkan, sebagian lain berdiri menonton di kejauhan saat mereka melantunkan lagu-lagu ballad mereka yang easy listening.

Kekuatan mereka, selain dari sisi skill untuk membuat dua instrumen (gitar dan bass) saja terdengar 'penuh', tentu terdapat pada unsur story telling dalam materi mereka. Lagu-lagu seperti "Uncle Jim" dan "When You Love Someone" dibawakan dengan apik, mengundang riuh sorak dan tepuk tangan penonton selama pertunjukkan. Stage performance mereka juga terlihat matang oleh pengalaman. Apa yang kurang dari penampilan mereka hanya dua: Panggung yang lebih besar dan AC yang lebih dingin.

Yang berikutnya adalah Breakestra. Ini sungguh unik. Miles Tackett, yang menjadi motor band ini memadukan elemen breakbeat dengan jazz. Dan, ia lebih suka memainkannya secara live. Hasilnya adalah sebuah fussion yang menarik untuk ditonton. Meski sebagian besar penonton kurang mengenal lagu-lagu mereka, toh, mereka semua bergoyang mengikuti iramanya. Stage ini 'hidup' berkat kreatifitas mereka memadukan segala macam instrumen menjadi satu kesatuan. Mereka tampil selama kurang-lebih satu jam.

Setelah itu, agenda yang tak kalah penting ialah special show hari ini, Toni Braxton. Artis ini menyebabkan antrian panjang sejak dua jam sebelum penampilannya. Di panggung, ia membawa serta the Braxtons, yang merupakan grup-nya sebelum ia berkarir solo. Munculnya Kenny 'Babyface' Edmonds ke atas panggung merupakan sebuah kejutan kecil yang menyenangkan. Setelah itu, ia memang tampil luar biasa. Lagu demi lagu seperti "Shoulda Brought You Home" dan "He Wasn't Man Enough" dinyanyikan dengan pesona yang mampu menghipnotis penonton. Saya melihat wajah kegirangan di mana-mana, terutama pada bagian encore saat Toni Braxton menyanyikan hits abadinya, "Unbreak My Heart". Anda bisa membayangkan sendiri suasananya.

Day Three

Ini merupakan hari terakhir dari Axis Java Jazz Festival 2010. Pertunjukkan pertama yang saya tonton ialah State of Monc asal Belanda. Mereka ini beranggotakan enam orang dengan alat beragam, mulai dari yang 'standar jazz' seperti saksofon hingga synth dan laptop berisi sampling-sampling suara futuristik. Pada saat mereka tampil, penontonnya terbilang sepi -atau hall-nya yang terlalu besar untuk ukuran mereka-. Entahlah, yang jelas, saya suka mereka.

State of Monc membawa ambience yang dark di awal penampilan melalui suara-suara elektronik yang dihasilkan. Setelah itu, ketika terompet dan saksofon mulai mengisi, nuansa musiknya berubah drastis menjadi lebih ceria dan danceable.

Mereka makin menggila di setiap lagunya. Bagaimana tidak? Mereka bahkan memasukkan beat-beat drum and bass ke dalam lagunya. Ini seperti mendengarkan London Electricity, dan ini membuat penonton yang tadinya menonton sambil duduk mulai berdiri dan merapat ke depan stage. Permainan solo saksofon, drum, dan kemudian bass-nya benar-benar luar biasa. Saya memberi acungan jempol untuk Robin Koerts, sang pemain bass, yang meski penampilannya seperti guru matematika, tapi membuat saya merinding ketika melihatnya melakukan tapping pada senar bass.

Hari terakhir festival ini juga dimeriahkan oleh penampilan Kenny 'Babyface' Edmonds serta kedatangan wakil presiden RI, Boediono, dengan pengawalnya yang overprotective. Ini kembali membuat antrian menjadi begitu panjang. Untungnya, ia tidak lama. Para penggemar pun langsung membanjiri hall untuk menyaksikan sang 'hitmaker' secara langsung. Babyface memang tak hanya piawai dalam menciptakan lagu, tapi juga menyanyikannya. Ia membawakan lagu-lagu seperti "Don’t be Cruel", "End of the Road", serta lagu kolaborasinya dengan Eric Clapton, "Change the World", sebelum menutupnya dengan "When Can I See You Again" yang dimainkan dengan akustik. Sangat menarik.

Saya sempat menyaksikan penampilan George Duke dan Rufus sebelum mengakhiri 'petualangan' di Axis Java Jazz Festival 2010 dengan kesan puas. Rasa sesal karena tak bisa menonton setiap performer yang hadir memang ada. Tapi, inilah konsekuensi jika Anda hadir di sebuah festival besar. Di luar itu, saya ingin memberi applaus untuk panitia. Persiapannya terlihat matang, dan, sarana pendukung untuk pengunjung seperti stan makanan, toilet, hingga pusat informasi tertata dengan baik, layak pakai, dan mudah ditemukan. Hanya, ada beberapa catatan kecil dari saya, yaitu masalah parkiran yang kurang teratur, serta masalah sinyal telpon genggam yang mendadak drop selama berada di venue acara. Banyak orang, melalui social media seperti Twitter, menuding Axis tidak jujur, dengan memblokade sinyal provider lain. Dari pihak AXIS sendiri, melalui akun Twitter @AXISJavaJazz melakukan klarifikasi seperti berikut. "Just to clarify,tweeps:AXIS tdk pernah & tdk akan mblokir signal operator apapun selama AXIS JJF. We believe in honesty and good deeds :-)" Bagaimana pun, dua hal ini perlu diperbaiki tahun depan.

Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter