ENTERTAINMENT

Axis Java Jazz Festival 2010: Paling Besar dan... Paling Susah Sinyal?

March, 9th 2010 |  by  Bayu Maitra  | 13

Jika saya mampu memecah raga menjadi 19, sesuai jumlah panggung yang ada, ini akan jadi lebih mudah. Ok, saya tahu itu konyol. So, this is the best i could get. Simak pengalaman saya menghadiri festival Jazz terbesar di Indonesia ini pada 5, 6, 7 Maret lalu.

Manhattan Transfer yang legendaris Manhattan Transfer yang legendaris

Eric Bennet tampil 'aman' Eric Bennet tampil 'aman'

Endah N Rhesa perlu panggung yang lebih besar Endah N Rhesa perlu panggung yang lebih besar

Nice crowd at AXIS Java Jazz Festival 2010 Nice crowd at AXIS Java Jazz Festival 2010

John Legend menciptakan 'save room' untuk penonton John Legend menciptakan 'save room' untuk penonton

Babyface tampil maksimal Babyface tampil maksimal

Rufus suguhkan funk jazz enerjik Rufus suguhkan funk jazz enerjik

Pesona Toni Braxton masih memukau penonton Pesona Toni Braxton masih memukau penonton

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Day One

Venue baru yang terletak di JIExpo, Kemayoran, memang membawa ketertarikan tersendiri untuk menghadiri Axis Java Jazz Festival 2010 kali ini. It’s bigger than ever, seperti yang Anda sudah tahu. John Legend, yang menjadi magnet penyedot massa utama, dijadwalkan tampil hari ini juga. Sebuah pembukaan yang manis bagi sebuah festival  yang ingin langsung menyedot perhatian. Tapi, siapa pula yang punya ide menaruh show-nya di 20.30? Anda tahu, bahwa rush hour hari Jumat plus sebuah festival super besar bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan terkait dengan lalu-lintas. Untungnya, panitia cepat tanggap dan mengendurkan jadwal tampilnya. John Legend telat tampil, tapi pembeli tiket diuntungkan.

Penampilan John Legend yang memang telah ditunggu-tunggu –mengingat tiket special show nya sudah ludes sejak sebelum acara- ternyata berjalan mulus. Ia punya karisma, punya lagu yang sudah familiar di kuping penonton, dan punya kualitas. Tak heran, banyak yang sing along ketika ia menyanyikan lagu-lagu andalannya seperti "Save Room" dan "Ordinary People". Oh, Melanie Ricardo mungkin jadi orang yang paling beruntung malam itu, setelah John mengajaknya berdansa di sela-sela penampilan.

Satu lagi yang perlu ditonton malam itu ialah Eric Bennet. Ia diiringi oleh Ron King Big Band yang benar-benar luar biasa. Eric tampil dengan setelan jas, dasi hitam, dan kacamata hitam. Ditambah suara empuk dengan vibra yang akurat, ia benar-benar bisa membuat jatuh hati wanita di era 80-an. Meski demikian, ia seperti bermain di nada-nada yang 'aman'. Memang banyak improvisasi yang dilakukan, tapi tak ada yang benar-benar membuat saya merinding mendengarnya. 

Yang paling menarik buat saya malam itu justru penampilan The Rat Pack yang didatangkan langsung dari Vegas. Ini seperti memindahkan ambience sebuah kasino ke JIExpo. Dan, mereka yang merupakan impersonator dari karakter Dean Martin, Frank Sinatra, dan Sammy Davis Jr. ini benar-benar menghibur dengan karakter unik masing-masing. Mereka mengajak penonton bernyanyi, berdansa, dan bahkan tertawa. Ya, ini harfiah. Jika bukan penyanyi, mereka tentu sangat berbakat menjadi pelawak. Pertunjukkan mereka yang dengan gemilang membawa penonton kembali ke era 60-an mengakhiri hari pertama saya di Axis Java Jazz Festival 2010.

Day Two

Hari kedua saya awali dengan menonton Endah N Rhesa yang main di panggung akustik kecil di dekat lobi. Apa yang terlihat di sana sungguh luar biasa, para penonton rela duduk berdesak-desakkan, sebagian lain berdiri menonton di kejauhan saat mereka melantunkan lagu-lagu ballad mereka yang easy listening.

Kekuatan mereka, selain dari sisi skill untuk membuat dua instrumen (gitar dan bass) saja terdengar 'penuh', tentu terdapat pada unsur story telling dalam materi mereka. Lagu-lagu seperti "Uncle Jim" dan "When You Love Someone" dibawakan dengan apik, mengundang riuh sorak dan tepuk tangan penonton selama pertunjukkan. Stage performance mereka juga terlihat matang oleh pengalaman. Apa yang kurang dari penampilan mereka hanya dua: Panggung yang lebih besar dan AC yang lebih dingin.

Yang berikutnya adalah Breakestra. Ini sungguh unik. Miles Tackett, yang menjadi motor band ini memadukan elemen breakbeat dengan jazz. Dan, ia lebih suka memainkannya secara live. Hasilnya adalah sebuah fussion yang menarik untuk ditonton. Meski sebagian besar penonton kurang mengenal lagu-lagu mereka, toh, mereka semua bergoyang mengikuti iramanya. Stage ini 'hidup' berkat kreatifitas mereka memadukan segala macam instrumen menjadi satu kesatuan. Mereka tampil selama kurang-lebih satu jam.

Setelah itu, agenda yang tak kalah penting ialah special show hari ini, Toni Braxton. Artis ini menyebabkan antrian panjang sejak dua jam sebelum penampilannya. Di panggung, ia membawa serta the Braxtons, yang merupakan grup-nya sebelum ia berkarir solo. Munculnya Kenny 'Babyface' Edmonds ke atas panggung merupakan sebuah kejutan kecil yang menyenangkan. Setelah itu, ia memang tampil luar biasa. Lagu demi lagu seperti "Shoulda Brought You Home" dan "He Wasn't Man Enough" dinyanyikan dengan pesona yang mampu menghipnotis penonton. Saya melihat wajah kegirangan di mana-mana, terutama pada bagian encore saat Toni Braxton menyanyikan hits abadinya, "Unbreak My Heart". Anda bisa membayangkan sendiri suasananya.

Day Three

Ini merupakan hari terakhir dari Axis Java Jazz Festival 2010. Pertunjukkan pertama yang saya tonton ialah State of Monc asal Belanda. Mereka ini beranggotakan enam orang dengan alat beragam, mulai dari yang 'standar jazz' seperti saksofon hingga synth dan laptop berisi sampling-sampling suara futuristik. Pada saat mereka tampil, penontonnya terbilang sepi -atau hall-nya yang terlalu besar untuk ukuran mereka-. Entahlah, yang jelas, saya suka mereka.

State of Monc membawa ambience yang dark di awal penampilan melalui suara-suara elektronik yang dihasilkan. Setelah itu, ketika terompet dan saksofon mulai mengisi, nuansa musiknya berubah drastis menjadi lebih ceria dan danceable.

Mereka makin menggila di setiap lagunya. Bagaimana tidak? Mereka bahkan memasukkan beat-beat drum and bass ke dalam lagunya. Ini seperti mendengarkan London Electricity, dan ini membuat penonton yang tadinya menonton sambil duduk mulai berdiri dan merapat ke depan stage. Permainan solo saksofon, drum, dan kemudian bass-nya benar-benar luar biasa. Saya memberi acungan jempol untuk Robin Koerts, sang pemain bass, yang meski penampilannya seperti guru matematika, tapi membuat saya merinding ketika melihatnya melakukan tapping pada senar bass.

Hari terakhir festival ini juga dimeriahkan oleh penampilan Kenny 'Babyface' Edmonds serta kedatangan wakil presiden RI, Boediono, dengan pengawalnya yang overprotective. Ini kembali membuat antrian menjadi begitu panjang. Untungnya, ia tidak lama. Para penggemar pun langsung membanjiri hall untuk menyaksikan sang 'hitmaker' secara langsung. Babyface memang tak hanya piawai dalam menciptakan lagu, tapi juga menyanyikannya. Ia membawakan lagu-lagu seperti "Don’t be Cruel", "End of the Road", serta lagu kolaborasinya dengan Eric Clapton, "Change the World", sebelum menutupnya dengan "When Can I See You Again" yang dimainkan dengan akustik. Sangat menarik.

Saya sempat menyaksikan penampilan George Duke dan Rufus sebelum mengakhiri 'petualangan' di Axis Java Jazz Festival 2010 dengan kesan puas. Rasa sesal karena tak bisa menonton setiap performer yang hadir memang ada. Tapi, inilah konsekuensi jika Anda hadir di sebuah festival besar. Di luar itu, saya ingin memberi applaus untuk panitia. Persiapannya terlihat matang, dan, sarana pendukung untuk pengunjung seperti stan makanan, toilet, hingga pusat informasi tertata dengan baik, layak pakai, dan mudah ditemukan. Hanya, ada beberapa catatan kecil dari saya, yaitu masalah parkiran yang kurang teratur, serta masalah sinyal telpon genggam yang mendadak drop selama berada di venue acara. Banyak orang, melalui social media seperti Twitter, menuding Axis tidak jujur, dengan memblokade sinyal provider lain. Dari pihak AXIS sendiri, melalui akun Twitter @AXISJavaJazz melakukan klarifikasi seperti berikut. "Just to clarify,tweeps:AXIS tdk pernah & tdk akan mblokir signal operator apapun selama AXIS JJF. We believe in honesty and good deeds :-)" Bagaimana pun, dua hal ini perlu diperbaiki tahun depan.

Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter

 

Bookmark and Share

13 Comments

dods

March, 9th 2010

gua yakin si axis memblokirnya, kenapa? karena waktu PRJ atau acara2 besar lainnya, sinyal HP gak pernah gagal. Kemaren itu bener2 gak bisa!! kepret pret!!

mira

March, 9th 2010

nice riviu. btw, acara ini bisa diliat di tv kpn? tks.

Ben

March, 9th 2010

Festivalnya emang oke, cuma sinyalnya aja yang nggak jelas. Gwe terpisah rombongan jadi susah kumpul lagi. Malaskan,nontonin festival tapi sendirian

reza

March, 9th 2010

Saya pake Axis tp tetep susah. Btw,tmpt festivalnya kegedean menurut saya.capek,akhirnya ga enjoy ntnnya.untung didalem dingi:D

tre

March, 10th 2010

*terlepas dari line up performers-nya*

gue cuma dateng hari sabtu.
dan, itu ramenya udah kek pasar malem.
dan, unwell organized.
semua orang desek-desekan.
hiiiiiii...

ditambah pula, sinyal kacrut abis-abisan.
mau ketemu sama temen2 jadi susah.
gilak gilak...

semoga taun depan lebih ciamik lagi lah.

Bayu Maitra @ areamagz.com

March, 10th 2010

@dods : mungkin BTS nya overload?

@mira : thank u. Jadwal tayang akan saya update setelah menerima pemberitahuan dari pihak Java Festival Production

@Ben @Reza @Tre : Kita semua mengalami kendala yang sama. 'pr' untuk panitia tahun depan :)

pow

March, 10th 2010

gw jg dateng sabtu doang
lama ngantri bgt dimana2..
apalagi yg prepaid buat beli mknan~ngantrinya aja sejam sendiri
eh gatauny bisa jg byr cash..somprettt
smoga taun depan ga lebih nyusahin deh

donny

March, 10th 2010

Java Jazz 2010 seru bangeeeettt!! Biar capek tp puass.sejujurnya, gua masih berharap mrk dtengin bang Joe Satriani,tp mau gmn lagi. Ini udh lumayan komplit.oh gua jg mau liat rockinland neh bos

Bayu Maitra @ areamagz.com

March, 11th 2010

Ralat: Berbeda dengan yang disebutkan pada saat press conference, ternyata stage Java Jazz 2010 ternyata berjumlah 20, plus 1 untuk music clinic.

Info tambahan: JJF 2010 melibatkan lebih dari 1000 musisi dari seluruh dunia.

sara

March, 11th 2010

two thumbs up for JJF 2010. btw, nice review mas bayu maitra :)

Bayu Maitra @ areamagz.com

March, 11th 2010

@sara Terima kasih :)

ichyl

March, 12th 2010

good review, enak bacanya :)

mslh sinyal emg bedebah hehehe..

klo mslh seru ato engganya para artis2 bermain sih selera msg2 org beda2 ya..
yg pst sambil baca review nya mas bayu ini, saya flash back dtg pas hr jumat, lgsg sebel inget bwanyakk bgt manusia, susah cr ruangan, mau ini itu sulit, cm bs ntn artis nya dikit bgt pula jdnya haha..
dpt kesempatan dtg hr sabtu saya tolakkk.. ogah membayangkan saya ditelan lautan manusia hahahaha

good job om.. smangat!

ditya

March, 20th 2010

lieur ya bay ?? haha :P

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.