Beberapa teman mengeluh, timeline mereka penuh oleh RT (re-tweet) teman-temannya, yang isinya benar-benar personal dan sungguh tidak penting diketahui orang lain. Lalu?

Akibatnya, mereka terpaksa unfollow orang-orang tersebut. Di lain tempat, beberapa kolega berujar, "kenapa kalau membalas tweet harus diawali sebuah kalimat, kemudian dilanjutkan ke @temennya, ya? Kenapa nggak langsung reply saja? Situ seleb?"

Sementara, saya yang hobi memperhatikan tweet-tweet orang, sering mentertawakan tweet maupun RT berbau arogansi dan narsis (apa sih bedanya kedua kata tersebut? Sampai saat ini saya tidak pernah tahu. Ha-ha-ha). Misalnya, "tweeps, cuma mau konfirmasi, gua gak maen di java jazz 2010, tapi sepertinya gue bakal maen di java rockin'land!" tulis Pandji Pragiwaksono. Meski kita saling mengenal, saya tidak pernah ragu untuk menyebut Pandji sebagai seseorang yang kadar narsisnya sudah seperti pemilik seperempat kota Jakarta. Namun, justru karena kenarsisan tersebut dia sukses membuat orang-orang menjadi penasaran terhadap aksi panggungnya, apakah sudah sepadan dengan kehebohannya saat melakukan aksi tweet sporadisnya? Biar bagaimanapun, Pandji sudah berhasil mensukseskan strategi marketing online ala dia melalui media Twitter, untuk mengkatrol brand image dia sebagai seorang entertainer.

Sementara itu, RT yang menurut saya tidak penting, seringkali muncul dari beberapa teman yang berteman dengan para selebriti maupun 'petinggi-petinggi' pergaulan ibukota tercinta ini. Misalnya, "Jadi. Kita nginep di hotel yang sama kan? RT @seleb@broer Brur, ntar jadi nonton Green Day di Singapore kan?” Aduh, memang itu penting buat di RT? Memang ada yang peduli ya sama tweet nya itu? Atau, contoh lainnya, "thank you seleb, I’ll do anything for you RT @seleb @temenseleb makasi atas kiriman minumannya." Harus ya, sebangga itu, jika seorang selebriti nge-tweet kita untuk mengucapkan terima kasih?

Lain halnya jika yang di RT "Saya membutuhkan perawat yang bisa merawat penderita stroke." Hal itu sangatlah diterima bagi saya, malah wajib hukumnya untuk di RT berulang-ulang, karena kepentingannya sangat mendesak. Saya bukanlah polisi twitter, bukan juga seseorang yang punya 1000 followers. Namun, berdasarkan pengalaman selama setahun menjadi pengamat twitter, yang sempat resign dari twitter, dan menjilat ludah sendiri dengan kembali ke twitter, RT itu ternyata mempunyai daya magnet yang luar biasa untuk membuat seseorang mengambil keputusan. Follow or unfollow.

 

Contact the writer at nicko.krisna@mediasatu.com
Follow him on Twitter