What Can Be Cooler Than Kings Of Convenience Show In March?
March, 30th 2010 | by | Comments: 1
Sebenarnya, saya tidak terlalu akrab dengan yang namanya Kings of Convinience. Namun, itu bukan berarti saya tidak bisa menikmati penampilannya di Jakarta. Simak laporannya.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Prinsip saya, bila tidak tahu materi maupun latar belakang penampil yang pertunjukannya akan kita liput, kita mesti berusaha untuk mencari tahu. Oleh karenanya, meski terbilang telat untuk mencintai duo akustik romantis ekletik asal Norwegia ini, saya tidak sungkan untuk menelusuri lebih dalam tentang Kings of Convenience (KOC), dengan cara bertanya-tanya kepada rekan-rekan media lainnya.
Pemilihan ballroom Ritz Carllton Pacific Place, Jakarta Selatan, sebagai lokasi pertunjukan pada malam itu (28/04/2010) merupakan keputusan yang sangat tepat. Pemuda-pemudi usia 14 - 39 tahun tampak begitu menikmati nuansa intim yang terbangun di tempat tersebut. Sebelum KOC tampil, sempat tersiar rumor jika Erik Boe terkena demam, dan kemungkinan tidak bisa tampil. Namun, saya tidak percaya sekaligus tidak peduli. Masa mereka sebodoh itu dan membiarkan kami yang sudah tampil wangi dan maksimal kelojotan serta terkaing-kaing kecewa karena tidak diberi 'ijin' menyaksikan padu padan ajaib Erlend Oye dan Erik. Ternyata dugaan saya benar, jam 21.40 WIB, mereka tampil lengkap, menyenangkan, energik, terampil, jenius, tak membosankan, interaktif, penuh gelora, dan teramat memikat. Ini mungkin seperti saat mereka show di Bandung, meski kini muka Erik tampak sangat keletihan.
Repertoir "Me In You", "I Don't What I can Save You From", "Singing Softly to Me", "Cayman Islands", "Second to Numb", "Mrs Cold", "Peacetime Resistence", "Misread", kemudian "Boat Behind" hingga "I'd Rather Dance With You" (featuring: John Navid dan Ricky dari White Shoes and The Couples Company) mereka tuntaskan dengan maksimal. Selain itu, mereka juga membawakan "Bersandar", sebuah tembang milik White Shoes and The Couples Company. Kombinasi vokal empuk Erland dan suara 'basah' Erik, ditambah petikan syahdu serta 'kerukan' dari dua gitar akustik yang diusung mereka berdua, plus sentuhan nyentrik yang keluar dari grand piano Yamaha hasil permainan Erland, seakan sanggup meluluhlantakan seisi gedung malam itu. Begitu magis.
Totalitas, adalah hal yang penting untuk dijadikan referensi kelompok, group, duo, band, maupun solois lokal, yang begitu mendewakan musik dengan notasi indie pop "tak biasa" seperti yang disajikan KOC malam itu. Show mereka patut dijadikan patron, bagaimana cara menyajikan sebuah konser musik yang apik, apa adanya, dan bernilai seni tinggi.
Contact the writer at nicko.krisna@mediasatu.com
Follow him on Twitter


david
March, 31st 2010
Show mereka malam itu memang lebih ajaib dari yang tahun 2006. salut!