The Goddess Concert Of Imogen Heap
April, 1st 2010 | by | Comments: 8
Saya tidak tahu harus mulai bercerita dari mana, saking tidak sanggupnya menahan begitu banyak perasaan yang terekam dari konser di Balai Kartini semalam. Eklektik, enigmatik, spiritualis, teaterikalis, eksploratif, inspiratif, just name everything!
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Meski harus jalan kaki bersama editor dan fotografer dari daerah Wijaya sampai ujung Mampang Prapatan karena macet, lalu menyambung dengan ojek di bawah gerimis hujan, saya tahu perjuangan ini tidak akan sia-sia. Dan ternyata benar. Begitu masuk ballroom, mata saya terbelalak melihat setting panggung yang sangat mengagumkan. Jujur saja, beberapa hari sebelumnya saya sempat berpikir seperti ini: Paling hanya akan ada keyboard, moog, Macbook sampling, dan Ms. Heap yang akan nyanyi sambil nari-nari sedikit. Ya, bisa dibilang sedikit underestimate.
Tapi, seperti kata saya tadi, bukan hanya mata yang dibuat tercengang, muka pun, serasa ditampar. Di tengah-tengah panggung, berdiri sebuah pohon kaca berwarna putih kristal, dengan aksen lampu yang akan berganti-ganti warna sesuai dengan beat lagu yang dimainkan. Lalu di belakangnya, ada backdrop screen yang ditembaki dengan visual, mulai dari pergerakan awan, api unggun yang menjalar ke atas, sampai kawanan burung-burung kecil yang terbang mengayun seperti ombak. Sinting! Ini mungkin saja setting panggung terbaik dari sekian konser yang pernah saya tonton di Indonesia.
Lantas, bagaimana instrumen lainnya? Heap seperti Goddess utusan Zeus yang turun ke bumi, membawa berbagai macam alat musik untuk mengobati luka kerinduan para pendengarnya di sini yang sudah menunggu kedatangannya sejak delapan tahun yang lalu. Mulai dari alat-alat musik mini yang bisa mengeluarkan suara kicauan burung, deretan bel kecil dengan notasi bernuansa fairy tale, lalu sangkar besi kecil yang digesek dengan bow berbunyi mystical, sampai gergaji kayu yang selalu membuat nafas saya tertahan setiap kali mata alat potong itu dilengkungkan, digesek dengan bow, dan mengeluarkan suara seperti gaung paus yang berbunyi di dasar laut.
Dua performer pembuka, Back Ted N-Ted serta Tim Exile, juga tidak kalah bagusnya. Mereka adalah solois yang multi talenta, dan sangat kolaboratif dengan para penonton. Tim Exile sempat menggunakan sampling suara dari teriakan penonton, yang kemudian dijadikan background dari improvasisasinya memainkan DJ pitch dan turntable. Keistimewaannya terletak pada kemampuannya untuk memainkan semua lagu secara spontan, tanpa menyiapkan pattern yang pasti, namun menghasilkan harmonisasi yang memukau.
Itulah juga yang dilakukan Heap ketika ia memainkan lagu Just for Now. Ia mampu menguasai penonton, seolah seperti dirigen yang membagi massa koor dengan tiga tingkatan suara. Rendah, sedang, dan tinggi. Sesuai dengan intro asli vokal lagu yang pernah menjadi nominasi Grammy UK ini. Dan, ia juga selalu bercerita dulu sebelum memainkan lagu sejak awal konser ini. Sering kali cerita itu mengundang tawa sekaligus membuat hati penonton terenyuh. Karakternya seolah mengingatkan kita dengan tokoh Tinkerbell dalam dongeng Peter Pan. Heap mengatakan "I'm very very very very having such a wonderful time here. So I definitely gonna come back again before the end of this year." Spontan dalam hati saya langsung mengucap "HALLELUYA!"
Contact the writer at primananda@mediasatu.com


Pipil
April, 1st 2010
Prima, kamu menulis semua yang ada di kepala saya. I even cried last night. She's... aaaargh speechless. See you soon lah, Ms. Heap!