FROM OUR DESK

Promoter Nowadays

April, 20th 2010 |  by  Nicko Krisna  | 14

Kehadiran pemain baru di bisnis music event organizer (EO), seperti Mahaka Entertainment (ME), membuat bidang ini semakin marak warna pelbagai genre musik.

Caption Caption

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Gebrakan mereka terhitung berani. Setelah mencoba untuk tidak rugi di uji coba pertamanya dengan mendatangkan Pussycat Dolls, EO ini berhasil menghenyakkan publik pengagum musik 'pintar', saat mengundang musisi esentrik asal London, Imogen Heap, ke Jakarta, 31 Maret 2010 lalu. Seperti kalap, dan tidak mau kalah oleh para pendahulunya, kejutan selanjutnya dari ME adalah pahlawan gitar 90-an, mantan gitaris Guns N' Roses (band terbaik sekaligus terbesar di dunia versi saya), Slash! Rencananya, gitaris kontroversial ini akan bermain di Istora Senayan tanggal 3 Agustus 2010.

Sementara itu, sang promotor ulung yang hentakannya selalu ditunggu-tunggu penikmat musik segala usia, mr. Adrie Subono, tetap konsisten dengan keberagaman selera musiknya, yang selalu membawa band dan solois dari berbagai kelas. Tranparansi dia dalam mengemukakan hasil negonya dengan artis-artis luar ke dalam status twitter nya, benar-benar merubah paradigma tentang seorang pebisnis kelas kakap. Misalkan, kegagalannya saat mencoba mendatangkan John Mayer, dia ungkap di statusnya. Ini merupakan kejujuran yang bisa mendatangkan empati sekaligus simpati. Positifnya, dia tidak perlu melakukan promosi secara jor-joran. Karena, hanya dengan cara menaruh keluh-kesah, dan perasaan senang tentang kegiatannya sebagai seorang promoter di twitter, followers-nya yang berjumlah ratusan ribu sudah bisa mendapatkan info yang lebih intim. Dan, Adrie sadar benar akan hal tersebut. Lihat saja, semua billboard Java Musikindo di bagian footer nya selalu tertera akun twitter dia.

Sementara itu, pemain lama yang disebut-sebut sebagai pionir music event organizer di negeri ini, Peter Basuki, seperti terengah-engah dan kehabisan nafas. EO kepunyaannya, Buena Production (BP), terlalu berusaha konsisten di jalur 'mahal' dan 'aman' dengan membawa artis internasional mulai dari yang begitu senior, seperti Natalie cole, Al Jarreau, George Benson, boyband masa lampau, backstreet boys, hingga musisi kontemporer terkini, Sarah Brightman. Namun, 'barang' bawaannya itu malah menjadi boomerang bagi Peter. Beliau selalu mematok harga mahal untuk tiket di setiap konser yang diselenggarakan oleh BP, namun, tidak ada haru biru yang 'kena' di ingatan dari setiap hajatannya tersebut. Bisa jadi, asumsi kalau Peter terlalu sering bawa 'barang bekas' atau produk jaman dulu, yang sudah tidak begitu ditanggapi lagi konser-konsernya di luar sana, sudah sangat melekat di pikiran ini. Hingga BP namanya meredup di tengah para pendatang baru. Padahal, Peter merupakan negotiator andal yang berhasil membujuk Deep Purple untuk melakukan konser di stadion Senayan, selama 2 hari berturut-turut pada tanggal 4 dan 5 Desember tahun 1975. 

Lain hal dengan Hanin Sidharta, director Soundshine Mega Concerta. Pasar yang dia tembak lebih terukur. Pria ini cukup percaya diri dengan mendatangkan band maupun musisi jenius, seperti Phoenix, Kings of Convenience, Club 8, Sondre Lerche, Jens Lekman. Dengan harga tiket yang masuk akal, setiap event yang diadakan Soundshine, sanggup memboyong rombongan loyalis untuk memenuhi setiap gelarannya. Stabil.

Isu-isu yang dihembuskan para promotor musik ini terkadang seperti magnet yang mampu menyedot alam pikiran kita untuk selalu berharap agar menjadi kenyataan. Dua tahun yang lalu, sempat tersiar jika Smashing Pumpkins akan dibawa Java Musikindo, namun hal itu  tidak pernah terjadi hingga hari ini. Dan, orang-orang yang terbiasa menyaksikan konser berskala internasional pun kecewa. Terutama mereka para kaum urban Jakarta. Promotor tersebut sudah seperti berhala. Tersirat dari harapan-harapan orang yang selalu merengek-rengek terhadap Adrie Subono, agar dia bisa merealisasikan impian mereka, untuk mendatangkan band maupun musisi kegemarannya. 

Di lain tempat, Peter Gontha, dengan bendera Java Festival Production(JFP), sudah berhasil melakukan mission impossible dia, Java Jazz. Mungkin 20 tahun yang lalu, jika ada seorang promotor yang sesumbar terhadap media, untuk mengumpulkan artis dalam dan luar negeri dalam sebuah event, akan dicerca sebagai orang gila yang keseringan mengkhayal. Tapi, kenyataannya, Peter sanggup melakukan hal tersebut, secara berulang-ulang pula! Tetap gila, kan? Bagaimana tidak gila, The Manhattan Transfer, Baby Face, John Legend, Tony Braxton dan kelompok maupun musisi Jazz lokal dari berbagai kelas, bisa dia kumpulkan dalam festival musik tersebut. Tidak tanggung-tanggung, dia juga melahirkan kembali adik-adiknya Java Jazz, yakni: Soulnation dan Java Rockin’land. Yang pertama disebut merupakan ajangnya para musisi hip hop serta soul skala internasional maupun nasional berpadu, sementara yang terakhir adalah festival musik rock, dengan line up artis luar plus dalam negeri, yang masuk dalam kategori cutting edge, yang baru pertama kali diadakan tahun 2009, dan bisa mengumpulkan band-band luar favorit jaman dulu seperti Mr. Big, Third Eye Blind, hingga yang terkini, MEW. 

JFP sudah berhasil mengeksekusi festival Java Jazz selama lima tahun berturut-turut. Ini merupakan kebanggaaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, untuk pencitraan konsistensi yang baik terhadap negara lain, karena Jakarta, sebagai ibukota, sanggup memberi rasa nyaman bagi para musisi luar, saat mereka beraksi di sini. 

Ada juga Solucite yang konsisten di jalur musik keras. Terakhir mereka baru saja mendatangkan band horror punk asal New Jersey, Misfits. EO ini dikenal dengan keteguhannya untuk tetap berada di garis metal. Nampak dari semua band yang mereka bawa ke Indonesia, seperti: Kreator, Pukelization, Dragon Force, Helloween, As I Lay Dying, Lamb of God, hingga Arch Enemy. Lihat juga pengaruh Tommy Pratama yang mulai melakukan bisnis ini sejak tahun 1991. ketika dia sanggup membawa TOTO untuk tur keliling  Indonesia, di bawah perusahaannya yang bernama Original Production (OP), hal itu sanggup membuat orang-orang mulai melirik bisnis ini sebagai industri yang profitnya bisa dipertanggungjawabkan. OP juga pernah membawa duo pop romantis legendaris, Air Supply, solois brilian, Michael Franks, dan band hardrock papan atas 90-an, Extreme. Rencana selanjutnya, pria ini akan mengadakan konser solois masa lampau yang karirnya sudah redup, Michael Bolton, dan band yang sempat dikira telah punah, Living Colour. 

Masing-masing promotor mempunyai ciri khas. Ada yang bunglon, yaitu Adrie Subono, ada yang senang membawa produk 'basi' yakni Peter Basuki, ada yang setia dengan jalur yang sama, yaitu Solucite, ada yang 'angot angotan' adalah Tommy Pratama dan Nepathya, dan ada yang begitu konsisten, seperti Peter Gontha. Terpenting adalah semangat mereka demi industri hiburan bangsa tercinta ini, dengan membujuk band, musisi, maupun solois internasional, agar mereka mau melakukan pertunjukan di Indonesia, sehingga bisa memberikan kesempatan bagi orang Indonesia untuk bisa melihat band favoritnya tampil di depan mereka.

 

Contact the writer at nicko.krisna@mediasatu.com
Follow him on Twitter

 

Bookmark and Share

14 Comments

Fertama

April, 21st 2010

Nice artikel, jangan lupa juga promotor lokal Log Zhelebour......walau sekarang tidak terdengar, pada tahun 80-an beliau dikenal sebagai bapaknya promotor musik rock Indonesia.

Konser2 artis lokal seperti Gombloh, Vicky Fendi, Kaisar, God Bless, Jamrud, Euis Darliah, Farid Harja, Mel Shandy, EdanE dan Boomerang sukses ditangannya. Belum lagi konser artis luar negeri seperti Sepultura, Mr. BIG, White Lion, dan Skid Row. Terakhir tahun 2004 dia berhasil menggelar event Festival Rock se Indonesia X.



indy

April, 21st 2010

iya, peter basuki yg dibawa artis wis tuek semua. hihihii...

Nirmala

April, 21st 2010

Hi Areamagz,

Terima kasih atas mention-nya di artikel mengenai promoters di Indonesia (khusunya Jakarta). We at Java Festival Production (JFP) humbly thank you. Hidup Jakarta, The City of Music Festivals.

sara

April, 21st 2010

mas nicko ini yahud deh, selalu dateng dengan tulisan-tulisan yang bagus. good job! jadi nambah lagi pengetahuan seputar musik dan hingar bingarnya. ditunggu ya artikel berbobot laennya dari mas nicko :)

shaytheglow

April, 21st 2010

Gw suka sama paragraf penutup lo bagian ini -> "Masing-masing promotor mempunyai ciri khas. Ada yang bunglon, yaitu Adrie Subono, ada yang senang membawa produk 'basi' yakni Peter Basuki, ada yang setia dengan jalur yang sama, yaitu Solucite, ada yang 'angot angotan' adalah Tommy Pratama dan Nepathya, dan ada yang begitu konsisten, seperti Peter Gontha." Haha.

Anyway, gw setuju sama lo, Nick. Adrie Subono terbuka banget soal band-band yang mau dia datangkan. Dan pilihan-pilihan dia bener2 berdasarkan selera dan suara terbanyak dari followersnya yg dia tanya via twitter. Berarti dia emang niat untuk ngasih kesempatan bagi orang Indonesia untuk bisa melihat band favoritnya tampil di depan mereka, selain pastinya balik modal & untung. Good job, Adrie!

Untuk para promotor di Indonesia, ditunggulah kedatangan MEW & Imogen Heap untuk kedua kalinya. Plus Interpol, Bloc Party, dan lain-lain. :)

Oya, nice article, Nick.

nicko krisna

April, 21st 2010

@Nirmala Pertahankan ya, konsistensi JFP. Thanks sudah berkomentar.
@sara Bisa aja, ah :p
@shaytheglow Mudah-mudahan band kesukaan dikau yg belum datang, bisa manggung di sini, ya. Amin.

jaka satria

April, 22nd 2010

Penilaian yang objektif, good article. Semoga para promotor-promotor tersebut dapat membaca tulisan ini. Yah, setidaknya untuk bahan rekomdasi mereka yang terkadang tidak sesuai dengan selera pasar.

Ditunggu artikel-artikel selanjutnya. guud.

jabiwabi

April, 27th 2010

ciamik. mataf sekali bang nick ini. keep Jakarta rockin' dude

nicko krisna

April, 28th 2010

@jabiwabi ditunggu kiprahnya di bisnis ini :)

jabiwabi

April, 28th 2010

oke lah, kita bawa band dari Jakarta dulu nih, namanya Amazing in Bed :)

primananda

April, 29th 2010

Ibarat pelatuk pistol yang siap disentak, ini artikel jitu buat nembak peluru kaliber 38 berseri "Sejarah Kecil Promotor Indonesia." Sok atuh a'a, di-DOR!!

fritz

April, 30th 2010

hayo dong promotor promotornya pada kasih komen ni artikel. lucu juga kalo mereka timpal2an disini :p

mario

May, 9th 2010

kalo setiawan jodi udah habis ya?

nicko krisna

May, 10th 2010

@mario: ya, setiawan jody sudah pensiun dari industri ini.:)

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.