HOT SEAT

Kunokini

April, 23rd 2010 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 1

Muncul lagi satu band baru asal Jakarta. Mereka bernama KunoKini yang baru mengeluarkan album bertajuk Reinkarnasi. Di dalamnya ada instrumen kuno dengan aransemen kekinian. Simak obrolannya.

Kunokini Kunokini

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Kemunculan mereka bisa dibilang membawa sesuatu yang berbeda dari band-band yang sudah ada. Mereka tidak menggunakan alat musik mainstream, tapi menggunakan alat-alat musik tradisional. Itu pulalah yang membuat saya tertarik sekaligus penasaran mengapa Bismo, Bebi dan Akbar berani mengambil langkah tersebut.

Bagaimana, sih, awal terbentuknya band ini?

Cikal bakal band ini adalah ketika kami menjadi pengiring para penari di Folkfore Festival di Jerman pada 2003. Saat para penari break, kami membuat aransemen lagu dan ternyata sambutannya bagus. Makanya, pas sampai Jakarta, kami seriusin.

Formasi ini merupakan formasi sejak awal?

Oh tidak. Kami awalnya bertujuh, kemudian berkurang karena seleksi alam. Dulu, namanya sempat The Kuno’s. Kira-kira 2004 atau 2005 menjadi KunoKini. Personel dari awal: gue (Bismo) dan Bebi. Akbar masuk 2005. Formasi yang sekarang ini yang ajeg.

Sudah ada sejak 2003, tapi baru mengeluarkan album pada 2010. Apa kendalanya?

Pematangan konsep dan masalah finansial. Ha-ha. Sebenarnya, kami sempat mengeluarkan 3 mini album, tapi hasilnya tidak pernah memuaskan. Kemudian, kami coba recording di Black Studio. Operatornya mengerti apa yang kami mau dan hasilnya pun oke. Proses rekamannya memakan waktu setahun. Ya, namanya juga independen, jadinya lama.

Kenapa memilih alat-alat musik tradisional sebagai instrumen kalian?

Selain ingin melestarikan alat-alat musik tradisional Indonesia, juga membuka mata anak-anak Indonesia agar mencintai kebudayaan dan musik tradisional. Kami meramu musik tradisional menjadi easy listening dengan memadukan alat-alat musik tradisional dan musik seperti hip-hop, rap, dan reggae.

Apa genre musik KunoKini?

Ethnic Mystical Experimental. He-he. Ethnic itu dari alat yang kami mainkan, walaupun ada beberapa lagu kami yang kontemporer, Mystical lebih kepada rasa yang kami tuangkan ketika bermain dengan mengindahkan ketukan 4/4 karena rasa tidak pernah salah. Experimental dari cara memainkan alat tradisional dengan eksperimen, seperti memainkan gendang jawa dengan cara berdiri atau rebana dengan menggunakan stik. Seperti itulah.

Kalian yakin dapat bersaing di industri musik Indonesia yang saat ini sedang ’Melayu’ dengan musik dan alat-alat tradisional?

Yakin, karena kami membawa sesuatu yang beda. Dan, beberapa kali manggung, penonton sudah mulai joget dan menikmati musik kami, walaupun belum tahu bahkan belum pernah melihat kami.

Di mana kalian mempelajari cara memainkan alat-alat musik tradisional?

Kami lebih learn by jumping (otodidak), sih. He-he.

Alat musik apa saja yang digunakan dalam pembuatan album ini?

Rebana betawi, rebana biang, gendang jawa, ketimpring, suling, kankanung (Kalimantan), kerang bia (Papua), jimbae (Afrika), tong drum (China), didgeridoo (Australia), dan beberapa shaker. Jadi, ini campuran alat-alat musik tradisional lokal dan mancanegara.

Dengan musik yang kalian usung, benarkah bahwa pasar kalian itu bule?

Sebenarnya, kami ingin orang lokal. Tapi, sampai saat ini, orang bule-lah yang lebih banyak mengapresiasi musik kami. Mungkin, kami harus mengikuti cara Anggun C. Sasmi. Dia, kan, keluar (negeri) dulu baru booming. Kami juga pengen begitu, sih. He-he.

Kekuatan KunoKini terletak pada musik atau lirik?

Keduanya. Musik kita yang beda tidak akan ada artinya kalau liriknya tidak membawa pesan yang berarti. Lebih baik loe protes lewat lagu daripada di Bundaran HI; nggak ada yang degerin juga.

Ada alasan tertentu mengapa kalian me-remix lagu Rasa Sayange?

Gara-gara lagu itu diambil Malaysia awalnya. He-he. Kami pikir, masukkan (dalam album) saja. Dengan seringnya kita nyanyikan, toh orang akan tahu kalau lagu itu memang milik Indonesia. Daripada protes dengan cara marah-marah. Sebenarnya, itu salah Pemerintah juga yang tidak melindungi kebudayaan Indonesia. Begitu diklaim orang, baru kerepotan. Kami yang awalnya kesulitan mendapatkan izin untuk lagu ini mendapat dukungan dari Om Djaduk Ferianto yang mengatakan lagu daerah adalah public domain. Seluruh orang Indonesia punyai hak atas lagu tersebut.

Visi dan misi KunoKini dalam bermusik?

Visi: Kami ingin meracuni anak-anak muda indonesia dengan musik tradisional, dan jangan pernah takut untuk mengeksplorasi kebudayaan kita. Bila bukan kita yang mengeksplorasi, siapa lagi?
Misi: Keliling Indonesia dan mempelajari semua alat musik tradisional. Kemudian, konser di Jakarta bersama yang mengajari alat-alat musik tersebut.

Sampai kapan akan memainkan musik-musik tradisional seperti ini?

Sampai titik darah penghabisan, Mas Bro. He-he.

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on twitter







Comments

subhan

May, 30th 2010

bener2 cutting edge

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.