Peugeot Avenue
April, 26th 2010 | by Andi Wahyudi | Comments: 5
Berawal dari produk perlengkapan meja makan, Peugeot terus mengembangkan dirinya sebagai produsen mobil terbesar di eropa dan dunia. Saya berkesempatan menyaksikan perjalanan Peugeot di negerinya.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Belum lama ini, dalam lawatan kerja ke Prancis bersama Peugeot, saya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Peugeot Avenue. Sebuah butik yang terletak di keramaian 136 Avenue des Champs Elysees, kira-kira sepelemparan batu dari Arc De Triomphe –simbol kejayaan yang berdiri sejak zaman Napoleon Bonaparte. Ini bukan sembarang butik, karena butik ala Peugeot ini memiliki tema yang setiap 3-4 bulan mengalami perubahan. Kebetulan, tema yang dipamerkan kepada publik adalah tentang Eco Logic, sebuah tema yang mengusung soal ramah lingkungan.
Bicara soal Peugeot Avenue hanya ada dua, yaitu di Paris dan Berlin. Peugeot Avenue Berlin lebih luas ketimbang Peugeot Avenue Paris, juga memiliki café yang terkenal, Café de France. Bahkan cukup dikenal, lantaran berada di Unter de Linden 62 yang menjadi surga showroom industri mobil di Jerman sana.
Ketika menyambangi Peugeot Avenue Paris, saya terkesima dengan konstruksi desainnya. Karena mengambil tema Eco Logic, maka aroma hijau terlihat mewarnai butik tersebut. Ruangannya nggak besar-besar amat kok. Tapi cukup memuat display kendaraan kebanggan Peugeot.
Tepat didepan pintu masuk, terlihat Peugeot 908 HY Le Mans. Inilah produk anyar Peugeot yang berbasis mesin diesel hybrid. Damn! Di Indonesia masih pusing soal diesel, eh, disini malah sudah memperkenalkan diesel hybrid –untuk Le Mans pula lagi. Hehe, jadilah saya seperti orang norak. Saking kagumnya, saya lupa foto bareng dengan mobil itu buat profil Facebook. Duh, nyesel euy!
Disebelah kanan pintu masuk, hadir Peugeot H2O Fuell Cell dan Peugeot LXR 125. H2O sendiri cukup menarik perhatian, karena Peugeot mengkreasikannya sebagai mobil pemadam kebakaran dan menempatkannya pada display yang bergerak dinamis. LXR 125 adalah produk roda dua Peugeot. Oh ya, selain mobil, Peugeot juga memiliki divisi roda dua (scooter) yang produknya cukup dikenal di eropa seperti Geopolis, Jetforce dan Satelis. Sayang, produknya tidak dipasarkan di Indonesia. “Wah, kalau masuk Indonesia harganya bisa mahal banget,” kata C.Herlijoso, boss Peugeot Indonesia.
Disebelah kiri pintu masuk, terpampang Peugeot Quark, kendaraan ATV yang berpenampilan sangar. Di depan Quark, ditampilkan Peugeot 207 99g. Inilah mobil yang dibanggakan Peugeot sebagai mobil dengan kadar emisi rendah, 99 gram/km CO2. Duh, lagi-lagi saya terpesona dengan pencapaian teknologi Peugeot hingga lupa memotret mobil satu ini.
Dipojok belakang display mobil terdapat tumpukan miniatur mobil Peugeot yang bikin saya ngiler. Mulai dari versi jadul sampai model terbaru ada di tempat ini. Juga terlihat deretan souvenir ala Peugeot yang bisa bikin Peugeot maniak merogoh kocek lebih dalam lagi.
Ditempat itu turut dipajang pula alat penggiling lada dan garam yang menjadi ciri khas Peugeot. Kalau kita membaca sejarah Peugeot, di awal karirnya, dia bukanlah produsen otomotif, melainkan produsen alat perlengkapan meja makan yang dimulai sekitar tahun 1842. Perusahaan keluarga Peugeot ini baru memulai debutnya di dunia otomotif setelah Armand Peugeot bertemu dengan Gottlieb Daimler.
Tahun 1889, lahirlah mobil roda tiga pertama Peugeot yang didesain oleh Leon Serpollet. Namun produk tersebut dianggap gagal. Tahun 1890, Armand bertemu lagi dengan Gottlieb Daimler dan rekannya Emilie Levassor. Hasilnya, Armand memperoleh lisensi penggunaan internal combustion engine dibawah lisensi Daimler. Selanjutnya, Peugeot terus melanjutkan risetnya termasuk terjun ke dunia reli, hingga akhirnya pada tahun 1910 lahirlah Peugeot Type 127 Torpedo yang kemudian menangkat nama Peugeot diblantika industri otomotif di eropa.
Contact the writer at andi.wahyudi@mediasatu.com


rudi
April, 26th 2010
jaya selalu peugeot! biar dibilang rewel,peugeot tetep favorit:)