TRAVEL

George Town Penang dalam Sehari. Part One: Mencari Little India

May, 11th 2010 |  by  Darwita K. Karin  | Comments: 0

Berbekal sebuah peta gratisan, seharian penuh saya telusuri jalanan George Town, dan terkesima keindahan kota yang jadi salah satu UNESCO World Heritage Site.

Masjid Kapitan Keling Masjid Kapitan Keling

Pasar Chowrasta Pasar Chowrasta

Lebuh Campbell Lebuh Campbell

Tunehotels.com Penang Tunehotels.com Penang

Twin Room Tunehotels.com Twin Room Tunehotels.com

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Dari jendela pesawat, terlihat bangunan bandara tua dan terkesan tak terurus. Tapi, begitu sampai, ternyata tampilan dalam Bandara Penang lumayan juga. Bentuknya agak mengingatkan saya pada Changi Airport di Singapura pada ‘90-an. Matahari Pulau Penang yang terik menyambut gembira begitu saya keluar bandara, untuk kemudian bergegas menuju Tune Hotels.com.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit dari bandara, sampailah saya di Tunehotels.com Penang. Gedung berwarna merah putih yang terletak sekitar 5 menit dari Komtar Tower ini merupakan bangunan tertinggi di Penang dan merupakan kantor pusat pemerintahan Penang. Hotel ini kurang lebih sama saja seperti Tune Hotels.com Bali. Hanya saja, di sana terdapat tiga tipe kamar, yaitu Single, Double, dan Twin.

Untuk Anda yang sedang traveling on a budget, Tune Hotels.com bisa jadi pilihan memuaskan. Selain harganya yang murah, lokasinya juga strategis. Di samping hotel, terdapat New World Park. Di sini, berbagai restoran dan pilihan street hawkers yang menyajikan aneka menu, mulai dari bakmi, char kwey teow, hingga es kacang yang terkenal, bisa Anda temukan. Lalu, ada pula LohGuanLye Private Hospital yang dapat ditempuh hanya dalam 8–10 menit berjalan kaki. Di depan hotel, terdapat halte bis, tempat pemberhentian Rapid Penang yang bisa mengantarkan Anda keliling Penang dengan nyaman.

Ada satu tempat yang sukses membuat penasaran, setelah saya dan seorang teman, Putri, browsing dari brosur-brosur gratis di hotel; George Town. Menurut info dari Wikipedia.com, George Town pernah terpilih jadi salah satu kota terbaik di Asia, tepatnya berada di peringkat 6, oleh Majalah Asiaweek. Akhirnya, kami sepakat memilih Little India sebagai tujuan pertama. Sambil menenteng brosur Visit Penang 2010–2012, kami pun memulai perjalanan. Rencananya, kami ke Little India menggunakan Rapid Penang. Tapi, berhubung tak sabar menunggu bis, kami pun berjalan sedikit untuk mencari jalanan yang lebih ramai. Bak dua perempuan sok tahu, kami mempelajari peta dan memutuskan singgah di Pasar Chowrasta yang tak jauh dari hotel. Chowrasta terkenal sebagai pusatnya aneka manisan. Masuklah ke dalam Pasar Chowrasta. Anda akan menemukan deretan penjual manisan yang menjual aneka buah segar, seperti salak, pala, mangga, dan banyak lagi. Kelebihannya, kita bisa memilih dan mencampur sendiri buah-buahan yang kita suka. Harga per kilonya berkisar 6–12 RM.

Setelah belanja manisan, kami mencoba ais tingkap, es yang dijual oleh pedagang India. Es berwarna pink yang bercampur selasih ini diminati orang. Rasanya, sih, tidak terlalu wah. Tapi cukup menyegarkan di tengah panasnya Penang. Tak hanya ais tingkap, saya juga tergoda buaian kesegaran es-es lain yang banyak dijual di Penang, mulai dari ais kacang, hingga ais tebu.

Dari Chowrasta, kami memutuskan pergi ke Lebuh Campbell yang menurut peta, jalanan itu berisi toko-toko obat-obatan China dan butik-butik India. Dari Lebuh Campbell, kami berencana mencari rapid yang berute ke Little India. Sampai di Lebuh Campbell, terlihat di sepanjang jalan deretan toko obat China begitu beragam. Tapi, sayang, butik-butik India yang disebut di brosur tidak kami temukan. Untung saja, letih kami cukup terbayar karena keindahan deretan bangunan tua di Lebuh Campbell yang masih terjaga. Sampai-sampai, trotoarnya pun banyak yang masih menggunakan tegel kuno.

Saking asyiknya ngobrol, kami kaget karena tiba-tiba tak sengaja sampai di depan Masjid Kapitan Keling. Bangunan yang berdiri sejak 1801 ini merupakan masjid tertua di Pulau Penang. Masjid tersebut dibangun oleh Caudeer Mohudeen atau disebut Kapitan Keling, seorang ketua kaum India muslim. Saya terkesima oleh bangunan putih yang begitu indah dan rapi ini. Berhubung pakaian kala itu kurang sopan, saya tidak berani masuk. Beruntung, ada sekelompok turis bule yang dengan santai masuk ke areal masjid. Dan, tak disangka, masjid tersebut telah siap menjadi objek wisata dan bersedia menerima pengunjung, tak peduli agama si pengunjung. Bahkan, di sana terdapat pelayanan informasi Islam, tempat pengunjung bebas bertanya seputar Islam. Namun, demi alasan kesopanan, di depan aula masjid, tersedia beberapa potong pakaian abaya lengkap dengan kerudung untuk dikenakan siapa saja yang hendak masuk ke masjid. Saya pun masuk dengan mengenakan ‘kostum’ tersebut oleh seorang bapak yang menjaga masjid. Si bapak yang ramah itu mengantarkan saya berkeliling masjid. Saking terpesonanya, sampai-sampai ia memberikan sebuah kalender bergambar mesjid Kapitan Keling. “Here’s something to remember this place,” sambil tersenyum ia berucap dengan logat India yang kental. Setelah mengucapkan terima kasih, perjalanan mencari Little India pun kami lanjutkan. To be continued…

Contact the writer at darwita.umarjadi@mediasatu.com
Follow her on twitter

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.