ART & CULTURE

Uli Herdinansyah, Always Use a Little Bit of Love in Life

May, 13th 2010 |  by  Iwan Setiawan  | Comments: 0

Ia menegaskan langkahnya sebagai penulis skenario pertunjukan musikal dengan menggarap sebuah kisah cinta ber-setting Jakarta pada Juli mendatang, dan dipentaskan dalam rangka ulang tahun Jakarta. Simakobrolannya.

Miss Kadaluarsa by Leo Miss Kadaluarsa by Leo

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Lelaki kelahiran Balikpapan ini,walau telah menulis skenario untuk pertunjukan musikal berjudul Miss Kadaluarsa, masih 'hanya' dikenal sebagai pembawa acara. Maklum, ia memang lebih dulu berkarier di bidang 'olah suara', seperti dubber, penyiar, lalu presenter, mulai dari acara dugem macam Paranoia hingga menemani motivator ternama Mario Teguh. Belakangan, ia juga membintangi film Naga Bonar Jadi 2 dan sejumlah pertunjukan musikal, seperti Freakin' Crazy You dan Miss Kadaluarsa, yang kesemuanya diproduksi EKI Dance Company.

Seperti setiap pilihan karir yang ia jalani, Uli mengerjakan skenario ini dengan serius, tapi tetap fun. Lihat saja, untuk mempertajam apa yang ia tulis, bersama timnya, ia berangkat ke Singapura menyaksikan Chicago di Esplanade. Apa sebetulnya yang ia cari di dunia menulis? Dan, mengapa harus mengangkat soal cinta?

Sebelumnya, Anda pernah menulis skenario untuk Miss Kadaluarsa. Apa keasyikan yang Anda temui dengan menulis skenario?

Betul. Ini bukan karya saya yang pertama. Menulis skenario musikal kali ini jadi sangat asyik karena proses pembuatan tidak sendiri, tapi dibantu tim scriptwriter dan para penari EKI Dance Company. Penari EKI berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bisa menerjemahkan ide kami menjadi bahasa bicara yang 'asli'.

Hal apa saja yang menjadi persiapan Anda menulis skenario?

Proses penulisan sering dalam suasana guyon, tapi selalu dengan diskusi mendalam. Terutama, mengenai pengembangan karakter; agak benar-benar membumi dan tidak dibuat-buat. Skenario yang simpel itu lebih sulit ditulis daripada yang njelimet. Ide ruwet dan abstrak harus diolah agar accessible untuk banyak orang. Semakin banyak yang menikmati, lebih baik. Mari berbagi filosofi hidup lewat tontonan tentang cinta yang rusuh dan konyol, tapi dalam dan mengena.

Bagaimana workflow-nya?

Kebanyakan secara organik. Teamwork kali ini lebih solid dari sebelumnya. Semua maju untuk berperan sesuai kapasitas masing-masing dalam setiap scene yang berbeda. Saya setuju apabila ada yang bilang sekarang sudah zamannya untuk membangun kerja sama yang baik untuk karya apa pun. Satu kepala saja tidak akan membuat jadi lebih baik.

Mengenai pertunjukan yang sedang Anda garap, sebelumnya sudah pernah dipentaskan, ya?

Ya, di Malang. Tapi, semua ditulis ulang. Sekarang menunggu proses musikalisasi. Mengawinkan naskah dengan musik. Saya sudah nggak sabar mau ketemu teman-teman musisi. Sekarang, kami sekantor 'survey' ke Singapura untuk menonton Chicago di Esplanade. Jadi, kita lihat nanti hasilnya bagaimana. Saya super optimis. Doakan, ya. Banyak pertunjukan mengangkat kisah cinta. Tidak pernah habis dan bosan.

Mengapa mengambil setting Jakarta?

Because we, Jakartans, could always use a little bit of love in life. Actually, the more the better! Ha-ha-ha.

 

 

   Bagikan  

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.