HOT SEAT

Yoris Sebastian

May, 14th 2010 |  by  Hanindyo Suropati  | 0

Saya berhasil ‘menculik’ Yoris Sebastian, si invisible boss, di tengah jadwalnya yang begitu padat. Mari kita kuak apa yang membuatnya berhasil menjadi creative thinker.

Yoris Sebastian Yoris Sebastian

Be creative, be a problem solver Be creative, be a problem solver

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Kreativitas itu apa dan apa yang dapat membuat orang jadi kreatif?

Kreativitas adalah bagaimana kita membuat sesuatu yang benar-benar baru, atau sesuatu yang lama tapi diiringi berbagai perubahan. Kenapa kita harus kreatif? Sebab, terbukti dalam berbagai bisnis, profesi, yaitu orang yang lebih kreatif dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dibandingkan orang yang melakukan itu-itu saja. Jadi, bisa dibilang kreativitas itu skill yang bisa terus dilatih; berbeda dengan IQ yang memang dimiliki setiap orang sejak lahir.

Dalam buku, Anda sering menyebutkan “think out of the box”. Sebenarnya, batasan apa yang membuat buah pikiran orang digolongkan out of the box?

Out of the box sendiri lebih kepada symbolize, beda dengan common practice. Common practice lebih didasarkan pada keharusan untuk tampil beda tanpa memperhitungkan akal sehat. Sehingga, bukan kreativitas yang didapat, tapi sensasi semata yang belum tentu bisa diterima dengan baik oleh khalayak luas. Jadi, out of the box bukan hanya berani tampil beda, tapi bisa menyesuaikan dengan aturan. Sensasional tapi tetap berhubungan dengan konsep; think out of the box, but execute inside the box.

Kenapa akhirnya Anda memutuskan membuat buku, sementara Anda telah memiliki website yang isinya selalu up dated?

Sebenarnya, pemikiran ini didapat dari mentor-mentor yang saya miliki. Dengan buku, kita bisa membantu orang banyak, dan giving is the new taking. Benar saja, dalam seminar-seminar bersama OMG Consulting, it feels so good bisa melihat orang terinspirasi dan berhasil dari yang kita sampaikan. Saya ingin suatu hari ada yang mengatakan, “Karena Creative Junkies, saya bisa sukses.” Itu terasa jauh lebih worth-it dibanding apa pun yang saya lakukan. Buku ini menjawab pertanyaan yang kerap kali dilontarkan para pekerja kantoran di workshop kami, yaitu cara menjadi orang yang kreatif. Hebatnya lagi, buku ini bisa menjangkau ke daerah-daerah yang belum tentu akrab dengan penggunaan website.

Berapa lama yang Anda butuhkan untuk menggarap buku dan apa hambatannya?

Hambatan yang paling signifikan adalah waktu. Seperti yang orang tahu, prioritas utama saya memang bukan buku, ditambah lagi ini merupakan buku pertama saya. Butuh waktu 3 tahun untuk menggarapnya. Satu setengah tahun untuk “pengembaraan”, memastikan judul, dan mencari tema yang tepat untuk masyarakat Indonesia yang sangat luas ini. Berhubung saya adalah seorang pecandu kreativitas, maka saya memutuskan untuk membuat satu brand baru, yaitu Creative Junkies. Barulah satu setengah tahun kemudian saya memulai penulisannya sambil melakukan riset yang berkaitan dengan tulisan saya agar tidak terdapat kesalahan. Lagipula, saya ingin buku ini bersifat ilmiah tanpa meninggalkan kesan berat.

Fenomena apa, sih, yang Anda lihat sehingga membuat buku ini?

Saya melihat tingkat kesadaran membaca masyarakat Indonesia sudah bagus. Pengetahuan dianggap sebagai investasi. Jika buku ini ditelurkan tiga tahun lalu, mungkin responsnya tidak sepositif sekarang. Fenomena “giving is a new taking” semakin menyadarkan saya saat ini dengan menjadi orang di belakang layar lakon-lakon sukses yang terinspirasi dari hasil seminar kami.

Dari kacamata Anda, apakah orang Indonesia itu kreatif?

Sangat. Buktinya Indonesia adalah negara yang mencetak pemenang terbanyak di ajang lomba kreativitas tingkat dunia. Bukan sebagai professional, tapi orang di belakang layar. Layaknya badminton, kreativitas anak Indonesia sudah diakui dunia. Hanya saja, kreativitas di sini belum ada infrastruktur/sistem yang mendukung di baliknya. Saya merasa masyarakat perlu diedukasikan bahwa konsep itu memiliki nilai marketing tersendiri dan memang harus dibayar. Pemahaman ini belum terlaksanakan dengan baik sebelumnya.

Berarti melalui buku ini, Anda mencoba untuk mengatakan bahwa kreativitas adalah jawaban dari semua ‘masalah’ yang kita hadapi pada umumnya?

Betul. Bukan sekadar kreativitas untuk beda dari yang lain, tapi juga mampu menjadi problem solver. Dengan bersikap kreatif, kita bisa menemukan batu loncatan yang baik sebagai pembuka jalan dari apa yang dicita-citakan. Be creative, be different but with a good reason.

Lalu, istilah “70-20-10” yang sering Anda sebutkan di buku, bisa jelaskan maksudnya?

Cara paling realistis dalam melakukan pekerjaan apa pun; 70% melakukan pekerjaan sesuai job desc yang memang kita miliki dan menghasilkan uang, 20% untuk menjalani pekerjaan sampingan sesuai passion yang kita sukai, sementara 10% porsi untuk sesuatu yang fenomenal dan bisa kita banggakan. Jadi, jangan membabi buta untuk melakukan sesuatu yang spektakuler, karena semua itu butuh proses.

Apa posisi Anda di OMG Creative Consulting?

Sebagai founder, owner, juga creative thinker. Posisi saya sebenarnya selevel dengan direktur. Namun, saya memilih untuk disebut sebagai chief creative officer. Jabatan ini saya karang sendiri yang diambil dari istilah umum dengan menyesuaikan situasi tim kreatif kami yang memang hanya terdiri dari tiga orang. Keadaan ini terasa agak janggal menyebut diri sebagai direktur, padahal hanya memiliki tiga orang dalam tim. Selain itu, terdengar lebih kreatif.

Saya dengar Anda jarang ada di kantor karena menerapkan e-office. Apakah hal tersebut dapat diimplementasikan di instansi selain bisnis kreatif?

Saya ingin membuat kantor yang sesimpel mungkin. Saya tidak ingin merasa terjebak dengan cubicle yang membatasi gerak kami sebagai pekerja. Proyek yang kami jalani berbeda-beda dan mengharuskan kami untuk mobile, sehingga ruangan tidak terlalu diperlukan. Cukup berbekal laptop, you can clean as you go. Dengan e-office, pekerja bisa membangun network yang luas dan mengembangkan pasar. Jika instansi lain ingin menggunakan sistem yang lain perlu pertimbangan khusus karena disesuaikan job desc mereka. Tapi menurut saya, e-office ini justru bisa menghemat banyak pengeluaran perusahaan. Lagipula, tujuan akhirnya adalah hasil, bukan lama jam kerja.

Jika tidak menjadi seperti ini, kira-kira seorang Yoris akan jadi seperti apa, ya, sekarang?

Wah, susah juga ya. Sebab, saya happy dengan pekerjaan ini. Ha-ha-ha. Mungkin jadi pastur. Saya sempat jadi putra altar calon seminari, tapi lalu mengundurkan diri karena tidak boleh menikah.

Bisa Anda summarize isi buku “Oh My Goodness” ini untuk pembaca area?

Intinya, buku ini adalah bocoran serta tips pengalaman saya, baik yang benar maupun yang salah agar orang lain tidak berbuat kesalahan yang sama. Tujuannya agar dikenal menjadi sosok yang kreatif dan sukses di usia muda. Pada dasarnya, semua orang adalah orang yang kreatif. Jadi, sangat disayangkan jika semua orang terpaku pada rutinitas yang sama padahal memiliki skill yang bisa digali. Harapannya orang-orang akan bisa jadi kreatif dan meraih hasil yang lebih baik.

Untuk ke depannya, bidang apalagi yang ingin Anda rambah?

Saat ini bidang property masih terus digeluti. Epicentrum di Rasuna Said yang sebentar lagi juga akan berdiri di Medan dan Makassar. Tetap menjadi consultant award event karena ampuh memberikan rasa percaya diri kepada para peserta untuk terus menggali potensi. Selanjutnya, ada beberapa buku yang tidak kalah unik dari Creative Junkies yang akan mengubah peta/sistem pembuatan buku nasional, baik untuk seri Creative Junkies sendiri maupun untuk klien kami. Buku-buku tersebut tetap berkutat pada kreativitas anak muda.

Visit his website here also his blog
Follow him on twitter

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on twitter

Bookmark and Share

0 Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.