I Guess We’re Just a Little Too Sensitive
May, 26th 2010 | by Ferry Ardiansyah | Comments: 14
Kita sering tidak merasa orang lain sedang memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulut kita hanya untuk menilai kadar emosi serta sensitivitas kita.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Sekarang ini, orang dirasa butuh melakukan hal itu untuk sebuah kenyamanan. Jika tidak ada yang melenceng dari penilaian, pertemanan boleh dilanjutkan. Syukur-syukur ada ‘sesuatu’ di situ, semisal proyek kerja sama. Standar, ‘kan?
Sudah bukan waktunya untuk selalu memperkenankan jiwa kita bertindak sesuai standar diri sendiri. Lihat, banyak sekali kepentingan yang kian hari semakin bergesekan. Mengapa? Ya itu tadi, orang selalu tidak mau menyesuaikan standar karena merasa langkah yang mereka tempuh adalah keputusan paling tepat sedunia. Perhatikan juga tingkah laku beberapa rekan kerja di sekitar kalian yang baru saja ‘diganjar’ peningkatan kedudukan. Perlahan tapi pasti, mereka mulai bertindak seolah-olah dunia berada dalam genggamannya. Dan, semua peraturan harus disesuaikan dengan standarnya. Bila perlu, Standard of Procedure dia yang buat. Ha-ha-ha. Orang seperti itu sudah pasti masuk dalam kategori manusia ambisius yang mengejar prestisius demi keamanan kariernya.
Bersama itu, emosi tingkat tinggi mulai menyelimuti orang-orang yang takut kehilangan posisi. Mereka mulai mengada-ada masalah, yang malah menjerumuskan pikirannya untuk melakukan tindakan ceroboh, seperti marah-marah, impulsif, curiga, dan selalu ingin menang sendiri. Sudah pasti, sebagai manusia normal, kita bisa menerka apa yang akan menimpa orang tersebut; kewalahan oleh tekanan-tekanan akibat ulah sendiri, dan dijauhi orang lain yang merasa “normal”. Dan, akhirnya apa? Masuklah orang tersebut dalam golongan orang tidak waras, dalam versi lebih halus.
Di sisi lain, sensitivitas orang-orang yang kita kenal kadang-kadang menggangu hingga akhirnya memunculkan keinginan untuk meninggalkan orang-orang yang terdampar dalam kadar kepekaan tingkat tinggi. Mereka seringkali tidak menggunakan rasio sebagai tolak ukur; apakah yang dimaksud “sensitif” sudah berada di jalurnya? Anda tentu pernah mengalami situasi seperti berikut. Secara tidak sengaja, kita bertemu rekan yang sempat dekat dengan kita dan sudah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Tapi, teman kita tersebut merasa risih. Bahasa tubuhnya pun menggambarkan kegelisahan karena sesuatu hal yang tidak kita tahu. Lalu, kita pulang dan tanpa sadar malah jadi memikirkan hal tersebut. Jika kita mengganggap sikap teman lama tersebut tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita, berarti kita masuk kategori normal. Nah, tapi jika kita memikirkannya berhari-hari dan tenggelam di dalamnya sampai kita jatuh sakit, maka kita perlu mengkaji ulang kadar sensitivitas jiwa ini. Jadi, sebenarnya, gampang saja. untuk bisa hidup nyaman di dunia ini kita cuma butuh kontrol emosi, menjadi lebih peka, dan semua harus berada dalam standar yang menurut "orang normal" itu lazim.
Contact the writer at ferry.ardiansyah@mediasatu.com


side
May, 26th 2010
empathy is the word that u're looking for.