ART & CULTURE

Toko Keperluan Anggun Priambodo

June, 8th 2010 |  by  Hapis Sulaiman  | Comments: 0

Perupa Anggun Priambodo menggelar pameran tunggalnya bertajuk Toko Keperluan. Well, ini bukan cuma soal instalasi toko, di sini kita diajak berpikir dan ditantang soal berbelanja, yang penting dan nggak penting.

Toko Keperluan Anggun Priambodo Toko Keperluan Anggun Priambodo

Pameran yang jenaka dan juga menyentil Pameran yang jenaka dan juga menyentil

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Tak tanggung-tanggung, demi pameran seni rupa dan instalasi tunggalnya yang pertama ini, Anggun  menyulap ruang pamer RURU Gallery menjadi sebuah toko. Toko dalam arti sebenar-benarnya, lengkap dengan deretan rak, etalase, lemari pendingin, mesin ATM, dan tentunya aneka barang dagangan. Apa yang dijual? Beragam, dari mainan, bahan makanan, bbm, barang kelontong, set perlengkapan olahraga, sampai perlengkapan masak dan mandi. Dari yang penting sampai yang nggak penting. Dari yang seribu perak sampai yang seratus ribuan. Lengkap plus unik. Lihat saja. set badminton “Ragu-ragu Icuk Sugiarto”, telur “Bukan Telur Ayam Mbak Mega”, empeng “Cepot-Cepot”, sarung ponsel “HP Obama”, sampai mainan kodok karet “Bapak Kodok Gendong Anaknya”. Semuanya dipromosikan, dijual, dan bisa dipesan di sini.       

Baik, habiskan cekikikan Anda menyaksikan intalasi juga rencengan barang dagangan di Toko Keperluan. Saatnya berpikir. Apa maksud semua ini? Inilah sentilan kocak khas Anggun. Kita menertawai potret kehidupan kita sendiri. Dalam pameran ini, Anggun mengajak kita bermain, menertawai, sekaligus berpikir suatu aktivitas yang jadi bagian penting hidup kita. Kultur jual-beli dan kebiasaan belanja di minimarket. Coba ingat lagi pengalaman berbelanja Anda di toko. Menyusuri lorong-lorong penuh rak dengan keranjang belanja di tangan, hati dan pikiran kita kerap berseteru dalam pergulatan antara kebutuhan dan pandangan mata yang tergiur menyaksikan deret-deret barang yang dijaja. Kerap kali kalap, kerap kali pula keranjang belanja kita penuh dengan barang—dari yang dibutuhkan sampai yang sebenarnya nggak perlu sama sekali. Di sinilah Anggun Priambodo menyentil lakon kita kebanyakan. Well, toko ibarat magic castle yang menyihir kita untuk memindahkan isinya ke dalam "keranjang" kita.

Nah, eksistensi toko, kebudayaan jual-beli, petualangan berbelanja, dan berpikir ulang soal barang-barang kebutuhan keseharian kita itulah yang dihadirkan Anggun Priambodo dalam pameran tunggalnya yang berlangsung lebih kurang 2 minggu, pada 22 Mei - 5 Juni lalu, di Ruang Rupa. Menghadirkan Ade Darmawan sebagai kurator, pameran ini dimeriahkan oleh penampilan Zeke Khaseli, Harlan Boer, dan organ tunggal.  

Menyoal Anggun Priambodo, tamatan Institut Kesenian Jakarta, sejak 2000, dikenal aktif sebagai perupa di dalam banyak proyek seni bersama RuangRupa. Tertarik pada video sebagai medium ekspresi membikin Anggun Priambodo belakangan lebih dikenal sebagai seniman video. Diawali dengan membuat karya video musik, Anggun terjun sebagai sutradara untuk program televisi, iklan televisi, dan film pendek. Karya-karya videonya sering dipamerkan di berbagai event seni rupa, baik di dalam maupun luar negeri, salah satunya di event seni rupa penting di Asia, Move On Asia, di Seoul, Korea Selatan pada April 2010 lalu. Mengenai 'banyolan' dalam karya-karyanya, Anggun memang dikenal senang 'bermain-main' dengan segala sesuatu yang ada di keseharian, semacam menertawai potret ironi perikehidupan di sekitarnya. Lebih 'pol' soal kekonyolannya, Anggun juga dikenal sebagai vokalis Bandempo, band pop jenaka gabungan gaya bernyanyi Adi Bing Slamet dan musik ala Benyamin S.

Fast Fact

Untuk melihat karya-karya video Anggun Priambodo, klik http://anggunpriambodo.com/

Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com

   Bagikan  

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.