ART & CULTURE

Aiko Urfia Rakhmi

June, 9th 2010 |  by  Iwan Setiawan  | Comments: 1

Menurutnya, we are all artist. Benarkah demikian? Simak penjelasannya dalam perbincangan kami berikut.

Aiko Urfia Rakhmi Aiko Urfia Rakhmi

Instalasi Maling Jemuran karyanya Instalasi Maling Jemuran karyanya

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Dara kelahiran Tokyo, 1 September 1977 ini pernah menekuni desain grafis dengan mengambil pendidikan di TAFE South Australia in Applied Design Interactive Multimedia, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Jurusan Animasi dan Digital Studio College (DSC) in 3D Animation, Jakarta. Baru pada 2008, ia mengambil Jurusan Fotografi di IKJ. Belum lama, ia menggelar pameran tunggal berjudul Maling Jemuran yang cukup unik, karena menampilkan hal biasa jadi sesuatu yang menarik. Ikuti perbincangan saya seputar dunia fotografi bersama Aiko.

Apa arti fotografi untuk Anda?

Fotografi itu medium yang unik, aspredi alias asal jepret jadi. Ha-ha. Ia mengabadikan hal-hal penting. Saya senang jalan-jalan, dan fotografi jujur sekali mewakili tangkapan mata saya yang liar. Selain itu, ia juga bisa jadi rekaman bagi otak saya yang mudah lupa. Banyak hal menarik di dunia ini yang terlewatkan oleh banyak mata. Fotografi menangkap momen realitas yang saya ciptakan melalui interaksi saya dengan subjek foto. Fotografi juga memaksa orang lain melihat menggunakan sudut pandang saya. Istimewa, ‘kan?

Menikmati fotografi tidak sesederhana menikmati musik yang tinggal membuka telinga. Ada tips sederhana bagaimana memahami fotografi?

Fotografi memang sulit diapresiasi karena ini medium ‘sejuta umat’. Setiap orang punya kamera dan bisa memotret. Karena prosesnya yang aspredi, ngapain mikir? Tapi, pada dasarnya, untuk mengapresiasi sebuah karya seni modalnya sama: banyak mempelajari segala hal tentang kehidupan (sejarah, filsafat, budaya, psikologi, antropologi, dsb), sehingga minimal bisa menganalisis, menimbulkan dialektika, dan kritik terhadap sebuah karya seni. Karya seni tidak selalu melulu dibuat untuk dinikmati, tapi seringkali merupakan refleksi filosofis seorang seniman. Apalagi di zaman post-modern ini banyak karya yang secara kasat mata tidak bisa dinikmati. Aneh bin ajaib. Ibaratnya, anak umur 5 tahun juga bisa. Kita sudah melampaui zaman saat dudukan toilet yang masuk dalam galeri menjadi sebuah pernyataan seni (Fountain, Duchamp). Bukan lagi tentang dua gunung, sawah, dan matahari.

Dengan adanya digital camera, benarkah berarti semua orang bisa jadi fotografer?

Memang bisa. Saya yakin we are all artist. Mengenai siapa fotografer yang mahir dan amatir, saya tidak melihat pentingnya pemilahan tersebut. Menurut saya, kalau ada fotografer yang mampu beli kamera canggih, sah-sah saja. Memang hasilnya ada bedanya kok, terutama isi dompet  jadi tipis. Ha-ha. Tapi kan bukan berarti yang tidak berkamera canggih tidak bisa berkarya. Apalagi sekarang saatnya digital, semua dimudahkan untuk memotret, membuat musik, bikin film, dsb. Untuk pameran Maling Jemuran kemarin, saya hanya pakai compact tuh. Artinya, semua bisa jadi seniman dengan alat pilihannya, asal ada kemauan. Masing-masing alat punya keunggulan dan kelemahan. Misalnya, kamera HP itu luar biasa untuk pengambilan gambar candid dan diam-diam. Coba kalau dibandingkan dengan kamera besar, mana bisa?

Bicara mengenai proyek pameran Anda yang berjudul Maling Jemuran, bisa ceritakan prosesnya?

Prosesnya sangat misterius dan unik. Jemuran itu unik karena ia begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari tapi sering terlewatkan mata. Ia juga unik karena identitas kita dipamerkan tanpa malu-malu (kutang, celana dalam, selera, kelas sosial, dsb). Tapi, itu semua tampak luarnya. Kalau bagi saya, memotret jemuran itu seperti terapi dan ucapan pada diri sendiri, “Ayo berkesenian! Ayo pameran tunggal! Jangan kalah sama ibu-ibu yang berani unjuk ‘karya’ lewat cuciannya!” Bagi saya, jemuran yang dijejer itu adalah karya seni instalasi. Saya banyak belajar dan terinspirasi dari ibu-ibu itu sebelum berani membuat pameran tunggal.

Apakah Anda puas dengan pameran tersebut?

Wah, saya sulit puas. Sebenarnya, dari Maling Jemuran, saya tidak bisa sekadar menempelkan foto di dinding. Pada pamerannya, saya bikin instalasi jemuran, meletakkan ember dan bakiak, bikin video art untuk efek matahari pagi, menambah ambience suara kicauan burung dan air sungai, lalu bikin pengumuman bahwa pengunjung bisa berinteraksi dengan menyumbangkan pakaian dalamnya untuk digantungkan pada pameran. Ha-ha-ha. Bisa jadi pada pameran berikutnya saya akan menyatukan seni lukis, animasi, atau performance art dengan fotografi. Siapa tahu, ya? Pokoknya banyak ide menari-nari di kepala.

   Bagikan  

Comments

nicko

June, 15th 2010

wuah, pintarnya.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.