FROM OUR DESK

"Ariel Peterporn", Multimedia Expert, and the Order of Sources

June, 10th 2010 |  by  Bayu Maitra  | 24

Ketika video vulgar yang rumornya 'dibintangi' Ariel dan Luna Maya beredar di kantor saya pada Jumat, 4 Juni lalu sekitar pukul 11.00, reaksi saya adalah membuka timeline Twitter dengan keyword "Luna Maya". Hasilnya hanya obrolan wajar, setidaknya hingga setengah jam ke depan.

Peterporn. Ilustrasi oleh Zulfiq Ardi Nugroho Peterporn. Ilustrasi oleh Zulfiq Ardi Nugroho

Photo by: Dokumentasi Istimewa

"Citius, altius, fortius". Motto olimpiade ini rasanya cocok untuk menggambarkan dunia multimedia saat ini. Arti motto tersebut adalah "faster, higher, stronger". Saya menginterpretasikannya seperti berikut: Teknologi membuat dunia multimedia bergerak dengan cepat, menautkan berita demi berita, gosip demi gosip, komentar demi komentar, atau persilangan di antaranya dengan hebat. Setengah jam setelah video tersebut beredar, timeline di Twitter dengan keyword "Luna Maya" sudah tercemar dengan cemoohan, penyesalan, bahkan olok-olok. Sungguh, setengah jam bukan waktu yang lama. Tiga hari kemudian, nama "Ariel Peterporn" menjadi trending topic nomor satu di Twitter, mengungguli Justin Bieber, penyanyi pop yang sedang naik daun. Twitter, Facebook, situs-situs berita dan infotainment, serta TV, menjadi wadah penyebaran virus "Ariel Peterporn".

Kata "higher" buat saya berarti luas cakupan. Ya, karena nyatanya ini bukan 'virus lokal', tapi virus yang mendunia. Lucu saja ketika Vicky Vette, bintang porno asal Norwegia, dalam Twitter-nya berkata, "I love it! Ariel Peterporn is the Number 1 trending topic of the day :)". Dengan cara yang unik dan tidak langsung, nama Indonesia jadi lebih dikenal dunia. Suka atau tidak.

Lalu, saya mengartikan "stronger" dengan besarnya kemampuan multimedia untuk membangun opini publik. Seperti yang Anda tahu, multimedia memiliki sifat viral. Satu video saja memiliki chain reaction yang sulit diputus. Video pertama diikuti dengan beredarnya video vulgar kedua yang, rumornya, 'dibintangi' oleh Ariel dan Cut Tari. Imbasnya tentu membanjirnya ragam komentar masyarakat. 

Sayangnya, dalam kasus seperti ini, di Indonesia ada kebiasaan untuk memunculkan para komentator yang diberi label "pakar multimedia". Ini yang berbahaya. Masyarakat cenderung menikmati hasil analisa para "pakar" ini. Kesannya, mereka demikian ahli hingga komentarnya bisa menjadi dasar yang valid untuk menyatakan keaslian video "Ariel Peterporn". Padahal, jurnalisme mengenal yang namanya "the order of sources" atau lingkaran narasumber. Contoh, dalam kasus "Ariel Peterporn", pelaku ada di lingkaran pertama, pencuri video –saya asumsikan ada pencuri, karena rasanya pelaku tidak terlalu bodoh untuk menyebarkan video- ada di lingkaran kedua, lalu penadah dan pengganda video ada di lingkaran ketiga, lalu orang yang menerima video ada di lingkaran keempat, dan seterusnya. Lalu, di lingkaran manakah para "pakar" ini berada? Jauh. Lagipula, kriteria "pakar" di Indonesia sendiri masih bisa diperdebatkan. Komentar seorang "pakar" belum tentu relevan dan tidak lebih baik dari rumor.

Ini sebabnya banyak media dan infotainment memberitakan kasus ini dengan bersembunyi dibalik kalimat-kalimat seperti "…MIRIP Ariel-Luna…". Mereka hanya mengejar rating, sensasi, traffic situs, tanpa mempedulikan kebenaran berita itu sendiri. Padahal, jika mereka adalah wartawan yang rajin, sabar, ulet, dan mau berusaha, mereka bisa melihat kasus ini sebagai peluang untuk membuat artikel feature yang baik dan menyeluruh.

Dalam sebuah wawancara dengan Tempo Interaktif, Cut Tari sudah menyangkal kebenaran rumor tersebut. Selanjutnya, ini tugas wartawan yang berkepentingan –yang pasti bukan saya- untuk membongkar dengan mencari cara lain, melalui 'lubang' lain. Tapi, tolong, jangan menggunakan analisa pakar multimedia untuk membuat asumsi, apalagi mengarahkan asumsi publik. Ini bisa menyesatkan dan, maaf, membuat seorang wartawan tampak bodoh.

 

Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter

Bookmark and Share

24 Comments

zoel

June, 10th 2010

qweqw

medi

June, 10th 2010

orang - orang yang mengaku dirinya pakar telematika dan meneliti video porno itu lebih tepat disebut orang bodoh yang kurang kerjaan..

vito

June, 10th 2010

Jadi trending topic nomor satu Twitter untuk ukuran dunia....prestasi yang luar biasa, sayang dari sisi negatif, above all, I'm not proud of having Peterporn on TT tho its from Indonesia. Stop embarassing your country, we've had enough!

zoel

June, 10th 2010

Dalam hal ini teknologi bisa menjadi barometer seperti apakah moral masyarakat

Teddy

June, 10th 2010

Terus terang saya terganggu dgn pemberitaan tersebut yang selalu diputar dilayar TV.Capek dan gak bermanfaat.TV sekarang gak mutu, gak layak dipercaya. Kasian tayangan berbobot yg porsinya makin dikit.

subhan

June, 10th 2010

biarkanlah ariel peterporn menjadi hiburan di tengah masyarakan yg sudah muak akan pemertintahan

curut

June, 10th 2010

ariel pertporn u are rockss

raymond

June, 10th 2010

Pakar multimedia suka sok tau.roy suryo apa kabar ya?biasanya dia suka nyerocos nih kalo urusan selebriti

Cynthia

June, 11th 2010

Memakai para pakar telematika untuk meneliti dan menelaah foto dan video kan hanya "syarat" saja, supaya beritanya terkesan berisi, berbobot, serius. Padahal, maaf, tanpa kehadiran mereka pun -yang terkesan bodoh- semua orang rasanya tahu kebenaran yang terjadi, 'kan? Lebih bodoh lagi pernyataan si aktris yg menyangkal itu.

Bayu Maitra

June, 11th 2010

@Cynthia

Sepakat. Ini tahun 2010 dan pembaca/pemirsa kita tidak bodoh :)

Payo

June, 15th 2010

Peterporn or Peternorth, bedanya yang satu collector yang satu businessman..., yang lainnya cuma sirik dan gak ada kerjaan... :P

Kenapa fokus ke korban :( kenapa gak fokus cari yang menyebarkan video tersebut dan fokus melarang pemberitaan ulang di media (satu Indonesia deh tahu sekarang).

nicko

June, 18th 2010

rumah ariel sm cafe punya luna yg di bdg disegel :(

A.P

June, 18th 2010

Yup, i agree. stop pembodohan publik dengan pemberitaan berlebihan di media ttg ini..udah lah get over it..toh nantinya akan ketauan siapa yang benar dan siapa yang salah..yang ga bersangkutan ga usah menghakimi, atau menjudge...apalagi mencari sensasi utk diri sendiri di atas penderitaan orang.. ini smua asumsinya sudah terlalu jauh dan tidak masuk akal..

hanso

June, 18th 2010

ya. kasian kalo diumbar terus sm media. stop it.

Ziggy

June, 19th 2010

nggak mungkinlah ariel-luna-cut tari mau ngaku.Mereka akan terus menyangkal.Kalo udh spt ini gmn mau cari kbenarannya?

mastur

June, 21st 2010

semakin di ekspose media justru semakin ngetop

hafis

June, 22nd 2010

like this article !

tornado

June, 25th 2010

this guy is stupid. i never knew indonesia is such a pervert country. having sex with men and women and keep the videos as a collection is not a good example for his fans. indonesia should stay in the jungle. lol

Rio

June, 25th 2010

@tornado

It's not a good example. i agree. but he's a rock star, what can i say... :D

Jet

June, 29th 2010

Media sekarang juga susah dipercaya, apalgi TV.Masyarakat jaman skrg dituntut utk lbh cerdas dlm memilah informasi.Kasian anak-anak kecil yg tumbuh di era ini.Harus ada pengawasan ketat dr ortunya

ardi

June, 30th 2010

Akhirnya ngaku juga kan,hehehehwe.tapi salut sih sm org2 yg mau mengakui kesalahannya dan tobat :p

amirp

July, 6th 2010

wartawan infotainment itu bau! gak mulut gak badan sama aja tengiknya.

miss_who

July, 23rd 2010

i enjoy reading your article! "Citius, altius, fortius"

Soraya

August, 11th 2010

Bebaskan ariiiiiiiieeeellll!! ;)

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.