FACES OF JAKARTA

Kalau Setengah-Setengah, Lebih Baik Tidak Usah!

June, 11th 2010 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 6

Noor Rahmat Wibowo (34)

Selama musik masih disukai, profesinya akan tetap hidup Selama musik masih disukai, profesinya akan tetap hidup

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Luthier. Ya, itulah sebutan bagi seseorang yang memperbaiki dan meng-customize gitar. Masyarakat memang banyak yang belum mengetahui pofesi ini, kecuali orang-orang yang berkecimpung di dunia musik. Saya yang penasaran pun akhirnya mewawancarai seorang luthier di workshop-nya.

Bagaimana awalnya Anda bisa terjun ke profesi ini?

Awalnya, saya bekerja di Serenata Galeri Musik sebagai marketing pada divisi produk spesialis gitar dan amplifier selama kurang lebih 3 tahun. Di sana, saya lihat, setiap ada customer complain mengenai produk yang kita jual pasti dilempar ke tempat lain. Saya pikir, masalah seperti ini saja kok dilempar ke tempat lain. Saya lalu mengajukan kepada manajer untuk coba memperbaiki dan akhirnya keterusan. Kebetulan, dulu sebelum kerja di sana, saya suka mengutak-atik gitar.

Sejak kapan Anda membuka usaha sendiri?

Pertengahan 2003.

Anda memperoleh ilmu dari mana hingga dapat memperbaiki dan ”membuat” gitar seperti ini?

Otodidak saja. Prinsip saya, apabila orang lain bisa melakukannya, kenapa saya tidak. Dulu orangtua saya sama sekali tidak mendukung sampai akhirnya saya ketemu seorang teman dan mulai membuat gitar. Sempat gagal, tapi akhirnya berhasil dan disukai teman-teman.

Mana yang lebih Anda sukai: servis atau custom?

Jelas custom, karena mengolah dari kayu mentah hingga menjadi gitar. Apalagi, customer puas akan hasilnya. Itu kepuasan tersendiri buat saya.

Dalam sehari atau seminggu, berapa order yang diterima?

Nggak mesti sih. Saya tidak pernah menghitung. Namun, untuk custom, saya membatasi dalam sebulan hanya mengerjakan 3–5 gitar, karena keterbatasan SDM.

Apa kesulitan yang sering Anda temui dalam membuat gitar?

Materialnya. Bahan kayunya kadang-kadang ada kadang-kadang tidak. Terlebih jenis kayu maple untuk neck gitar. Itu kan impor. Kadang-kadang ada, tapi bahannya jelek. Tidak akan saya ambil, takut customer protes.

Mengapa Anda begitu tertarik untuk memperbaiki gitar dibanding alat musik lainnya?

Ketertarikan saya pada gitar awalnya karena tidak disetujui orangtua dan rasa sakit hati. Teman-teman saya waktu SMA selalu meledek kalau saya tidak bisa main gitar. Kemudian, saya sempat kecelakaan dan saraf tangan kiri saya mati. Terapi saraf yang saya lakukan adalah dengan belajar gitar hingga bisa main gitar sampai saat ini.

Range harga untuk memperbaiki atau membuat gitar?

Standard set up untuk gitar listrik dan akustik Rp100.000–Rp150.000, sedangkan custom Rp2.000.000–tak terhingga.

Saya dengar banyak band lokal yang men-custom gitarnya di sini. Siapa saja?

Lumayan, antara lain Ungu, Kotak, Padi, Alexa, Jikustik, serta beberapa band kompilasi KFC.

Bagaimana pendapat Anda mengenai masa depan profesi ini?

Saya rasa, selama musik masih disukai dan band masih banyak, profesi ini akan tetap hidup.

Apakah mungkin suatu saat nanti Anda akan memperbaiki alat band selain gitar?

Tidak. Pernah mencoba tapi nggak sreg. Lebih baik tidak usah kalau setengah-setengah!

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on twitter

   Bagikan  

Comments

popo

June, 12th 2010

artikel yg sungguh menarik!

bony @ areamagz.com

June, 17th 2010

To: popo..
Thanks atas commentnya...semoga tim area dapat menemukan & mewawancarai orang yang memiliki profesi-profesi 'unik' yang tersebar banyak di kota tercinta ini...cheers..

Sandi Parulian

October, 25th 2010

bisa minta alamatnya pak noor rahmat wibowo g?
saya mau memperbaiki gitar saya, thx

medi

October, 26th 2010

@sandi : alamat mas noor di kampung baru, cirendeu

endho

May, 25th 2011

bsa mnta alamat lengkapnya ??????

endho

May, 25th 2011

alamt lengkapnya dmn yaaa bang ??????

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.