Greysia Polii, Meiliana Jauhari, dan Ardiyanti Firdasari
June, 14th 2010 | by Sari Y. Arnali | Comments: 8
Di tengah persiapan menghadapi Indonesia Open setelah Uber Cup yang baru usai, putri-putri kebanggaan Indonesia ini melipir sejenak ke sisi lapangan untuk berbagi cerita kepada saya.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Kapan pertama kali tercetus niat dan memutuskan jadi atlet?
Firda: Dari SMP sudah mulai serius. Kebetulan papa pelatih juga.
Greys: Sejak pindah dari Manado ke Jakarta. Sekitar umur 8 tahun. Mama ingin anaknya jadi atlet. Saya pun begitu, memang ingin jadi pemain bulutangkis. Sejak itu, saya memutuskan serius di bulutangkis. Bukan jadi hobi lagi, tapi sudah pilihan hidup.
Meiliana: Awalnya, sih, cuma biar ada kegiatan saja. Ya, namanya anak kecil. Ekstrakurikuler lah istilahnya. Setelah masuk klub, pelatih-pelatih banyak yang mendukung. Sejak itu, berjalan terus sampai akhirnya jadi pilihan
Siapa pemain yang kalian jadikan panutan/idola; lokal dan non-lokal?
Firda: Lokal: Susi Susanti, non-lokal: Lin Dan. Saya suka nggak percaya kalau lihat Lin Dan main. Ini orang latihannya bagaimana, ya, bisa sampai kayak begitu? Kayak bukan manusia. Ha-ha-ha.
Greys: Susi Susanti dan Deyana Lomban, non-lokal: Ge Fei.
Meliana: Lili Tampi/Finarsih, non-lokal: Ge
Sebenarnya, apa target PBSI di Uber Cup kemarin?
Greysia: Bisa mencapai semifinal sebenarnya sudah sebuah prestasi juga. Walau seharusnya kami bisa lebih dari dua tahun lalu (mencapai final). Tapi, kan, kita lihat dari materi pemain juga. Sekitar 60% pemain adalah pemain baru. Secara mental dan performance mereka sudah berusaha semaksimal
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran saat dikalahkan China di semifinal?
Firda: Kecewa pasti ada. Kami juga ingin membawa pulang Piala Uber. Kesal juga, sih. Ha-ha-ha. Terasa kesalnya pas nonton China lawan Korea. Saya mikir, "Ah, sebenarnya kita bisa, nih".
Meiliana: Intinya, masih banyak yang harus dibenahi.
Greysia: Pasti sedihlah. Tapi, seperti yang Mel bilang, masih banyak PR yang harus kita
Bagaimana kalian menanggapi cibiran orang tentang prestasi bulutangkis Indonesia saat ini?
Firda: Saya nggak terlalu peduli omongan orang. Cibiran-cibiran itu saya anggap motivasi. Soalnya, sekarang persaingan juga sudah semakin ketat.
Greys: Kalau saya, karena mereka nggak tahu kami di sini, jadi mending mereka nggak usah ngomong. Mereka nggak tahu apa yang kami lakukan, bagaimana perjuangan kami. Mereka ngomong apa, ambil positifnya untuk menaikkan prestasi kita.
Meiliana: Buat saya, sih, yang baik diambil, yang jelek buang saja. Malah itu bisa jadi cambuk untuk nunjukin bahwa kita
Ada apa di balik pergantian pasangan di Uber Cup kemarin?
Meiliana: Itu merupakan bagian dari strategi pelatih.
Greys: Mungkin dilihat dari banyak hal, saya dan Meli lebih cocok. Sebagai pemain, kami harus siap kalau itu memang baik. Nggak mungkin, kan, pelatih menjerumuskan kami ke hal yang tidak
Menurut kalian, apa rahasia para pemain China sampai mereka seolah unbeatable seperti sekarang?
Firda: Yang saya tahu, pembinaan prestasi olahraga mereka memang benar-benar diperhatikan. Di China, banyak banget sekolah olahraga. Pelatnasnya juga lebih terorganisasi. Mungkin karena di China juga orangnya jauh lebih banyak. Regenerasi jadi jalan.
Meiliana: Kalau menurut kami, sih, biasa aja, ya? Ha-ha-ha. Cuma, mereka selalu lebih siap dari segala hal. Kadang-kadang, kita sudah siap fisik dan mental, tapi kurang secara strategi. Atau, sebaliknya. Untuk menembus celah mereka memang agak susah. Mereka selalu bisa membalikkan keadaan dengan cepat.
Greys: Dari dulu, regenerasi mereka sangat baik. Begini, deh, bandingkan dengan pemain junior kita. Dulu, misalnya, saya punya senior yang bisa saya lihat. Otomatis kalau kita ikut pertandingan, bikin kita pede. Kharismanya ada. Nah, kalau China, mereka duduk saja, kita sudah yang, "Wah, gila, pemain China!" karena mind set kita sudah begitu. Berarti kita sudah kalah ini (sambil menunjuk kepala). Yang harus kita lakukan sekarang adalah mematahkan pikiran-pikiran itu. Lebih ke psikologis. Secara teknik, sebenarnya sama
Secara psikologis berdampak banget, dong, ya, kekalahan China dari Korea?
Firda: Banget. Dari obrolan-obrolan ringan ada yang bilang, sebenarnya kalau mau mengalahkan China, tuh, ya, saat ini. Karena pemain-pemain China yang kemarin turun di Uber itu semua baru. Artinya, mereka belum pernah ikut event
Punya ritual sebelum bertanding?
Firda: Nggak. Standar saja, sih. Paling berdoa, itu pasti.
Meiliana: Menenangkan diri. Namanya pertandingan pasti ada rasa tegang, tinggal apakah itu besar atau kecil. Kalau saya, sih, paling dengar musik.
Greys: Pertama, berdoa. Kedua nggak boleh makan. Ha-ha-ha. Makannya sedikit saja. Saya nggak bisa makan sebelum main. Kalau perlu nggak usah
Apa harapan kalian buat Indonesia?
Firda: Di bidang olahraga, saya berharap kesejahteraaan para atlet lebih diperhatikan. Saya ingin fasilitas olahraga diperbanyak. Yang saya tahu, Istora sudah nggak layak menurut standar internasional. Bangun hall yang nggak cuma bisa dipakai buat pertandingan olahraga, tapi bisa juga buat konser. Jangan mal saja yang banyak.
Meiliana: Bendera merah putih bisa berkibar di mana-mana.
Greys: Yang pasti semua orang ingin Indonesia maju. Menurut aku, di sektor mana pun, nggak hanya olahraga, selalu ada yang namanya mementingkan diri sendiri. Dari kitanya, harus ada kepercayaan juga ke Pemerintah. Kalau nggak ada, susah untuk maju. Yang ada cuma
Kapan the lowest point dalam hidup kalian?
Firda: Awal 2005. Prestasi saya sempat jeblok. Ada kejuaraan, saya nggak dipasang. Dijanjiin ikut kejuaraan, ternyata saya nggak ikut. Untungnya masih banyak orang yang mendukung sampai akhirnya saya bangkit.
Greys: Sea Games kemarin. Sebelumnya saya cedera lutut; sudah putus asa, sampai nggak mau main lagi. Cedera, kan, bikin trauma. Nah, trauma itu yang mengganggu. Dukungan semua orang penting banget. Lawan terberat memerangi trauma adalah diri kita sendiri
Buku apa yang terakhir kalian baca?
Firda: Terakhir, sih, chiclit. Saya lupa judulnya.
Greys: Biografinya Muhammad Ali, judulnya Butterfly. Bagus. Baca, deh. He-he.
Meiliana: Saya, sih, buku pelajaran. Perpajakan. Ha-ha-ha.
Jika diibaratkan alat musik, kalian alat musik apa?
Firda: Piano. Tapi, saya nggak bisa main piano. Ha-ha-ha.
Meiliana: Biola kali, ya.
Greys: Saya mau jadi gitar karena banyak rhythm-nya. Gitar itu melihat waktu dan kondisi.
Contact the writer at sari.yuningsih@mediasatu.com


TIRZA
July, 13th 2010
k''FIRDASARI hebat banget ya aku fans berat sama kakak!!!!!!!!!!!