Tarian Seorang Penyembuh
June, 18th 2010 | by Bayu Maitra | Comments: 4
Seorang Afrika Selatan memilih berkunjung ke Jakarta ketimbang diam di rumah dan menyaksikan Piala Dunia 2010. Ia menari di penghujung acara Indonesian Dance Festival 2010 di Taman Ismail Marzuki, Kamis, 17 Juni lalu.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Di panggung, tubuh besar berkulit hitam itu berpeluh, kepala plontosnya sesekali memantulkan cahaya lampu sorot. Ia menyatu dengan irama musik yang berubah-ubah. Melotot, menyeringai, meringis, memelas, menggeram, tertawa, meliuk-liuk, melompat, duduk, diam. Vincent Sekwati Koko Mantsoe menari dengan jiwanya.
Vincent kecil tumbuh di zaman edan, ketika politik apartheid yang mendiskriminasi orang kulit hitam sedang maraknya di Afrika Selatan. Ia lahir dan dibesarkan di daerah urban, Soweto, Johannesburg. Namun, minatnya bukan politik, tapi budaya.
Sejak kecil ia terbiasa dengan tabuhan drum. Nenek, ibu, dan bibinya biasa 'menyapa' nenek moyang mereka setiap pagi. Takdirnya sebagai keturunan generasi Sangomas --yang dapat menyembuhkan secara tradisional—membuatnya kerap berpartisipasi dalam ritual tradisional yang melibatkan lagu, tari, dan drum. Vincent tidak percaya takdir itu, meski ia memiliki energi spiritual nenek moyangnya. Keluarga Mantsoe adalah kombinasi keanekaragaman budaya kolektif, mulai dari Southern Sotho, Ndebele, Xhosa, dan Pedi.
Pada 1991, ia mulai berlatih bersama klub penari muda bernama The Joy Dancers, berlatih di jalanan dan mencoba mengembangkan gerakan tari dan yang ada di video music Michael Jackson, Wham, dan Fame serta memberikan sentuhan khas asalnya. Vincent berkembang pesat. Melihat tariannya sekarang seperti melihat sintesa tarian Eropa dan Asia, yang disempurnakan oleh sensibilitas seorang Afrika untuk menggunakan koreografi sebagai alat transisi spiritual. "I just enjoyed, I just love to move using the body's language how one can actually transform himself; different techniques being done by one person it was fascinating and I wanted to explore that. I want to see how far can I go with different techniques being implanted into my body," tutur Vincent Mantsoe dalam wawancara dengan Ballet-Dance Magazine.
Di panggung, tubuh besar berkulit hitam itu berpeluh, kepala plontosnya sesekali memantulkan cahaya lampu sorot. Ia menyatu dengan irama musik yang berubah-ubah. Vincent membawakan "Barena 'Chiefs'" dengan telanjang dada, hanya mengenakan celana kain warna khaki yang berkelebat saat ia bergerak. Sebuah kain lebar dan tongkat melengkapi penampilannya. Sebuah tarian magis dipertontonkan dengan tata lampu dramatis dan musik yang unik di telinga. Energi spiritual seorang penyembuh yang menyeruak bagaikan sebuah interaksi personal bagi saya yang menyaksikannya.
Vincent Mantsoe menari selama sekitar 40 menit. Di akhir penampilan, ia menghaturkan rasa hormat dan terima kasih dengan cara membungkuk dan menangkupkan kedua tangannya di atas kepala. Sebuah cara yang merefleksikan kerendahan hati yang luar biasa dari seorang penari dengan prestasi luar biasa. Indonesian Dance Festival 2010 pun berakhir.
Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on Twitter



nicko
June, 18th 2010
mantabs bgt nih artikelnya.