Jakarta Through Expatriates Eyes
June, 23rd 2010 | by | Comments: 3
Jakarta di mata perantau ibarat bongkahan emas yang terbenam di antara tumpukan batu kali. Jika ingin mendapatkan benda berkilau tersebut, Anda harus menyisihkan bebatuan lain.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Saat mulai menjejakkan kaki di kali, banyak batu licin plus kerikil tajam yang berusaha keras menjatuhkan kita. Kesabaran diuji semaksimal mungkin. Bila tak sanggup, pilihan hanya dua: bertahan dengan cara tidak sehat, yakni mengambang, atau pulang ke tepian kali. Jika dianalogikan dengan kehidupan, hal pertama adalah bertahan hidup dengan cara bermain api di Ibukota, dan pilihan kedua adalah pulang kampung. Opsi pertama seringkali jadi pilihan favorit para perantau. Jenisnya pun berbagai macam. Jika sanggup bermain cantik, banyak keuntungan yang bisa didatangkan.
Kita berikan dua contoh yang mudah-mudahan bisa mewakili konsep 'bertahan dengan cara tidak sehat' ini. Pertama, Anda diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji kecil, tapi hasrat untuk tampil glamor kerap menghampiri. Di sebuah kesempatan, peluang untuk 'uji nyali' lewat di depan mata. Daripada menunggu kesempatan kedua, tanpa pikir panjang Anda langsung 'menggumuli' peluang itu. Dalam jangka waktu yang terbilang pendek, Anda berhasil melakukan misi 'tidak sehat' tersebut. Lalu, sampailah Anda ke sebuah adegan seperti ini, "Duduk di sofa empuk, jari tangan kanan menyeka keringat, sedangkan jari tangan kiri menggengggam form transfer bank berjumlah ratusan juta." Kalian mengira hal ini tidak pernah terjadi di sekeliling kita? Omong kosong. Hanya pelaku, Tuhan, dan anak-istri pelakulah yang mengetahui hal ini.
Analogi berikutnya adalah ketika seorang wanita lulusan S1 Fakultas Ekonomi asal daerah mulai merasakan kebutuhan hidupnya tidak pernah tercukupi oleh gajinya sebagai pegawai swasta kelas C. Sementara, sang kekasih yang juga berasal dari daerah yang sama, gajinya pun tidak lebih besar. Hanya kebutuhan standar saja yang bisa kekasihnya berikan. Hingga suatu ketika, wanita ini dikenalkan oleh teman kantor ke bekas atasannya, yang kekayaannya melebihi pentolan kelompok musik Dewa, Ahmad Dhani. Terjadilah hal paling 'mainstream' yang begitu sering terjadi di Ibukota kita tercinta; perselingkuhan. Basi, bukan? Hal tersebut sering jadi pemicu untuk mencari uang dengan cara singkat dengan hasil memikat. Mungkin, sudah puluhan ribu artikel yang menampilkan tulisan seperti ini. Tapi, kenapa kita membahasnya lagi? Karena saya juga ingin memberi peringatan terhadap diri sendiri, juga teman-teman sesama perantau di Jakarta agar dijauhkan dari rasa tamak, ketika dihampiri peluang untuk bermain api. Naif? Mungkin juga. Anyway, dirgahayu yang ke-483, Ibukotaku yang misterius.
Contact the writer at nicko.krisna@mediasatu.com
Follow the writer on Twitter


hendar
June, 25th 2010
setau gw ekspatriat di Jakarta malah oportunis, profesional and kebanyakan berhasil dengan hidupnya, krena mereka terlatih tuk mandiri, learn everything and open minded. Soal pilihan tuk mampu bertahan atau malah mencapai kesuksesan memang pasti beragam coz setiap individu punya cara masing2 tuk mengartikan kata "sukses" menurut mereka, but hey' thats real life. above all, Jakarta is a nice big canvas, just paint it and see whats picture that u make.