FACES OF JAKARTA

Betapa Menyenangkan Kerja Sesuai Hobi

June, 28th 2010 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 0

Denny A.W. Setiawan (29)

Denny A. W. Setiawan Denny A. W. Setiawan

Job desc saya adalah memasak untuk klien, produser, dan agensi Job desc saya adalah memasak untuk klien, produser, dan agensi

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Kini, saya kembali mengulik sebuah profesi unik di Jakarta, yaitu craft service. Penasaran? Berikut bincang-bincang santainya dengan salah satu pelaku profesi tersebut.

Tolong dijelaskan apa, sih, craft service itu?

Craft service sama seperti koki. Gue masakin beberapa menu pesanan untuk klien, agensi, dan produser. Kadang-kadang, ada juga untuk talent sebuah TVC (TV Komersial). Job desc-nya adalah kita memasak apa yang klien atau produser minta. Kalau bisa, kita masak. Kalau tidak bisa, kita beli. Intinya, jangan pernah mengeluarkan kata ”tidak ada”, ”tidak bisa”, dan ”tidak tahu”. Sebab, itu mengecewakan mereka.

Lalu, apa bedanya dengan catering?

Catering menyediakan seluruh makanan dan minuman untuk seluruh kru, driver, dan security saat syuting TVC pada pagi, ,siang dan malam. Sementara, craft service hanya dikhususkan melayani menu- menu pilihan dan pesanan khusus untuk klien dan agensi saja.

Kapan Anda mulai mendalami profesi sebagai craft service ini?

Pada 2004 akhir, awalnya gue dapat ajakan dari seorang teman bernama Eky untuk mencobanya. Saat itu, gue bekerja di bawah sebuah production house bernama Kemistry sebagai freelancer.

Mengapa Anda memilih profesi ini? Setahu saya, dulu Anda sempat mengambil major design?

Sebab, memang hobi masak, dan itu bisa dilihat dari bentuk tubuh gue. Ha-ha. Selain itu, kerja sesuai hobi itu menyenangkan. Kalau kuliah desain itu kesalahan. Gue nggak berbakat sama sekali. Ha-ha.

Bagaimana awalnya Anda bisa memasak dan membuat menu?

Awalnya belajar dari nyokap, suka nonton acara masak, dan bereksperimen dengan membuat menu. Kemudian, mengundang teman-teman untuk mencicipi masakan gue. Selain itu, juga mengambil kursus Profesional Chef selama 1 tahun di Jakarta Culinary Center.

Satu bulan berapa kali Anda bisa dapat job dan bagaimana perhitungannya?

Kalau lagi apes-apesnya, per bulan gue hanya dapat 5 job. Hitungannya per hari dengan range harga Rp1–1,7 juta. Gue pernah mendapat job selama 18 hari. Lumayan banget, ’kan?

Siapa role model Anda dan alasannya?

Gordon Ramsay yang reality show-nya Hell’s Kitchen. Dia galak, tegas, dan suka menggunakan kata f**k kepada pesertanya.

Apa yang Anda suka dan tidak suka dari profesi ini?

Suka: kerja sesuai hobi, tidak memerlukan ijazah, bisa berpakaian bebas, berangkat dan pulang dijemput, serta semua tersedia di lokasi. Yang nggak gue sukai, saat makanan yang gue buat dibilang salah. Padahal, gue buat sesuai yang dipesan, tapi tetap dimakan juga. Aneh, ’kan?

Sebentar lagi Jakarta akan berulang tahun, apa yang Anda harapkan terhadap kota ini?

Semakin banyak tempat wisata kuliner di Jakarta, seperti Kemang-lah. Dan, sistem transportasi semakin baik pelayanannya.

Good and bad about Jakarta?

Good: Semua tersedia di sini dari yang halal sampai haram. Ha-ha.
Bad: Polisi. Ya loe tahulah maksud gue. Mereka sok menegakkan peraturan tapi mereka juga bisa disuap, ular berkepala dualah.

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on twitter

   Bagikan  

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.