Leonardo
June, 28th 2010 | by Hanindyo Suropati | Comments: 1
Dikenal sebagai mantan vokalis band Vessel, kini personel Zeke And The Popo, serta kontribusinya di banyak album. Saya berbincang dengannya tentang album solo bertajuk The Sun.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Sebelum mengerjakan album solo Anda ini, bagaimana kabar Zeke and The Popo (ZATPP)?
Kabarnya baik-baik saja. Saat ini, tiap-tiap personelnya sibuk solo, seperti gue dan Zeke, kecuali Yudi. Jadi, kami memilih break dulu karena sedang jenuh. ZATPP memang nggak pernah sampai ke tingkat apa pun, atau bisa dibilang so-so lah. Kami nggak bisa dibandingkan dengan White Shoes and The Couples Company atau The S.I.G.I.T, band indie yang bisa dibilang sukses. Lagipula, ZATPP sejak 2003–2008 sudah banyak membuat soundtrack, scoring, dan salah satu proyek kami, Mantra, merilis EP juga album. Setelah 5 tahun, kami berpikir reses dulu kalau bahasa anggota DPR. Ha-ha. Tapi, nggak bubar. Pada 2010, pencapaian diri masing-masing dulu. Insya Allah 2011 kami akan menggarap ZATPP lagi.
Sudah ada niat membuat proyek solo sejak Anda bergabung dengan ZATPP?
Sudah ada, hanya pemicunya bukan dari gue. Awalnya, gue ketemu Anda (Hendra Perdana) dan Mas Dharmo (Dharmo Soedirman) yang akhirnya keduanya jadi produser gue. Mereka menyarankan untuk buat album solo. Ya, merekalah trigger gue untuk semakin niat membuat album solo ini.
Apa perbedaan materi Leonardo di The Sun dengan band Anda paling awal, Vessel?
Anjrit, harus mundur semua, ya? Ha-ha. Perbedaannya jauh banget, man. Kalau dulu gue masih 25 tahun, sekarang 33 tahun. Kalau album ini, pendewasaan diri. Kalau waktu di Vessel, kan, major label. Jadi, campur tangan label ada, seperti harus menulis lirik bahasa Indonesia dan saat itu bukan masa favorit gue. Gue lemah banget menulis lirik berbahasa Indonesia. Makanya, gue salut sama Jimi (Jimi Multhazam/ The Upstair/Morfem) dan Eka (Eka Annash/The Brandals) bisa membuat lirik-lirik Indonesia yang nggak norak, katro, dan cheesy. Intinya, album ini tuh gue banget. Karena, gue suka bermacam genre. Di album yang menggunakan nama gue, gue masukkin multiple genre.
Kenapa judul album Anda The Sun?
Itu merupakan salah satu judul lagu dalam album ini. Dan, ini lagu paling personal. Kalau mau dilebarkan lagi filosofinya, The Sun itu artinya matahari. Loe hidup tanpa bulan bisa, tanpa matahari selesai loe. Sebenci-bencinya loe sama matahari karena panas, loe tetap butuh matahari. Tuhan boleh ambil bulan, toh bumi tetap muter kok. Tapi, kalau nggak ada matahari, bumi nggak muter, man. Ha-ha.
Tolong jelaskan arti gambar pada cover album Anda, di mana Anda memainkan terompet lalu dilihat seorang anak kecil?
Terompet adalah sebuah alat musik yang sama sekali nggak bisa gue mainkan. Dan, gue juga nggak niat untuk bisa memainkannya. Filosofinya, anak kecil itu kan simbol virginitas atau kertas putih. Di situ, gue main terompet untuk memperlihatkan I’m not master at dan tujuan gue hanya ingin mengisi kertas putih tersebut. Agak aneh, ya. Ha-ha.
Dalam debut album ini, Anda banyak menampilkan featuring. Konsepnya memang seperti itu?
Ya, konsepnya memang seperti itu. Namanya juga solo, dan gue juga nggak bisa memainkan semua alat musik. Waktu itu, gue, Anda, dan Dharmo memikirkan bagaimana sebuah lagu jadi enak didengar. Kayak lagu ini butuh cello, kami cari pemain cello. Lagu ini butuh terompet, kami cari pemain terompet. Jadi, lebih ke kebutuhan lagunya.
Ini memang urusan ’dapur’. Tapi, berapa banyak dana yang Anda keluarkan untuk The Sun?
Di album ini, ada executive produser. Jadi, ada investor bernama Amir Pohan. Kalau detailnya sendiri, ada manajer dan segala macamnya. Bisa dibilang lumayan besar karena gue memakai beberapa additional player. Tapi, karena circle of friends, gue bisa dapat diskon. Itulah bentuk support teman-teman. Untuk nominal, nggak enak kalau disebut, man. Ha-ha.
Apa kesulitan-kesulitan yang Anda hadapi sebelum merilis album ini?
Banyak banget. Biaya, jangka waktu, ngikutin jadwal additional, sempat ganti sound engineer dua kali karena kurang pas, dan banyak lagi. Nggak bakal selesai interview-nya kalau bahas masalah kesulitan doang, sih. Ha-ha.
Ada strategi khusus dalam pemasaran album ini?
Rencananya, sih, cetakan kedua nanti gue dan executive producer akan melempar album ke Belanda dan Prancis. Abis, di sini lagu berbahasa Inggris nggak bisa masuk TV, nggak bisa masuk radio padahal ada sastra Inggris. Ha-ha.
Karena banyak musisi additional dalam album ini, kalau ada tawaran manggung, apakah Anda akan membawa semua musisi tersebut?
Gue sudah menyiapkan 3 konsep live. Konsep full band dengan string dan brass, bertiga (gitar, kontra, drum), dan gue sendiri. Dalam waktu dekat, gue akan push yang gue sendiri. Inginnya nanti pas tur keliling, gue sendiri. Gue pengen orang suka album gue karena lagunya, bukan karena embel-embel lainnya.
Siapa figur musisi yang yang paling berpengaruh dalam perjalanan musik Anda?
David Bowie dengan segala macam keanehan serta gayanya yang nggak pernah sama sekali. Sampai saat ini pun, dia juga tetap produktif. Kalau untuk lokal, dalam hal musik, akhir-akhir ini gue suka Efek Rumah Kaca (ERK), mulai dari cara mereka composed musik sampai liriknya edan. Mereka kayak bisa tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Misalnya, setelah kejadian kasus video Ariel-Luna kemarin, lagu „Kenakalan Remaja di Era Infomatika“ pas banget didengarkan sekarang. Menurut gue, ERK one of the best Indonesians local band.
Anda, kan, orang Batak. Tapi, membawakan lagu-lagu galau. Menurut Anda?
Ha-ha. Galau, tuh, kesannya kalau ngedengerin The Sun bawaannya mau suicide, ya. Kalau gue, lebih menyarankan fokus ke lirik-lirik lagu gue dan mood pas album ini lagi ke ballad.
Profesi Anda saat ini, kan, penyiar, produser, dan musisi. Kenapa tidak total di salah satu saja?
Main job gue adalah musisi, sedangkan yang lainnya adalah supporting, karena gue bukan Slank yang setiap hari manggung. Gue tetap butuh pekerjaan. Realistis jugalah, paling hits banget seminggu ada satu gig sudah bagus. You need income. Kalau di sini, loe harus melacur biar bisa hidup.
Terakhir, apa yang bisa didapatkan saat menyaksikan aksi panggung seorang Leonardo?
You’ve got New York City, di mana gue mengenakan jas lusuh, topi lusuh, di bar kecil yang isinya pemabuk. Bukan yang rusuh, ya, tapi whiskey di mana-mana dan ada mucikari di pojokan. Suasana itu akan loe dapat kalau gue manggung.
Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on twitter


Fitri
May, 6th 2011
Jdi ini tentang apa sebener nya.
Band yg membutuh kan pemain trompet atau bkn?