Digitalism Hampir Saya Maki
July, 5th 2010 | by Bayu Maitra | Comments: 4
Saya hampir memaki lantaran intro lagu "Song 2" dari Blur, yaitu beat drum yang membosankan serta distorsi gitar yang cempreng itu terdengar di speaker. Ini lagu standar yang biasa diputar saat seorang DJ ingin memainkan set yang lebih nge-rock. Untung mereka hanya 'bercanda'.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Beberapa jam sebelumnya, pukul 24.00, DJ Hogi masih berkutat dengan MacBook-nya di atas booth, mengulik dan meramu lagu sesuka hati. Blowfish mulai padat. Dance floor mulai terlihat 'berombak' dan menyulitkan pengunjung untuk hilir-mudik. Saya berada tepat di tengah kerumunan yang tengah memanas, memaksa euforia datang bahkan sebelum sang bintang tamu terlihat batang hidungnya.
DJ Hogi tampil dengan set yang menarik, berubah-ubah dari genre satu ke lainnya. Saya tak bisa mendeskripsikan dengan pasti apa yang ia mainkan, dan saya rasa itu juga tidak perlu. Yang jelas, ada house di sana, ada electro, ada booty bass, ada juga elemen tech yang kerap menyelinap di bagian-bagian tertentu. Hogi seperti meresapi tagline acara ini, "Future Disco". Mungkin, ia mencoba mendefinisikan, atau setidaknya merepresentasikannya. Satu yang saya takutkan, penampilan Hogi yang seperti flawless bakal membawa anti-klimaks pada Digitalism. Ini seperti melihat DJ Dipha yang membuat Ladytron seperti anak kemarin sore saat tampil di Blowfish beberapa bulan lalu.
"Ladies and gentlemen… please welcome… Digitalism," suara dari speaker itu disambut riuh pengunjung. Mereka sudah siap menyambut duo DJ tersebut. Pukul 24.50, Digitalism mengambil alih DJ booth, dan sepertinya mereka tahu pasti bagaimana menyambung penampilan Hogi yang terlanjur membuat crowd 'panas'. Opening track-nya diwarnai beat-beat yang terdengar tipis dan ringan, diselingi break yang cukup panjang. Mereka mencoba menata ulang mood pengunjung, menurunkan tempo sejenak, untuk kemudian mengajak mereka bertualang dalam flow mereka. Berselang setengah jam, Digitalism mulai memainkan electro dengan balutan distorsi yang 'kasar'. Tentu saja, ini bukan electro ala DJ Romy. Bassline mereka tetap pelan.
Beberapa remix lagu Lenny Kravitz dan The White Stripes terbukti sukses membangkitkan nuansa rock dalam penampilan mereka. Lagu-lagu selanjutnya menjadi lebih up-beat. Saya sedang berada di bar ketika melihat seseorang sedang diarak massa (baca: crowd surfing). Ini memang biasa dalam sebuah acara bernuansa rock. Namun, jika yang diarak adalah seorang wanita cantik dengan rambut lurus seperti habis dari salon, mengenakan dress dan sepatu hak tinggi, ini baru luar biasa. Itu bukti nyata dari kemampuan mereka memainkan flow.
Saya hampir kecewa ketika intro "Song 2" dari Blur diputar. Ini lagu paling 'basi' dalam acara musik elektronik. Untung mereka hanya 'bercanda'. Digitalism punya taste yang bagus. Hingga akhir acara, nuansa rock terasa lebih dominan ketimbang nuansa acara dance music. Mereka berhasil membuktikan bahwa rock bisa dimainkan kapan saja dan di mana saja. Rock bukan soal tempat, tapi soal spirit. Saya jadi teringat satu kalimat yang tertulis dalam invitation acara ini. "If Franz Ferdinand are doing rock music that make people dance, Digitalism are making dance music that make people rock". What a night!
Follow the writer on Twitter


Maya Mayo
July, 23rd 2010
Hampir semua acara yang dibikin di Blowfish pasti komennya: padet bgt, ga bisa gerak, sumpek. tapi tetep orang gak kapok2 untuk dateng. Berarti, either yang diundang untuk maen emang keren, atau orang2 sangat haus hiburan...mau siapa yg dateng asal DJ dan bisa joget2, dateng ajah..