ART & CULTURE

Ribetnya Cinta Beda Kelas ala EKI Dance Company

July, 13th 2010 |  by  Hapis Sulaiman  | Comments: 0

Pementasan teater yang mengangkat tema cinta dalam balutan komedi mungkin biasa, tapi EKI Dance Company membikinnya tambah seru. Koreografi tari nan padu, nyanyian jenaka, plus dialog dengan bumbu gaya bahasa kekinian membikinnya jadi lain.

Cerita cinta yang 'tak biasa' di Jakarta Love Riot Cerita cinta yang 'tak biasa' di Jakarta Love Riot

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Pada Sabtu, 3 Juli lalu, bermodal undangan via sms dan press id, saya berkesempatan menyaksikan pementasan garapan EKI Dance Company bertajuk 'Jakarta Love Riot' yang diakhiri santap soto bersama di Gedung Kesenian Jakarta.  

Cinta itu ribet. Cinta dua insan dari dua kelas ekonomi berbeda yang tidak didukung nyatanya lebih ribet lagi. Sejalan dengan tagline cerita, "cinta campur citra cuma cari cekcok", kira-kira demikian maksud yang dihadirkan EKI Dance Company melalui pementasannya yang bertajuk Jakarta Love Riot.  

Dikisahkan, Toto (diperankan Ari Prajanegara) anak pedagang soto dan Nala (diperankan Felicia Citraningtyas) berasal dari keluarga kaya raya. Dua insan beda lingkungan. Nala bergaul dengan teman-teman dari kalangan elite yang mengedepankan modernitas dan imej masyarakat kelas atas. Toto anak laki-laki pemilik warung soto yang lebih banyak berteman dengan masyarakat kelas bawah. Keduanya saling jatuh cinta. Hubungan kasih keduanya yang dilatari perbedaan status sosial yang mencolok ini rupanya mengundang reaksi keras dari keluarga dan lingkungan masing-masing. Mereka memiliki berbagai alasan untuk tidak merestui hubungan keduanya. Kisah cinta yang membikin rusuh (riot). 

Ibunya Nala (diperankan Sarah Sechan) tak merestui lantaran Toto hanya anak pedagang soto yang miskin, kotor, bau, dan akan membikinnya malu bila Nala sampai menikah dengan Toto. Teman-teman gaul Nala—dimainkan keroyokan oleh Ari Dagienk, Uli Herdinansyah, Ken Nalia Amrytha, dkk—menolak hubungan Nala karena akan menjatuhkan citra 'elite' mereka. Di sisi lain, ibunya Toto (diperankan Ira Duaty) menganggap hubungan Toto dengan Nala hanya akan membuat keluarganya lebih dipermalukan. Teman-teman Toto juga tak menyenangi hubungan Toto-Nala karena menganggap Tatik (diperankan Takako Leen) adalah pasangan yang sederajat untuk Totok. Cerita berkembang dengan bentroknya dua 'kubu' ini. Namun, biarpun digadang-gadangi kerasnya riak penolakan hubungan mereka, di bagian akhir cerita Toto dan Nala tetap bersepakat untuk menjalani hubungan mereka.

Ada nuansa segar menyaksikan pementasan yang memadu-padankan tari, musik, dan dialog ini. EKI Dance Company berhasil menampilkan kesegaran baru dari tema cinta yang sudah kelewat sering juga biasa dipentaskan. Dialog yang segar dengan gaya kekinian dan koreografi tari modern yang ditingkah musik dan nyanyian-nyanyian jenaka yang mempertebal penceritaan, nyatanya menjadi kunci sukses   pementasan ini. Cerita sederhana potret masyarakat urban menjelma tontonan kocak. Unsur-unsur tersebut juga menjadi faktor yang saling menutup kekurangan  pemain dan pemanggungan pementasan ini. Meski demikian, aksi panggung beberapa pemain dalam membawakan dialog dan karakter patut diacungi jempol. Ribetnya Sarah Sechan, gaya slebor dan nge-rap-nya Bayu Oktara, juga gemulainya Ari Dagienk, dan tentunya liuk kompak para penari dari EKI Dance Company, menjadikan "Jakarta Love Riot" tampil apik.

Bicara soal keikutsertaan Bayu Oktara dalam Jakarta Love Riot ini merupakan kali pertamanya. Meski sudah kerap tampil dalam beberapa kegiatan EKI Dance Company sebagai MC, penampilannya sebagai pemain dalam lakon garapan EKI Dance Company adalah yang pertama. Tak heran bila bagi pemeran Gusti dalam serial televisi 'OB' pengalaman ini sangat seru. "Ini pertama kali gue harus akting, nge-rap, plus nari segala. Akting di depan kamera dengan akting di panggung jelas beda karena bagaimana caranya agar suasananya tetap sampe ke penonton," jelas Bayu saat ditemui usai pementasan. Tak ingin tampil mengecewakan, Bayu melakukan banyak persiapan demi penampilannya kali ini. "Persiapan kurang lebih 3 bulan. Gue sampe berenti ngeroko. Gue harus nge-rap, sedangkan napas gue pendek. Jadi gue sering ngap-ngap-an. Makanya, gue berenang setiap pagi dan sepedahan, serius. Nggak kerasa udah 3 bulan," papar Bayu. Terjun pertama kali di ranah akting teater panggung, jelas bukan tanpa kesulitan. Hal tersebut juga dialami Bayu, utamanya mengubah kebiasaan akting di depan kamera, saat harus menterjemahkan pemahaman di script ke visual tanpa harus tertangkap kamera. Ekspresi takarannya, kan, beda banget.” jelasnya lanjut. Meski demikian, serunya pengalaman bersama EKI Dance Company membikin Bayu berharap untuk bisa terus diajak berkolaborasi dalam setiap kegiatan EKI Dance Company.    

Tak hanya menghadirkan para penari dari EKI Dance Company dan serenceng selebritas yang 'diundang' untuk ambil bagian seperti Sarah Sechan, Arie Dagienk, Uli Herdinansyah, dan Bayu Oktara, beberapa nama tenar juga didapuk terlibat dalam produksi EKI Dance Company kali ini. Mengiringi aksi panggung para pemain dalam menari, bernyanyi, dan beradu akting telah hadir Oni Krisnerwinto, komposer terkenal Indonesia, sebagai penata musik. Untuk urusan kostum, Samuel Wattimena pun didaulat berkontribusi besar dalam pementasan ini. Ciri kolosal memang kerap kentara dalam setiap produksi EKI Dance Company. Seperti halnya kali ini, lebih dari seratusan orang dilibatkan dalam tim produksi "Jakarta Love Riot" ini. Nanang Hape dan Rusdy Rukmarata didaulat sebagai sutradara. Nah, untuk naskahnya sendiri, merupakan hasil kolaborasi banyak nama di antaranya Aiko Senosoenoto yang juga bertindak sebagai Executive Produser, Uli Herdinansyah, dan Renny Turangga.   

 Digelar di Gedung Kesenian Jakarta, 2—4 Juli lalu, pementasan produksi EKI Dance Company ini bisa jadi paket sajian yang komplet. Teater musikal dengan sentuhan komedi. Koreografi tari yang apik dari para 'punggawa' tari EKI Dance Company, komposisi musik yang segar, dan diiring nyanyian-nyanyian jenaka menjadi balutan kuat yang mengemas cerita “Jakarta Love Riot”. Kolaborasi teater, tari, dan musik dengan kemasan pop memang telah menjadi trademark EKI Dance Company dalam setiap produksinya, termasuk kali ini.

 

Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com

   Bagikan  

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.