Madame X
July, 26th 2010 | by Martin Johnindra | Comments: 4
Akan hadir sebuah film superhero modern asli Indonesia yang membela kaum minoritas. Saya berbincang dengan Lucky sang sutradara; Nia Dinata, produser; serta Aming, pemeran utama sekaligus pencetus ide film ini.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Ide Madame X berasal dari Aming. Apa yang mendasarinya?
Aming: Gue sebenarnya tipe yang playing dumb, tapi juga suka menganalisis dunia sekitar. Akhirnya, gue kepikiran, gabungan private experience, pengalaman teman, maupun film, jadilah cerita jagoan yang bencong banget. Film ini personal banget buat gue. Kami membuat sesuatu yang konseptual, sampai gue harus breakdown. Gue juga ngebantu character building-nya.
Kenapa harus berlatar superhero?
Aming: Gue berusaha untuk sok mewakili kaum minoritas yang kerap dianggap sebagai warga kelas tiga. Padahal kenyataannya, yang minor ini—percaya atau nggak—adalah penggerak industri raksasa, seperti fashion. Gue ingin membuat sebuah wacana lewat film bahwa keberadaan kami menuntut kesetaraan gender, nggak melulu didiskreditkan.
Sebagai produser, bagaimana mengembangkan cerita ini?
Nia: Aming selalu ada ide-ide gila. Tapi, yang benar-benar jadi perhatian saya waktu dia bilang, “Kenapa, sih, superhero harus macho. Nggak sekali-kali gemulai atau transgender?” Nah, kebetulan ada Ogi dan Aga (script writer, red). Akhirnya, mereka langsung menggodoknya. Saya bilang, pakai struktur cerita klasik saja, from zero to hero. Mereka akhirnya buat riset juga. Kebetulan, kami sedang roadshow Pertaruhan. Banyak LSM yang bawa kaum transgender untuk nonton. They're hero for themselves. Lucky banyak ngobrol dengan mereka dan memotret kehidupan para transgender ini. Akhirnya, cerita ini devoleped. Kami harus bikin cerita yang absurd, over the top abis.
Apa garis besar cerita Madame X?
Lucky: Tentang seorang superhero yang tadinya pekerja salon. Namanya Adam, diperankan Aming. Adam diserang oleh geng Kanjeng Badai pas seru-seruan di bar. Akhirnya, dia terdampar di tempat Oom Rudi dan Tante Yantje di Tanjung Awan yang letaknya di antah-berantah. Nah, Adam harus belajar nari, yang sebenarnya itu adalah bela diri. Soalnya, Oom Rudi dan Tante Yantje sedang mencari superhero untuk menyerang Kanjeng Badai.
Soal pemilihan judul Madame X?
Nia: Menurut Aga dan Ogi, harus ada “X”-nya seperti unidentified. Nah, saat roadshow Pertaruhan, kami tanya kepada para transgender; mereka lebih suka disebut wadam atau madame? Nah, mereka langsung pilih madame. Akhirnya, ini yang kami pakai.
Apakah film ini merupakan sebuah simbol?
Aming: Ini perlawanan terhadap ketidakadilan sistem. Komunitas minor ini, kan, dianggap nggak ada. Perlawanan ini melawan sebuah tirani, yang kerap bicara tentang moralitas.
Lucky: Ini sebenarnya tentang empowerment. Semua orang punya kontribusi di masyarakat. Seorang pekerja salon bisa jadi superhero. Di Indonesia juga sudah lama nggak ada yang angkat cerita tentang superhero.
Disajikan secara komedi, apa alasannya?
Aming: Kadang-kadang kita beruntung dengan adanya genre komedi. Kita bisa melakukan tipu muslihat. Ini jadi wacana visual. Kita bisa bicara lebih 'keras', 'bebas' melalui genre komedi. Daripada film serius, ‘kan? Mending kalau nyampe, kalau nggak? Jadi, lebih aman pakai komedi.
Film-film dari Kalyana Shira, kan, sering satir? Apakah Madame X juga termasuk?
Nia: Niat awal nggak ada. Tapi, sewaktu minggu terakhir syuting, sempat ada teman dari Surabaya yang kirim SMS kalau di sana mereka sedang konferensi internasional LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) dan ditimpukin. Akhirnya, ini kami masukkan dalam cerita. Saya juga bingung life imitating art atau art imitating life. Tapi, ternyata dalam kehidupan nyata ada. Ya, mau bagaimana kalau dianggap menyindir? Kita memang anti-kekerasan, 'kan?
Kenapa Kalyana sering mengangkat tema LGBT?
Nia: Mungkin karena dalam kehidupan sehari-hari selalu dikelilingi orang yangg beraneka ragam. Ya itu, kalaupun dia bukan tokoh utama, secara natural, ya, jadi masuk cerita. Sebenarnya, keberpihakan kami memang di situ sejak Arisan. Akhirnya, terus masuk dalam cerita. Apalagi, di dunia art, kontribusi “mereka” pasti ada. Jadi, pas nulis cerita, secara natural mereka masuk.
Film ini merupakan proyek idealis atau cari untung?
Lucky: Untuk saya, it’s over rated. Ini cerita yang dekat dengan saya. Karakter-karakternya juga dekat dengan kehidupan saya. Dari ceritanya sendiri, saya bisa mengidentifikasikan diri sendiri. Jadi, kalau dibilang idealis, ya, ini idealis.
Apa harapannya ketika film ini sudah ditonton orang?
Aming: Gue bilang ini sebuah wacana visual multitafsir. Melalui film ini, kami bawa aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya sebuah negara, yang pada akhirnya penonton dipersilakan menginterpretasi. Gue yakin dan berharap kita nggak hanya tertawa bodoh menertawakan kehidupan sendiri atau orang, tapi jadi alat yang membawa pengaruh.
Ada harapan untuk menjadikan Madame X sebagai tokoh superhero baru?
Lucky: Iya dong. Kalau nggak, kenapa kami buat?
Contact the writer at martin.johnindra@mediasatu.com
Follow him on twitter


stcx
July, 27th 2010
Layak ditunggu.