FEATURE

Emerging New Wave of JAKs-ART

July, 27th 2010 |  by  Tim Redaksi Area  | 7

Apa dan siapa di balik bergeliatnya wajah seni kontemporer Jakarta? Inilah temuan kami.

Wajah senirupa Jakarta terus berevolusi, tampil dengan rona baru dan apresiasi baru. Ada galeri yang didirikan, ada seniman baru yang dilahirkan, ada pameran yang diselenggarakan. Kegairahan terhadap kemunculan babak baru kemajuan seni kontemporer jakarta ini tak ketinggalan diapresiasi makin positif oleh masyarakat. Seni kontemporer tak lagi menjadi barang aneh. Seni rupa Jakarta menjelma gaya hidup yang mencoba semakin dekat dengan masyarkat. Di dukung menjamurnya galeri yang mewadahi para seniman untuk tampil di publik. Sebaliknya nama-nama seniman muda penuh talenta hadir dengan gaya yang unik, segar, baru, bahkan gila yang kritis, menyentil, atau sekadar bermain-main yang menarik minat masyarakat.

The Galleries

The New Concept!

Kegairahan 'anak-anak muda' yang mewarnai Jakarta dengan kreatifitas pelaku seni kontemporer ke kinian nyatanya disambut positif oleh masyarakat dan diminati pendukung seni lainnya yang dengan ketulusannya menyediakan ruang tampil. Selama ini kita tahu, ruang kreatif dan apresiasi seni di Jakarta hanya berpusat pada beberapa tempat besar yang memang didedikasikan secara historis. Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, dan Balai Budaya (meski sering terabaikan), menjadi sederet nama yang kadung populer sebagai tampil aktivitas seni di Jakarta. Tapi, lupakan mereka. Faktanya, kegairahan baru yang dihadirkan para pelaku seni dari generasi terkini di Jakarta menyulut hadirnya ruang-ruang lain yang ditujukan sebagai wahana tampil berkesenian. Bentuknya beragam, unik, segar, kontemporer, representatif pada semangat senirupa kekinian. Kini, SigiArt, Ruang Rupa, Jakarta Art District, Galeri Nasional Indonesia, Kine Forum, dan Salihara menjadi sebagian kecil yang disorot. Atas visi, misi, dan konsistensinya, sejumlah tempat ini mendedikasikan bangunannya sebagai ruang publik demi mewadahi aktivitas para seniman yang menampung segala rupa karya yang dihasilkan.  

Nah, menilik lebih jauh, mari berkunjung ke jajaran 'ruang pamer' yang kami suguhkan.

Galeri Nasional Indonesia

Pusat Seni Rupa Modern Nusantara

[photo1]
Galeri Nasional Indonesia merupakan lembaga museum dan galeri seni resmi pemerintah yang bernaung di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Cikal bakal pembentukan lembaga galeri ini sudah dipersiapkan sejak lama. Diawali dengan dibangunnya Wisma Seni Nasional yang berlanjut dengan gagasan didirikannya Pusat Pengembangan Kebudayaan. Gagasan ini diwujudkan dengan pembangunan Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (23 Februari 1987) sebagai sarana kegiatan seni rupa. Akhirnya, pendirian Galeri Nasional Indonesia baru terealisasi pada 8 Mei 1998 di Jakarta dan setahun kemudian diresmikan. Di atas lahan dan bangunan seluas 17.600 M², di komplek ini terdiri dari berbagai gedung dan fasilitas penunjang lainnya, seperti kantor, pameran temporer, pameran Permanen, perpustakaan, auditorium, storage, laboratorium, wisma Seniman, gallery café, galeri shop.

Sebagai salah satu lembaga kebudayaan nasional, Galeri Nasional Indonesia memiliki peran dalam pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan aset budaya atau karya seni rupa sebagai sarana edukasi-kultural dan rekreasi serta pengembangan kreativitas dan apresiasi seni. Lembaga ini bertugas melaksanakan pengumpulan, pendokumentasian, pendaftaran, penelitian, pemeliharaan, perawatan, pengamanan, penyajian koleksi (melalui ajang pameran tetap, pameran temporer, dan pameran keliling), penyebaran informansi, dan bimbingan edukatif tentang karya seni rupa untuk kalangan pelajar dan masyarakat luas.

Kehadiran Galeri Nasional Indonesia diharapkan menjadi barometer mutu perkembangan seni rupa modern Indonesia. Lebih khusus lagi memiliki fungsi yang mampu memberikan inspirasi dalam rangka menumbuhkan pemahaman, penalaran, kreativitas dan inovasi, baik terhadap seniman maupun masyarakat umum.

Juga sebagai museum seni rupa kontemporer dan modern, Galeri Nasional Indonesia memiliki koleksi karya senirupa yang merupakan ekspresi budaya modern dan kontemporer, seperti lukisan, sketsa, grafis, patung, dan fotografi, juga mengkoleksi karya seni kriya dan seni etnik yang memiliki estetika tertentu, seperti keramik, batik dan wayang. Saat ini Galeri Nasional Indonesia memiliki sekitar 1700 koleksi karya seniman Indonesia dan mancanegara.

Menyoal pameran, pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia terdiri dari: pameran tetap, pameran temporter, dan pameran keliling. Gedung pameran yang tersedia, terdapat empat gedung, yaitu: Gedung A (1.350 M²), Gedung B (2.800 M²), Gedung C (750 M²) dan Gedung D (600 M²). Masing-masing gedung/ruang dikhususkan untuk memajang karya seni rupa modern dan kontemporer, seperti; Lukisan, patung, kria, grafis, fotografi, instalasi, seni media baru, dan lain-lain. Sebagai catatan, untuk bisa berpameran di sini, ada kriteria khusus yang disyaratkan, termasuk penyaringan dari dewan kurator Galeri Nasional yang salah satunya adalah Jim Supangkat.
 
Galeri Nasional Indonesia
Jln. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat
Telp. (021) 34833954, 3813021
Faks. (021) 3813021
E-mail: galnas@indosat.net.id
Website: http://www.galeri-nasional.or.id

Ruang Rupa

Peran Besar di Balik Kesederhanaan

[photo2]
Jangan menilai galeri dari penampilan semata. Jangan merendahkan Ruang Rupa (RuRu) hanya dari tampilan bangunannya semata. Meski terkesan suram, semrawut, dan jauh dari keinginan untuk berbenah, RuRu punya andil besar mengorbitkan artist-artist senirupa kontemporer muda Jakarta.

Kesederhanaan menjadi ciri utama galeri ini. Menapaki bangunan yang beralamat di kawasan Tebet, Jakarta Timur, seluas tak lebih 200 m2, tak ada keistimewaan yang ditemui. Selayaknya rumah kediaman, Galeri RuRu tersekat-sekat menjadi beberapa ruangan, mulai dari beranda depan, ruang tengah, beranda belakang, ruang perpustakaan, dan RuRu Shop. Ruang tengah difungsikan sebagai ruang pamer. Beranda belakang, dengan deret meja dan kursi mirip di kantin difungsikan sebagai ruang kumpul dan diskusi. RuRu Shop sendiri, yang ada di bagian kanan, sejatinya menjadi toko yang menyediakan beragam pernak-pernik khas RuRu juga beragam barang kreatif para seniman RuRu yang diperjualbelikan.  

Kehadiran Ruang Rupa (RuRu) sudah dimulai sejak 2000. Karena merasa tidak ada wadah untuk seniman muda berkumpul, diskusi, atau sekadar berpameran, RuRu merupakan organisasi dengan genre artist inisiatif yang berisi seniman-seniman yang membentuk kelompok dan bekerjasama membentuk 1 badan. Ruang Rupa Gallery-nya sendiri baru ada sejak 2008. Sampai saat ini, di Jakarta masih sangat minim ruang pamer yang bersifat non komersil.

Sebagai tempat bagi seniman muda di Jakarta yang terus-menerus mendiskusikan kehidupan di kota, khususnya Jakarta, RuRu memiliki beragam aktivitas rutin. Di antaranya, yaitu: public art project, yaitu dengan membuat riset, lalu mengundang seniman dan bikin project bareng; residensi, mengundang seniman tinggal selama 1 bulan dan setelahnya presentasi; penerbitan yaitu Jurnal Karbon; serta beragam workshop rutin.

Kalau kebanyakan galeri hanya membuka diri hanya pada seniman-seniman kenamaan dengan karya-karya kenamaan, RuRu justru punya spesifikasi unik untuk anggotanya. Yang muda dan tidak terkenal! Pada intinya, RuRu percaya dengan proses kerja. Setiap kali mengundang siapapun selalu dimulai dari nol. Harus men-develop dari nol. Bukan itu saja, kriteria karya yang dipamerkan adalah karya-karya yang  'lucu', segar, mengangkat isu urban yang up date, dan selalu ada eksplorasi medium. Hasilnya, sederetan artist senirupa berbakat dari beragam bidang seni dengan beragam gaya dan aliran pernah tampil di sini. Lukisan, ilustrasi, mural, hingga intalasi pernah ditampilkan di sini.

Menerapkan prinsip kerjasama dan solidaritas, RuRu membuka diri bagi siapa saja yang berminat 'mempertontonkan' karyanya. Dalam pelaksanaannya, RuRu menerapkan mekanisme mengundang dan proposal seniman-seniman yang akan  ditampilkan di galerinya. Meski demikian, Ruru lebih mengutamakan pameran dari artist-artist yang diundang. Kalau dalam sebulan RuRu menggelar 8 event, 6 di antaranya adalah undangan dan 2 adalah dengan proposal. Lebih menekankan pada kerjasama, siapapun yang berpameran di sini tidak dipungut bayaran. Prinsipnya suka sama suka.

Ruang Rupa
Jln. Tebet Timur Dalam Raya No. 6
Tebet, Jakarta Selatan
Telp. (021) 8304220

Komunitas Salihara

Oase Seni Budaya di Selatan

[photo3]
Dari ruang pamer, diskusi, gedung teater, hingga kafetaria tersaji di sini dalam satu bangunan. Bisa dibilang, ini adalah pusat kegiatan seni dan budaya yang setaraf dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) bila ditinjau dari segi fasilitas. Sebagai 'one stop building', Komunitas Salihara menjadi pilihan para seniman dan warga Jakarta untuk berekspresi, berapresiasi, dan berkomunitas—utamanya dalam hal seni dan budaya.
 
Mengambil lokasi di Jalan Salihara 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, gedung ini diresmikan pada 8 Agustus 2008 oleh Goenawan Mohamad bersama mantan Gubernur Jakarta (Alm) Ali Sadikin. Komunitas Salihara yang berdiri di atas tanah seluas 3.237 meter persegi terdiri atas 3 unit bangunan utama yakni Teater Salihara, Galeri Salihara, serta bangunan kantor dan wisma seniman yang meliputi kafetaria, perpustakaan, dan toko cinderamata. Komunitas ini memang dirancang sebagai tempat ekspresi seni budaya yang nyaman, lengkap, artistik, serta modern. Sanggup menampung 252 penonton, Teater Salihara hadir dengan konsep gedung teater modern dengan tata akustik prima. Posisi tempat duduk penonton dan panggung pertunjukan dapat diubah sesuai konsep pertunjukan: teater atau arena. Teater Salihara merupakan gedung teater model black box yang pertama di Indonesia. Berdinding kedap suara, tempat ini dilengkapi ruang rias serta segala peralatan tata panggung, tata suara, dan tata cahaya modern. Bagian atapnya, Teater Salihara dirancang sebagai teater terbuka. Galeri Salihara sendiri dirancang berbeda dari kebanyakan galeri umumnya, mengambil bentuk silinder dengan lingkar sedikit oval. Ruang kosong dengan dinding melingkar tanpa sudut, tanpa batas, akan memberikan perspektif pandang yang lebih luas.

Tak cuma menikmati beragam pertunjukan, memandangi keindahan dan keunikan arsitektur Salihara juga bisa menjadi ketertarikan tersendiri. Komunitas yang bernaung di bawah manajemen Yayasan Utan Kayu ini hadir dengan bangunan yang punya karakter dan permainan ruang yang khas karya tiga arsitek—Adi Purnomo (gedung teater), gedung galeri (Marco Kusumawijaya), dan gedung perkantoran (Isandra Matin Ahmad). Ketiganya memadukan rancangan dalam visi yang sama: membangun rumah baru bagi kesenian dan pemikiran yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Kehadiran Komunitas Salihara sebagai tempat bagi karya seni dan intelektual yang bermutu, yang menghargai kemajemukan dan kebaruan, berawal dari Komunitas Utan Kayu, yakni sebuah kantong budaya berlokasi di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta Timur. Komunitas ini dibentuk oleh sebagian pengasuh majalah Tempo, sejumlah sastrawan, intelektual, seniman, dan jurnalis atau wartawan, sekitar 1995. Ide mendirikan komunitas ini berawal dari pemikiran pengembangan yang didasari keterbatasan tempat dan pembatasan berekspresi di Komunitas Utan Kayu.

Mengapa dinamakan Salihara? Selain karena terletak di Jalan Salihara, tumbuhan Salihara adalah personifikasi lain dari seniman. Terdiri atas pengamat, penggiat, dan pelaku kesenian, komunitas ini merupakan komunitas non-governmental. Komunitas Salihara menjawab kebutuhan dan apresiasi seni yang terus meningkat serta memfasilitasi siapa saja yang ingin menggelar pertunjukkan seni.

Komunitas Salihara
Jln. Salihara No. 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Telepon: +62 21 7891202 Fax: +62 21 7805180
Website :http://www.salihara.org

SigiArt

Obor Pencerahan Seni Indonesia

[photo4]
Meski terbilang sebagai salah satu galeri yang baru belakangan menyemarakan scene menjamurnya galeri di Jakarta, SigiArt telah membuktikan kehadiran dan eksistensinya sebagai galeri yang mendukung sepenuhnya pada kemajuan seni di negeri ini. Bila diartikan dalam khasanah bahasa Indonesia, kata sigi berarti obor. Sejatinya obor, galeri yang terletak di kawasan Blok M, Jakarta Selatan ini memang memiliki visi untuk menerangi perkembangan seni indonesia menuju kekinian. Diasosiasikan sebagai sumber cahaya, kata "Sigi" berevolusi menjadi kata untuk pengetahuan, proses mencari, sebuah pencerahan, sebuah iluminasi.

Lokasinya galeri kepunyaan Rachel Ibrahim ini persis di seberang Hotel Grand Mahakam. Berdiri di atas areal seluas 140 meter per segi, Sigiart menawarkan kesan lapang dengan interior yang 'bersih' dan kontemporer. Hal ini selaras dengan bermunculannya peminat karya seni dari kalangan muda, yang utamanya terhadap karya-karya kontemporer. Menempati salah satu bangunan ruko di bilangan sini, Sigi Art tampil dengan tata ruang yang elegan dan sangat cocok untuk pameran karya seni. Sebagai wadah kreatif, SIGIarts didirikan untuk mengamati, memfasilitasi, dan memberikan akses publik terhadap perkembangan seni rupa Indonesia saat ini.

Tak semata-mata merespons geliat trend gaya hidup, dalam mewadahi maraknya aktivitas seni di Jakarta, Sigi Art juga melakukan kerjasama dengan lingkar akademisi dan budaya demi menyikapi dinamika dunia senirtupa Indonesua dan mendukung upaya peningkatan budaya. Tak semata-mata sebagai ruang pamer, Sigi Art juga berperan dalam menjembatani tuntutan para kolekto rmuda yang mampu dengan cepat meningkatkan kemampuan ana;litis mereka terhadap karya-karya snei dengan menyediakan seniman-seniman yang andal dalam keterampilan dan intelektual, tentunya tanpa mengabaikan visi Sigi sebagai galeri komersil. Berdiri pada 2008, Sigi Art menitikberatkan fokus galerinya pada seniman-seniman muday yang peka terhadp persoalan penting dalam generasinya dan mampu menawarkan jawaban yang segar dan artikulatif dalam menyampaikan idenya.

SigiArt
Jl. Mahakam I No. 11
Blok M, Jakarta Selatan
Telp. 021 7260949 / 62.21 7261185
Faks.  021 7261017
info@sigiarts.com, sigi.arts@gmail.com
Jam buka: Selasa–Minggu pkl. 12.oo–20.00 (Libur nasional dengan appointment)
Facebook: sigi.arts@yahoo.com

Vivi Yip Art Room

Pembibitan Seni Rupa Indonesia

[photo5]
Menempati salah satu ruangan dalam deretan bangunan toko dan perkantoran di kawasan The Promenade di Jln.Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan hadir satu galeri seni rupa yang tampil eksklusif. Namanya, Vivi Yip Art Room. Nama tersebut diambil dari nama pemiliknya, Vivi Yip.

Mengendepankan tema galeri seni rupa yang beraliran post contemporary, galeri ini didirikan pada 28 Juni 2008.  Acara peresmiannya sendiri dibuka dengan pameran tunggal Hendra Harsono. Sejak itu, sedertan nama pelukis dan perupa, baik tua maupun muda, dari berbagai aliran seni, pernah tampil berpameran di sini, beberapa di antaranya adalah Ipong Purnama Sidi, Group Exhibition (33 artis dan Asia Tenggara), Rudy Ardianto, Inge Rijanto, Restu Ratnaningtyas, Erik Pauhrizi, dan Theresia (Tere) Agusta Sitompul.

Kehadiran Vivi Yip Art Room awalnya didasari keinginan si pemilik yang memang konsisten di bidang seni, yaitu melakukan pembibitan seni rupa. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak perupa berbakat, kreatif, dan andal, yang lahir setiap tahun dari sekolah atau institusi seni, termasuk yang otodidak. Menjamurnya mereka adalah gejala alam dan bakal memperkaya serta mendeferens seni di Tanah Air. Potensi dan peluangnya besar. Kehadiran Vivi Yip Art Room  bisa dikatakan sebagai perwujudan visi dan misi untuk membantu perupa Tanah Air yang baru merintis karier. Ke depannya kelak, Vivi Yip bersama Vivi Yip Art Room berobsesi besar untuk  menampilkan lebih banyak perupa baru dengan berbagai medium perupaan yang baru dan membuat pameran seni rupa bertaraf internasional.

Tak semata-mata ruang pameran, di atas lahan seluas 100m2 ini, Vivi Yip Art Room mencoba  menyelidiki dunia seni dengan berbagai elemen (termasuk, para seniman, kolektor, pasar seni, kritik seni, dan aspek kuratorial). Di ruang inilah kerap dihadirkan kegiatan pameran seni, diskusi seni bersama kolektor, kurator, dan pengamat seni. Tak jarang, di sini juga digelar acara pasar seni dan lelang.

Vivi Yip
Jln.Warung Buncit Raya 98
The Promenade Lot 2 – 3, Jakarta Selatan
Telp : +6221 79 00 480
Website: http://viviyipartroom.com/
Facebook :andie@viviyipartroom.com

 

Jakarta Art District

Berkesenian di Pusat Perbelanjaan

[photo6]
Di  kota ini masih merupakan hal yang jarang untuk mengadakan pameran seni rupa di shopping mall. Kebanyakan galeri atau kegiatan pameran seni rupa hadir di tempat-tempat yang jauh dari kesan 'glamour'. Sanggar budaya, museum, atau gedung pertunjukan dan ruang publik non-komersil, menjadi pilihan biasanya. Padahal gelaran pameran di titik keramaian semacam pusat perbelanjaan mempunyai keunggulan dalam mensosialisasikan senirupa.

Tak terbatas pada kalangan penikmat seni, orang-orang yang belum pernah atau enggan bersentuhan dengan karya seni-rupa dan lalu-lalang di tempat-tempat tersebut akan 'terpaksa' melihat pameran tersebut—walau sambil lalu. Atas pemikiran itulah, Jakarta Art District didirikan di Grand Indonesia. Di kawasan tersebut, tepatnya di di Grand Indonesia, East Mall Lowe Ground, hadir 9 galeri seni-rupa dari Jakarta, Semarang, Magelang, dan Malang yang tergabung dalam AGSI (Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia), yaitu Andi's Gallery, Edwin's Gallery, Mon Decor Gallery, Nadi Gallery, Canna Gallery, Semarang Gallery, Vanessa ArtLink, Puri Art Gallery, dan Langgeng Gallery. Kawasan Seni Jakarta yang diresmikan pada 27 Februari silam ini merupakan gebrakan baru dalam memasarkan karya seni-rupa.

Kehadiran Jakarta Art District diharapkan bisa menjadi lokasi yang sangat potensial bagi publik untuk semakin mengenal dunia seni Indonesia dan perkembangannya. Upaya ini juga sekaligus untuk memasyarakatkan karya seni untuk kalangan yang lebih luas. Lebih dari itu,  kehadiran galeri dengan segala aktivitas seni menjadi babak baru perjalanan seni rupa Indonesia. Galeri seni rupa di Indonesia telah membuka diri di ruang publik yang kelak akan mendukung perkembangan minat seni dan industri kreatif di Indonesia. Komitmen Jakarta Art District sederhananya adalah mewujudkan sebuah lokasi yang kental dengan nuansa seni di tengah publik. Didukung dengan pilihan lokasi di Grand Indonesia Shopping Town, sebagai sebuah pusat perbelanjaan strategis karena terletak di jantung Jakarta, diharapkan agar dunia seni rupa Indonesia lebih mudah digapai publik.

Jakarta Art District
Grand Indonesia East Mall, Lantai LG
Jl. MH Thamrin No. 1, Jakarta Pusat

The Artists

Punggawa Penggiat Seni Kontemporer Jakarta
 
Wajah kreatif senirupa atau senikontemporer Jakarta hadir dengan rona baru. Hal ini didorong oleh kemunculan pelakon seni (seniman) yang membawa gaya dan kreativitas yang unik, khas, dan kekinian. Anak-anak muda penggiat seni dari generasi terkini ini hadir menggarap secara tekun—sebagai profesi, hobi, dan idealisme—aneka cabang seni dalam khasanah senirupa yang memanfaatkan beragam medium. Dari mural, instalasi, videoart, ilustrasi, hingga graphic design. Dari pensil, kuas, kamera, software komputer, hingga siraman spray paint di tembok sudut kota. Anggun Priyambodo, Mariska 'Icrut' Sukarna, Muhammad 'Emte' Taufik, Irwan Ahmett, Bujangan Urban, dan kawan-kawan dengan nalar seni baru mereka hadir meramaikan pentas senirupa Jakarta.

Kenali dan simak pemikiran mereka mengenai pribadi, karya, dan Jakarta sebagai medan tempur kreatif mereka!

Marishka Soekarna

To Show To Everybody That I'm Here

[photo7]
Siapa menyangka kalau seorang wanita urban berperawakan cantik ini telah memiliki satu buah hati dan banyak karya yang tak kalah cantik dan unik dengan dirinya. Memang, nama Marishka Soekarna belum menggaung hingga ke  berbagai kalangan. Namun, setelah ‘kenal’ dengan melihat hasil coretan tangannya yang yang sederhana, dekat dengan  keseharian, dan menampilkan sebuah kepekaan pasti akan membuat Anda jatuh hati. Dan, nampaknya, Marishka atau yang kerap dipanggil Ichrut ini konsisten mengasah bakatnya sejak kecil hingga pada akhirnya di usianya yang ke-27 ini ia telah sering melakukan pameran bersama berbagai komunitas. Meskipun, sebelum pada akhirnya total seperti sekarang ini, ia juga sempat menggeluti dan bahkan masih sampai sekarang berbagai profesi yang tentunya tidak jauh-jauh dari dunia seni. Sebut saja, illustrator, graphis designer, hingga creative director adalah profesi yang masih dilakoninya sampai sekarang.  

Dengan berbekal beberapa tahun di Seni Murni dan walaupun ia memiliki kesadaran penuh tentang pentingnya basic seni, tapi yang terpenting baginya adalah kepekaan dan perasaan dalam melihat sesuatu dan mewujudkannya dalam suatu karya. Jadi, bagi single parents yang mengaku moody ini semua orang dapat menjadi seniman asalkan memiliki kepekaan. Dan, satu hal lagi yang menarik darinya adalah, jika semua orang yang melabelkan dirinya sebagai seniman justru menolak menelurkan karya seni dibawah suatu pakem, batasan, atau based on oder dengan berlindung di balik idealismenya sebagai seniman tak begitu dengan Ichrut. Dengan santainya ia menerangkan kalau terkadang permintaan dari klien yang super ribet justru ada positifnya, sehingga sang artist tak perlu pusing lagi dengan konsep asalkan sang klien tidak keras kepala dengan sesuatu yang justru tidak lebih baik dari karya seniman tersebut.

Meski kini, ia bangga dengan perkembangan seni di Indonesia, Jakarta khususnya, tapi Ichrut juga sangat menyayangkan tentang kurang ‘terasa’ dan meratanya perhatian pemerintah terhadap talenta yang mereka miliki. Tidak hanya menyoal tentang dukungan berupa dana, bahkan kurangnya lahan untuk menampung ekspresi dan ide-ide yang mulai sudah tidak terbendung adalah sesuatu yang masih mengganjal jika berbicara tentang seni di Jakarta.

Bujangan Urban

Bermain dengan Kata-kata

[photo8]
Pria cuek, slebor namun ramah ini sudah menghiasi tembok jalanan Jakarta dengan karya-karyanya sejak 2003 walaupun sudah merintis pada 2000. Berangkat dari hobinya menggambar dan mencoret-coret kertas di kala iseng serta bergabung dengan Artcoholic semakin mengasah kemampuannya dalam menghasilkan karya.

Sejujurnya, ia lebih senang disebut street artist karena banyak kegiatan dan karya-karyanya, seperti mural, stensil, graffiti, dan sticker  yang dilakukan di jalanan. Ia juga menyebutkan karya-karyanya adalah sebuah apresiasi dan hobi yang menghasilkan. Karyanya yang khas dengan kata-kata tentang keadaan sekitar maupun sindiran terinspirasi dari vignet-vignet koran Pos Kota 1990-an.

Mengenai media favorit yang sering digunakannya hingga saat ini tetap segala sesuatu yang berada di jalanan, seperti tembok, tong, dan lainnya. Walaupun, pada praktenya, awalnya ia membuat sketsa terlebih dahulu di selembar kertas. Mengenai semakin banyaknya seniman muda yang bermunculan di Jakarta, mengusung beragam gaya dan aliran, menurutnya adalah hal yang wajar karena memang banyak seniman berbakat di kota ini yang karya-karyanya tidak bisa dianggap sepele, hanya memang perhatian pemerintah hingga saat ini masih sangat minim, sehingga keberadaan seniman dan karyanya kurang tereksploitasi.

Kini karena konsistensinya karya-karyanya tidak hanya dapat dilihat di jalanan namun sudah dapat dinikmati di galeri-galeri seni rupa. Yang awalnya hanya hobi yang menghasilkan kini ia masuk jajaran seniman-seniman muda berbakat yang keberadaannya diakui masyarakat.

Irwan Ahmett

Menyampaikan Pesan

[photo9]
Menggeluti seni rupa dan menjadi seniman bagi Irwan Ahmett diibaratkan panggilan jiwa. Ahmett percaya bahwa setiap orang memiliki gift-nya masing-masing. Panggilan menjadi biarawati dan menjadi seniman memiliki spirit yang sama. Seniman memang bisa diciptakan dengan kondisi dan lain-lain. Tapi hampir dipastikan setiap seniman pasti dilatarbelakangi pengalaman-pengalaman masa lalu yang menjadikan dia sebagai seniman. Ahmett sendiri telah menumpuk pengalaman tersebut semenjak SD. Namun, bila dikatakan seniman sebagai profesi dan masuk dalam institusi seni, Irwan Ahmett baru memulainya prosesnya sekitar 1995 silam. Dalam perjalanannya, Irwan selalu mengolah ekspresinya melalui pesan-pesan atraktif yang ia sampaikan. Minatnya untuk melakukan interaksi dengan publik kerap kali menghasilkan karya-karya menarik dan inspiratif yang dapat membuat orang melakukan interaksi dengan tema yang ia tawarkan. Beberapa aksi yang telah dilakukan di antaranya; Kampanye Mad Mud lumpur Lapindo yang tidak berujung, Polusi dan banjir di Jakarta yang tidak membuat jera, dan project panjang Change Yourself yang mendapat sambutan sangat positif (2007), dan Happiness!

Soal gaya dan aliran berkeseniannya, Irwan Ahmett lebih sepakat menyebut dirinya sebagai visual composer utamanya dengan latar belakangan kemampuannya di bidang desain. Kini, bekerja sebagai creative director di rumah kreatif Ahmett Salina—kolaborasi bersama sang istri—irwan banyak menggunakan video sebagai medium kreatifnya. Kecenderungan irwan saat ini lebih ke sesuatu yang sifatnya inteaktif. Baginya seni tidak memerlukan suatu sudut ruang eksklusif. Bisa di pasar, halte, atau di manapun. di Jakarta mulai ada kecenderungan seperti itu. Seniman-seniman berani tampil independen yang tidak bergantung pada galeri. Menggunakan pendekatan komunikatif kesulitan yang dihadapi Irwan dan tim dalam berkarya justru ada saat menaklukkan idenya sendiri. Baginya parameter keberhasilan adalah saat pesan itu tersampaikan. Masalahnya ada di idenya itu sendiri, bagaimana ide yang tadinya  A bisa kita angkat menjadi A+. gagasan tersebut tidak semata menjadi gagasan semata, tapi bisa berubah menjadi pemikiran, konsep, wacana. Itulah tugas beratnya, meningkatkan peran sebuah ekspresi atau karya seni bisa punya diferensiasi dan makna-makna yang berbeda.

Dalam pandangan Irwan, pencapaian tertinggi bagi irwan dan karyanya adalah perubahan—mungkin bagi sebagian orang penjualan. Karya menjadi satu barometer, bagi semua pihak yang terlibat dan orang-orang melihat, yang memunculkan satu komitmen baru. Sekarang bukan jamannya lagi membikin karya yang cantik dan anggun tapi hanya sebuah masturbasi. Karya-karya seperti itu sudah tidak lagi dibutuhkan dalam konteks masyarakat sekarang yang sudah tergopoh-gopoh ini.

Soal Jakarta, Irwan sepakat bahwa masyarakat Jakarta perlu diterapi dengan seni. Mereka harus banyak melihat segala permasalahan yang ada kaitannya dengan bentuk-bentuk ekspresi bisa melalui perkawinan berbagai cabang seni. Melalui seni membikin kualitas hidup kita lebih luhur.

Muhammad 'Emte' Taufik

Idealisme dan Penghidupan Berimbang

[photo10]
Memilih seni gambar bagi laki-laki kelahiran 15 Maret 1979 ini nyatanya terjadi begitu saja. Sejak kecil kesenangannya pada menggambar sudah muncul. Menginjak masa sekolah dasar dan menengahpun ketertarikan pada bidang menggambar pun kian besar. Memilih bersekolah di Desain Grafis-Institut Kesenian Jakarta (TIM) pun dilakoni demi memuaskan kesenangannya pada menggambar. Berangkat dari kesenangan, lama di kampus, membikin komik dan menjadi kontributor ilustrator di mana-mana, bidang menggambar atau tepatnya ilustrasi kini malah menjadi profesinya. Dimulai sejak SMP, Emte mengaku sudah mulai mengirimkan karya-karya ilustrasinya ke media-media.

Ketemu orang baru dengan beragam selera, banyak belajar, menyaksikan reaksi orang saat melihat karyanya, bahkan berkhayal yang sebebas-bebasnya menjadi keseruan yang dirasakan Emte dalam melakoni hobi sekaligus profesinya sebagai ilustrator. Ilustrasi atau gambar menurut Emte memiliki nilai 'handmade' yang mempunya efek psikologis lebih besar dibanding tulisan. Keteraturan tulisan kadang justru menjadi membosankan. Berkebalikan, gambar (ilustrasi) yang sifatnya dinamis menjadi medium penyegaran. Tak cuma menjelaskan tulisan, ilustrasi menurut peraih Adikarya 2005 dan 2007 bisa berdiri dan bercerita dengan sendirinya.

Menyoal kebangkitan senirupa di Jakarta dengan galeri dan seniman-seniman baru merupakan sesuatu yang positf bagi Emte. Sekarang ramai. Pemahanan orang juga ikut terbangun, lebih terbuka bahwa Ilustrasi menjadi lahan profesi yang menjanjikan. Situasi ini turut membangun kepercayaan para anak-anak muda untuk serius menekuni bidang ini, melahirkan gaya baru, dan bisa hidup dari bidang seni. Dengan kehadiran generasi dengan gaya atau teknik baru masing-masing malah lebih menghidupkan iklim berkarya.

Sebagai ilustrator, Emte memang paling banyak menggunakan medium basic (menggambar di kertas) dalam menuangkan idenya. Tapi, ada kalanya ia juga bereksperimen menggunakan medium-medium lain, semisal foto (kamera digital), kolase potongan kertas, olah komputer, bahkan menggambar di papan triplek. Pada dasarnya, ia tidak menutup diri pada beragam medium ekspresi dan gaya, utamanya dengan adanya perangkat teknologi yang memudahkan pekerjaan dan kesenangannya ini.

Dengan gaya ilustrasi yang imajinatif, hingga kini Emte masih melakoni kesenangannya sebagai juga profesi dengan menjadi kontributor ilustrasi di berbagai perusahaan media. Dengan kemampuannya tersebut, Emte percaya bahwa seni bisa menjadi profesi yang menjanjikan karena pada kenyataannya seniman juga membutuhkan pemasukan untuk hidup dan mengembangkan kesenangan dan idealismenya dalam senirupa. Majalah, komik, buku, hingga poster film sudah pernah menjadi lahan garapan Emte dalam menuangkan ilustrasi garapannya.

Soal seniman ilustrasi favorit, meski sudah cukup lama melakoni bidang ini, Emte punya sejumlah nama yang menjadi favorit. Kekaguman tersebut lebih kepada konsistensi, cara berkarya, dan totalitas orang-orang tersebut dalam melakoni pekerjaannya. Norman Rockwell dan Dwi Koendoro (Panji Koming) adalah beberapa inspirasinya. Obsesinya sendiri, Emte mengaku ingin tetap bisa berkarya walau usia dan fisik menua. Bukan itu juga, seniman yang masuk IKJ 1998 dan lulus 2004 juga ingin membangun galeri sendiri yang bisa menampung semua karya-karyanya.  

Menyikapi perkembangan senirupa Jakarta, Emte berharap pemerintah bisa memandang aksi pelakon dan karya-karya seni yang dipamerkan di public space bukan sebagai vandal. Nyatanya memang para seniman ini membutuhkan media berkarya. Oleh karenanya pengelolaan ruang publik bisa lebih memadai. Apalagi, berkat media, apresiasi masyarakat terhadap senirupa juga meningkat.

Anggun Priambodo

Ide Dadakan dan Prihatin pada Galeri

[photo11]
Meski menampilkan karya berupa instalasi bertajuk “Toko Keperluan” dalam pameran tunggalnya yang digelar di Ruang Rupa beberapa waktu lalu, pria kelahiran 1977 ini nyatanya malah menggemari video sebagai medium kreativitas seninya. Alasannya? Hal itu merupakan sesuatu yang paling dekat dengan kesehariannya. Baginya video adalah karya yang tidak ada kunjung habisnya. Ia selalu berpikir, “masih bisa diapain lagi, ya, video ini?”

Kiprah Anggun dalam pentas senirupa ini sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Mulanya dari ketertarikan saat masa kecil pada hal-hal yang unik, lucu, bahkan aneh. Dalam perjalanannya semua medium seni kontemporer pernah dicicipnya. Setelah menyelesaikan studinya di Institut Kesenian Jakarta, sejak 2000 turut aktif bekerja sebagai perupa di dalam banyak proyek seni bersama RuangRupa. Ia juga dikenal sebagai vokalis dari BANDEMPO.

Ketertarikannya pada medium video, hingga kini membuatnya lebih dikenal sebagai seniman video. Diawali dengan membuat karya video musik bersama partner-nya, Henry Foundation, atas nama The Jadugar, Anggun seterusnya terjun bekerja menjadi sutradara untuk program televisi, video klip, iklan televisi, dan film pendek. Naif, Slank, sampai ke Peterpan pernah mencicip kreatifitas pengagum Fellini dan sutradara kenamaan jaman dulu Syumanjaya ini.

Kesulitan saat mengaktuliasasikan ide menjadi karya ada pada banyak faktor. Dari dalam diri sendiri dan lingkungan. Karya yang sudah dibuat, yang belum dibuat, dan kelanjutannya itu dari menjadi salah satu kendala yang muncul dari dalam diri, sedangkan dari lingkungan lebih kepada support atau tidaknya lingkungan masyarakat. Dalam mencipta, Anggun seringkali tampil dengan ide-ide yang muncul spontan. Totalitas menjadi cirikhas Anggun dalam menggarap proyek2 seninya. Tak tanggung-tanggung, ia kerap melibatkan orang-orang yang memang pakar di bidang yang ia butuhkan. Semisal untuk menggarap “Sinema Elektronik”, Anggun menghire makeup artis dan kameramen profesional yang biasa menggarap produksi sinetron.  

Geliat kebangkitan seni kontemporer di Jakarta dan Indonesia umumnya saat ini menurut Anggun baru sebatas kulit. Kemunculan seniman dan galeri baru, baru sekadar menambah agenda kegiatan kesenian. Baginya seni di Indonesia hanya kebutuhan pelengkap yang hanya bisa dinikmati masyarakat yang sudah terpenuhi kebutuhan primernya. Celakanya di masyarakat ini kebutuhan pokoknya saja banyak belum terpenuhi.

Obsesi terbesar Anggun yang kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, adalah bagaimana membikin animo orang-orang untuk datang ke galeri sama tingginya dengan animo orang-orang yang datang ke mal. Antusias ke galeri sama halnya dengan antre bermeter-meter membeli IPod luncuran terbaru. Ambisi itu pula yang melatari Anggun membikin Toko Keperluan.

Aprilia 'Sari' Apsari

Karena Nilai Matematika yang Buruk

[photo12]
Sari itulah nama panggilannya, wanita ini lebih dikenal khalayak dengan gaya berpakaian retro di atas panggung karena vokalis band White Shoes And The Couple Company namun karya-karyanya juga tak kalah bagus dengan suaranya yang khas. Wanita ini nyemplung ke dunia seni rupa karena merasa nilai akademik matematika dan fisika kurang bagus, hingga akhirnya memutuskan mengambil privat gambar sebelum memasuki dunia perkuliahan dan akhirnya memutuskan mengambil jurusan desain grafis.

Walaupun saat ini ia berprofesi sebagai desainer grafis, dalam karya-karyanya yang banyak mengungkap kehidupan sehari-hari, Sari memasukan unsur-unsur seni lainnya seperti jahit, ilustrasi dan apa pun yang ia sukai. Untuk pencapaian akan hasil karyanya, Sari ingin sekali ketika orang yang melihat karyanya merasa tergugah, entah menangis, tertawa maupun hanya tersenyum saja.

Mengenai makin banyaknya muncul seniman-seniman muda ia berpendapat karena kecanggihan teknologi yang menjadi budaya di kalangan anak muda dan dari situ pulalah banyak referensi bagi anak-anak muda saat ini dalam berkarya. Sari menambahkan ada baiknya karya seorang seniman itu dapat menggabungkan antara idealisme dengan sesuatu yang menghasilkan materi, karena karya yang dibuat dengan sepenuh hati hasilnya akan lebih bagus dibandingkan sesuatu yang dibuat untuk gaya-gayan saja.

Sari juga mengungkapkan bahwa saat ini dukungan swasta lebih terasa dibandingkan pemerintah, karena swasta lebih jeli melihat hasil karya para seniman yang sesuai dengan produk mereka kemudian menjadikan karya tersebut menjadi alat marketing di sisi sebaliknya hal tersebut mempopulerkan karya sang seniman dan juga membatu dalam hal finansial.

Sedangkan untuk pemerintah ia mengharapkan seni rupa dimasukkan ke dalam kurikulum utama sejak Sekolah Dasar agar dapat menumbuhkan rasa seni kepada anak sejak dini, sehingga Indonesia dapat menghasilkan seniman-seniman hebat dan dipandang di dunia internasional.

Alia Swastika, Kurator

Masih Perlu Kebijakan Pemerintah

[photo13]
Bertandang ke Komunitas Salihara, 13 Juli silam. Menjumpai Alia Swastika yang hari itu didaulat menjadi kurator pameran bertajuk Jakarta Paris Graffiti Ehhibition Wall Street Arts yang digelar di Galeri Salihara, 10 Juli-2 Agustus 2010.  Sekali dayung 2-3 pulau terlewati, kami mengajak Alia,  Curator and Artistic Manager di Ark Galerie, untuk menumpahkan pandangannya soal seni kontemporer di Jakarta kini. 

Sebagai kurator melihat perkembangan senirupa di Jakarta?

Sebagai sebuah dinamika seni itu perkembangan yang menarik. Cuma kita juga harus sadar bahwa yang namanya kualitas itu masih harus dikaji ulang. Adanya galeri baru dan seniman-seniman muda yang baru, masih sekadar di permukaan. Hanya dalam tataran kuantitas litas. Galeri bertambah, pamerannya lebih sering, kolektornya bertambah, senimannya bertambah. Tapi kualitas pameran atau kualitas karyanya kadang tidak seimbang. Justru kita harus melihat ada suatu kebutuhan untuk menyusun infrastruktur pendidikan seni yang lebih bangus dengan adanya percepatan dinamika ini. Dengan dinamikanya yang makin cepat semakin terlihat bahwa jumlah senimannya tidak seimbang dengan event-nya.

Kesiapan masyarakat menerima kehadiran seniman baru, gaya baru, media baru?

Mungkin memang masih ada gap. Justru saya tertarik menggelar exhibition-exhibition yang saya buat seperti grafiti (Jakarta Street Art) karena yang dekat dengan kehidupan keseharian anak-anak muda. Kalau mereka langsung menyaksikan pameran yang konseptual atau nonton yang fine art banget. Itu malah akan menciptakan jarak. Sementara anak-anak muda sekarang lebih dekat dengan yang namanya grafiti, design, fotografi, dan fashion. Kalau di Jakarta sendiri, agar seni menjadi bagian kehidupan sehari-hari kita harus menimbang faktor-faktor semacam ini biar nggak menjadi elit semata tapi juga ditumbuhkan apresiator baru, penonton baru, atau kolektor baru yang sebenarnya kalau diluar negeri hal itu tugas museum cuma kalau di sini memang museumnya gak masuk seni kontemporer

Dari pemerintah, dukungan seperti apa yang sebaiknya diwujudkan?

Kalau menurut saya belum ada kebijakan untuk kesenian. Bagaimana memajukan seni kontemporer itu bukan visi pemerintah. itu menjadi visi pelakunya sendiri. Mungkin pemerintah juga tidak mengerti, seni kontemporer itu seperti apa, sih? Jadi memang harus ada komunikasi. Makanya saya sedang berusaha bersama beberapa teman pekerja seni yang lain untuk bikin hiring dengan pemerintah.agar kita bisa dapat paling tidak kebijakan baru berkaitan dengan seni kontemporer. Kebijakan baru ini sejatinya harus bisa mendukung pengembangan seni rupa Indonesia. Contohnya, kita punya galeri nasional misalnya tapi orang yang mengelola bukan dair kesenian jadi mereka tidak mengerti apasih yang sedang trend di dunia saat ini? Bagaimana seni indonesia bisa menjadi bagian gerakan senirupa global? merek tidak mengerti caranya. Nah, seharusnya institusi-institusi tersebut dikelola oleh profesional bukan oleh birokrat makanya salah satu yang harus dikejar oleh pemerintah adalah menjadikan instsitusi yang dianggap sebagai lembaga mapan untuk kesenian dikelola oleh profesional

Menjadi korator sebagai profesi, pengalaman dan nilai apa yang diharapkan?

Saya sangat menikmati dialog dengan seniman. Itu hal pertama yang saya bela dari profesi saya. Karena memang sebagian besar seniman yang saya temui berbikir dengan cara yang bebeda. Setiap kali bertemu mereka saya diajak meliat dunia dengan cara yang berbeda. Itu membuat saya tidak membuat stereotipe. Membuat saya menoleransi perbedaan. Membuat saya bisa mengerti pembaruan-pembaruan dan terobosan, dan menganggap sesuatu sebagai berbeda bukan aneh. Karena itu dia hal yang berbeda. Jadi kalau buat saya, pertama yang saya bela dari profesi saya ini adalah pertemuan saya dengan gagasan baru dan keberbedaan. Kalau yang lain, misalnya, kenapa saya membela profesi saya ya karena selain berhubungan dengan seniman, saya punya tantangan bagaimana gagasan seniman yang berbeda ini dikomunikasikan kepada publik. Tugas kurator salah satunya adalah membuat publik mengerti;  bagaimana kita membuat dikusi, membuat tulisan agar membuat publik mengerti apa sih sebenarnya seni rupa kontemporer.

Berpengalaman berkolaborasi dengan berbagai seniman, di Indonesi dan luar negeri, mana yang lebih mudah diajak kerjasama?

kalau mudahnya, artis kita mudah diajak berpameran. Seniman dari luar karena mereka terbiasa denganinfrastrukutur yang mapan, ketika masuk ke sini, mereka juga minta dilayani dengan infrastruktur yang mapan pula. Misalnya waktu itu saya bikin konferensi pers. Di luar negeri, memang media atau wartawan yang datang ke konferensi pers banyak jumlahnya dan nggak ada macet. Kemarin mereka sempat kecewa karena yang datang ke konferensi pers cuma 3 orang. Jadi, kita susahnya kita tidak punya infrastruktur yang mendukung untuk melayani mereka dengan baik. Kalau seniman dari sini, mereka antusias sekali. Apalagi, pameran grafiti ini adalah event grafiti pertama yang digarap serius dan di galeri. Jadi mereka antusias. Gampang juga untuk bekerja dengan mereka. Saya menikmati pertemuan dengan mereka dan melukis bersama mereka di jalan selama berhari-hari. Itu jadi pengalaman yang unik.   

Pengamatan soal seniman lokal dan seniman mancanegara dari segi kemampuan teknik dan karya?

Dalam pandangan seniman dari luar negeri, sangat menarik menyaksikan aksi seniman-seniman dari Indonesia.  Mereka melihat ada kualitas. Meski memang secara skil masih banyak yang harus dilatih. Yang dari Indonesia memang rata-rata masih muda sekali. Jadi masih awal sekali. Jadi kemarin waktu kolaborasi mereka belajar teknik baru. Ada pertukaran teknik dan pertukaran gaya. Jadi menurut saya yang menarik dari pertemuan macam ini adalah ada peningkatan pengetahuan, pertukaran pengalaman, dan transfer pandangan.

Harapan sebagai kurator, dari pemerintah dan galeri untuk lebih mengembangkan dan memasyarakatkan senirupa  dan seni kontemporer di Jakarta dan Indonesia?

Saya menekankan adanya inisiatif pemerintah untuk memajukan seni kontemporer. Itu bagian peran dari pemerintah. Karena tanpa itu semua, kita sulit bergerak. Karena semua bergantung kebijakan, terhambat birokrasi, terhambat pajak sehingga banyak kesempatan yang seharusnya bisa kita manfaatkan jadi terbuang. Untuk galeri saya sekarang malah ingin slowdown dulu deh. Jangan terlalu sering bikin pameran dulu. Pameran cukup 2-3 bulan sekali, tapi kualitas bagus. Karena itu bumerang. Kalau terlalu sering bikin pameran dan kualitasnya jelek malah akan membikin pengunjung bosan dan capek.

 

 

 

 

   Bagikan  

7 Comments

harling

October, 15th 2010

klo mau gabung gmn tu caranya

areamagz.com

April, 7th 2011

Areamagz.. Reposted it :)

areamagz.com

April, 22nd 2011

Areamagz.. Dandy :)

areamagz.com

May, 2nd 2011

Areamagz.. Nice :)

areamagz.com

June, 5th 2011

Areamagz.. Amazing :)

areamagz.com

June, 5th 2011

Areamagz.. Smashing :)

areamagz.com

June, 15th 2011

Areamagz.. Outstanding :)

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.