Obasute: Gestur dan Mimik? Cukup
July, 28th 2010 | by | Comments: 0
Lighting black out. Gemerisik pakaian orang-orang yang baru datang masih terasa. Mereka memadati Teater Luwes IKJ yang pada Senin malam, 26 Juli lalu, menggelar lakon Obasute. Saya sudah tenang di posisi.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Beberapa menit kemudian, lalu-lalang mulai sepi. Lampu panggung yang kuning pucat menyala. Di panggung utama yang kosong (atau bahasa teknisnya, ber-setting minimalis), tergeletak perempuan berkimono biru, Hana Si Cucu (Ando Ayuko). Dari arah penonton, seorang berseragam coklat tanah datang menghampiri. Ia hanya pengembara. Sama sekali tidak kenal dengan tradisi Obasute yang baru saja dialami Hana.
Memangnya apa itu Obasute? Mulailah Hana mengulang masa lalu. Beralih ke panggung kecil di depan panggung utama, Hana bersama Baba (si nenek, diperankan Hara Tomohiko) menghabiskan banyak waktu bercerita, menari-nari, dan bersenda-gurau di bawah pohon tsubaki merah—bunga yang hanya mekar ketika musim dingin. Sampai akhirnya, Baba sadar, tradisi harus dijalankan; seorang nenek harus meninggalkan keluarga, pergi ke Gunung Obasute Yama dan tidak kembali lagi. Ini demi mengurangi beban persediaan makanan, demi kebaikan keluarga.
Sadar kalau waktu untuk Obasute tiba, Baba menghabiskan seharian bermain-main dengan Hana di bawah pohon tsubaki. Sampai kemudian, hari berakhir dan Baba pamit untuk pergi ke gunung diantar Anak Baba (Gatot Prabowo) dengan cara digendong. Bagian ini semakin terdengar pilu dengan iringan nyanyian dari Owaki Kaoru yang bersuara sopran.
Scene berganti dengan pemandangan Anak Baba yang menggendong Baba dari panggung utama sebelah kiri, membaur ke penonton, lalu tiba di panggung utama sebelah kanan. Menurut tradisi, Baba boleh kembali ke keluarga kalau ia bisa tertawa. Karena itu, Anak Baba mencoba menari, bernyanyi, dan menirukan gerakan-gerakan lucu untuk membuat Baba tertawa. Usaha yang sia-sia. Baba menjauh pergi, tidak mau kembali.
Mereka berpisah di tengah gunung; Anak Baba pulang dan Baba melanjutkan perjalanan sampai ke puncak, ditemani serangga-serangga yang menghibur selama perjalanan. Bagian riang ini diiringi petikan gitar dan nyanyian renyah dari Chiku Toshiaki. Cerita diakhiri dengan dramatis. Baba menaiki tangga setinggi atap. Baba sudah sampai di tujuan; bisa puncak gunung, atau nirwana. Bebas.
Menonton pertunjukan ini, semestinya yang saya rasakan adalah kendala bahasa. Sebab, bahasa yang digunakan sebagian besar bahasa Jepang. Hanya sedikit bahasa Indonesia (part Anak Baba). Anehnya, hal itu sama sekali bukan masalah. Kekuatan gestur dan mimik Hara Tomohiko dan Ando Ayuko sudah bercerita.
Tensi pertunjukan menurun justru ketika Anak Baba yang diperankan mahasiswa IKJ, Gatot Prabowo, muncul dengan dialog berbahasa Indonesia. Masalah bukan terletak pada bahasanya. Saya hanya terganggu dengan pembawaan karakter yang dimainkannya. Intonasinya yang seperti orasi membuat tokoh ini tidak saya favoritkan.
Tapi, Owaki Kaoru dan Chiku Toshiaki menutup lubang itu. Mereka bernyanyi dengan sepenuh jiwa, menyempurnakan pertunjukan. Ya, saya pikir, pertunjukan 70 menit ini menguras emosi. Keinginan Hara Tomohiko yang ingin menjadikan pertunjukan ini mengharukan berhasil.
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow the writer on Twitter



Comments
Be the first to comment.