ART & CULTURE

Ayu Utami

August, 5th 2010 |  by  Iwan Setiawan  | Comments: 0

Penulis perempuan ini berbagi cerita mengenai novel terbarunya, Manjali dan Cakrabirawa.

Ayu Utami Ayu Utami

Manjali dan Cakrabirawa Manjali dan Cakrabirawa

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Justina Ayu Utami pernah jadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D & R. Ayu dikenal sebagai novelis sejak Saman memenangkan Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun, Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag. Berikut obrolan saya dengannya.

Bisa ceritakan mengenai apa novel terbaru Anda ini?

Novel ini tentang Marja, gadis Ibukota yang terbiasa dengan ingar-bingar Jakarta. Pacarnya menitipkan dia berlibur pada sahabat mereka, Parang Jati. Dalam perjalanan menjelajahi pedesaan Jawa dan candi-candi, Marja pun jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Parang Jati membuka mata akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa. Sementara itu, bagaimana cinta segitiga mereka? Apa pun yang diputuskan Marja, keputusan itu membantunya memecahkan teka-teki mengenai hantu Cakrabirawa.

Apakah ini kelanjutan dari novel Anda sebelumnya, Bilangan Fu?

Bisa dikatakan demikian. Karena kaitan novel ini dengan Bilangan Fu, yaitu tokohnya sama: Marja, Sandi Yuda, dan Parang Jati. Satu perempuan dan dua pemanjat tebing. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, Manjali dan Cakrabirawa lebih petualangan. Manjali dan Cakrabirawa adalah yang pertama dari "Seri Bilangan Fu", yaitu seri novel petualangan/teka-teki–yang membutuhkan cara berpikir kritis untuk memecahkan teka-teki.

Sepertinya cukup seru, ya. Anda memadukan petualangan, kisah cinta, sekaligus bobot sejarah seputar candi-candi.

Novel ini diniatkan untuk ringan, seksi, berisi. Saya menulisnya dalam waktu kira-kira enam bulan. Sebelumnya, riset tentang candi-candi di Jawa Timur. Saya memang ingin memperkenalkan kembali beberapa yang menarik tentang candi-candi. Karena itu, novel ini juga saya lengkapi dengan gambar-gambar arca, hantu, dll. Gambar dalam dan sampul saya buat sendiri.

Ada ungkapan bahwa pengarang senantiasa memuat pengalaman pribadi penulis dalam karyanya. Benar demikian?

Memang, ada beberapa bagian yang diambil dari kehidupan atau peristiwa yang saya atau teman saya alami. Seperti "kisah cinta" masa lalu teman-hidup saya, Erik, yang mengantar saya menulis Bilangan Fu, dan serial ini. Dia pernah bahagia punya pacar dan sahabat. Sahabatnya mati terjatuh setelah panjat tebing. Buat saya, hubungan antara tiga orang itu sangat menyentuh. Saya usahakan seri ini terbit pada Juni, mengenang sahabat Erik yang meninggal 13 Juni 1989. Bilangan Fu dan Manjali dan Cakrabirawa terbit Juni. Kami juga letakkan satu buku dan bunga mawar merah di makamnya.

Selain menulis novel, Anda juga sempat menulis sebuah skenario film, yaitu Rumah Maida. Ada rencana membuat skenario film lagi?

Sebetulnya, ada skrip lagi yang belum jadi difilmkan. Proyek pribadi saya yang lain, masih berhubungan dengan buku. Menyusun kembali tulisan-tulisan pendek "Kodok Ngorek" untuk diterbitkan.

Apa yang ingin dicapai dengan “menulis”?

Seri Bilangan Fu—yang sudah terbit maupun yang akan terbit—didedikasikan untuk berpikir kritis. Saya ingin mengajak pembaca untuk latihan berpikir kritis. Sekarang ini, ada kecenderungan mendidik orang untuk sekadar patuh. Saya ingin mengajak orang untuk menggunakan akal sehat dan daya kritisnya. Tentu lewat novel yang mengasyikan.

Selain Anda, saat ini banyak penulis baru yang terus bermunculan dengan karya-karya yang semakin beragam. Apakah ini pertanda iklim dunia tulis-menulis di Indonesia sangat baik?

Perkembangan dunia tulis di negeri ini sangat bagus. Banyak buku diterbitkan. Apresisasi semakin demokratis. Memang, kritik sastra dan seni yang serius tidak bisa mengejar perkembangan tersebut.

   Bagikan  

Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.