Andrea Hirata
August, 9th 2010 | by Tim Redaksi Area | Comments: 2
Kami berbincang-bincang seputar buku baru, popularitas, pribadi, dan proses kreatif seorang Andrea soal Dwilogi Padang Bulan yang baru saja diluncurkan 18 Juli lalu.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Bagaimana mulanya 'terjun' ke dunia tulis-menulis?
Saya terjerumus. Terjun ke dunia novel ini adalah ketidaksengajaan. Sebab, motivasi saya menulis Laskar Pelangi awalnya untuk mendapatkan sebuah hadiah. Lalu, novelnya dikirim oleh teman saya ke penerbit. Awalnya, saya tidak pernah membayangkan akan sebesar ini. Apalagi, karya ini bukan jenis tulisan yang populer dan saya bukan penulis yang mahir. Namun, para pembacalah yang membesarkan karya saya. Karya ini secara emosional mengena kepada para pembaca sehingga dengan sendirinya mereka 'membesarkan' karya tersebut.
Lalu, bagaimana tentang ‘anak bungsu’ Anda, Dwilogi Padang Bulan?
Sebuah cerita sederhana sesuai tema yang biasa saya angkat. Ide tersebut sebenarnya telah ada sebelum Laskar Pelagi. Untuk buku dwilogi ini saya melakukan riset selama 4 tahun. Dan, 'berita baik'-nya dalam waktu 3 hari buku ini telah dibajak! Ha-ha-ha. Kini, Dwilogi Padang Bulan telah ditawar 2 milyar oleh pembuat film. Tapi, hingga saat ini saya belum memutuskan.
Tema anak-anak, hubungan generasi tua-muda, hingga kehidupan di sekolah kerap menjadi landasan cerita Anda termasuk dalam dwilogi ini. Ada urgensi apa?
Saya pikir itu adalah motivasi saya yang tidak terlirik, sisi yang terabaikan tengelam karena euforia terhadap tema-tema urban dalam dunia sastra Indonesia saat ini. Tidak akan pernah orang-orang membayangkan novel yang di dalamnya berisi tema seperti yang saya buat. Tema metropop sangat laku dan saya juga sudah melakukan analisis mengenai hal tersebut. Bahkan, di dunia film pun begitu. Semuanya disetir oleh pasar. Tapi, selalu ada momentum yang pas di saat orang-orang bosan dengan tema urban. Buktinya, Laskar Pelangi sampai saat ini walau telah mencapai waktu 5 tahun tapi masih diminati. Padahal, di Indonesia ada “Kutukan 2.000”, yaitu kutukan yang menyerang para penulis ketika karya mereka mencapai angka penjualan 2.000 eksemplar.
Ada alasan mengapa buku-buku yang Anda selalu tampil maraton; tertralogi dan dwilogi?
Saat Laskar Pelangi keluar, saya sangat excited dengan reaksi orang-orang yang sebegitu dahsyatnya. Kemudian, muncullah ide tetralogi karena soal yang saya angkat tidak akan habis dikupas dan dipaparkan melalui novel yang singkat.
Tak bosan dengan cerita-cerita seputar anak-anak dan Belitung yang tampil di Laskar Pelangi dan Padang Bulan?
Apa yang saya tampilkan dalam buku tersebut baru sedikit sekali. Lambat laun saya akan membentuk style sendiri, cultural novel. Ini adalah gaya saya. Jika meminjam istilah Rhoma Irama, ”Yang tidak suka boleh berlalu.” Ha-ha. Ini mungkin bukan gaya kota, banyak juga yang telah memberikan saran kepada saya. Tapi, saya tidak akan pernah bosan berkutat dalam tema ini. Banyak penulis lain juga yang tidak pernah keluar dari platform mereka.
Laskar Pelangi telah dialihbahasakan dalam beberapa bahasa. Apa perasaan Anda?
Itu merupakan momentum kedua. Bagi penulis, kita sebenarnya selalu punya keinginan untuk membuktikan diri; apakah kita hanya jago kandang atau bisa diterima di dunia luar. Saya pikir, luar biasa sekali karena banyak orang yang tidak memiliki kesempatan seperti itu. Saya bangga karya saya dialihbahasakan, tapi saya tidak mau di-support dengan suatu organisasi amal apapun, melainkan lembaga komersial. Kalau memang jelek dan tidak laku, ya sudah. Kalau memang jelek, ya, sudah! Saya ingin masuk melalui jalur pertandingan yang sehat.
Lalu, sejauh ini tanggapan publik di mancanegara yang belum 'kenal' Belitung. Bagaimana pandangan mereka?
Makanya, saya mencari penterjemah yang benar-benar piawai sehingga dapat menyampaikan maksud saya dengan baik. Saya pernah meminta orang Indonesia, dua orang hebat tepatnya, untuk menterjemahkan Laskar Pelangi. Tapi, mereka tidak bisa menyampaikan sesuai dengan pesan dan keinginan saya. Untungnya, saya bertemu dengan mahasiswi Amerika yang sedang menjalankan program beasiswa. Ia melihat film Laskar Pelangi, mengunjungi Belitung, dan menawarkan diri untuk menerjemahkannya. Nah, hasil terjemahan dari Angie adalah yang “tepat”! Sayang, kami memasuki pasar Amerika dalam waktu yang kurang tepat karena mereka sedang tenggelam dalam tren drakula yang mulai muncul setelah film Twilight. Tapi, mereka optimistis sebentar lagi tren tersebut akan berganti dengan Inception, setelah itu novel dengan tema sastra seperti saya yang akan menjadi tren!
Tadi, Anda sempat bicara tentang pembajakan. Lalu, bagaimana pandangan Anda tentang pembajakan?
Pembajakan itu sangat merajarela. Bahkan, saat di Vancouver, saya menemukan buku saya versi bajakan saat sesi tandatangan. Akhirnya, saya mengerti bagaimana orang begitu kesal dengan pembajakan. Sekarang, saya merasakan sendiri akibatnya itu. Tapi, pada akhirnya saya hanya dapat maklum. Apalagi, sekarang sudah begitu canggih metode yang mereka miliki. Dan, tampaknya industri pembajakan tersebut memang seperti 'kebal hukum' karena lemahnya Law Enforcement. Nah, makanya melalui rekan-rekan media seperti Anda ini, kami menaruh harapan untuk bisa memberikan ulasan yang menarik yang membikin orang untuk mau membeli yang asli.
Apa proyek Anda berikutnya?
Drama musikal Laskar Pelangi yang juga melibatkan Mira Lesmana dan Erwin Gutawa. Lalu, saya akan syuting Edensor di Eropa. Tak ketinggalan, akan ada Festival Laskar Pelangi yang akan saya gelar di kampung halaman saya. Rencananya, saya akan membuat program Tour Laskar Pelangi. Saya rasa itu saja karena sekarang saya sedang mengumpulkan kebahagiaan untuk menulis lagi setelah dihantam badai pembajakan.
Anda berada dalam tahap sekarang, apa yang Anda rasakan?
Saya tidak punya mentalitas seperti selebritis. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa berubah. Hanya orang lain yang merasa saya berubah. Bahkan, saya tidak pernah mengkategorikan diri saya sebagai sastrawan. Saya masih tetap makan di warung-warung pinggir jalan, ya, selebihnya tetap saya coba nikmati seperti biasa.
Apa hal yang sering Anda lakukan yang tidak pernah terbayangkan oleh orang lain?
Saya suka menyamar saat ke tempat ramai. Saya punya kumis dan jenggot palsu. Ha-ha! Dengan menggunakan itu, saya bebas berkelana ke mana saja.
Di salah satu artikel Anda dalam www.andreahirata.com, Anda punya rencana memelihara sapi. Apa maksudnya?
Saya memutuskan untuk menjalankan ide tinggal di kampung. Saya ingin hidup seperti orang kampung. Sudah cukup ingar bingar selama 5 tahun. Saya lebih pilih memelihara sapi, berkebun, dan melakukan kegiatan sederhana lainnya. Meskipun tawaran terus mengalir, tapi saya akan mewujudkan cita-cita lama, yaitu berencana untuk pindah ke Belitung dan menghabiskan waktu di negeri Laskar Pelangi tersebut dan mengelola sekolah Anda. Lagipula, saya bercita-cita menjadi guru Bahasa Inggris dan Matematika.


medi
August, 18th 2010
saya salah satu penggemar berat nya