FACES OF JAKARTA

Budi Setiawan (28)

August, 9th 2010 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 1

Polisi: Profesi Mulia

Budi Setiawan Budi Setiawan

Penderitaan dan pengorbanan Polisi jarang diekspos Penderitaan dan pengorbanan Polisi jarang diekspos

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Polisi. Ya, inilah profesi yang dilematis; dibutuhkan masyarakat tapi mengundang sinis. Saya berbincang dengan seorang polisi yang sedang melanjutkan pendidikan di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian).

Mengapa memilih jadi polisi dibanding kesatuan lainnya?

Awalnya, tidak ada bayangan jadi polisi. Saya malah ingin kuliah di bidang musik.  Namun, orangtua menganjurkan saya mencoba AKPOL. Jika tidak lulus, saya diperbolehkan mengambil jurusan sesuka saya. Ternyata, saya lulus AKPOL dan berkelanjutan hingga sekarang menjadi polisi.

Berapa lama Anda mengenyam pendidikan AKPOL dan apa pangkat Anda?

Saya menyelesaikan pendidikan Akpol selama 3,5 tahun lulus 2003. Pangkat terakhir Letnan Satu. Tapi, karena saat ini sedang meneruskan pendidikan lanjutan bidang Lantas di PTIK, pangkat dan tanda kewenangan saya dicopot sementara hingga lulus.

Sebelum melanjutkan di PTIK, pernahkah Anda ditugaskan di tempat lain. Sebagai apa?

Saya ditugaskan di Polresta Palu Barat, Sulawesi Tengah selama 4 tahun, sempat menjadi Kanit Patroli Lantas, Kepala Bagian Operasi Lantas, Wakapolsek Palu Barat dan Kasatlantas.

Pengalaman yang paling seru selama jadi polisi?

Ketika menjabat Wakapolsek Palu Barat, kami membekuk perampok yang membobol brankas di Kantor Dinas Pertambangan Provinsi dan sempat masuk salah satu TV swasta. Yang membuat ramai karena terjadinya penembakan. Ha-ha.

Polri kini menjadi 'anak emas', dipisah dari ABRI dan memiliki anggaran lebih besar dari kesatuan lain. Menurut Anda?

Menurut saya pribadi, tugas Polri memiliki beban berat karena harus menjaga keamanan dan kehidupan masyarakat dari pagi hingga pagi lagi. Begitu banyak yang dikorbankan, seperti waktu, tenaga, nyawa, dan keluarga sehingga harus didukung peralatan dan anggaran besar. Di luar negeri, jangankan anggaran, gaji PNS paling tinggi itu polisi.

Benarkah setiap polisi yang pernah ditugaskan di daerah konflik, ketika kembali ke Jakarta akan mendapat posisi “bagus”?

Sebenarnya, itu kebijakan bukan peraturan tertulis. Tapi, memang lebih diprioritaskan. Bukan jabatan, lebih kepada kemudahan untuk mendapatkan sekolah atau pendidikan lanjutan.

Masih adakah good cop di negeri ini?

Tentu, masih banyak yang tulus mengerjakan profesi yang mulia ini. Tapi, tertutup tindakan segelintir oknum. Pemberitaan tentang polisi hanya yang buruk-buruk saja. Penderitaan dan pengorbanan kami ketika bertugas tidak pernah diekspos.

Mengapa setiap hujan turun yang mengakibatkan macet di Jakarta, polisi cenderung tidak ada di lapangan?

Bukan tidak ada sebenarnya. Jakarta ini kota yang kompleks. Kami mengutamakan daerah yang menjadi titik kemacetan dan itu banyak sekali. Polri saat ini sedang membuat terobosan akan menurunkan para petugas melalui helikopter di setiap titik kemacetan.

Contact the writer at hanindyo.suropati@mediasatu.com
Follow him on twitter

   Bagikan  

Comments

Wisnu Widya Tama

August, 16th 2010

Hebat betul ini Sdr. Budi Setiawan. Masih Iptu tapi udah pernah jadi Kasatlantas.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.