Pentjoeri Hati: Daniel Hariman Jacob
August, 10th 2010 | by | Comments: 3
7 Agustus lalu, Gedung Kesenian Jakarta diramaikan oleh penampilan Teater Bejana dengan lakon "Pentjoeri Hati". Simak review dan perbincangan dengan sang sutradara.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Gedung Kesenian Jakarta tampak lebih sumringah dari biasanya. Lelaki (Saga Siersa) dan perempuan (Erisca Saravati), yang masing-masing mengenakan cheong sam dan changshan dengan make-up ala Opera China berdialog dengan bahasa China. Mereka wara-wiri di tengah penonton yang menunggu di selasar GKJ, menunggu gong ketiga—tanda ruang pertunjukan boleh dimasuki—dibunyikan.
Gong itu berbunyi pukul 20.00. "Pentjoeri Hati" oleh Teater Bejana dimainkan di panggung yang kanan-kirinya ditenggeri spanduk-spanduk bergambar naga, serta berbulir-bulir lampion di plafon gedung pertunjukan.
Ber-setting tahun 1930-an, ruang tamu rumah keluarga Yauw Kong Lo (keluarga Peter) dan Tjee Kim Gin (keluarga Lientjetje) bergantian memenuhi panggung. Sembari disisipi narasi berupa nyanyian ala Opera China dan dialog Melayu Tionghoa, alur cerita berjalan. Dimulai dengan pertentangan orangtua Peter (Derry Oktami) terhadap hubungannya dengan Lientjetje (Felencia) dari Keluarga Tjee Kim Gin.
Tuan Kong Lo: "Peter, lo masih berani juga berhubungan dengan Lientjetje? Apa lo nggak tahu apa yang papa dan mama tidak setuju?"
Peter: "Betul, dulu ia hanya seorang tukang tauco. Tapi sekarang, dia sudah jadi salah satu saudagar terhormat, serta tidak sombong, tidak suka membanggakan kekayaan, hidup sederhana, bisa berlaku rendah pada segala golongan."
Dan, ketika orangtuanya sama sekali bergeming, Peter hanya punya satu jalan keluar, yaitu bersandiwara, berpura-pura jadi pencuri perhiasan milik Lientjetje. Akibatnya, kasus sampai ke tangan polisi Belanda dan Peter jadi buron. Kalau sudah begini, Tuan Kong Lo (Didi Hasyim) dan istri (U’ut Aswadi) mau tidak mau juga hanya punya satu jalan keluar untuk menolong anaknya dari jeratan bui. Nikahkan Peter dengan Lientjetje agar tuduhan hilang.
Tuan Kong Lo: "Sebenarnya, Owe tidak setuju Peter berhubungan dengan Lintjetje. Tapi, keadaannya sudah tidak enak begini... Owe akan menikahkan Peter dengan Lientjetje."
Saya dari awal sudah terhibur dengan karakter-karakter para pemainnya, terutama Oentoeng (Joseph Viar Suhendar), pembantu keluarga Kong Lo. Ditambah lagi kemeriahan Kie Swan Kim (Christianus Yanto), Ny. Tjee Kim Gin (Liilis Ireng), Tjee Kim Gin (Iphie Lubis), Ki Pasangin (Ireng Sutarno), Mak Cepot & Siti (Dewi Indah Jaya), Sam (Diky Soemarno), serta Josh (Hendro Merah Jambu). Mereka membuat seisi GKJ ketawa renyah.
Dengan konsep drama-komedi, pementasan ini cukup enak ditonton, lepas dari banyak artikulasi yang meleset di sana-sini. Musik dari Mahagenta di telinga saya berhasil menyempurnakan 'kemasan' Tionghoa. Di penghujung pementasan, di hari pernikahan Peter dan Lientjetje, muncul berturut-turut tarian Ngarojeng, liong, terakhir barongsai. Saya bisa pulang dan tidur nyenyak malam ini.
---
Dua hari setelah pementasan itu, saya ngobrol-ngobrol sedikit dengan si sutradara, Daniel Hariman Jacob; soal hidup, dunia teater, dan Bejana tentu saja.
Ceritakan soal Teater Bejana.
Semua berawal pada 19 Mei 2002 atas ide Daniel Hariman Jacob, Felencia Oktaria Hutabarat, In Bene, Chaca, Dinda, Ayu, dan Jaja. Kenapa akhirnya dipilih nama Bejana? Bejana itu, kan, tempat air. Jadi, maksudnya sih kami ingin menjadi wadah untuk mengisi apa-apa yang kosong, dalam hal ini melalui teater.
Sejak terbentuk, sudah lahir tujuh pementasan dari Bejana. Sadar ataukah tidak, kalau Bejana lebih ‘gemar’ mengangkat tema Melayu Tionghoa?
Sebenarnya, tidak semua juga kan naskah yang kami angkat Melayu Tionghoa. Kami juga tidak bermaksud untuk memilih hanya ke genre itu saja. Ini hanya masalah fokus perhatian. Ya, saya pikir, mungkin tema ini bisa Bejana jadikan fokus karena tidak ada yang mengangkat tema ini selain kami, sampai saat ini. Walaupun, tetap saja, tidak menutup kemungkinan kami akan mementaskan naskah bergenre lain.
Dan, kenapa Kwee Tek Hoay?
Oh, kalau itu lebih karena karya-karya KTH itu sangat banyak, cenderung lebih banyak daripada pengarang-pengarang Melayu Tionghoa lainnya. Tapi, saya juga sedang berusaha menggarap naskah milik Soe Lie Piet, bapaknya Soe Hok Gie.
Khusus untuk pementasan tempo hari, berapa lama persiapannya?
Kami mulai bergerak sekitar Mei, tapi baru efektif Juni 2010.
Cepat juga. Apa kendala paling besar, kalau begitu?
Apalagi kalau bukan dana. Ha-ha-ha. Ada memang bantuan dari Pemuda Tridarma Indonesia, dan beberapa sponsor lain.
Oh ya, ada yang menarik saat menonton Pentjoeri Hati lalu. Sekeluarga besar Kwee Tek Hoay (KTH) datang menonton pementasan.
Mereka memang selalu datang setiap kami mementaskan karya-karya KTH. Malah nenek yang tempo hari menerima buket bunga dari kami, itu adalah cucu KTH yang langsung datang dari Medan.
Apa dalam proses produksi, Bejana meminta masukan dari keluarga KTH? Apa pendapat mereka?
Sama sekali tidak. Kalau brainstorming naskah, paling-paling saya ngobrol dengan teman-teman.
Proyek selanjutnya?
November ini, saya akan menggelar pementasan tribute to seorang sahabat. Nanti, keseluruhan rupiah yang didapat akan disumbangkan untuknya yang kebetulan sedang kurang sehat. Itu yang paling dekat. Masih ada juga dua naskah Kwee Tek Hoay yang sedang saya garap, dan satu naskah Soe Lie Piet yang tadi saya bilang.
Bejana kan kerap melibatkan publik figur. Siapa yang paling nyaman diajak kerja sama?
Sampai kini, mungkin Ria Probo. Karena, sebelum jadi publik figur (bintang sinetron dan iklan), dia berangkat dari dunia teater. Jadi ya, dia sudah mengerti dunia ini.
Sekarang mari bicara soal diri Anda. Anda kan dosen, guru, juga sutradara. Bagaimana sampai akhirnya membuat semua bisa berjalan selaras?
Ya, selama ini sih saya beruntung saja, teater bisa diurus malam-malam. Lepas dari jam mengajar. Walaupun butuh tenaga dan waktu ekstra, tapi semua bisa sejalan. Lagipula, mengajar untuk masa depan juga. Maksudnya, berprofesi sebagai sutradara teater belum bisa dijadikan sumber penghidupan. Maka itu, saya butuh mengajar untuk subsidi silang lah, katakanlah begitu.
Teater bagi Anda?
Saya sudah berteater sejak 1988, waktu SMA, dulu itu ikut Teater Kecil yang mengurus Arifin C. Noer. Dari awal saya teateran, saya sudah belajar banyak sekali, mulai dari berorganisasi sampai belajar menghargai sesame manusia.
Pementasan paling Anda ingat dan paling berkesan?
Ada tiga. Pertama, waktu dulu main untuk Teater Blok M pada 1994 untuk lakon Min atau Plus Sama dengan Tanda Tanya yang menang Festival Teater Jakarta untuk kelompok teater terbaik. Kedua, menyutradarai Perempuan di Titik Nol bareng Solidaritas Perempuan (SP) melibatkan Nurul Arifin dan Ria Irawan sebagai pemain. Bisa dibilang, pementasan ini yang bikin nama saya mulai dikenal. Terakhir, pementasan Nonton Cap Gomeh.
Pertanyaan pamungkas, Anda kan campuran Sunda, NTT, dan Jawa, tapi lahir dan besar di Jakarta. Apa selama ini Jakarta sudah memenuhi ‘keperluan’ Anda menyoal kecintaan Anda terhadap dunia teater?
Sebenarnya, khusus masalah perteateran, saya justru iri dengan teater-teater di daerah. Mereka bisa jadi unik karena unsur kebudayaannya kental, misalnya Putu Wijaya kental dengan Bali-nya atau Teater Gandrik dengan kejawaannya. Sementara, teater di Jakarta, apa yang bisa bikin kita jadi berkarakter? Sulit. Yang cenderung kerap diangkat adalah hal-hal metropolis yang kalau kita lihat di luar negeri juga banyak. Nah, karena itu kami akhirnya fokus pada naskah-naskah Melayu Tionghoa. Ini mungkin jadi jalan agar Bejana bisa lebih berkarakter.
Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter



Ann
August, 11th 2010
Saya beruntung sempat menyaksikan pementasan ini juga, Sabtu malam itu. Sebuah pertunjukan plus, sebab ada geliuk tari liong yang 'glowing in the dark'. Sungguh mistis!
Nice review anyway! Jadi tau dunia sutradara dalam dunia teater.