'Mantra' Kula Shaker dan Kekaguman Ian Brown pada Pawang Hujan
August, 11th 2010 | by Adirama Gemmy | Comments: 0
Ian Brown adalah ikon indie pop, sementara Kula Shaker merupakan 'pendoa' yang bertugas menjaga mantra psikedelik rock.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Konser yang berlangsung pada 6 Agustus 2010 di lapangan ABC, Senayan, tersebut, dimulai agak molor dari jadwal yang telah ditetapkan. Sementara, penonton mulai memadati venue. Hujan yang dari sore tak henti mengguyur Jakarta jadi salah satu penyebabnya—mengingat konser ini akan dihelat secara outdoor—, selain keterlambatan penerbangan yang dialami Kula Shaker, seperti yang disampaikan panitia sewaktu konferensi pers sesaat sebelum konser. Saat itu, saya membayangkan sepertinya kenikmatan untuk menyaksikan dua jenius ini harus ditempuh dengan cara hujan-hujanan. Tapi, ternyata tidak. Hujan pun berhenti tiba-tiba. Kejadian inilah yang nantinya akan membuat Ian Brown takjub sehingga menyampaikannya kepada lebih dari seribu penonton malam itu.
Sebelum itu, Kula Shaker mendapat kesempatan sebagai jenius pertama yang tampil. Dari kegelapan, sekitar pukul 21.30, Crispian Mills dan kawan-kawan muncul dan langsung mendapat sambutan meriah dari penonton. Tanpa basa-basi, dibuka dengan “Sound of Drums”, Lapangan ABC Senayan pun untuk selanjutnya sontak berubah layaknya ashram yang penuh balutan lirik Sanskrit dari para pendoa. Seperti paham dengan harapan penonton, malam itu Kula Shaker banyak membawakan hits-hits mereka yang memang sudah akrab di telinga penonton Jakarta. Padahal, mereka baru saja menelurkan album baru, dan saat-saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk berpromosi. Tapi, mereka bukan band oportunis. Kula Shaker benar-benar menghibur. Apalagi, visualisasi yang mereka berikan sangat serasi dengan iringan musik yang terpancar dari warna-warni absurd khas psikedelik di layar belakang panggung. Andai saja konser itu digelar di dalam ruangan, mungkin wewangian dupa ikut menjadi unsur tambahan pencipta nuansa. Wajah-wajah bahagia dan puas pun jadi mudah terlihat di sela-sela lenguhan Crispian. “Govinda” menjadi penutup yang pas demi semua kepuasan malam itu. Tak perlu encore!
Pukul 23.25, giliran Ian Brown yang beraksi. Diiringi intro “I Wanna Be Adored”, eks vokalis The Stones Roses ini muncul dengan busana kasual (jaket dan celana training). Melihat pemandangan ini, saya pun teringat sosok Bruce Lee. Apalagi, Ian juga sering berpose layaknya seorang jago beladiri. Selesai lagu pertama, Ian mulai menyapa penonton. Ia menyampaikan rasa takjubnya atas 'kebisaan' orang Indonesia (baca: pawang) memindahkan awan berisi gumpalan air ke tempat lain. Penonton pun merespons ini dengan gelak tawa.
Namun, berbeda dengan Kula Shaker, malam itu Ian lebih memilih menggoyang penonton dengan lagu-lagu solonya. Padahal, saya yakin banyak penonton yang berharap bisa menyaksikan Ian langsung membawakan hits-hits The Stones Roses. Beberapa wajah 'kecewa' bisa terlihat, meski telah ditutup-tutupi sekuat tenaga. Meski begitu, kharisma Ian masih jauh lebih besar dari kekecewaan beberapa penonton tersebut. Bahkan, saya sempat melihat seorang perempuan yang histeris saat dirinya merasa ditunjuk oleh Ian Brown. Konser pun ditutup oleh “Fools Gold” setelah dua lagu sebelumnya melantun sebagai encore.
Malam itu dipastikan akan menjadi salah satu dari malam-malam paling berkesan bagi saya (mungkin juga Anda) yang hadir pada gelaran konser tersebut. Terima kasih untuk Front Media Live dan Stellar Entertainment yang bekerja sama dengan L.A. Lights yang bertanggung jawab atas histeria penonton di malam basah tersebut.
Contact the writer at adirama.gemmy@mediasatu.com
Follow him on twitter
Foto: Satria Ramadhan


Comments
Be the first to comment.