Joko Anwar
August, 19th 2010 | by Bayu Maitra | Comments: 2
Audisinya sempat ramai dibicarakan orang sejak beberapa bulan lalu. Namun, saat mencoba riset lebih jauh, hasilnya minim. Situsnya hanya menyediakan informasi standar, seperti cast dan sinopsis yang tak lebih dari dua paragraf. Onrop masih misteri. Saya mendatangi Joko dengan bekal seadanya.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Jujur, saya sulit mendapat bahan untuk wawancara ini. Apa Onrop memang sedemikian tertutup?
Ya, memang sengaja begitu. Pertama kali gue bicara soal Onrop, ya, memang baru kali ini.
Oke. Pertanyaan pertama adalah siapa yang menciptakan nama Onrop? Dan, apa hubungan Onrop dengan porno?
Nggak ada. Ha-ha-ha. Gue yang menciptakan itu. Onrop itu nama sebuah pulau di cerita kita. Setting-nya futuristik, di Indonesia 2020. Di situ ada dua tempat, yaitu Jakarta dan Pulau Onrop.
Apa tema besar cerita ini?
Actually, it’s a romantic comedy. Jadi, ada dua karakter utama, laki-laki (Bram) dan perempuan (Sari). Ceritanya, si Bram ini melakukan sebuah kesalahan. Sebagai hukuman, ia lantas diisolasi di Pulau Onrop. Ada apa di sana? Itu yang rahasia. Kurang lebih, ini sebuah journey tentang cara mereka bersatu kembali.
Mengapa tidak dibuat dalam format film saja? Seperti Chicago, misalnya.
Ini tadinya mau dibikin film. Cuma, karena ada setting pulau, kostum, dan segala macamnya, gue pikir budget-nya akan besar banget. Ya sudah, akhirnya kami bikin ‘play’ dulu saja.
Apa ini kali pertama Anda menyutradarai teater?
Kalau dibilang pertama kali juga nggak. Dulu, waktu masih SMA di Amerika juga sudah pernah bikin pementasan teater. Gue pernah terlibat sebagai pemain maupun kru. Tapi, ini memang teater skala besar gue yang pertama.
Memangnya ada berapa orang yang terlibat? Berapa yang ikut audisi?
Pemainnya saja ada 83. Belum termasuk orkestra dan yang lainnya, lho. Kalau yang ikut audisi ada 1.100 orang, dari Yogyakarta, Bandung, Solo, Bali, dan Jakarta. Ini memang terbuka untuk seluruh Indonesia.
Seberapa ketat audisinya?
Audisi berjalan sejak Maret-April. Ada sembilan tahap, karena kami betul-betul mencari performers yang bisa nyanyi, akting, dan dance. Tadinya kami sempat berpikir, “Ada nggak, ya, talent yang bisa mainin?” Tapi, saat audisi, malah kita yang terperangah. “Oh my God, talent Indonesia itu banyak banget!”
Ada yang konyol?
Itu dia. Tadinya kami memang mencari yang konyol-konyol buat dimasukkan ke YouTube. Tapi, ternyata nggak ada sama sekali. Mereka semua bagus-bagus. Malah, jadi kami yang sampai menambah script dan karakter.
Apa tantangan yang Anda temukan di Onrop?
Yang terbesar adalah mempersiapkan ini dengan sangat matang. Kalau di film, kesalahan atau kekurangan bisa di-take ulang atau dibantu dengan editing. Kalau di sini, semuanya live. Salah, ya, salah saja. Everything has to be very precise.
Bagaimana Anda melihat dunia teater musikal di Indonesia?
Dulu, pada ‘90-an awal, sempat ada Teater Koma. Tapi, setelah itu sangat jarang terdengar. Nah, kini geliatnya mulai tumbuh kembali. Ini bagus. Banyak orang film masuk ke teater karena sekarang film sudah banyak ‘sampah’-nya. Setiap orang yang punya kamera bisa bikin film. Kalau teater kan tidak. Loe harus betul-betul jago story telling, pemainnya juga harus betul-betul jago akting, nyanyi, dan segala macamnya. Teater juga lebih sulit ditiru.
Secara bisnis, Anda yakin Onrop bakal menjual?
Prospeknya besar banget, karena orang mulai jenuh dengan TV, film bioskop, dan show yang biasa saja. Mereka butuh sesuatu yang baru.
Apa yang istimewa dari Onrop?
Ini karya orisinal. Tidak diadaptasi dari cerita rakyat, tidak diadaptasi dari cerita luar negeri, dan tidak diadaptasi dari cerita film. Everything is new. Ini bakal jadi musical event of the year, sesuatu yang sangat oke, lah.
Lirik lagunya, kan, juga Anda yang buat. Inspirasinya dari mana?
Ada 19 lagu. Ya, semua gue yang bikin liriknya. Kalau inspirasi lirik, dapatnya kebanyakan pas lagi boker, ya. Ha-ha-ha. Yang penting harus berima saja.
Kapan dan di mana saja Onrop bakal dipentaskan?
Mulai 6-14 November di Teater Besar TIM. So far, di Jakarta dulu. Tapi, biasanya nanti bisa ke kota-kota lain juga. Kalau misalnya sambutannya meriah, bisa saja ke luar negeri.
Pertanyaan terakhir. Siapakah yang bisa menikmati Onrop?
Target audience kita memang menengah ke atas. Karena, kalau play, kan, harga tiketnya memang nggak seperti bioskop, yang dengan Rp15.000 saja bisa nonton. Tapi, kalau dari segi cerita, sebenarnya semua orang bisa menikmati.
Contact the writer at bayu.maitra@mediasatu.com
Follow him on twitter


ferita
August, 20th 2010
joko anwar keren