FEATURE

Ramadan ala Jakarta

September, 7th 2010 |  by  Tim Redaksi Area  | 1

area memotret tradisi khas penghuni Jakarta di Bulan Suci. Ada yang seru, khidmat, sakral, hingga penuh lelucon.

Ramadhan bulan suci; saat umat Islam menjalankan ibadah puasa dan tarawih. Sebulan penuh umat Islam 'berperang' sebelum mencapai kemenangan saat Idul Fitri. Di bulan baik ini, segala amalan baik dijanjikan pahala dan berkah berlipat ganda. Layaknya musim, Ramadan melahirkan budaya dan tradisi khas di dunia, yang hanya ada setiap kali Ramadan. Begitu pun di Jakarta. Semua tradisi tersebut menjadi rangkaian aktivitas yang meramaikan Jakarta dan seisi ibukota ini. Ada yang seru, khidmat, sakral, bahkan sedikit lelucon. area memotret sekelumit ragam kekhasan Ramdan di Ibukota ini, dari aktivitas hingga serba-serbinya. Simak.

Di Rumah Tuhan
[photo1]

Masjid atau musala jadi spot pilihan waktu menunggu berbuka. Daripada melakukan kegiatan yang tak karuan manfaatnya, berdiam diri di rumah Tuhan (iktikaf) jadi alternatif positif. Tentunya dengan beramalan baik, semisal tadarus atau salat - walau ada juga yang sekadar tidur-tidur siang, menghabiskan waktu atau ngabuburit.

 

 

 

 

Bacalah...
[photo2]

Di hari-hari biasa, tadarus, membaca, atau mengkaji alquran, bisa jadi kegiatan yang sangat jarang dilakukan. Hanya pada waktu-waktu tertentu. Kesibukan menjadi aralnya. Kalaupun sempat, biasanya baru bisa dilakukan malam. Nah, momen bulan suci ini, justru sebaliknya. Berharap pahala berlimpah dan mengalihkan rasa lapar dan haus pada kegiatan positif, ketimbang tidur, semua orang benar-benar menyempatkan diri. Kapanpun, di manapun.

 

 

Tidur Siang di Masjid
[photo3]

Segala amalan di bulan puasa akan diganjar pahala berlipat, termasuk tidur. Selepas solat Dzuhur, saat terik tepat di ubun-ubun, merebahkan badan di teras-teras masjid yang dingin, bukan main nyamannya. Hitung-hitung menunggu berbuka. Tapi, seringkali banyak yang hingga lupa waktu salat dan buka puasa.

 

 

 

 

Berjualan Tajil
[photo4]

Ramadan juga musim seru menikmati jajanan khas yang hanya muncul atau terasa luar biasa enak saat puasa. Asinan, kolak pisang, kurma, es buah, dan sebagainya jadi santapan seru berbuka. Nah, di beberapa sudut ibu kota ini, para penjaja sajian tajil ini pun hadir dan menjala rezeki.

 

 

 

 

 

Nikmatnya Kebersamaan
[photo5]

Kegiatan berbuka puasa bersama cuma ada setiap kali Ramadan. Seru. Setelah seharian menahan haus dan lapar, berbuka puasa bersama teman, rekan kerja, dan keluarga, sudah tentu membikin suasana Ramadan terasa indah. Makanannya tak perlu macam-macam. Lokasinya bisa di rumah, maupun di tenda-tenda jajanan. Pesertanya, bisa cuma berdua pacar, bersama rekan setim, atau lebih seru lagi bersama anak-anak dari panti asuhan.

 

 

 

Sujud Tak Henti
[photo6]

Selain berpuasa, inilah rutinitas wajib utama di bulan suci. Usai isya, ibadah salat dilanjutkan dengan  berjamaah untuk beberapa rakaat lainnya. Jumlahnya variatif, 11 atau 23 rakaat. Supaya tetap khusyuk, biasanya ayat yang dibaca adalah surat-surat pendek. Kasihan, kan, sudah rakaatnya banyak, masak masih  dihajar pula dengan surat-surat panjang. Apalagi, perut masih dalam keadaan kenyang dan kantuk cepat terasa. 

 

 

 

Manusia Gerobak
[photo7]

Memilukan memang. Keberadaan mereka bisa dibilang potret malang para pendatang yang mencoba peruntungan di Ibukota. Bermodal gerobak, biasanya membawa anak-istri, dan hidup dari memulung, para manusia gerobak mengarungi antero Jakarta. Layaknya rumah dan kantor, di gerobak itulah pusat aktivitas mereka. Biasanya, mereka hadir dan membludak jelang Hari Raya Lebaran dan Tahun Baru. Kerap ditertibkan dan dipulangkan ke daerah asal, mereka tetap datang, dan datang lagi.

 

 

Dar Der Dor!
[photo8]

Meski sudah dilarang dan jelas-jelas membahayakan, nyatanya dar-der-dor petasan dan kembang api masih saja menggema di manapun. Celakanya, semuanya orang menyenanginya, dari anak-anak sampai orang dewasa. Yang dewasa biasanya untuk berjahil-jahil dengan sebayanya. Penjualnya pun tak pernah sulit untuk ditemukan, dari pinggir jalan sampai minimarket. Bisanya dimainkan usai berbuka dan usai tarawih. Seru juga menyaksikan kegirangan anak-anak memang selama bunyinya masih wajar-wajar saja.  

 

 

 

Kucing-kucingan
[photo9]

Saat Ramadan hanya ada dua golongan manusia, yang berpuasa dan tidak. Ada banyak alasan orang untuk tidak puasa. Nah, sebab menghormati orang puasa atau malu, orang-orang yang tak berpuasa ini memilih makan-minum di tempat umum yang 'tersembunyi'. Beruntung, rumah makan itu mau berkompromi, menyiasati kedainya dengan berbagai cara, misalnya menambahkan tirai di jendela.

 

 

 

 

Ikhlas dan Berbagi
[photo10]

Meski sudah diancam sanksi penertiban Perda No 8/2007 tentang Ketertiban Umum dan fatwa haram dari MUI, nyatanya tak membikin surut niat ikhlas the Jakartans untuk tetap berbagi, di manapun, kapanpun, dan kepada siapapun. Pun demikian, para fakir dan pengemis itu juga masih tetap ada. Cara bersedekah ada beragam, salah satunya adalah membagikan makan sahur kepada para fakir.

 

 

 

 

Sahur... Sahur!
[photo11]

Dilematis, berisik, mengganggu orang beristirahat, tapi perlu juga untuk mengingatkan waktu sahur.
Biasanya segerombolan anak dan remaja yang berkeliling di lingkungan tempat tinggalnya sembari membahanakan bunyi-bunyian rampak. “Sahur, sahur!” teriak mereka teriring tetabuhan. Ada juga yang memilih membangunkan orang-orang untuk bersahur dengan berceloteh ria di masjid atau mushola. Bermodal pengeras suara, mereka beraksi layaknya penyiar radio.   

 

 

 

Kulit Kambing Plus Tong?
[photo12]

Beduk menjadi barang yang paling dikangeni bunyinya manakala menunggu waktu berbuka. Saat Hari Raya Idul Fitri tiba, rampak beduk dan takbir menjadi kumandang yang menyegarkan suasana fitri. Perangkat perpaduan kulit kambing dan tong nyatanya menghasilkan bunyinya khas. Sayang, proses pembuatannya tak mudah.

 

 

 

 

Hari Baru, Tampilan Baru
[photo13]

Urusan ibadah perlu ditunjang dengan busana yang pantas. Menjaja busana bertema islami jadi pilihan sekaligus peluang usaha yang marak setiap kali Ramadan, apalagi jelang Idul Fitri.

 

 

 

 

 

 

Cicip Citarasa Timur Tengah
[photo14]

Melebihi hari biasanya, penjaja kurma dan camilan khas Timur Tengah menjamur di sejumlah titik di Ibukota. Beragam jenis kurma dijaja, dari yang sudah dikemas, sampai yang benar-benar asli dari tangkainya. Berbuka dengan kurma nyatanya memang diriwayatkan dalam Hadist.

 

 

 

 

 

 

Asisten rumah Tangga a.k.a Pembantu

Dibutuhkan, tapi Tak Diinginkan

Pembantu rumah tangga. Profesi mulia. Pekerjaan segunung. Gaji alakadar. Minim penghargaan. Pekerjaan kasta bawah tapi paling dicari masyarakat kelas atas. Acap bikin deg-deg-an para nyonya di Jakarta khususnya jelang Idul Fitri. Minta izin mudik sebentar, janji kembali, tahunya 'ngabur'. Tinggal nyonya yang kelabakan mengurus rumah tangganya sendirian.

“Mengurus rumah dan isinya”. Sebenarnya sederhana saja jobdesk seorang ibu rumah tangga. Empat kata yang penuh tipu muslihat. Kenyataannya, ada banyak pekerjaan yang terangkum dalam “mengurus rumah”. Menyapu halaman dan ruang, pel sana-sini, beberes perabotan rumah, memotong rumput belakang, menyiram tanaman saat sore, mencuci piring, memasak makan pagi-siang-malam, mencuci pakaian anak sampai ibu majikan, menguras bak mandi, sampai berbohong untuk ibu majikan saat ditagih tukang kredit, dan mengusir pengemis atau sales door-to-door yang hinggap di pintu rumah.

Wow. Itu baru beberapa. Kategori pekerjaan itu belum termasuk uraian dari entri “dan isinya”. Ada banyak lagi, tergantung siapa dan berapa orang isi di rumah tersebut. Dari mulai mengambilkan koran untuk bapak majikan, belanja untuk ibu majikan, mengantar si sulung ke sekolah dan les musik, menemani makan si bungsu, mencarikan kacamata baca untuk nenek majikan, sampai membayarkan tagihan rekening listrik tiap bulannya.

Bayangkan pekerjaan itu dilakoni seharian penuh dan setiap hari oleh ibu atau istri kita yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Membayangkannya saja sudah bikin patah pinggang. Bukannya tak paham kesetaraan gender atau menutup kemungkinan bila ada juga laki-laki yang berprofesi sebagai bapak rumah tangga, tapi situasi ini memang banyak dialami kaum hawa.    

Nah, berkaca pada kesibukan itu, tak heran banyak nyonya yang membutuhkan kehadiran sosok pembantu atau keren dibilang sekarang 'Asisten Rumah Tangga' demi meringankan beban hidupnya. Menyisakan banyak waktu luang untuk ber-window shopping di mal paling wah, chit-chat sama ibu-ibu lainnya di kafe, merawat diri di spa, atau sekadar nonton tayangan sinetron favorit. Gampangnya, dengan menggaji Rp700 ribu hingga 1 juta per bulan, si nyonya majikan bisa punya waktu banyak, lebih dari cukup untuk sekadar bernapas.

Terbayang senangnya mempunyai pembantu (ups, asisten rumah tangga). Pekerjaan rumah beres. Lapar sedikit tinggal teriak. Rumah kotor sedikit tinggal teriak. Sampai-sampai membukakan pintu untuk tamu yang datang, tinggal teriak. Itu belum termasuk teriak-teriak manakala si pembantu melakukan kesalahan.

Terbayangkan beratnya beban profesi asisten rumah tangga. Sialnya, dengan range salary yang kecil plus minim tunjangan dan tak bertimpal dengan tanggung jawab yang selebar jagat membikin pembantu menjadi barang langka. Susah untuk mendapatkannya. Itu belum lagi soal pembantu yang berulah.     

Nah, bicara soal asisten rumah tangga, masih banyak bonus dan buntut lainnya yang membuat Anda semakin pusing tatkala mendengar “asisten rumah tangga” disebut. Memang, kita tidak dapat memungkiri, bahwa dalam sebuah rumah tangga pasangan yang tinggal di kota metropolitan, mereka adalah asset berharga yang semakin langka, tapi, jangan karena we desperately need them maka membuat kita jadi sembrono. Apalagi, mengingat banyak kasus yang sekarang sering muncul terkait dengan asisten rumah tangga. Entah pencurian, penyiksaan anak, penculikan, bahkan hingga yang berujung pada kematian. 

Then, ini tips dari kami, supaya tidak ‘terjebak’ dengan muka polos mereka because somehow, kita yang ‘terlalu’ baik terkadang malah ‘berjodoh’ dengan para oknum.

 

Do’s

Kunjungilah langsung jasa penyedia pembantu rumah tangga (yayasan) atau mintalah bantuan saudara yang berada di desa untuk mencarikan sesuai dengan criteria.

Wawancara ‘calon asisten’ Anda. Gali sebanyak-banyaknya informasi tentang latar belakang dan pengalaman kerja-nya.

Mintalah nomer telepon dari pengguna jasa sebelum Anda sebagai referensi.

Pilihlah sesuai dengan criteria. Misalnya, untuk menjaga anak pilihlah mereka yang memiliki fisik kuat.

Jangan ragu untuk mencari dari yayasan luar kota, dari daerah asal Anda mungkin. Mereka yang berasal dari daerah yang jauh dari domisili Anda akan lebih baik setidaknya untuk ukuran keluguan dan frekuensi mereka pulang kampung.

Mintalah Kartu Tanda Pengenal atau surat keterangan yang mencantumkan asal-usul mereka.

Negosiasikan di awal tentang gaji, cuti, dan tunjangan lain yang akan Anda berikan.

Jelaskan tentang pekerjaan mereka secara rinci.

Buatlah perjanjian tentang durasi waktu kerja mereka. Kapan dan seberapa sering mereka dapat pulang kampung dan berapa lama.

Perhatikan betul gelagat dan pola kerja mereka terutama pada 3 bulan pertama.

Jangan pernah ragu untuk meminta ganti kepada yayasan jika asisten rumah tangga Anda melakukan gelagat yang kurang pantas atau sikap yang tidak dapat ditolerir.

Don’ts

Hindari meminta asisten rumah tangga kepada orang yang belum jelas betul asal-usulnya.

Hindari mempekerjakan mereka yang di bawah umur.

Jangan pekerjakan mereka yang memiliki penyakit bawaan, misalnya paru-paru basah atau jantung.

Jangan langsung memberikan kepercayaan sepenuhnya di awal masa kerja mereka.

Jangan pernah memberikan janji manis tentang pekerjaan mereka di awal masa kerja.

Nah, bagi Anda yang telah memiliki asisten rumah tangga atau Anda adalah newbie untuk urusan ART, inilah ‘seni’-nya agar mereka tetap betah tapi juga untuk menghindarkan Anda dari  buntut yang kurang mengenakan di kemudian hari.


Selalu penuhi kebutuhannya, misalnya kebutuhan peralatan mandi, makanan ringan, hingga pulsa.

Berikan waktu istirahat selama 1—2 jam di siang hari, pastikan pada saat pekerjaan rumah tangga sudah beres atau pada saat buah hati sedang beristirahat.

Berikan satu hari libur di akhir pekan setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Kompromikan sesuai dengan kebutuhan Anda dan mereka.

Berikan mereka uang jajan pada saat kinerja mereka baik atau tiap beberapa waktu sekali.

Camkan betul kepada Asisten Anda aturan rumah tangga yang di pakai di rumah tangga. Jangan biarkan mereka terlarut dengan ‘aturan main’-nya sendiri.

Berikan batasan-batasan yang jelas tentang apa-apa yang boleh mereka lakukan pada jam kerja dan di luar jam kerja.
Jangan biarkan mereka sering ‘main’ kecuali di akhir pekan.

Berikan aturan tentang cara berpakaian. Misalnya, himbau asisten Anda untuk menggunakan pakaian yang minim saat sedang bekerja.

Pastikan gaya bicara mereka pantas didengar oleh anak Anda.

Jangan berikan mereka akses sepenuhnya ke dalam ruangan pribadi Anda.

Pastikan kebersihan diri sang asisten.

Lakukan ‘sidak’ (inpeksi mendadak), misalnya dengan tiba-tiba pulang ke rumah tanpa pemberitahuan atau di luar kebiasaan. Hal itu untuk mengetahui kejujuran mereka saat Anda sedang tidak ada di rumah.

Jika pembantu Anda memiliki handphone, mintalah nomornya agar Anda dapat menghubunginya pada saat yang diperlukan.

Yang paling penting, berikan mereka gaji yang sesuai dengan banyaknya pekerjaan.



   Bagikan  

1 Comments

Yans

September, 7th 2010

kadang2 kita lengah justru pada hal2 yg sederhana. thanks for the tip, kebetulan sedang 'hunting a.r.t' nie.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.