Peraih Golden Prize di ajang The 9th Kyoto International Cartoon Exhibition 2010 berbagi cerita tentang karier dan kreativitasnya.

Sosok sederhana. Jitet panggilannya. Ejekan semasa kecil yang akhirnya menjadi pelengkap Koestono nama asli pemberian orang tuanya yang diubahnya menjadi Koestana agar terkesan dinamis. Kini, kartun garapannya acap tampil di setiap edisi Harian Kompas. Di Kompas, statusnya saat ini adalah kartunis utama, menggantikan GM Sudarta yang 'pensiun'.  Baru-baru ini, karyanya tampil sebagai peraih Golden Prize di ajang The 9th Kyoto International Cartoon Exhibition 2010. di salah satu sudut ruang pamer BBJ, Saya ngobrol bersama Jitet menggali perjalanan karier dan kreativitasnya.  

Bagaimana ceritanya seorang Jitet akhirnya ada di Kompas?

Saya memang mengkhususkan diri di kartun, menggambar. Saya tidak selesai sekolah, namun saya senang menggambar sejak kecil. Sampai ketika saya drop dari STM karena saya tidak yakin apakah bisa menghidupi anak-anak saya nanti hanya dengan latar belakang STM. Belum lagi kacaunya kehidupan STM waktu itu, kenakalan, dan lain-lainnya. Alasan lainnya adalah saya berasal dari keluarga dari keluarga tidak mampu. Saya anak paling tua dari 4 bersaudara. Akhirnya mungkin karena orang tua saya tidak tega, saya dibikinkan sebuah kios kecil buku-buku bekas, untuk saya berjualan. Dari sana, saya berkenalan dengan orang-orang, termasuk teman yang sama-sama mempunyai hobi menggambar, dia kerja di PosKota. Akhirnya, dia memperkenalkan saya pada Komunitas Kartun Semarang. Dari situ awal mula saya mencoba membuat kartun dan kenal banyak teman. Seorang teman menyarankan saya mengisi kolom opini di sebuah koran daerah Semarang. Setelah setahun, saya ditawari lagi mengisi kolom Humor di koran Jawa Pos selama 3 tahun. Kemudian saya pindah lagi ke tabloid, lalu ke Taboid Gaya Sehat selama 5 tahun, yang akhirnya saya masuk ke Kompas.

GM Sudarta 'pensiun'. Bagaimana rasanya menggantikan posisi GM Sudarta sebagai kartunis utama di Kompas?

Ada rasa bahagia, bangga, juga minder. Minder karena sebenernya Om Pasikom ini tidak tergantikan, karena beliau sudah berkarya selama 45 tahun, bahkan ketika saya masih kecil saya sudah menikmati karya-karyanya. Saya mengganggap ini sebagai tantangan, apakah saya mampu meneruskan “suara” rakyat yang dulu disuarakan oleh Om Pasikom. Beliau sungguh tidak tergantikan.

Untuk menjadi kartunis terkenal harus masuk ke media besar?

Saya kira tidak. Untuk menjadi terkenal tidak harus bergabung dengan media besar. Gambar saja satu karya yang bagus. Kirimkan ke festival atau kontes kartun. Kalau anda menang, ada pasti terkenal, kok.

Dengan pengalaman selama ini, apakah perlu pendidikan formal untuk kartunis?

Jujur saja sampai saat ini saya tidak tahu apakah ada sekolah khusus kartunis. Menurut saya, intinya dari semua pekerjaan adalah tekun. Sekolah sendiri tidak bisa mendeteksi seorang anak untuk harus menjadi arsitek, misalnya. Sekolah hanya merupakan proses pembelajaran yang tidak fokus. Menurut saya sekolah yang benar adalah menekuni satu bidang yang anda sukai. Misalnya, musik. Anda cari buku-buku tentang musik, banyak main dengan musisi, maka andapun jadi seorang pemusik.

Kebanyakan karya Anda lebih banyak dilombakan dan dipamerkan di festival-festival level internasional?

Saya lebih senang di intenasional karena gengsinya lebih besar. Tantangannya juga lebih besar. Namun bukan berarti festival di Indonesia kurang atau bagaimana. Justru kita, kartunis Indonesia, jika ingin mempunyai kesempatan menang di internasional, harus meningkatkan ketajaman serta “greget”, atau gagasan itu tadi.

Sedikit rasa khawatir, apakah kartun bisa bertahan di era globalisai seperti sekarang ini?

Kartun itu adalah alat komunikasi yang simpel. Dengan satu gambar bisa menggantikan teks yang panjang, misalnya. Selama komunikasi masih dibutuhkan, kartun akan terus bertahan. Kartun juga bisa ke opini, komik, animasi, ilustrasi, bisa macam-macam. Jadi tidak akan pernah mati yang namanya kartun itu. Memang sepertinya profesi kartunis agak suram, namun sebenarnya perkembangan dunia animasi akan menyedot banyak kartunis. Sebagai contoh Bang One (TV One). Karena sifatnya berita, penggarapannya dibutuhkan aktualitas yang tinggi. Sedikitnya dibutuhkan 24 gambar untuk satu frame.  Itu baru dari animasinya. Percayalah bahwa kartun akan berkembang dan besar.

Ada apa dengan kartun, sampai Anda mencurahkan hidup untuknya?

Saya yang tidak pernah sekolah formal, bisa masuk ke dunia kartun. Namun saya mempunyai gambar yang bagus. Artinya saya diberi anugerah untuk bisa menggambar dengan bagus. Tinggal bagaimana saya menggunakan anugerah ini sebaik-baiknya serta membantu mereka yang lemah dan membutuhkan.  Kasarnya, saya tidak mendapat apa-apa juga tidak masalah, selama saya bisa terus menggunakan bakat ini untuk beribadah dan mengabdi pada masyarakat.

Kompas sudah, festival Kyoto sudah, apakah ada pencapaian lain yang ingin diraih?

Keinginanan manusia itu tidak pernah ada habisnya. Tadinya saya menggambar. Kalau menang syukur, nggak menang, ya, syukur. Akhirnya saya berpikir lagi, mau jadi apa hidup ini. Saya putuskan bahwa uang bukan segalanya. Uang datang seiring usaha dan kerja keras kita. Ibadah yang saya tuju. Kembali saya memikirkan, apakah gambar saya ini bisa membantu mereka yang lemah dan tertindas, sebagai perpanjangan tangan untuk menyuarakan suara-suara mereka. Ketika saya pensiun nanti, saya ingin sekali membuat sekolah khusus kartun atau semacamnya.

Contact the writer at hapis.sulaiman@mediasatu.com
Follow him on twitter