Akhir September lalu, di Festival Schowburg, Teater Mandiri mementaskan lakon Kereta Kencana, yang dimainkan langsung oleh sang pendiri Teater Mandiri, Putu Wijaya. Saya menyaksikan.

Kereta Kencana diangkat dari naskah asli berjudul Les Cahises karya Ionesco, penyair asal Prancis. Namun, banyak pengamat teater menyebutkan, setelah diterjemahkan Rendra menjadi Kereta Kencana, naskah tersebut justru menjadi jauh lebih hidup, kaya, dan romantis. Kereta Kencana mengisahkan kehidupan suami-istri yang telah berusia 200 tahun. Mereka telah menjadi saksi sekaligus pelaku dari banyak peristiwa sejarah; bertempur dengan ajal, kesepian, dan kasih sayang, sebagai kekasih.

Dalam pementasan ini, Putu Wijaya bermain bersama artis teater terbaik Festival Teater Jakarta, Lisa Ristagi. Lakon ini dipilih sebagai penghormatan sekaligus peringatan kepada WS Rendra, sutradara teater, aktor, dan penyair yang meninggal setahun lalu. Selama tidak kurang dari 1 jam, Putu Wijaya dan Lisa berdialog, bermain layang-layang, saling meminang bayi, menyambut tamu, hingga melawan angin topan tanpa kehilangan intensitas sedetik pun. Olah vokal yang prima dan terjaga, serta gestur tubuh, mulai dari melangkahkan kaki, berlari, tangan yang menengadah, hingga berdiri tanpa melakukan apapun, memberikan pesona di mata penonton.

Seperti pada adegan ketika suami-istri tersebut menimang-nimang bayi, penonton benar-benar dibuat ikut merasakan kekangenan, kesenangan, sekaligus kesedihan ketika menyadari bayi tersebut tidak pernah mereka miliki. Tapi, akhirnya penonton dibuat tertawa ketika suami-istri tersebut membuang bayi tersebut ke arah penonton.

Pentas tersebut bukan hanya menyajikan pamer akting yang komplet, tapi juga keindahan sastra. Simak kutipan ini, “Bintang bertebaran dan bulan tampak pucat. Sebentar lagi akan datang angin-angin itu membawa mendung dan mendung itu akan membawa bulan luput dari pandangan mata.” Di antara itu, Putu masih sempat menyelipkan humor politik, seperti Dongeng Cicak dan Buaya serta kandungan yang sangat Indonesia, seperti bandrek dan kue ongol-ongol.

Kereta Kencana membuktikan bahwa yang penting untuk saat ini bukanlah perolehan harta, tingginya tahta, apalagi pesona wanita. Ketika umur telah mencapai 200 tahun, rasa cinta pada manusia lain lah yang ‘menemani’ kita.