Area Local Heroes
October, 26th 2010 | by Tim Redaksi Area | 0
Mereka yang Berkarya dan Menginspirasi Jakarta!
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Setiap tahun, setiap kali merayakan ulang tahunnya, area selalu menghadirkan feature bertajuk Area Local Heroes. Tak sekadar berbagi kebahagian merayakan kian dewasanya majalah ini, feature ini merupakan wujud apresiasi bangga dan salut kepada sejumlah figur yang dengan ide dan kerja kerasnya membikin sesuatu yang berharga. Caranya? Menyandangkan mereka mereka dengan gelar “pahlawan”.
Tak perlu debat panjang meributkan definisi atau pantas-tidaknya penggunaan 'kata' pahlawan di masa sekarang. Kami (area) punya tolok ukur sendiri. Setidaknya, tidak serumit orang-orang di dewan sana. Pahlawan bagi kami adalah segelintir figur—individu atau sekelompok orang—yang dengan idealisme, motivasi, dedikasi, dan segala kesanggupannya berkarya atau berbuat sesuatu yang positif dan mengayakan pribadi, Jakarta, dan bangsa ini. Belum selesai sampai di situ. Dalam kiprahnya di bidang masing-masing, para “hero” ini dengan berbagai cara menginspirasi dan menularkan semangat positif tersebut kepada orang lain di sekitarnya.
Anda berhak mengangguk, ragu atau menggeleng. Namun, inilah orang-orang pilihan kami. Orang-orang biasa yang melakukan hal luar biasa. Siapa saja mereka. “lets have a big around of applause...”
Area Local Heroes “Music”
[photo1]
Adrie Subono
Hobi, Duit, dan Passion
Mendengar nama Adrie Subono, gambaran yang muncul adalah sosok pria botak berpenampilan khas rocker dengan gaya bicara yang 'nyablak'. Sesederhana itu? Tentu tidak. Ialah dalang sekaligus pionir di balik maraknya gelaran konser penyanyi-penyanyi luar negeri di Jakarta. Tepat, sebagai promotor musik. Kiprah dan konsitensinya dalam pentas musik inilah yang menurut area layak menggelarinya sebagai salah satu area Local Heroes.
Kenapa memilih promotor musik? Sederhana saja menurutnya, semuanya berujung pada urusan cari duit, cari makan, untuk hidup. Bagi ayah tiga anak ini promotor musik sama halnya dengan pekerjaan lain, sebagai pilihan profesi. Baginya akan sangat bagus jika melakukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan kegemarannya. Dan, musik adalah hobinya. “Kalau kita bekerja sesuai dengan hobi kita itu enak, nyawanya dapat,” ungkapnya.
Kiprah “hero” yang satu ini sebagai promotor musik dimulai kira-kira 16 tahun silam, 1994. Ada beberapa alasan yang melatarinya. Pada saat itu, Adrie melihat promotor musik sebagai pekerjaan yang belum banyak dilirik orang dan tidak ditekuni secara serius. Namun demikian, hal itu bukan berarti promotor musik bukanlah pekerjaan yang tidak bisa dijadikan andalan pegangan hidup. “Ini adalah pekerjaan yang nggak pernah ada matinya,” ungkapnya. Kenapa? Setiap artis yang ingin 'manggung' konser memerlukan partner yang sanggup menyiapkan segala kebutuhannya. Dan, parter itu adalah promotor. Di sisi lain, artis pun tak pernah habis. Artis tua tenggelam, artis muda muncul. Fakta lainnya lagi, orang tak pernah berhenti menyukai artis yang tampil. Harus diakui, pendapatan terbesar artis bukan dari penjualan CD atau kaset, melainkan dari konser. Nah, untuk menggelar konser tersebut peran promotor sangat besar. “Begitupun saat artis luar negeri datang ke sini, mereka tak pernah membawa promotor dari luar. Jelas tidak ada matinya,” jelasnya yang banyak belajar dari figur B.J. Habibie.
Perjalanan Adrie dan Java Musikindo, memang bukan perjalanan yang mudah awalnya. Namun, hingga kini, 16 tahun sejak berdiri, Adrie dan Java Musikindo berhasil membuktikan totalitas dan dedikasinya. Sejak berdiri, hampir setiap tahun ada gelaran yang dipromotori Adrie dan Java Musikindo. Tahun ini saja, total 12 konser sudah dipromotori Adrie bersama Java Musikindo. Mulanya tak dikenal, berkat pengalaman 16 tahun, kini banyak artis dan agen yang balik meminta kerjasama dengan Java Musikindo. Kuncinya adalah ketepatan menjaring selera pasar. “Kita jual apapun selama pasarnya ada, tapi tidak berusaha mempengaruhi selera musik orang-orang,” papar sosok yang sukses menggelar konser Pittbull dan laris berat ini. Adrie mengakui bahwa pekerjaannya tidak ada kaitannya dengan membikin trend musik, tapi mengambil keuntungan dari trend market yang diciptakan si artis.
Rencana ke depan, Adrie masih dengan misi utamanya menghadirkan konser artis-artis luar negeri. Tapi,utamanya kini adalah menjaga komunikasi dengan penggemarnya melalui Twitter!
Area Local Heroes “Literature”
[photo2]
@fiksimini—Clara Ng
Wajah Lain Dunia Sastra
Jika berbicara tentang akun twitter, pasti 2 dari 3 orang di Jakarta memilikinya. Nah, jika mengaitkan twitter dengan dunia sastra, maka ada satu akun yang memberikan hawa baru dalam dunia literature dan perlahan menggeser imagenya sebagai momok. Ialah @fiksimini yang pada akhirnya membangkitkan sisi lain dari 44.050 follower-nya.
Untuk Anda yang belum mengenal @fiksimini, Agus Noor, Clara Ng, dan Eka Kurniawan adalah para penggagasnya. Tanpa ‘umbul-umbul’ yang berlebihan, akun tersebut tercipta hanya sebagai wadah untuk bersenang-senang. “@Fiksimini adalah kolam ide yang bisa dijadikan apa saja karena itu adalah sesuatu yang harus dituliskan. Kami hanya menggoyangkan society yang sudah ‘jadi’, menggoyangkan rutinitas, dan membuat orang menyadari bahwa jalan itu tidak hanya lurus tetapi ada banyak jalan yang lain, “ jelas Clara Ng saat ditanyakan tentang visi dan misi mereka .
Memang, jika menyoal sejarah fiksi mini, @fiksimini bukan pionirnya bahkan menurut Agus Noor fabel-fabel pendek yang ditulis Aesop (620-560 SM) tergolong sebuah “kisah mini” yang penuh suspens dalam kependekannya. Namun, kini, uniknya dalam hanya dalam 120 karakter sebuah fiksi mini dapat membuat hari seseorang lebih berwarna hingga mengaduk-aduk emosi . Untungnya, sekarang teknologi mempermudah koneksi, menembus ruang dan waktu hingga dapat mengakrabkan orang yang awalnya sama sekali tidak saling mengenal. Melalui kopi darat, komunitas ini saling bertukar ide hingga cerita. Lalu, bagaimana jika perkembangan teknologi bergeser? “Tentu, kami juga akan menyesuaikan sesuai dengan perkembangan teknologi!,” jawab Clara Ng dengan spontan.
Jadi, untuk Anda yang ingin mencoba ‘jalur’ lain, menggali potensi diri dalam dunia fiksi, mencari sasaran untuk sebuah ‘tembakan kosong’ atau sekedar mencari wadah untuk bersenang-senang, just follow @fiksimini yang telah berhasil membuat dunia baca dan tulis jadi lebih menyenangkan.
Area Local Heroes “Film”
[photo3]
Nia Dinata
Film yang Thought Provoking
Sosok sibuk yang membidani kelahiran film-film bertema non-mainstream, kritis, dan menyentil kenyataan sosial di masyarakat. Meraih Mimpi, Perempuan Punya Cerita, Quickie Express, Berbagi Suami, Janji Joni, Arisan!, Biola Tak Berdawai adalah sederet kecil karyanya.
Terjunnya Nia Dinata ke bidang film dilatari pengalaman di masa kecil. Tinggal di Jeddah, Nia Dinata kecil adalah bukan tipe anak yang suka kegiatan luar rumah. Nia kecil banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Saat itu film dan buku adalah 'temannya'. Film-film yang dipinjamnya dari perpustakaan di kompleks rumah menjadi tontonan yang mengisi kesehariannya. Segala macam film ditontonnya. Dari situ penasaran Nia Dinata terhadap film muncul. Keinginannya menggeluti film dibuktikan dengan mengambil pendidikan di bidang film. Baginya, film merupakan suatu kenikmatan tersendiri, dari mulai menonton, belajar soal film dan ilmu-ilmu terkait lainnya, hingga akhirnya menjadi penggiat.
Film sendiri bagi Teh Nia, sapaan akrabnya, seharusnya mampu memprovokasi pemikiran. “tought provoking” istilahnya. Melihat aspek kenyataan, kondisi sosial, dan situasi di masyarakat. Selain itu, Nia bersama Kalyana dalam film-filmnya lebih banyak mempertimbangkan fungsi film di masa depan. Tak heran bila dalam pengejawantahannya, Nia bersama Kalyana Shira, kerap hadir dengan film-film yang di luar kebanyakan (tema mainstream). Arisan, Quickie Express, Berbagi Suami, hingga yang paling anyar Madame X, tampil memberi wacana lain tontonan masyarakat Indonesia. Bahkan film dokumenter bertajuk Pertaruhan juga disajikannya. Alhasil, pujian plus penghargaan bersanding kontroversi dan cacian, bahkan ancaman didemo, kerap mewarnai luncuran film-film karyanya.
Kenapa Nia begitu kekeuh menyajikan film-film bertema kritis tersebut? Karena memang kenyataannya di masyarakat ada kalangan penonton kritis yang butuh asupan film-film tersebut. “Dan, meskipun minoritas, komunitas tersebut harus dipelihara. Jika tidak mereka akan hilang dan seragam,” ungkapnya. Menyoal anggapan film Indonesia yang segitu-segitu saja, Nia tidak bisa menyalahkan siapa pun. “Faktornya ada pada selera pasar dan film maker-nya sendiri,” jawabnya. Tuntutan film maker sudah pasti ingin filmnya laris ditonton dan 'balik modal'. Ada penggiat film-film yang sebenarnya juga punya idealisme membikin film me-thought provoking, hanya saja menjadi malas dan memilih aman. Nyatanya, memang membuat film bukan bisnis yang tidak murah.
Meski demikian, Nia tidak pernah merasa gagal. Bagi Nia Dinata, setiap film yang digarapnya selalu dihasilkan dari proses yang maksimal dan penuh pertimbangan, mulai dari penulisan atau pemilihan naskah. “Yah, kalau menontonnya lagi, kadang suka kurang puas dengan adegan anu. Seharusnya bisa begitu, atau begitu,” ujarnya.
Termasuk dalam deret “senior” dalam industri film, Nia memiliki apresiasi sendiri terhadap para penggiat film dari generasi terkini. Dalam pandangannya, generasi terkini penggiat film sudah memiliki skill secara teknik yang luar biasa. Kemampuan secara kreatif, imajinasi, dan idealisme pun sudah sangat luar biasa. Sayangnya ketika proses eksekusi, hasilnya tidak sesuai harapan. Semua itu karena kurangnya komitmen terhadap diri mereka dan audiens mereka. Totalitas dalam berkarya dan bekerja masih harus dimaksimalkan. Di sisi lain ada kelompok penggiat yang terlanjur tercebur dalam industri film. Sementara itu ada juga kelompok yang masih ingin belajar lebih banyak lagi tentang film. Nah, tinggal bagaimana kita mengapresiasi kelompok generasi mudah ini agar tidak mati.
Menyoal peran pemerintah dalam pengembangan apresiasi film Indonesia, Nia menilai masih belum ada. Hal ini berangkat dari pengalaman pribadi Nia saat bersama rekan-rekan penggiat film ramai-ramai mengembalikan Piala Citra dan gugatan Undang-undang Pornografi. “Pemerintah terlalu licik. Mereka lebih senang mendiamkan, sampai akhirnya terjadi. Barulah mereka bertindak,” ungkapnya geram. Menyoal rencana dibatalkannya gelaran Jiffest tahun ini Nia turut prihatin. Ini membuktikan tidak adanya support pemerintah terhadap upaya pembelajaran apresiasi film masyarakat Indonesia. Jujur saja, Nia adalah salah satu orang yang kerap mengapresiasi dan memanfaatkan Jiffest sebagai media promosi film-film anyarnya.
Area Local Heroes "Art & Culture"
[photo4]
Komunitas Salihara
Jawaban Dari Kebutuhan dan Apresiasi Seni
Bicara tentang kebudayaan di Jakarta yang merupakan kota metropolis, memang agak sulit sekali karena semakin majunya teknologi dan terlalu banyaknya mal di kota ini, sehingga anak-anak muda jaman sekarang lebih menyukai budaya luar negeri, namun mungkin juga kurang tersedianya tempat 'keren' yang dapat menarik minat anak muda untuk mengetahui budaya Indonesia dan satu yang pasti kurang adanya apresiasi pemerintah terhadap seniman maupun kebudayaan lokal secara menyeluruh, untuk yang terakhir itu mungkin memang sulit untuk diharapkan, sudah menjadi penyakit akut.
Ditengah 'kekeringan' tersebut munculah Komunitas Salihara yang digagas oleh Goenawan Mohamad, tempat ini berada di Jalan Salihara 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, gedung ini diresmikan pada 8 Agustus 2008 oleh Goenawan Mohamad bersama mantan Gubernur Jakarta (Alm) Ali Sadikin.
Kehadiran Komunitas Salihara sebagai tempat bagi karya seni dan intelektual yang bermutu, yang menghargai kemajemukan dan kebaruan, berawal dari Komunitas Utan Kayu, yakni sebuah kantong budaya berlokasi di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta Timur.
Komunitas yang bernaung di bawah manajemen Yayasan Utan Kayu ini hadir dengan bangunan yang punya karakter dan permainan ruang karya tiga arsitek—Adi Purnomo (gedung teater), gedung galeri (Marco Kusumawijaya), dan gedung perkantoran (Isandra Matin Ahmad). Ketiganya memadukan rancangan dalam visi yang sama: membangun rumah baru bagi kesenian dan pemikiran yang ramah lingkungan dan hemat energi.
Sebagai 'one stop building' (ruang pamer, diskusi, gedung teater, hingga kafetaria tersaji di sini dalam satu bangunan) Komunitas Salihara menjadi pilihan para seniman dan warga Jakarta untuk berekspresi, berapresiasi, dan berkomunitas—utamanya dalam hal seni dan budaya. Terdapat 3 unit bangunan utama yakni Teater Salihara, Galeri Salihara, serta bangunan kantor dan wisma seniman yang meliputi kafetaria, perpustakaan, dan toko cinderamata. Komunitas ini memang dirancang sebagai tempat ekspresi seni budaya yang nyaman, lengkap, artistik, serta modern. Teater Salihara hadir dengan konsep gedung teater modern dengan tata akustik prima. Posisi tempat duduk penonton dan panggung pertunjukan dapat diubah sesuai konsep pertunjukan: teater atau arena. Teater Salihara merupakan gedung teater model black box (berdinding kedap suara, tempat ini dilengkapi ruang rias serta segala peralatan tata panggung, tata suara, dan tata cahaya modern) yang pertama di Indonesia.
Komunitas Salihara menjawab kebutuhan dan apresiasi seni yang terus meningkat serta memfasilitasi siapa saja yang ingin menggelar pertunjukkan seni.
Area Local Heroes "Style"
[photo5]
Brightspot
A Curated Market of All Cool Things
Di antara Anda, pasti pernah dengar Brightspot Market, bahkan pecintanya yang rela menunggu berbulan-bulan untuk siap 'menyerbu' barang-barang dan makanan yang ada di sana. Here they are, para pencetus ide di balik keberhasilan Brightspot Market. Secara team Bightspotmarket terdiri dari Future 10 (bergerak di bidang musik, brand, fashion), C&C project (art and retail background) dan Leonard Theosabrata Designs (LTD) yang bertangung jawab di bidang design. Semuanya menyatukan ide berkolaborasi dan lahirlah Brightspot Market, sebuah konsep retail yang digelar hanya empat bulan sekali atau beberapa kali dalam setahun di lokasi yang berbeda. Ide Brightspotmarket berawal dari tawaran space membuat event musik di EX (Brightspot Market I), namun para tim Brightspot Market lebih tertarik untuk mengadakan event retail. Karena terinspirasi oleh produk-produk, para desainer dan merk dari Indonesia, yang pada waktu itu mereka lihat memiliki progres bagus, tapi sayangnya masih terjual di kalangan terbatas.
Menurut salah satu pencetus Bightspot Market Anton Wirjono,”Kita selalu memilih tempat yang luas, nggak ketebak. bisa muat banyak, unexpected, dan sementara ini pasti di mall tapi disetting menarik, beda, keren, dan temporary.' Menurutnya lagi untuk sementara ini mall masih menjadi pilihan karena ini sudah menjadi realitas Jakarta. Rekor terbanyak adalah Brightspot Market kelima di Plaza Indonesia yang dikunjungi sebanyak 41.000 orang. Misi dari Brightspot Market yang sudah kali kelima diadakan ini adalah untuk mempromosikan apa yang ada di Indonesia. Either dari produsen lokal atau individu yang membawa barang-barang unik dari luar negeri. Entrepeneur Indonesia yang kreatif sengaja dikumpulkan, dengan tujuan agar bisa dilihat kalau barang-barang Indonesia nggak kalah dengan barang luar dan menjadi perbandingan yang positif. Untuk ke depannya Brightspot Market berencana akan merambah luar negeri. Intinya, syarat brand yang berpartisipasi adalah harus original, keren, berkualitas dan berpotensi untuk kepentingan Brightspot Market.
Berita baik bagi Anda yang tak pernah absen ke Brightspot Market. Dalam waktu dekat, akan diadakan suatu konsep ala Departemen Store by Brightspot Market, yang semi permanen namun beda dari Departement Store pada umumnya. Jangan khawatir, karena Brightspot Market akan tetap ada meski jangka waktunya lebih lama lagi. So, ada empat alasan mengapa Brightspot Market tak boleh dilewatkan: brand dan barangnya telah melewati tahap curated (baca:seleksi) yang ketat;
eksklusif, hanya terjadi tiga kali dalam setahun (selama empat hari saja!); makanan, art, dan semua yang sifatnya orisinal, keren, dan berkualitas hanya terjadi di Brightspot Market; dan menawarkan showcase produk-produk dalam dan luar negeri yang sangat unik.
Area Local Heroes "Kids"
[photo6]
Goelali Film Festival
Mengubah Mind Set Anak-anak Soal Film
Berawal dari keprihatinan terhadap nasib anak-anak Indonesia, para penggagas Goelali Foundation bertekad untuk berbuat sesuatu. Lalu di 2008, tercetuslah ide untuk membuat film festival anak. Mengapa film? Ini karena kebanyakan dari mereka bergerak di bidang industri film. Namun rasanya bidikan ini memang tepat. Bahkan, nyatanya, anak-anak Indonesia sudah mulai terpaku pada film-film yang mengekspos cerita horror. Dan, yang lebih mengerikan, semakin seram sebuah film, semakin bagus di mata anak-anak. Mind set itulah yang ingin diubah Aura, Joyce, Regina, Santi, Ali, Audrey, Andra, Prita, dan Kasius.
Kesepuluh orang ini akhirnya sepakat mendirikan Goelali Foundation dengan konsep yang berbeda dari yang sudah-sudah. Mereka menyajikan 50% film dan 50% aktivitas anak. Tidak melulu hura-hura, anak diajak untuk mengeksplorasi kreatifitasnya. Dari sini, mereka dibimbing untuk berkarya oleh para trainer yang memang mumpuni di bidangnya. Dalam 7 hari, film pendek dengan tema ala anak-anak diputar. Sementara untuk workshopnya dibagi dalam tiga kriteria umur, yaitu 3-6 tahun, 7-12 tahun, 13-16 tahun. Anak bisa menyalurkan imajinasinya misalnya dalam hal menggambar, mewarna, mendesain kostum karakter film dan lain sebagainya.
Jika Anda berpikir perjalanan Goelali Foundation semudah membalikkan telapak tangan, Anda salah. Di awal berdirinya, Goelali Foundation mengalami hambatan dalam mencari dukungan, menentukan konsep, dan yang terutama sponsor dana. Namun, layaknya pepatah, di mana ada kemauan di situ ada jalan, saat ini Goelali Foundation telah sampai di tahun kedua dalam gelarannya. Yang pertama diadakan di Museum Mandiri, dan yang terakhir di Miniapolis Plaza Indonesia. Diakui oleh salah satu penggagas, gaung Goelali Film Festival memang belum senyaring festival film lainnya. Namun bagi mereka, apa yang telah mereka jalani hingga saat ini, secara garis besar sudah cukup menyampaikan pesan. Terbukti dari tanggapan yang sangat positif baik dari para orang tua, guru, pengajar, atau pihak lain yang bersangkutan. Nah, ke depannya, Goelali Film Festival akan menghadirkan tema “Childern, Creative, Indonesia”. Tahun depan, kebudayaan Indonesia akan semakin diperkenalkan kepada para penerus bangsa ini agar mereka tidak kehilangan identitas. Sekaligus, budaya Indonesia pun semakin terjamin kelangsungannya. Maju terus film anak Indonesia!
Area Local Heroes "Entertainment"
[photo7]
SOUNDSHINE
We Prefer Bring Good Music to Indonesia
Soundshine merupakan event promotor yang telah berdiri sejak 2006, terbentuk ketika bergabungnya orang-orang di belakang layar dari 2 label rekaman indiependen, Aksara Records dan FFWD Records, yaitu: Hanin Sidharta, Aça, Helvi, Glenn, Kunrad, Didit, dan Winfred.
"Kami berteman dan kemudian membentuk Soundshine karena merasa satu nafas, menyukai band dan musik yang sama selain itu band-band yang kami tampilkan pasti keren, walaupun belum banyak dikenal luas, tapi tidak usah khawatir akan kualitasnya, kami akan memberikan band-band yang bagus, We prefer bring good music to Indonesia", jelas Hanin Sidharta dan Helvi mengenai awal terbentuknya Soundshine.
Terpilihnya Soundshine sebagai salah satu Local Heroes di bidang entertainment oleh area karena eksistensinya, dalam setahun mereka dapat membuat minimal 2 event dan entertainer yang mereka datangkan bukan dari genre mainstream, melainkan cutting edge yang dimana pengemarnya masih segmented, bisa dibilang itu merupakan sebuah langkah berani.
Soundshine mulai dikenal ketika mereka membuat Soundshine Festival dengan mendatangkan Kings Of Convinience, dua folk-pop asal Norwegia pada 2007 yang berlangsung sukses dan tiketnya sold out. Tidak sampai disitu mereka juga mendatangkan Nouvelle Vague, Club 8 & Sondre Lerche. Soundshine juga 'nasionalis' dengan selalu menyertakan band-band lokal berkualitas dalam setiap event yang mereka gelar.
Pada 2008 Soundshine Festival berubah nama menjadi Beatfest, dengan bergantinya nama, toh, Soundshine tetap berkibar dengan Beatfest itu terbukti mereka mendatangkan The Whitest Boy Alive& Steve Aoki pada 2008, Beatfest 2009 mereka mendatangkan Phoenix dimana meurut saya, itu merupakan konser tersukses karena Bengkel Night Park paling penuh pengunjung pada acara itu. Tahun berikutnya mereka mendatangkan Diplo&2 Many Dj's dan Belle and Sebastian.
Berikut jawaban mereka, mengapa berani mendatangakan band yang segmented, 'Keuntungan kita adalah berangkat dari record label, kita yang menciptakan pasar, mempunyai data base yang valid tentang band-band yang disukai penonton. Kita pernah meleset sedikit tapi alhamdulillah belum pernah fatal," jawab mereka.
Terakhir, kiat Soundshine bertahan hingga saat ini ada pada dedikasi dan komunikasi. "Karena kita semua suka melakukan ini, komunikasi yang baik dan setiap orang mengerti tugasnya masing-masing," pungkas keduanya.
Area Local Hero “Environment”
[photo8]
Jakarta Green Monster
Buto Ijo yang Ramah Lingkungan
Siapa yang peduli terhadap lingkungan hayati Jakarta? Kita dengan semangat mengacung jari. Namun, apakah kita benar-benar mewujudkan kepedulian tersebut dalam kegiatan nyata? Sebagian mungkin menggeleng. Inilah yang membedakan kita dengan Jakarta Green Monster (JGM) dan individu-individunya yang dengan kepedulian penuh dan kerja keras nyata menjaga kelestarian lingkungan hidup Jakarta.
Jakarta Green Monster lahir sebagai prakarsa swadaya yang peduli atas kondisi lingkungan hidup Jakarta yang kian terancam hancur. Diinisiasi Fauna and Flora International (FFI) Indonesia Programme dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Jakarta Green Monster sebagai komunitas relawan memulai kiprahnya sejak dideklarasikan 5 Juni 2006—dikukuhkan secara hukum pada 12 Oktober 2006.
Visi yang diemban Jakarta Green Monster adalah membangun kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan serta memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan. Utamanya adalah melestarikan ruang terbuka hijau di Jakarta dengan melibatkan masyarakat. Nyatanya, Jakarta, dari segi lingkungan memiliki potensi yang bagus. Masih banyak satwa liar. Kita masih bisa menjumpai sekitar 120 jenis burung dan mamalia air. Kawasan hutan bakau juga ada, seperti di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke. Jika dilestarikan dan masyarakat Jakarta ikut peduli ini jadi sesuatu yang menarik. Jakarta sebagai kota besar masih memiliki keragaman hayati yang begitu bagus. Sayangnya, mungkin hanya 20% masyarakat Jakarta yang ngeh soal kondisi lingkungan hidup di kota ini. Parahnya lagi, pola pikir masyarakat Jakarta juga masih harus diperbaiki. Untuk masalah sampah misalnya, kebanyakan masih enggan untuk memilah sampah dari rumah tangga. Sebagian lagi, ingin berpartisipasi dan turut peduli, tapi tidak tahu bagaimana caranya.
Nah, di situlah peran JGM bersama para sukarelawannya. Dengan berbagai cara mewujudkan kepedulian bersama. Mengajak terjun langsung, penyuluhan ke masyarakat, dan pendidikan lingkungan melalui edu-mobile ke sekolah-sekolah. Beberapa aktifitas rutin Jakarta Green Monster adalah monitoring burung, birdwatching, kampanye lingkungan, inventarisasi keanekaragaman hayati, pembersihan sampah, penanaman kembali, dan lain sebagainya. Untuk pelaksanaan fungsi tersebut, JGM memiliki 4 divisi, Riset&Monitoring, Pendidikan Lingkungan, Pemberdayaan Masyarakat, dan Kampanye. Untuk pengurus ada sekitar 5 orang. Volunteer aktif ada 30 orang dan volunteer terdaftar ada sekitar 300 orang. Sebagai organisasi mandiri berbasis sukarela para relawan yang tergabung di JGM berasal dari berbagai kalangan masyarakat, seperti mahasiswa, pegawai negeri sipil, wartawan, pecinta alam, anak sekolah, ibu rumah tangga, dan aneka profesi lainnya.
Nah, anda yang terinspirasi dan ingin ikut peduli secara nyata, bergabunglah bersama Jakarta Green Monster.
Area Local Hero “Culinary”
[photo9]
Bakmi GM
Tak Goyah Diterjang Isu dan Waktu
Bicara bakmi enak di Jakarta rasanya tak mungkin melupakan Bakmi GM. Siapa yang tak kenal si dedengkot bakmi ala restoran cepat saji di Jakarta ini? Mungkin sejak mama-papa kita masih pacaran, makanan tersebut sudah jadi menu favorit mereka. Kelanggengannya pun tak perlu dipertanyakan. Brand-brand makanan asing mungkin senantiasa datang dan pergi, tapi Bakmi GM tetap tak tertandingi.
Berawal dari sebuah kedai mie kecil, berkembang menjadi restoran yang mengusung nama Bakmi Gajah Mada. Di naungan PT Griya Miesejati, bakmi ini kokoh berdiri selama 51 tahun sejak 1959 dan menjadi ikon kuliner Jakarta. Meskipun telah mengalami banyak perubahan dari segi variasi menu yang kini telah mencapai 50 macam, bakmi dan pangsit gorengnya selalu menjadi juara. Yang patut diacungi jempol adalah citarasa bakmi satu ini tetap sama dari awal berdirinya sampai sekarang. Sukses berat. Faktanya, setiap hari, secara keseluruhan Bakmi GM melayani 30 ribu pengunjung. Atas prestasi tersebut, selama dua tahun berturut-turut, Bakmi GM berhasil menyabet Top Brand di tahun 2009 dan 2010.
Awalnya berdiri di bilangan Gajah Mada. Kini total cabangnya mencapai 21 outlet, yang tersebar di Jakarta, Bekasi, Tangerang. Hebatnya, Bakmi GM dari dulu sampai sekarang, tetap konsisten dengan tidak membuka cabang di luar Jakarta. Alasannya, demi menjaga kualitas baik rasa maupun pelayanan. Dengan fokus di Jakarta, maka sang pemilik lebih mudah mengontrol kinerja masing-masing outlet juga karyawannya. Saking fenomenalnya makanan ini, mereka yang berdomisili di luar kota ataupun luar negri, sengaja datang ke outlet Bakmi GM saat mampir di Jakarta untuk menghapus kerinduan akan kelezatan semangkuk Bakmi Bakso atau Bakmi Spesial GM-nya.
Kelanggengan mereka di dunia kuliner bukanlah tanpa aral melintang. Karena kesuksesannya, Bakmi GM kerap kali diterpa isu yang tidak mengenakkan. Mulai dari menggunakan mayat bayi sebagai pelaris hingga unsur mistis lainnya. Akan tetapi, berkat kerja keras para pelakon di belakangnya, Bakmi GM tetap tak tergoyahkan.
Area Local Heroes “Lonesome Hero”
[photo10]
Kicauan Manusia Seantero Jakarta
Setelah kita mengenal Friendster, Facebook, Myspace dan situs jejaring sosial lainnya, Twitter seakan hadir dengan format yang berbeda. Konsep yang diusung oleh Twitter sejak diluncurkan pada 13 Juli 2006 adalah menyebarkan informasi secara singkat, padat dan real time di dalam kalimat kurang dari 140 karakter kepada penggunanya diseluruh dunia.
Ide awal pembuatan media online Twitter adalah berawal dari pertanyaan sepele yaitu “Apa yang teman-teman lakukan saat ini ?”. Maka Twitter berupaya menjembatani pertanyaan tersebut kepada penggunanya dengan kembali bertanya “What are you doing?”. Jawaban itu akan disebarluaskan oleh Twitter melalui fasilitas antarmuka (dashboard) penggunanya. Pesan yang disampaikan pengguna tersebut akan langsung tersebar kepada para folower-nya, yakni mereka yang ingin mengetahui beragam pesan yang dikirimkan oleh orang yang di-follow-nya.
Dari 'hanya' sekedar memberitahu apa yang sedang dilakukan, Twitter kini telah berkembang menjadi sarana untuk memberitahukan apa yang sedang terjadi. Maka akhirnya pertanyaan besar kepada penggunanya pun berubah menjadi “What's happening?”.
Ini bisa dilihat dari bagaimana Twitter kini telah menjadi sarana berbagi informasi real time, terlebih untuk Anda yang hidup di Jakarta. Contoh paling nyata adalah informasi kemacetan yang telah menjadi 'kebutuhan' sehari-hari yang sulit untuk ditinggalkan. Melalui Twitter Anda akan tahu daerah mana yang sedang padat kendaraannya, sehingga pencarian jalur alternatif bisa segera diputuskan.
Tak jarang Twitter juga dipakai untuk berbagi kisah dan pengalaman dengan para follower-nya. Misalnya, Anda sedang bosan di kantor, Anda menceritakan resto anyar yang lezat, hingga Anda sedang bergunjing tentang rekan kerja sekantor. Intinya semua 'bebas' diberitakan, karena Twitter adalah alat aktualisasi diri dari mereka yang memiliki account ini.
Untuk urusan yang lebih luas, Twitter pun bisa dijadikan alat untuk komprehensif untuk mengumumkan kabar terbaru bahkan sarana berinteraksi langsung dengan konsumen. Contohnya ketika sebuah low carrier fleet kenamaan di Asia hendak mengadakan promo tiket, beritanya langsung tersebar luas melalui Twitter. Responnya? Luar biasa! Tiket pun akan ludes dalam hitungan menit.
Fenomena di atas telah menjelaskan mengenai 'kekuatan' dari media online satu ini. Apalagi Indonesia merupakan salah satu pengguna tertinggi di dunia. Untuk itulah area merasa bahwa Twitter merupakan Local Heroes yang berjasa untuk kehidupan The Jakartans. Setuju?
0 Comments
Be the first to comment.