FEATURE

Celebes di Priok

January, 25th 2011 |  by  Astri Apriyani  | 2

Jakarta serupa seporsi besar ramen. Dalam satu wadah besar, segala macam bumbu (suku) dengan tingkat kepedasan berbeda (tingkatan sosial) menyatu lengkap dengan sayuran, daging, tahu, atau jamur (konflik yang menyertai). 

Pak Syafrudin, Chief Engineer asal Bugis Pak Syafrudin, Chief Engineer asal Bugis

Pak Burhanuddin Pak Burhanuddin

Conro Bakar Conro Bakar

Photo by: Dokumentasi Istimewa

[photo6]

Keberagaman Jakarta sudah diterima sebagai suatu hal yang lazim. Sudah biasa rasanya jika kita mendengar orang-orang ngobrol dengan bahasa Jawa medhok di angkot di Kampung Melayu, misalnya. Atau, di Terminal Lebak Bulus, terdengar teriakan-teriakan berbahasa Batak.

Sebagai ibukota, Jakarta sudah sejak lama jadi tujuan para perantau. Utamanya, untuk mengadu nasib. Ini sudah biasa. Namun, semua jadi menarik saat kita melihat ada suku/daerah tertentu lebih menonjol. Contohnya, keberadaan orang-orang Sulawesi di Tanjung Priok.

November tahun lalu, saya menemukan sebuah artikel dari bataviase.co.id tentang kuliner di Tanjung Priok. Garis besarnya, artikel tersebut berisi pengaruh yang cukup besar dari orang-orang (atau daerah) Sulawesi pada kuliner di sana. Hasilnya, berdirilah berderet-deret rumah makan yang menyuguhkan menu khas Sulawesi di satu jalan di Tanjung Priok. Artikel inilah yang memunculkan ide di kepala saya untuk menelusuri orang-orang Sulawesi di Priok.

Tanjung Priok Keras?
[photo1]

Mengutip dari Wikipedia, nama Tanjung Priok berasal dari dua kata; tanjung dan priok. Kata “tanjung” berarti daratan yang menjorok ke laut. Lalu, “priok” yang berasal dari kata “periuk”, artinya panci tanah liat yang jadi komoditas perdagangan pada zaman prasejarah (abad 1 M).

Tanjung Priok terdiri dari 7 kelurahan; Tanjung Priok, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Papanggo, Warakas, Sunter Agung, dan Sunter Jaya. Papanggo berasal dari bahasa Belanda, De Papangers, sebutan untuk orang-orang yang berasal dari daerah Pampanga di Luzon, Filipina. Di tempat ini, dulu terdapat perkampungan/tangsi mereka yang merupakan laskar bayaran Belanda. Sementara, Warakas dalam bahasa Jawa berarti paku laut (acrostichum aureum), sejenis tumbuhan paku-pakuan yang biasa tumbuh di rawa-rawa dekat laut.

Syafrudin, warga Priok kelahiran Makassar berusia 56 tahun, mengatakan, “Di Priok, boleh kata, semua suku keras ada di sini. Awalnya memang, semua suku ada. Tapi, dulu itu di Priok sering bentrok. Ditambah lagi, dulu ada kasus penembak misterius waktu zaman-zaman Soeharto. Sekarang yang banyak hanya orang-orang Batak, Sulawesi, Madura, dan Ambon.”

Sementara, Karyono (56) yang ditemui di rumahnya di Kalibaru, mengatakan, “Dulu mungkin Priok keras. Tapi, itu dulu, zaman-zamannya Jakarta Pusat dan Priok sering ribut, zaman saya masih muda. Tapi, sekarang sudah nggak. Priok aman-aman aja.”

Jauh sebelum benar-benar menginjakkan kaki di sana, saya yang buta jalan harus tanya sana-sini soal pemetaan Priok. Kebanyakan teman bereaksi sama; menoleh cepat, mulut membentuk huruf "o", lanjut dengan pertanyaan paling standar, “Ngapain ke Priok?”. Kalau saya jawab riset, biasanya mereka heran kenapa saya kepikiran memilih Priok untuk kemudian membagi cerita 'berbumbu pedas' yang mereka tahu soal Priok (part ini sukses bikin tekad saya sedikit mengkerut). Kalau saya jawab rekreasi, tidak mungkin juga. Jadi, menghindari pertanyaan macam-macam, saya jawab singkat, “Ketemu orang.” Kelar.

Berbekal ingatan reaksi para kawan dan sedikit hafalan peta, saya datangi Tanjung Priok di awal Desember. Awalnya, saya pikir, butuh waktu lama untuk mencapai Tanjung Priok. Mengingat, ia terletak di Utara dan ada di sekitar pelabuhan. Namun, keliru. Kalau dari Jakarta Selatan misalnya, dari tol Fatmawati keluar di pintu tol daerah Plumpang, hanya makan waktu 1 jam.

[photo8]

Hal paling mengagumkan soal Tanjung Priok adalah truk-truk kontainer yang lalu lalang di jalan raya. Ini karena di daerah Priok, terdapat Jakarta International Container Terminal. Jalanan berdebu dan panas harus dimaklumi. Hal mengagumkan lain adalah ketika sampai di pesisir pantai di dekat pelabuhan, dan mendapati banyak kapal kargo dan perahu nelayan yang bersandar berdampingan. Bagi warga Priok asli, ini bisa jadi pemandangan biasa. Tapi, bagi orang luar Priok, seperti saya, ini pengalaman menarik dan berbeda.

[photo7]

Segala pertanyaan tentang keberadaan orang-orang Sulawesi di Priok sudah rapi di kepala. Semuanya tinggal menunggu jawaban. Perlu tiga kali kedatangan untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya. Semua kunjungan dilakukan pada pertengahan Desember 2010. Kedatangan pertama, titik cerah kelihatan. Saya melewati Jalan Sulawesi, Jalan Dobo, Jalan Bugis, dan Jalan Gorontalo. Jalan-jalan bernuansa Sulawesi itu benar-benar ada. Berlanjut, pada kedatangan-kedatangan berikutnya, satu per satu asumsi saya mendapatkan kesahihan.

Mereka (Mayoritas) Merantau dan Melaut

Orang Sulawesi dikenal sebagai bangsa perantau, terutama Sulawesi Selatan yang terdiri dari 4 suku utama, Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Sejak zaman dahulu, julukan ini sudah melekat. Coba lihat salah satu kitab sastra Bugis kuno, I La Galigo. Ini adalah epos terpanjang di dunia mengalahkan Mahabharata. Kitab ini ditulis oleh Suku Bugis dengan manuskrip berjumlah 6.000 dan memuat 300 baris syair. Bandingkan dengan Mahabharata yang hanya menuliskan epik sepanjang 160-200 baris. Di dalamnya, terkisahkan perjalanan La Toge'langi Batara Guru ke penjuru dunia sejak diturunkan dari khayangan, sampai ekspedisi Sawerigading (tokoh utama epos ini) ke berbagai negeri di seberang lautan.

Mengenai motivasi perantauan ini masih simpang siur. Salah satu pendapat yang mengatakan, tradisi merantau ini dimulai ketika orang Bugis-Makassar bermaksud “membuang diri” karena pengalaman pahit yang dialami negeri mereka. Pengalaman pahit yang dimaksud adalah ketika Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo) kalah perang melawan VOC. Ada beberapa petinggi kerajaan yang kecewa dan tidak dapat menerima perjanjian tersebut. Mereka pun memutuskan keluar dari negeri mereka. Itu terjadi sekitar abad 17. Semua ini tercatat dalam Perjanjian Bungaya. Sampai kini, berabad-abad berselang, tradisi ini masih dijalani dengan motivasi yang sudah direvisi.

Saya berhadapan dengan Pak Syafrudin di ruang tamu rumahnya di Jalan Semper. Ia masih bersarung dan berbaju koko, baru pulang shalat Jumat. Zaman sekarang, profesi pelaut masih diminati anak muda Sulawesi, kata saya sambil menyeruput teh hangat yang ia silakan untuk diminum. Dengan mimik serius, bapak ini menjawab, “Iya. Selain karena tradisi, regenerasi pelaut muda di sana lancar-lancar saja karena ada Akademi Pelayaran Makassar (APM). Biasanya, yang baru lulus APM akan langsung ke Jakarta.”

[photo2]

Timbul keheranan di benak saya. Senekad itu lulusan APM tanpa pengalaman menyeberang ke Ibukota untuk mencari kerja. Menjawab rasa heran saya, Pak Syafrudin memasang mimik yang tak kalah seriusnya dengan saya. “Ya, begitulah. Memang agak gambling, tapi karena punya background kelautan yang jelas, pekerjaan pasti ada saja. Kalau beruntung, mereka bisa kerja di perusahaan internasional digaji dolar. Kalau sudah begitu, pendapatannya akan sangat cukup.”

Ya, perusahaan internasional. Alasannya, perusahaan lokal kurang bisa mengapresiasi sepatutnya. Ada memang sebagian yang bagus, tapi kalau dihitung-hitung, sedikit sekali. Karena itu, kebanyakan alumni APM lebih memilih bekerja di perusahaan internasional. Dengan bola mata yang membulat dan suara yang dipelan-pelankan, chief engineer di perusahaan pelayaran Singapura ini bilang, “Perusahaan kapal lokal hanya berani Rp2 juta. Kalau perusahaan asing rata-rata pasang tarif US$1.750 (foreign going) per bulan.”

Lalu, kenapa Tanjung Priok menjadi tujuan para perantau Sulawesi? Alasannya betul-betul sederhana. Mereka tinggal di Priok agar dekat dengan tempat kerja mereka; Pelabuhan Tanjung Priok. Mengapa tidak Sunda Kelapa, tanya saya kepada Pak Syafrudin. “Pelabuhan Sunda Kelapa jauh lebih terbatas. Kapal-kapal yang datang hanya kapal-kapal kayu. Lebih lokal. Sementara, kalau Priok itu tarafnya internasional. Yang bersandar pun kapal-kapal besar.”

[photo4]

Pak Burhanuddin yang sejak 1988 tinggal di Priok membenarkan, “Mungkin ada 80% di sini orang Sulawesi yang jadi pelaut. Yang saya tahu, kebanyakan orang (suku) Palopo.”

Konsep merantau orang-orang Sulawesi tidak sama dengan Minang. Jika orang-orang Minang merantau untuk kembali lagi ke tanah kelahiran dengan membawa kehormatan, tidak ada peraturan adat yang mewajibkan perantau Sulawesi untuk kembali ke negeri mereka. Hasilnya, orang Sulawesi banyak memilih untuk menetap di daerah rantau. Dan, karena hubungan kekerabatan yang erat, mereka cenderung berdiam di satu kawasan, hingga akhirnya membentuk paguyuban.

Saking dekatnya kekerabatan orang-orang Sulawesi di Jakarta, mereka membentuk kelompok atau ikatan kekeluargaan. Di antaranya, Ikatan Keluarga Sulawesi (IKS), Ikatan Keluarga Sulawesi Selatan (IKSS), Ikatan Keluarga Bumi Serang Makassar (IKAB, alumni Akademi Pelayaran Makassar), Kamase (Warga Mamajang Selatan), sampai Ikatan Pelajar/Mahasiswa Sulawesi Selatan (IPMSS).

Konsep merantau tidak sekadar bicara soal peraturan adat. Kini, masalah ekonomi dan kesejahteraan ikut serta. Pak Syafrudin, seraya mengetuk-ngetukkan jemarinya di sofa kulit coklat tua, mengatakan, “Kenapa saya menetap di Jakarta? Gampang saja. Karena kesempatan di sini lebih besar. Perusahaan pelayaran lebih banyak. Keluarga saya masih banyak di Sulawesi, di Kota Makassar tepatnya. Tapi, keinginan untuk tinggal di sana ya sudah nggak ada. Hidup saya sudah di Jakarta. Paling-paling, pulang kalau Lebaran.”

Keputusan para perantau Sulawesi untuk menetap ini membawa pengaruh terhadap Priok, tidak bisa tidak. Belum sampai disebut asimilasi atau akulturasi budaya, memang. Sebab, kebudayaan yang sama sekali lain tidak lahir. Tapi, sadar atau tidak, sedikit-banyak, nuansa Celebes bisa kita temukan di Priok.

Sulawesi di Priok

Jalan

[photo3]

Siapa yang tahu sejak kapan tepatnya tradisi perantauan orang Sulawesi ke Priok ini dimulai? Saya tidak tahu. Begitupun orang-orang Sulawesi di Priok yang saya sempat ajak ngobrol. Yang jelas, sampai kini, keberadaan Jalan Sulawesi, Jalan Bugis, Jalan Gorontalo, dan Jalan Dobo masih ada di sana. Tidak mungkin memang, jalan-jalan ini dinamai begitu tanpa ada kaitannya dengan identitas penamaan tersebut.

Jawaban ilmiah tidak saya dapatkan. Tapi, pencerahan muncul ketika Euis (32 tahun), orang Betawi asli Koja, meyakini penamaan jalan-jalan tersebut bukan tanpa alasan. Sepengetahuannya, orang-orang yang mendiami jalan-jalan tersebut berasal dari daerah sesuai nama si jalan. Misalnya, di Jalan Bugis memang banyak orang Bugis. Ditambahkan, “Lebih banyak lagi orang-orang Bugis di Kebon Bawang, dekat Jalan Bugis. Ada mess-mess khusus untuk pelaut Bugis.”

Seiring waktu, dominasi itu menurun. “Di Jalan Bugis sendiri, dulu benar banyak orang Bugis. Tapi, sekarang banyak yang sudah pindah, sudah keluar dari daerah sini,” Pak Burhanuddin berbagi info. Biar begitu, bisa dikatakan, mereka itulah yang menginspirasi penamaan jalan-jalan tersebut.

Rumah Makan

[photo5]

Saya bergegas menyusuri Jalan Bugis pada 23 Desember 2010. Begitu sampai di jalan ini, saya melihat rumah makan-rumah makan khas Sulawesi berdiri berdamping-dampingan. Setelah takjub sejenak, saya memutuskan mampir di RM Malewang di Jalan Bugis no. 105/7, Tanjung Priok. Saya bertemu Pak Burhanuddin Tahir, warga asal Ujungpandang yang tinggal di Gang Remaja, Jalan Bugis. Kebetulan, hari itu, ia sedang berjaga di RM Malewang menggantikan Ibu Ramla, adiknya.

Sambil melepuskan asap rokok ke udara, Pak Burhanuddin menerima ajakan saya untuk berbincang-bincang di serambi rumah makan. Topik pertama tentang awal mula ia sampai di Jakarta. Sementara saya sibuk corat-coret di notes, ia mulai bersuara. “Tahun 1988, saya ikut tante ke sini. Tante saya lebih dulu merantau dan sudah punya rumah di Tanjung Priok. Dulu belum kepikiran buka rumah makan. Tapi, Ramla sudah jadi koki di rumah makan Makassar di Jakarta Selatan. Malewang baru buka 10 tahun lalu.”

Ia lalu memanggil pelayan Malewang dan menyuruh membuatkan minum untuk saya. Setelah memastikan urusannya selesai, saya bertanya soal pemilihan menu. “Kenapa menu khas Sulawesi?” Reaksi pertamanya, tertawa kecil. Lalu, lancar saja ia menjawab, “Ya, jelas karena awalnya pengalaman sudah ada, dari kerja di restoran yang dulu itu. Lagian ya, orang-orang Sulawesi, pelaut-pelaut, fanatik kalau soal makanan. Selesai melaut, begitu sampai darat, yang dicari pasti makanan khas tanah kelahirannya.” Dari obrolan ini, saya jadi tahu kalau menu-menu favorit para pengunjung yang datang ke Malewang adalah coto, konro, dan ikan bakar.

Seiring waktu, yang datang, tidak hanya orang Sulawesi. Warga asli, Betawi, atau para pendatang dari suku lain, akhirnya turut menikmati menu-menu Sulawesi. “Enak. Menyenangkan juga karena pilihan menu makanan orang-orang Jakarta bertambah berkat keberadaan rumah makan-rumah makan Sulawesi ini,” pendapat Sari (26), warga Priok.

Di Mata Orang-orang “Asli”

Tidak akan tercipta macchiato yang nikmat jika kombinasi espresso dan susunya tidak tepat. Tidak akan ada kehidupan yang manis jika tidak ada penerimaan yang baik dari orang-orang Betawi terhadap orang-orang Sulawesi di Priok.

Lalu, bagaimana sebenarnya reaksi warga Betawi mengenai kedatangan orang-orang Sulawesi di kota mereka? Euis mewakili orang Betawi di Priok bilang, orang Sulawesi yang masih cukup banyak ada di daerah Kebon Bawang. Di sana, banyak mess khusus pelaut Bugis. Atau, kita bisa ke Kalibaru dan Jalan Bugis. Di dua wilayah ini, orang Sulawesi kebanyakan adalah nelayan dan wiraswastawan rumah makan.

Untuk rumah makan khas Sulawesi, sebenarnya ada juga di wilayah lain selain di Jalan Bugis. Tapi, biasanya menyebar. Yang berjajar dan menarik perhatian, ya, di Jalan Bugis.

Soal penerimaan, “Semua baik-baik saja. Cuma, mereka jarang kontak dengan kita. Kebanyakan, acara-acaranya tertutup, keluarga mereka saja Kecuali memang hajatan yang harus mengundang tetangga.”

Kalau racikannya sudah tepat, macchiato ini pasti lezat. Silakan menikmati minuman tersebut. Sekaligus, nikmati segala keberadaan suku yang banyak ragamnya di Ibukota. Kalau menyatu, semua pasti sedap. Dan, jangan kaget kalau tiba-tiba Anda harus “berbagi cangkir” dengan orang lain.

 

Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter

Photos by Mahargyo Jati (mahargyo.jati@mediasatu.com)
Follow him on Twitter

2 Comments

rachat de credit consommation

February, 2nd 2011

I seldom leave comments on blog, but I have been to this post which was recommend by my friend, lots of valuable details, thanks again.

kekasih

March, 16th 2011

ordinary person

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.