Selain Paris, kota manakah yang layak menyandang predikat sebagai tempat paling romantis di Eropa? Venice! Kota ‘terapung’ yang terletak di tepi perairan Laut Adriatik ini seringkali menjadi objek kunjungan para honeymooners dari seluruh penjuru dunia.

Kota air

Letaknya yang tepat di bibir Laut Adriatik membuat Venice senantiasa bermandikan sinar matahari sepanjang tahun sehingga ideal dijadikan tujuan wisata setiap saat. Meski demikian, jika Anda berniat untuk berkunjung pada Januari hingga Maret, bersiaplah untuk berbasah-basah lantaran curah hujannya yang cukup tinggi, di samping hembusan angin yang seringkali menusuk sampai ke tulang. Sementara pada November hingga Desember, daerah yang letaknya paling rendah di Venice— tepatnya daerah Piazza San Marco yang sekaligus menjadi pintu masuk para pelancong yang berkunjung ke Venice,—seringkali terendam air akibat high tide.

Memang, Venice identik dengan air. Ketika tiba dengan bus maupun mobil pribadi melintasi jembatan panjang Ponte della Liberta yang menghubungkan Venice dan Mestre, Anda harus turun di Piazalle Roma atau Tronchetto dan berjalan kaki menuju dermaga penyeberangan Bacino Stazione Maritima sebelum menaiki water taxi, Vaporetti No. 1, yang membelah Grand Canal menuju Piazza San Marco, Venice. Perjalanan selama 40 menit menyusuri Grand Canal harus Anda tempuh dengan membayar 6 Euro untuk tiket pulang-pergi.

Jika Anda menumpang kereta api, begitu tiba di Stazione Santa Lucia, Anda dihadapkan pada dua pilihan alat transportasi menuju pusat kota Venice: naik vaporetti atau a piedi (alias jalan kaki). Jika pilihan Anda adalah berjalan kaki, bersiaplah untuk menyusuri gang-gang sempit layaknya labyrinth dan pusatkan perhatian pada penunjuk arah yang bertuliskan ‘Rialto’ maupun ‘San Marco’, karena memang kedua tempat itu adalah pusat keramaian utama di Venice. Jika tidak tersesat, Anda bisa mencapai kedua tempat itu dalam waktu 30-40 menit.

Kecuali di daerah Lido, di daerah-daerah lain di seluruh Venice, Anda tidak akan menemukan mobil atau kendaraan bermotor. Karena itu, di kota yang terdiri atas 117 pulau-pulau kecil, 150 jembatan, dan 400-an canal ini, sarana transportasi utamanya adalah perahu bermotor. Untuk konsumsi turis yang memang menjadi sumber pemasukan utama kota ini, disediakan perahu dayung tradisional yang populer dengan sebutan gondola.

Naik gondola adalah agenda wajib bagi mereka yang ingin menikmati romantisme kota tempat kediaman Marco Polo ini. Untuk itu, Anda perlu merogoh kocek antara 60–80 Euro untuk menyewa sebuah gondola yang bakal membawa Anda berkeliling kota selama 50 menit, melintasi kanal-kanal yang membelah pulau berpenduduk 150 ribu jiwa ini. 

Shopping Paradise

Selain dikenal sebagai ‘kota air’, Venice juga dikenal sebagai ‘surga belanja’. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Piazza San Marco, selain menyaksikan kemegahan St. Mark Basilica berikut menara lonceng Campanile yang tinggi menjulang, Anda bakal disambut ribuan burung merpati yang menjadi ciri khas tempat ini. Jika ingin berpose di depan kamera di tengah-tengah kerumunan burung merpati, belilah sebungkus biji jagung yang dijual pedagang asongan seharga 1 Euro.

Puas bermain-main dengan burung merpati, Anda bisa melangkahkan kaki menyusuri beautiful arcade dari Procuratie Vecchie dan Procuratie Nuove yang mengitari Piazza San Marco. Di tempat inilah Anda bisa menemukan deretan toko-toko yang menjual berbagai luxurious products, mulai dari aneka batu permata, produk kristal dan glassware super mewah, serta butik-butik desainer kondang Eropa.

Satu hal yang jangan sampai terlupakan. Jika Anda berbelanja dalam jumlah minimal 200 Euro di satu tempat pada hari yang sama di Venice (maupun kota-kota lainnya di Eropa), mintalah formulir tax-refund. Sebab, ketika meninggalkan Eropa untuk pulang ke tanah air melalui bandar udara internasional, Anda bisa mendapatkan pengembalian sampai dengan 21% dari total belanja Anda. Not bad, isn’t it?


Where to sleep

Menikmati kecantikan Venice tidak cukup jika hanya dalam satu hari. Di daerah Mestre dan Treviso (yang dikenal dengan sebutan Venice Mainland) yang letaknya hanya 10—20 menit bermobil dari Venice, terdapat banyak hotel aneka kelas. Beberapa yang saya rekomendasikan adalah:

Novotel Mestre Castellana(4*), via Ceccherini 21 - 30174 Mestre (tel: +39.041-5066.511)
Sebuah hotel brand new milik grup Accor dengan desain interior minimalis modern (beroperasi pada pertengahan 2004), sehingga fasilitasnya masih gress!

Hotel Villa Condulmer (5*), Via Preganziol, 1 - 31020 Mogliano - Treviso (tel: +39.041.5972700) Sebuah butik hotel yang dibangun pada abad ke-16 dari gedung eks-biara yang berhalaman luas.Cocok buat Anda yang ingin menikmati romantisme klasik khas Eropa.

Agar tidak kehilangan sedikitpun gemerlap keindahan dan romantisme Venice, terutama di malam hari, menginap tepat di ‘jantung’ kota Venice bisa dijadikan alternatif. Konsekuensinya, untuk menuju hotel di daerah ini, tidak ada pilihan lain kecuali menumpang vapporeti bersama-sama barang bawaan Anda. Beberapa hotel yang bisa dijadikan pilihan bagi Anda untuk bermalam di ‘jantung’ kota Venice adalah:

Bauer Hotel (5*), San Marco 1459 – 30124 Venice (Tel: +39.041-520.7022)
Berlokasi di daerah paling strategis dan bergengsi seantero Venice dan dikelilingi oleh kanal-kanal yang menjadi perlintasan gondola.

Hotel Giorgione (4*), SS. Apostoli, 4587 - 30131 Venice (tel: +39.041-522.5810)
Terletak dekat dengan Ponte de Rialto, pusat keramaian dan hiburan di Venice baik siang dan malam.

 

Where to eat

When in Rome, do as the Romans do. Begitu kata pepatah kuno yang menyarankan agar sebagai pendatang berusaha menyesuaikan diri dengan adat istiadat dan budaya masyarakat lokal. Khusus ketika berada di Venice, saya punya pepatah sendiri: When in Venice, eat as the Venetians do!

Hal paling menarik dalam traveling adalah kesempatan untuk mencicipi berbagai jenis makanan khas daerah kunjungan yang seringkali memiliki citarasa berbeda dari makanan di negeri sendiri. Saya teringat ucapan Paul Van Landeghem, seorang teman asal Belgia yang doyan traveling tentang ‘asli tidaknya’ citarasa makanan sebuah resto di berbagai tempat asing yang dikunjunginya. Ketika sebuah resto dipenuhi oleh para pendatang, maka citarasa makanan yang disajikan resto tersebut bisa dipastikan sudah diolah sedemikian rupa hingga sesuai untuk lidah konsumen internasional. Jadi, jika Anda ingin mencicipi makanan asli suatu daerah, pergilah ke resto atau cafe yang pengunjungnya kebanyakan penduduk setempat.

Di Venice, ada beberapa resto/cafe yang bisa Anda kunjungi untuk mencicipi ‘the real Italian cuisine’, di antaranya:

La Feluca Ristorante, Calle della Mandola 3648, San Marco–Venice
Terletak beberapa meter dari komplek La Fenice Opera House. Terkenal dengan makanan khasnya, risi e bisi (rissoto yang dicampur berbagai jenis kacang). Padukan dengan segelas fragolino, sejenis wine beraroma strawberry khas Venice.

Le Bistrot de Venise, San Marco 4685–Venice
Sebuah resto yang dijalankan turun-temurun, dikenal memiliki resep makanan tradisional yang sudah berusia enam ratus tahun yang secara eksklusif dijual hanya di resto ini. Terkenal akan berbagai olahan sea-food segarnya yang senantiasa menggunakan minyak zaitun. Meski harganya terhitung cukup mahal (12.75 – 29.50 Euro/jenis makanan), resto ini selalu dipenuhi pengunjung.

Tidak ada salahnya jika Anda mencicipi sandwich khas Italia yang banyak dijual di pinggir jalan. Sandwich yang dalam bahasa Italia dikenal sebagai tramezzini ini memiliki berbagai jenis fillers, mulai dari yang full sayuran dengan Italian dressing yang terasa asam di lidah hingga yang full-meat yang terdiri atas campuran berbagai jenis potongan daging asap.
Jangan lupa mencicipi es krim di kedai Gelateria Nico yang terletak di daerah Canale della Giudecca, meski di saat udara sedang dingin sekalipun. Biarpun harganya agak mahal (3—7  Euro/cone), akan menyesal kalau hal yang satu ini terlewatkan begitu saja....

Watch out !

Seperti halnya kota-kota lain di seluruh dunia yang menjadi daerah tujuan wisata, kriminalitas merupakan hal yang perlu diwaspadai ketika Anda berkunjung ke Venice. Sebagai pendatang, seringkali kita tidak tahu seluk beluk daerah sekitar; apalagi di Venice yang memiliki ribuan ‘jalan tikus’ yang saling-silang dan berkelok-kelok.

Jika kebetulan Anda bertemu dengan serombongan anak kecil berusia antara 7—12 tahun yang menawarkan barang dagangan berupa aneka suvenir, segeralah menyingkir. Acapkali, mereka bakal mengerumuni Anda dan membuat Anda merasa bingung karena mendadak berada di tengah-tengah kepungan anak kecil yang memaksa membeli barang-barang dagangan mereka.

Beware, justru di saat Anda ‘sibuk’ menghadapi penawaran yang bertubi-tubi itulah, mereka beraksi dengan cepat. Jangan heran jika sejurus kemudian, Anda menyadari bahwa tas Anda sudah sobek, handphone sudah raib, atau bahkan kamera digital yang Anda gantungkan di leher sudah lenyap tak berbekas. Dan, ketika Anda bermaksud mengejarnya, mereka segera berpencar ke jalan-jalan kecil yang ada di sekitarnya.

Untuk itu, demi menjaga keamanan, sebaiknya Anda tidak mengenakan perhiasan yang mencolok dan menyimpan uang, paspor, dan dokumen penting lainnya di tempat yang aman dan tidak bisa dijangkau dengan mudah. Tidak ada salahnya Anda membeli money-belt berbahan kain tipis yang bisa dipakai di balik pakaian yang Anda. Bagi kaum pria, hindari menaruh uang pada saku celana bagian belakang, karena ini seringkali menjadi target utama aksi ‘penjahat’ anak-anak tersebut.   

Venice Carnival

Meski dikenal sebagai daerah tujuan wisata sepanjang tahun, waktu terbaik untuk berkunjung ke Venice adalah ketika diselenggarakannya ‘Venice Carnival’. Setiap tahun, acara yang menjadi ajang pesta topeng dan kostum termeriah di dunia ini selalu diadakan pada Februari selama sepuluh hari penuh yang diakhiri dengan acara puncak yang dikenal sebagai perayaan Martedi Grasso (perayaan Mardi Grass). Untuk tahun 2006, rencananya Venice Carnival bakal digelar pada 17—28 Februari.

Kemeriahan festival yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun ini tidak hanya menarik perhatian penduduk lokal, tapi juga telah menjadi agenda budaya sekaligus aset yang tak ternilai harganya bagi dunia pariwisata internasional. Karena itu, ketika tiba waktu perayaan Venice Carnival, para turis mancanegara berbondong-bondong ke Venice untuk menyaksikan kemeriahan suasana kota yang berubah total. Penduduknya—mulai dari pejabat pemerintahan papan atas hingga rakyat biasa—bersolek dengan mengenakan kostum warna-warni yang didesain secara khusus melalui proses pembuatan yang rumit dan membutuhkan daya kreativitas tinggi, serta mengenakan topeng aneka bentuk dan warna yang rata-rata terbuat dari logam tipis sejenis aluminium.

Popularitas aneka topeng yang dikenakan setiap Venice Carnival membuat benda ini sebuah produk yang identik dengan Venice. Kebanyakan para pelancong mancanegara tidak lupa membawa pulang benda ini sebagai oleh-oleh.

Latar belakang penyelenggaraan pesta rakyat ini dipercaya berasal dari pengaruh budaya bangsa Mesir kuno ribuan tahun lalu yang menyelenggarakan parade dan perayaan meriah sebagai bentuk penghormatan kepada Isis, sang dewi kesuburan. Perayaan serupa juga dilakukan oleh masyarakat Yunani pada abad ke-6 SM untuk menghormati Dionysus, sang dewa kesuburan. Masyarakat Yunani merayakannya dengan mengadakan tari-tarian—para penarinya mengenakan topeng dan kostum berwarna-warni.

Budaya ini masuk ke Italia pada abad ke-2 M saat uskup agung Roma waktu itu, St. Telesphorus mengajak masyarakat Italia untuk mengadakan sebuah pesta meriah sebelum tiba masa puasa selama 40 hari yang wajib dijalani oleh kaum Kristiani untuk menyambut hari raya Paskah. Saat perayaan pesta menjelang masa puasa itulah, masyarakat diizinkan untuk berpesta pora, makan dan minum sepuasnya sambil mengenakan pakaian terindah yang dimiliki.   

Meski telah berusia lebih dari 1000 tahun, perayaan karnaval ini pernah dihentikan tatkala Napoleon Bonaparte (Prancis) berhasil menguasai Venice pada 1797. Pesta rakyat ini diselenggarakan kembali pada 1979 hingga saat ini.