KMP Muria sudah di depan mata. Menatap lama ke kulit lengan yang menggosong, perempuan itu berat sekali naik ke kapal feri kembali ke Jepara, untuk kemudian pulang ke Jakarta. Berat meninggalkan Karimun Jawa, katanya.

Hari masih dini ketika pada 28 Januari 2011, seorang perempuan berperawakan kurus tiba di Pelabuhan Jepara. Subuh bahkan belum datang. Tapi, sudah ada satu warung kecil di sekitar pelabuhan yang buka. Ia layaknya kedai 24 jam. Di sana, perempuan itu menunggu waktu sampai jam 8 pagi, saat KMP Muria dijadwalkan melaut menuju Karimun Jawa. Alih-alih tidur, ia memilih mengganjal perut. Indomie rebus rasa Kari Ayam dan segelas teh hangat jadi early breakfast-nya.

Pagi sudah datang. Sunrise di Pelabuhan Jepara cukup terang. Ini penting, karena artinya hari ini akan cerah dan otomatis, ombak bisa lebih tenang. Benar saja, enam jam ke depan dalam perjalanan di feri, angin dan ombak bersahabat. Perjalanan 6 jam di atas feri juga tidak terlalu terasa. Karena dari geladak atas, Laut Jawa tampil ciamik. Satu lagi, angin laut pasti bikin mengantuk. Tidak akan ada bosan, bisa jadi. Yang ada mungkin ketiduran. Tapi, perempuan tadi tidak tidur. Ia malah sibuk membolak-balik halaman buku bersampul merah. Judulnya A9ama Saya Adalah Jurnalisme karangan Andreas Harsono. Baru ketika orang-orang di sekelilingnya serentak turun dari kapal, ia baru sadar sudah merapat di Pulau Karimun Besar. Waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 3 sore.

Oleh karena penasaran soal asal-usul nama Karimun Jawa, perempuan itu bertanya pada penduduk asli, yaitu seorang bapak penjaga warung di pinggir lapangan bola di Karimun. Konon, dulu, Syekh Amir Hasan diusir oleh ayahnya, Sunan Muria. Ia bersama tiga orang pengawalnya lalu melaut dari Jepara. Kemudian, ia menemukan pulau yang dari jauh terlihat kremun-kremun. Kremun itu dalam bahasa Jawa artinya kabut. Karena itu, akhirnya pulau itu dinamakan Karimun. Ditambahkan Jawa, karena letaknya di Laut Jawa.

Dua pisang goreng plus es soda gembira tidak terasa sudah habis dilahap perempuan itu. Rasa penasaran juga sudah lunas. Setelah ini, ia pergi ke penginapan pilihan; Homestay Salami. Ini adalah sebuah rumah dua lantai bercat oranye. Hingga tiga malam ke depan, ia akan menginap di sini. Apa yang bisa dilakukan di sisa waktu di hari pertama di Karimun Jawa? Tidak banyak. Aktivitas di pulau ini berhenti jika malam. Jalanan gelap dan sepi. Para wisatawan juga lebih banyak memilih stay di penginapan; sekadar chit-chat atau cekakakan bareng. Hiburan “besar”-nya hanya setiap malam Minggu, biasa ada pergelaran layar tancep. Camat dan staf yang punya acara.

Jam 8 pagi keesokan harinya, si perempuan sudah duduk santai di dermaga. Udara sejuk sepoi-sepoi. Semakin terang, satu per satu orang mulai datang. Total, ada sekitar 15 orang dalam satu rombongan. ia tampak tenang, senyum sana-sini pada orang-orang itu, walaupun baru kenal sehari di feri. Ini esensi “travel paketan”, katanya. Walau baru kenal, tapi kita akan bareng-bareng sampai tur selesai. Memperbanyak teman, hasil akhirnya.

Hari itu, itinerary-nya adalah Pulau Cemara Besar, Tanjung Gelam, lalu Menjangan Besar. Karena semua orang dalam paket ini tidak punya diving license, spot yang diarahkan adalah spot snorkeling. Bukan titik-titik diving.

Perahu kayu ini menuju ke Cemara Besar sebagai destinasi pertama. Pasir di pulau ini putih luar biasa dan airnya berwarna hijau turquoise—tanda bahwa perairannya dangkal. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa girang. Mimiknya menggambarkan euforia berlebihan. “Indahnya nggak kalah sama Maldives yang saya lihat di internet,” ia bilang.

Perempuan itu bersegera menceburkan diri, lengkap dengan pelampung, fin, dan google. Untuk Cemara Besar, yang ditonjolkan adalah air laut jernih dan pasir putih. Sampai sekitar 200 meter dari pantai, dasar laut adalah pasir. Sehingga, jika dilihat dari kejauhan, pesisir pantai Cemara Besar jadi berwarna turquoise jernih.

Tanjung Gelam, tujuan setelah Cemara Besar, mirip dengan pulau sebelumnya. Tapi, pulau ini lebih berkarang-karang dan berbatu-batu. Kejernihan air dan pasirnya? Tidak jauh berbeda dari Cemara Besar. Bedanya, jika Cemara Besar sama sekali tidak ada hiburan, Tanjung Gelam punya banyak pohon kelapa. Pohon kelapa? Ramai-ramai bersama rombongan, perempuan kurus tadi bisa menikmati buah kelapa muda. Tidak cukup satu, ia kelihatan mengambil lagi buah yang kedua.

Sedikit soal Tanjung Gelam, ia tidak ada di peta raksasa yang bisa Anda lihat, baik itu di Pelabuhan Jepara atau di Karimun Jawa. Sebab, Tanjung Gelam adalah pulau yang sama dengan Karimun Besar. Jadi begini, Pulau Karimun Besar itu literally besar. Perempuan itu baru tahu, setiap sisi pantai atau bagian pulau tertentu itu punya nama sendiri-sendiri, seperti si Tanjung Gelam.

Yang jadi destinasi terakhir hari pertama perjalanan adalah Menjangan Besar. Di sini, agendanya adalah mengunjungi penangkaran hiu dan snorkeling (lagi). Melihat hiu-hiu yang besarnya mulai dari lengan orang dewasa hingga sepanjang 1 meter, perempuan itu terlihat bergidik. Sebagian rombongan memilih mencoba terjun ke kolam penuh hiu itu. Tapi, ia tidak. Ia hanya duduk-duduk di pinggiran kolam, memotret sesekali jika hiu-hiu yang lincah itu tampak di dekatnya.

Khusus terumbu karang dan kehidupan laut, Menjangan Besar masih lebih cantik daripada Cemara Besar. Tapi, si perempuan sedang tidak ingin memerhatikan apa-apa saja makhluk hidup yang ada di dalam laut Cemara Besar. Snorkeling terlalu kalah dengan tawaran lain yang lebih menggiurkan; menikmati gerak-gerik hiu dan penyu di penangkaran.

Hari pertama berjalan menyenangkan. Perjalanan di perahu kayu pun cenderung aman. Senja yang ditawarkan sore itu cantik pula. Hari ini bisa dibilang berjalan mengesankan. Perempuan itu menanti, apa yang akan ditawarkan Karimun besok.

Ia kembali sudah ada di dermaga jam 8 pagi. Semalam hujan. Perempuan ini berpikir, “Apa besok ombak jadi tinggi karena malam lalu hujan?” Tapi, pemandangan ombak dari kejauhan cukup tenang dan menenangkan. Tapi ia masih terusik. Pikirannya melayang ke beberapa minggu lalu, ketika banyak wisatawan terdampar di Karimun Jawa. Beritanya ada di mana-mana, terdengar bahkan sampai Jakarta.

Sembari menunggu rombongan lengkap, ia menghampiri dua penduduk asli, mengajak mereka ngobrol. Keningnya berkerut-kerut dan kedua mata yang dibingkai kacamata ber-frame hitam memicing. Yang disodori perbincangan adalah Bambang berusia 50 dan Ismail yang umurnya 16 tahun. Mereka nakhoda kapal kayu yang ia gunakan selama di Karimun.

Bambang dan Ismail ganti-gantian bicara, sahut-sahutan dengan si perempuan; saling melengkapi cerita. Kata dua nakhoda itu, cuaca Karimun Jawa seminggu sebelum kedatangan si perempuan memang tidak terlalu bagus. Angin kencang, sampai bikin ketinggian ombak mencapai 4–7 meter. KMP Muria, satu-satunya kapal Jepara-Karimun Jawa yang terjadwal datang, tidak berani menyeberang. Kapal Perintis rute Semarang-Karimun Jawa juga tidak berani melaut. Apalagi, speedboat. Tidak tanggung-tanggung, beberapa transportasi laut itu tidak datang sampai dua minggu.

Di dermaga, ditemani angin yang seliweran, ia masih berbincang dengan Bambang dan Ismail. Ismail dengan dialek Jawa yang medhok cerita, hampir seratus orang terdampar di pulau ini. Sekitar 30-an orang dari paket tur yang ia bawa.

“Karimun jadi ramai,” Ismail tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya pas berkata itu. Tapi sepersekian menit kemudian, mimiknya berubah prihatin, “Tapi kasihan juga. Kebanyakan dari mereka kehabisan uang. Di sini nggak ada ATM. Adanya cuma kantor pos.” Perempuan itu menyimak. Ismail melanjutkan, “ Untungnya ya, ada pengertian dari yang punya penginapan. Orang-orang itu bisa bayar setengah, dapat potongan harga. Dari Pak Camat juga ada bantuan beras.”

Lalu, perempuan itu jadi punya pertanyaan lain, “Sebenarnya waktu paling tepat untuk datang ke Karimun, tanpa takut cuaca buruk itu kapan?” Bambang kali ini bicara. Menurutnya, Januari itu memang cuaca paling buruk. Paling ramai itu, pas liburan sekolah, sekitaran Juli-Oktober, ketika musim cerah.

Yang tadinya ia menunggu orang-orang dalam rombongan berkumpul, keadaan berbalik. Mereka jadi menunggu si perempuan kelar ngobrol dengan Bambang dan Ismail. Tidak enak sudah ditunggu, si perempuan menyudahi obrolan, dan membiarkan rombongan bisa segera melaut. Destinasi hari ini adalah Pulau Tengah. Hari ini akan berada di seputar snorkeling, makan siang ikan bakar kakap merah, dan tentu saja, kelapa muda.

Pulau Tengah adalah pulau yang memiliki penginapan berbentuk panggung, tepat di atas laut. Selain penginapan apung itu, masih ada penginapan di dalam pulaunya dengan bangunan yang didominasi kayu-kayuan. Sejauh beberapa pulau yang sudah ia datangi selama di Karimun Jawa, Pulau Tengah adalah pulau yang paling bersih dan paling menggairahkan. Masih dengan pasir putih-halus dan air laut yang jernih, tidak akan pernah puas rasanya menikmati keindahan itu. Foto-foto bahkan video juga tidak bisa memuaskan.

Sambil membawa Canon SX100 IS, ia memilih untuk mengelilingi pulau; hunting foto, tidak sengaja menemukan bulu babi, dan duduk-duduk di pasir bersih menunggu senja. Ini senja terakhir yang bisa ia nikmati di Kepulauan Karimun. Besok pagi, KMP Muria sudah menjemput, membawanya kembali ke Jepara.

Menit-menit selanjutnya menghabiskan banyak video dan foto, perempuan itu masih tidak puas memanjakan mata menikmati keindahan Pulau Tengah. Mendengus kecil menatap kulit lengan dan kaki, ia sudah tidak peduli lagi pada kulitnya yang gosong ndak karuan.

Walau masih betah, perempuan itu harus pergi dari Tengah. Dalam perjalanan dari Pulau Tengah menuju Karimun Besar, di tengah-tengah laut, ia kembali ngobrol dengan anak buah kapal kayu yang lain. Namanya Feri, berusia 20. Feri juga ikut repot ketika banyak wisatawan terdampar di Karimun. Kebanyakan dari orang-orang itu kerap mengeluh tidak bisa pulang. Sebagian besar memang pekerja. Kalau mahasiswa mungkin masih bisa bolos.

Agak berbeda dari apa yang dikatakan Bambang dan Ismail, menurut Feri, di Karimun ada bank, tapi hanya Bank Muamalat. Jadi, para wisatawan itu harus pinjam rekening orang Karimun untuk ambil uang. Feri asyik cerita lagi. Dulu pernah juga kejadian begini. Maksudnya, para wisatawan terdampar. Sekitar 2008. Waktu itu, Karimun sudah lumayan ramai. Banyaknya yang terdampar hampir sebanyak ini juga. Nah, dulu itu malah sampai dikirim bantuan dari kapal perang Angkatan Laut.

Si perempuan mengangguk-angguk tanda paham. Belum kelar, ia bertanya apa yang sebenarnya kekhasan Karimun Jawa. Soal kuliner, penduduk asli Karimun sendiri bingung apa makanan khas Karimun. Yang jelas, mereka pencinta makanan laut—lebih karena daerah yang mereka diami adalah kepulauan dan kebanyakan penduduknya nelayan. Soal oleh-oleh pun, mereka bingung. Sampai tahu-tahu Feri bilang, suvenir khas Karimun itu ada tongkat, setigi, dan hiasan-hiasan, kalung-kalungan. Tongkat Karimun khusus terbuat dari dewandaru, nama kayu. Dulu, tongkat Syekh Amir Hasan terbuat dari dewandaru. Keunggulan dewandaru, ia kuat, tahan lama, dan harus selalu berpasangan. Kalau cuma satu, bisa bahaya, kata Feri. Sementara, setigi berfungsi untuk penawar racun. Ia berwarna hitam, berbentuk kayu. Lebih sering digunakan untuk 'menawar' bisa ular.

Agak bosan dengan kegiatan snorkeling yang berulang-ulang selama beberapa hari kemarin membuat perempuan itu punya mimpi. Jika suatu hari kembali lagi ke Karimun Jawa, ia harus sudah mengantungi diving license. Maka, otomatis, spot yang diarahkan akan jauh lebih cantik. Bukan berarti titik snorkeling di Karimun jelek. Beragam sponge, terumbu karang, bintang laut, anemon, ubur-ubur, juga beragam jenis ikan (clown fish, pari, sampai tongkol terbang) bisa ditemui. “I'll be back, someday,” benak perempuan itu.

Perjalanan berakhir dan KMP Muria bersandar di Pelabuhan Jepara. Perempuan itu mampir ke warung kecil yang sempat ia datangi sebelum ke Karimun. Kali ini, ia tidak sendirian, tapi bersama 15 teman seperjalanan. Kembali, ia memesan Indomie rebus rasa Kari Ayam dan teh manis hangat. Selagi lahap menyantap Indomie yang dicampur irisan cabe rawit itu, suara keras memanggilnya, “Atre!” Ini panggilan untuk absen. Saya menghampiri.

 

Fast Track:
Homestay Salami: 0813 263 88561 (Pak Anto)
Homestay Hamfah: 0813 25161 000, 0297 312125

 

Contact the writer at astri.apriyani@mediasatu.com
Follow her on Twitter