Tang Shien: Tetesan Darah Penuh Doa
March, 21st 2011 | by Martin Johnindra | 0
Cap Go Meh tak bisa dipisahkan dari ritual Tang Shien, ritual peminjaman tubuh manusia oleh Dewa-Dewi dalam memberkati umat manusia.
Photo by: Dokumentasi Istimewa
Tengah hari, di sebuah Klenteng di kawasan Roxy, 15 hari sesudah perayaan Tahun Baru Imlek. Kepala seorang laki-laki ditutupi kain hitam. Laki-laki itu bergeming. Puluhan pasang mata mengarah padanya, menunggu sesuatu. Ada sorot tegang, ada sorot penasaran. Beberapa orang berpakaian putih-putih menabuh genderang, membangun nuansa mistis. Mereka lantunkan nyanyian dalam bahasa China.
Beberapa menit kemudian, kain penutup itu disingkap. Laki-laki itu sontak menari. Tangan meregang, kaki terangkat. Sorot matanya nanar menjelajah sekitar. Tubuhnya gemetar dengan peluh bercucuran. Ia menari, juga kesurupan.
***
[photo3]
Tahun Macan berganti Tahun Kelinci. Kemeriahan Tahun Baru Imlek mulai memudar. Warga Jakarta secara umum sibuk menjalani kehidupan masing-masing. Kesuksesan dan kemakmuran hidup di tahun yang baru selalu menjadi harapan abadi.
Di tengah geliat Jakarta, sebuah kesibukan lain terjadi di sebuah Klenteng, di gang kecil Jalan Duri, Jakarta Pusat. Klenteng bernama Lo Cia Bio ini sibuk mempersiapkan perayaan hari pasca tahun Baru Imlek, Cap Go Meh. Hari istimewa ini hadir setiap tanggal 15 pada penanggalan Cina, yang merupakan saat munculnya bulan purnama pertama di tahun yang baru.
Klenteng Lo Cia Bio telah berdiri setengah abad lebih. Ia didirikan oleh para perantau asal Manado dan Gorontalo, Sulawesi Utara. Awalnya, klenteng ini hanya sebuah rumah pribadi milik pemuja Dewa Lo Cia. Sosok Dewa yang diagungkan ini menjadi Dewa para umat di Klenteng tersebut atau kerap disebut Dewa Tuan Rumah. Dewa Lo Cia ini tak hanya dikenal sebagai pelindung anak-anak, ia juga bisa mengobati berbagai penyakit serta bisa memberkati umat yang kesulitan dalam hidup.
***
[photo2]
Eddy Loho, yang kerap disapa Koh Eddy, keluarganya adalah salah satu pendiri Klenteng Lo Cia Bio. Ia merupakan sosok tak terpisahkan dari Klenteng Lo Cia Bio. Sejak 1996 dirinya telah menjadi Ketua Bidang Persembahyangan. Namun, sejak pensiun barulah ia benar-benar mendedikasikan dirinya untuk kehidupan Klenteng. “Saya mengabdi meneruskan pengabdian Oom saya, salah satu pendiri Klenteng ini. Saya juga merangkap pendiri generasi ke-dua, karena pendiri generasi pertama sudah meninggal.”
Sebagai Ketua Bidang Persembahyangan, segala hal yang berhubungan dengan sembahyang menjadi kewajiban. Klenteng Lo Cia Bio memiliki tiga ritual besar, yakni ulang tahun Dewa Lo Cia, ritual hari sembahyang untuk para arwah agar mendapat tempat yang baik di alam lain, serta Cap Go Meh sebagai ritual terbesar. “Hari itu Dewa-Dewi memberi berkat kepada seluruh manusia dan semua makhluk (hidup).”
Cap Go Meh tentu jadi ritual rutin di Lo Cia Bio. Namun, tahun ini suasananya akan berbeda. Klenteng Lo Cia Bio, yang biasanya hanya merayakan Cap Go Meh dalam lingkup internal, kini menerima tamu. Mereka berasal dari tujuh Klenteng sahabat, antara lain Fat Cu Kung Bio dari Jakarta Barat dan Hok Hien Bio dari Kudus, Jawa tengah. Semuanya ingin merasakan makna sesungguhnya dari ritual ini.
Cap Go Meh sendiri tak bisa dipisahkan dari ritual Tang Shien, ritual peminjaman tubuh manusia oleh Dewa-Dewi dalam memberkati umat manusia. Peminjaman tubuh ini mempermudah manusia dalam ‘bertemu’ langsung dengan Dewa-Dewi dan bermohon agar dimudahkan dalam hidup.
Djufri Sondakh, pria berayahkan Manado-Cina dan ibu asal Gorontalo-Arab adalah seorang yang tubuhnya kerap dipinjam para Dewa-Dewi. Kehidupannya memang dekat dengan Tang Shien. Ia generasi ke-lima dalam keluarga yang menjadi Ki Tong (pelaku Tang Shien). Djufri terjun menjadi Ki Tong sejak 2000.
Keputusan menjadi seorang Ki Tong bukan tanpa hambatan. Semua bermula di 1997 kala Dewa Lo Cia memilihnya tatkala sedang ada sembahyang di Lo Cia Bio. Kala itu Dewa Lo Cia ‘menoleh’ ke arahnya dan menunjuk dirinya. Sang Dewa berujar bahwa sudah saatnya bagi Djufri untuk bertugas. Awalnya ia menolak dan kabur selama tiga tahun. Hidupnya sedikit demi sedikit hancur. Usaha jual beli mobil yang dijalaninya turut hancur. Keinginan sang Dewa akhirnya disampaikan lagi oleh Eddy kepada dirinya. Ini sudah saatnya bagi Djufri mengemban tugas sebagai Ki Tong. Djufri akhirnya menerima tugas tersebut.
Eddy mulai melatih dan mengkarantina Djufri di Lo Cia Bio selama 72 hari. Selama itu ia melakukan puasa dengan tidak memakan semua yang bernyawa dan ‘berhawa panas’, seperti bawang putih. Ia hanya makan sayuran, termasuk tahu dan tempe. Makanan-makanan ini dipilih agar keseimbangan diri dari dalam turut terjaga.
Lulus karantina awal bukan berarti ‘ujian’ selesai. Mulai saat itu Djufri harus menjadi insan yang baru. Kehidupan duniawi yang bersifat hura-hura bukan lagi haknya, tidak boleh ada lagi ego dalam dirinya. “Kalau keakuannya keluar, Dewa yang ada di dalam diri kita mulai menjauh.”
***
Dibandingkan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh tidak terlalu besar gaungnya. Tahun Baru Imlek merupakan tradisi turun temurun. Masyarakat China yang sudah berpindah agama pun masih tetap merayakan. Sedangkan, Cap Go Meh adalah sebuah ritual keagamaan, penganut Buddha.
Nilai dan makna Cap Go Meh terasa jauh lebih mendalam. Dewa-Dewi secara khusus hadir dalam ritual Tang Shien. Eddy adalah penanggung jawab yang ‘mengundang’ mereka turun ke bumi. “Tidak semua orang bisa. Kita harus bermohon ke Tuhan YME, areal Klenteng juga harus disterilkan.” Sebelum melakukan, ia pun harus puasa dengan menjadi vegetarian, dikarantina, dan membaca kitab-kitab suci bersama para Ki Tong.
Mereka tidak boleh berhubungan dengan keluarga. Eddy akan membersihkan tubuh mereka dengan air suci yang dibuatnya. Jiwa dan raga para Ki Tong harus dibersihkan hingga tubuh mereka siap ‘menyambut’ Dewa-Dewi.
***
Kamis, 17 Februari, suasana meriah terasa di Jalan Duri, Jakarta Pusat. Spanduk “Selamat Datang Para Undangan/Simpatisan/Tee Cu – Ni Cu/Umat Lo Cia Bio – Jakarta” menghiasi dua sisi jalan.
Ujung gang sudah ramai dengan kumpulan warga yang menantikan perayaan. Lo Cia Bio, sejak 2006, telah mengadakan ritual arak-arakan keliling kawasan Roxy, melalui Cideng dan Ketapang. Ini simbol kesatuan masyarakat di Jakarta, di sana tampak pula Ondel-Ondel yang siap ikut dalam perayaan ini.
Karpet merah terbentang dari ujung gang hingga Lo Cia Bio. Laksana ‘penunjuk jalan’, karpet ini menyambut tetamu agung yang datang. Deretan lampion juga menghiasi gang ini. Warna merah di mana-mana.
Beberapa saat kemudian, suasana syahdu khas rumah ibadah terasa di sisi depan Klenteng. Deretan joli, perlambang kendaraan Dewa-Dewi yang dipakai membawa patung Dewa-Dewi telah tertata rapi. Bau dupa merebak, tercium siapa pun yang datang. Umat dan tetamu memadati area teras dan dalam Klenteng. Upacara persembahyangan dimulai.
Semua dimulai dengan pai, sebuah salam penghormatan kepada Tuhan YME dengan menghadap ke arah depan. Selanjutnya, pai menghadap ke altar di tengah- tengah Klenteng. Mereka menghormati Dewa Lo Cio, sang tuan rumah.
Matahari kian meninggi, Djufri dan tiga rekan Ki Tong lain menyiapkan diri untuk ritual Tang Shien. Mereka mulai ‘tidak sadar’. Diajak ngobrol takkan menanggapi. Mereka mulai tak tahu apa yang sedang terjadi. Umat yang ingin mendapat berkat satu persatu mulai memasuki dan memadati sisi tengah Lo Cia Bio.
Eddy mulai mengundang Dewa-Dewi. Ia akan menghalau jika roh-roh yang tak diundang turut hadir. Keempat Ki Tong, termasuk Djufri, ditutup wajahnya dengan patkoa. Patkoa inilah yang akan mencegah roh-roh halus turut hadir dan membuat ritual gagal.
Para Ki Tong bergeming. Puluhan pasang mata mengarah padanya, menunggu sesuatu. Ada sorot tegang, ada sorot penasaran. Beberapa orang berpakaian putih-putih menabuh genderang, membangun nuansa mistis. Mereka lantunkan nyanyian dalam bahasa China.
[photo4]
Beberapa menit kemudian, kain penutup itu disingkap. Mereka sontak menari. Tangan meregang, kaki terangkat. Sorot matanya nanar menjelajah sekitar. Tubuhnya gemetar dengan peluh bercucuran. Mereka menari, juga kesurupan.
Dewa-Dewi telah merasuki tubuh. Mereka mengangkat hio menghadap ke depan, arah pintu masuk Klenteng, untuk menghormat kepada Tuhan YME dan Dewa-Dewi lainnya. Suara nyanyian dan tabuhan gendang terus bergema.
Djufri mengambil pedang. Dengan menghadap arah depan, arah Tuhan YME, ia menyabet-nyabet punggung dengan pedang. Dewa yang hadir dalam tubuhnya hendak ‘menyiksa’ diri untuk meringankan dosa-dosa manusia.
Tabuhan gendang dan nyanyian masih membahana. Pedang itu lantas dipakai untuk menyayat lidah. Darah mengalir dan menetes. Deretan umat langsung berbaris di sekeliling para Ki Tong. Saat-saat bagi Dewa-Dewi memberkati secara langsung telah tiba.
Darah itu digunakan untuk membuat hu, semacam doa yang ditorehkan pada kertas. Djufri menulis hu sesuai keluh kesah kehidupan dari umat yang bermohon kepada Dewa dalam tubuhnya. Umat ada yang perlu berucap tentang masalahnya, ada pula yang diam saja, namun keduanya langsung dijawab dengan torehan hu di kertas. Ada juga umat yang hu-nya ditulis di badan, semua sesuai perintah sang Dewa.
[photo7]
Antrian umat terus mengular. Para Ki Tong juga sesekali berbicara. Mereka umumnya berkomunikasi dalam bahasa Hokkian.
Pemberkatan tak hanya terjadi di Lo Cia Bio. Seorang Ki Tong sempat berlari keluar Klenteng diikuti beberapa orang berpakaian putih yang mengejarnya. Di ujung gang, ia kembali membuat hu yang ditulis di kertas dan dibakar di lima titik penjuru. Ini artinya Dewa-Dewi memberi berkat kepada seluruh umat manusia agar hidup damai sejahtera. Mereka juga memberi jaminan akan kelancaran jalannya ritual Cap Go Meh selanjutnya. Rombongan arak-arakan dapat bernafas lega, arena sudah direstui oleh Dewa-Dewi.
Ritual Tang Shien berlangsung hingga sekitar satu jam. Ia berhenti seiring umat yang sudah selesai mengadukan problem kehidupan pada Dewa-Dewi. Keriuhan mulai memendar. Lo Cia Bio, sementara, istirahat.
Djufri kembali sadar. Terlihat peluh memenuhi tubuhnya. Ia telah ‘kembali’. Tak lama berselang, Djufri mendudukan tubuhnya di dekat pintu Klenteng sambil menikmati segelas minuman es. “Saya bersyukur Kon Cok (Dewa) mau pakai saya untuk bantu umat.”
Contact the writer at martin.johnindra@mediasatu.com
Follow him on twitter
Tagline
Astri Apriyani (astri.apriyani@mediasatu.com / @atre7)
Bayu Maitra (bayu.maitra@mediasatu.com / @bayumaitra)
Nevy Elysa (nevy.elysa@mediasatu.com / @nevy_elysa)
0 Comments
Be the first to comment.