Jika Anda mencari tempat untuk mengeksploitasi anak, well ini bukan tempatnya. Mengapa?

Nama Otti Jamalus sudah tak lagi asing di kalangan pemusik. Setelah malang-melintang selama 16 tahun di dunia yang begitu ia cintai, sang penyanyi jazz ini mendirikan sebuah tempat mengembangkan kemampuan musik pada anak. Diakui Otti Jamalus sendiri, OJ Music House justru ingin merangkul mereka yang begitu mencintai musik namun tak memiliki skill yang cukup. Bedanya lagi, tak serta-merta mengedepankan nama dan predikat sertifikasi luar negeri atau hal lain yang biasa ditonjolkan sebuah lembaga pendidikan, OJ Music House mengandalkan metode pengajaran yang didapat Otti dari bangku pendidikan yang dienyamnya dulu di IKIP (kini: UNJ).

Di bangunan tiga lantai yang terdiri dari 10 kelas ini, anak mulai usia tiga tahun akan dibangun fondasi bermusiknya untuk kemudian dijadikan pegangan. Bukan basic skill pada genre musik tertentu melainkan basic skill yang dapat dijadikan patokan untuk jenis apa pun. Ada delapan program yang dibuka; vokal, piano, bass, gitar elektrik dan akustik, flute, saksofon, biola, dan drum yang diajarkan oleh 19 tenaga pengajar lulusan UNJ. Namun, untuk saat ini, kelas saksofon dan bass hanya bisa diikuti oleh orang dewasa.

Agar kemampuan anak terus terpantau setiap ruangan dan alat musik yang ada di OJ Music House dapat merekam permainan masing-masing anak. Dari hasil rekaman tersebut, anak bisa dievaluasi perkembangannya. Bahkan, setiap empat bulan, murid dan pengajar di sini akan mengadakan konser mini. Dari sini, orang tua bisa memahami apa saja yang telah didapat sang anak. Salah kalau Anda berpikir di sini tiap program dibatasi periodenya karena peningkatan level program akan mengikuti perkembangan anak. Dengan kata lain, anak tidak digodok untuk berkembang di luar kapasitas tapi untuk mengokohkan apa yang seharusnya dimiliki untuk bermusik baik secara mental maupun skill.

Seperti yang dikutip dari perkataan Otti Jamalus, “Musik adalah multivitamin sekaligus suplemen bagi anak”. Sehingga orangtua hendaknya memberikan space dan kepercayaan kepada mereka. Tumbuhkan rasa cinta anak terhadap musik, bukan menimbulkan trauma akibat paksaan.

 

Contact the writer at fika.tania@mediasatu.com
Follow her on Twitter