"Gue orangnya pendiam! Dari kecil gue pemalu, nggak berani ngomong di depan orang, dan minderan. Pokoknya cemen banget, deh, ha-ha!"

Saat melihat buku bersampul kuning dengan gambar seorang pria berpakaian burung, Putri Ningrum langsung tergoda untuk membelinya. Apalagi, saat tahu bahwa sang penulis adalah Indra Herlambang.


Kicau Kacau itulah judul buku perdana dari seorang Indra Herlambang yang justru mengawali kariernya bukan di bidang cuap-cuap melainkan desain grafis.  Ini adalah kumpulan cerita pendek yang telah diterbitkannya di beberapa majalah. Di dunia presenter, kepiawaiannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tapi, seperti apa sebenarnya Indra Herlambang? Simak cerita laki-laki yang sangat menyukai K-Pop dan pernah tergabung dalam salah satu boy band asal Bandung ini.


Sebenarnya Kicau Kacau itu apa?
Ini adalah kumpulan curhat dari penulis galau yang selama ini pernah diterbitkan di beberapa media tentang semua hal yang menarik tetapi kadang terlupakan. Awalnya telah terkumpul 189 tulisan lalu dipilih lagi menjadi 50 tulisan. Namun, karena ada kesamaan tema, maka akhirnya dipisah jadi beberapa bab, yaitu Gaya Hidup, Relationships, Jakarta, Indonesia, Kesehatan Jiwa, serta Keluarga.

Awalnya menjadi desainer grafis, penyiar radio, dan peresenter. Lalu, sejak kapan kegiatan tulis-menulis itu bermula?

Gue percaya kalau orang yang suka membaca itu pasti suka menulis. Nah, sebenarnya gue jadi penulis kolom dulu baru presenter. Bahkan, gue menulis kolom sudah dari 8 tahun yang lalu. Tapi, kalau mau ditarik lebih jauh lagi, saat gue tergabung dalam ekstrakulikuler majalah sekolah di SMA-lah yang benar-benar membuat gue jadi cinta menulis.

Ada rencana buat naskah film lagi atau cerpen?
Sedang. Tapi, sekarang gue bikin sendiri. Ada dua tawaran dengan genre drama dan salah satu diangkat dari novel. Tapi, gue pengen banget bikin film horor. “Pocong Ngesot Keramas” atau apa, kek! Ha-ha! Kalau cerpen, sekarang lagi proses untuk Koin Sastra HB Jassin mendatang.

Lebih suka cerpen, esai, novel, atau naskah film?
Semua ada kenikmatannya masing-masing. Tapi, sebenarnya gue lebih suka esai.

Apakah loe juga sering diserang writer’s block?
Sebenarnya itu alasan yang gue ciptain karena malas. Ha-ha. Sebenarnya, kalau memang lagi niat, ya, tinggal nulis aja pasti semuanya juga keluar.

Isu yang sedang menarik perhatian loe?
Gue nggak pernah tertarik pada suatu hal dalam rentang waktu yang lama. Tapi, sesuatu yang menarik tidak akan pernah habis karena kehidupan juga belum berhenti jadi masih banyak banget yang bisa dikupas.

Sekarang, buku apa yang sedang loe baca?
Mike Gale! Lucu banget tapi belom selesai. Semacam chick lit tapi khusus untuk cowok, The Importance of Being Bachelor. Ceritanya tentang kakak beradik yang takut berkomitmen. Mungkin kalau cewek yang baca akan sedikit sakit hati tapi sebenarnya musti dibaca!

Gak ada niat untuk bikin chicklit?
Gak pernah bisa. Makanya cocok banget judulnya curahan hati penulis galau karena masih bingung dengan konsep penulisan gue. Bahkan, untuk Kicau Kacau pun gue udah melewati tiga penerbit tapi dibilang terlalu cemen serta kurang dalam dan serius. Dan, terakhir, Gramedialah yang cocok.

Lalu kapan, dong, buku keduanya keluar?
Ha-ha! Untuk yang pertama ini aja gue udah cukup lega karena ini adalah hutang dari bertahun-tahun lalu. Kalau loe liat, di laptop gue banyak banget draft yang belum selesai karena gue males. Ha-ha! Tapi, benar juga apa kata editor gue, yaitu antara buku pertama dan kedua jedanya tidak boleh terlalu jauh. Makanya di 2011 ini, gue akan serius sama si Kicau Kacau dan buku kedua. Gue orangnya memang ekspektasinya nggak terlalu tinggi udah bersyukur banget dengan semua ini. Apalagi sekarang Kicau Kacau juga sudah sampai cetakan yang keempat.

Apakah benar sekarang koleksi profesi loe akan bertambah dengan menjadi penari?
Ha-ha! Kalau nari, sih, gue cuma iseng aja!

Lalu, ada apa antara Indra Herlambang dengan K-Pop?
Nah, ini beneran gue suka mungkin karena gue suka semua jenis musik. Memang, meskipun radio loe punya genre tapi di radio gue semua musik ada karena radio anak muda. Lagipula, sebenarnya gue nggak suka ngotak-ngotakin musik. Bahkan iPod gue isinya acak kadut banget mulai dari Cici Paramida, Titi Kamal, Bjork, sampai classic music!
Awalnya, gue benci banget karena ganggu. Tapi, mungkin gue nggak suka karena nggak kenal. Akhirnya, gue beli beberapa CD mereka. Ternyata gue suka karena bahasanya enak dan lucu meskipun gue nggak ngerti. Selain itu, mereka package-nya lengkap!

Kapan, dong, bikin boy band?
Aduh, gue lagi nunggu SM*SH aja deh, ha-ha! Gue waktu di Bandung pernah punya boy band dengan nama Ardan Boys dan kemudian bubar karena sibuk.

Lalu, apa goal selanjutnya yang berhubungan dengan dunia tarik suara dan tari-menari?
Gue biasanya melakukan sesuatu yang gue yakin masih berhubungan dan masih bisa dikejar ketinggalannya. Kalau nyanyi, gue harus belajar dulu yang benar! Walaupun, gue pernah latihan vokal dan bikin demo tape tapi gue masih belum mau! Kalau ada kesempatan, gue mau bikin musik organik yang akustik dan sedikit folk! Ha-ha!

Nah, kalau cita-cita yang masih belum terwujud?
Gue udah janji dari tahun 2009 untuk nge-direct film pendek kepada Djenar Maesa dan Richard Oh kalau naskah Mereka Bilang Saya Monyet mendapat penghargaan. Nah, ternyata setelah penghargaan berhasil disabet tapi sampai sekarang belum terwujud padahal naskahnya sudah ada yang berkisah tentang hubungan bapak dan anak.

Seperti apa keluarga di mata loe?
Mereka sangat ngebebasin gue dan sangat suportif. Kebanyakan anak-anak dilarang makanya mereka jadi penasaran. Sementara, gue dikasih kesempatan untuk mencoba mulai dari minuman keras sampai ke disko. Jadi, makanya gue malah malas dan nggak merasa seru lagi karena semuanya dibebasin. Malah, waktu SMP, gue diajak ke disko sama kakak atas perintah bokap dan nyokap. Makanya, pas temen-temen gue ngajak ngumpet-ngumpet, ya, gue gak terlalu excited karena sudah tahu sebelumnya.

Sebenarnya Indra Herlambang, tuh, orangnya seperti apa?
Gue orangnya pendiam! Dari kecil gue pemalu, nggak berani ngomong di depan orang, dan minderan. Pokoknya cemen banget, deh, ha-ha! Nah, gue bisa jadi seperti ini karena percaya semua orang punya banyak layer dan mungkin bisa jadi semuanya. Tapi akhirnya, karena seseorang sudah nyaman dengan layer paling atasnya, makanya ia gak pernah mengeksplor yang bawah-bawahnya. Ya, turning point gue waktu di SMA dan ikut ekskul majalah sekolah. Saat itu pula, kemampuan menulis gue mulai terasah. Setelah itu, gue ikut pertukaran pelajar, masuk Seni Rupa ITB, dan jadi penyiar radio. ‘Pecahlah’ gue. Ha-ha!

 

Contact the writer at putri.ningrum@mediasatu.com
Follow her on Twitter