HOT SEAT

Atiqah Hasiholan & Rio Dewanto

June, 28th 2011 |  by  Hanindyo Suropati  | Comments: 0

Dua sejoli ini memang sedang naik daun, tidak heran jika mereka punya jadwal yang sangat padat. Melaluii cara interview yang berbeda, waktu, serta tempat yang tak bersamaan, Hanindyo Suropati mewawancarai keduanya tentang Payung Merah. Berikut hasil obrolan santai nan singkat den

Caption Caption

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Meski terbilang muda, kiprah Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto patut diacungi jempol. Tak hanya selalu berhasil memerankan berbagai karakter yang berbeda pada tiap karyanya, kali ini film pendek dengan durasi 9 menit yang melibatkan mereka berdua, Payung Merah, berhasil meraih penghargaan dari Asian Short Film Awards di Singapura. Film yang disutradarai Andrew Cung dan Edward Gunawan ini berhasil mengungguli lebih dari 100 film pendek lainnya yang berasal dari 15 negara dan dipilih langsung oleh sutradara kawakan Hollywood, Oliver Stone.

Kenapa kalian berdua mau bergabung dengan film ‘Payung Merah’ apalagi ini adalah proyek film pendek?

Rio: Lebih karena perannya seru sebagai supir taksi dan sebelumnya saya sudah kenal dengan Edward
Atiqah: Ini bukan film pendek pertama saya dan sudah tiga kali kerja bareng Edward . Yang pasti saya excited  di film pendek karena  singkat tapi bisa dapat sesuatu dan punya misi tersendiri. Apalagi untuk film Payung Merah, alasan Edward dan Andry membuat saya semakin yakin untuk main disini. 

Bisa cerita  peran kalian di ‘Payung Merah’?
Rio: Saya berperan sebagai seorang supir taksi yang aktif berbicara pada penumpangnya.
Atiqah: Perempuan misterius yang ingin segera pulang karena merindukan ayahnya.

Jadi, apa kesulitannya bermain di film pendek dengan persiapan yang cukup singkat pula?
Rio: Kesulitannya lebih di pendalaman karakter aja. Apalagi gw belum pernah berperan jadi supir taksi. Dalam waktu yang sesingkat ini loe harus bisa nyampein ke penonton tentang bagaimana jadi supir taksi.
Atiqah: Tidak ada yang signifikan karena saya hanya terlibat pada saat reading dan shooting yang hanya dilakukan dalam waktu 12 jam.

Lalu, berapa lama pendalaman karakter yang kalian lakukan?
Atiqah: Jaraknya sekitar 2 minggu dari peran itu ditawarkan hingga akhirnya shooting. Jadi kurang lebih selama 2 minggu itu saya berlatih bagaimana terlihat misterius tetapi 'tidak mencurigakan'.
Rio: Sekitar satu bulan. Selama itu saya sering naik taksi dan ngajak ngobrol supir taksinya sekaligus mempelajari dengan saksama beberapa karakter dari mereka.

Tantangan terbesar main di film pendek?
Atiqah: Kalau sebagai pemain dibandingkan film feature pastinya lebih menantang feature, tapi kalau untuk penulis dan sutradara mereka punya tantangan yangg berbeda dari feature. How to deliver a story and convince people in a very short time!
Rio: Karena waktunya singkat, yaitu satu hari, jadi agak lebih capai ya, ha-ha-ha!

Apa rasanya film yang Anda perankan mendapatkan penghargaan di kancah
Internasional?

Rio: Senang sekali! Apalagi, di film ini menurut saya akting gw biasa-biasa aja, ha-ha-ha!
Atiqah:Bangga, pembuktian bahwa insan film Indonesia bisa menunjukan gigi dan diakui secara internasional. Sekarang tinggal bagaimana Indonesia itu sendiri sebagai industri mampu bersaing.

Apakah Anda ada misi pribadi saat memutuskan untuk bermain di ‘Payung Merah’?

Atiqah: Misi saya dalam seni peran adalah: dapat memerankan berbagai jenis genre dan karakter yang berbeda-beda dengan meyakinkan. Dan keseempatan saya untuk melatih dan membuktikan bahwa saya bisa memerankan karakter dalam film pendek.

Kita semua tahu kalau kalian juga sering wira-wiri di layar lebar, terutama Rio Dewanto yang juga terkenal sebagai “Raja FTV”. Nah, kalau untuk kalian pribadi, apa perbedaannya antara film feature, film pendek, ataupun FTV?
Rio: Sebenarnya, semua sama saja. Apalagi dari masing-masing ada proses pembelajaran. Kalau di film pendek saya bisa belajar bagaimana proses syuting yang cepat, kalau di FTV saya belajar untuk bisa tahu perasaan penonton. Lewat film layar lebar saya bisa belajar mengeksplor karakter saya lebih dalam. Kalau disuruh milih, menurut saya ketiganya sih sama saja!
Atiqah: Sama seriusnya. Film feature atau pendek pasti selalu saya sikapi dengan serius.

Lalu, apa target kalian selanjutnya?
Atiqah: Alhamdulillah sampai sejauh ini saya dipercayakan untuk memerani berbagai macam karakter yang berbeda-beda; Pelacur (Jamila dan Sang Presiden), mahasiswi aktivis (Ruma Maida), hingga terakhir sebagai perempuan Bajo (The Mirror Never Lies). Jadi target saya adalah mendapatkan peran dengan karakter yang berbeda di film selanjutnya.
Rio: Sampai sekarang saya masih nargetin untuk serius di tarik suara. Awalnya saya punya band. Nah, akhirnya gara-gara keterbatasan waktu, makanya jadi ambil langkah untuk solo. Sudah ada tiga lagu sih dengan genre rock, tapi saya belum percaya diri, he-he-he!

Bisa berikan sedikit spoiler untuk peran kalian di film ‘Arisan 2’?
Atiqah: Yes, Alhamdulillah berbeda lagi karakter yang saya perankan. Di Arisan 2, saya akan berperan sebagai perempuan kaya yang dying to be exist di dunia sosialita.
Rio: Ini adalah peran yang memang ingin saya perankan sejak lama, tapi, masih rahasia, ha-ha-ha!









Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.