BRay. Atilah Soeryadjaja
June, 27th 2011 | by Tim Redaksi Area | Comments: 0
Membawa tradisi ke dalam kemasan kekinian
Photo by: Dokumentasi Istimewa
BRay. Atilah Soeryadjaja, pencetus ide, penggarap naskah, kostum, dan sutradara Matah Ati. Keinginannya menghidupkan kembali sosok pahlawan wanita di tanah Jawa pada abad 16 akhirnya sukses membawanya kepada petualangan suguhan spektakuler, sendratari dalam kemasan kekinian.
Gelaran spektakuler yang disuguhkannya Mei silam di Gedung Teater Jakarta nyatanya tak lahir dengan mudah. Butuh dua setengah tahun persiapannya. Dalam rentang waktu tersebut BRay Atilah Soeryadjaya mesti menggali kembali literatur dan fakta mengenai sosok Matah Ati dan Raden Mas Said, pendiri wangsa Mangkunegaran. Atilah bolak-balik ke perpustakaan, bertanya pada narasumber dan pakar dari dalam dan luar negeri, mencari para penari, bahkan mendesain sendiri kostum. Itu belum termasuk mencari tandem 'edan' yang sanggup mengejawantahkan idealismenya. Tepat, dia bertemu dengan Jay Subiyakto. Kolaborasi keduanya sukses melahirkan padu-padan pentas tradisi dalam sentuhan kekinian dan teknologi modern. Tanpa meninggalkan pakem. Lebih jauh mendengar curhat Atilah pada area tentang Matah Ati:
Bagaimana awalnya sampai tercetus ide gelaran sendratari Matah Ati ini?
Saat ke Singapura, kira-kira pada 2008, saya membaca headline news di koran. “Solo is heaven for Terorist”. Saat itu saya marah sekali. Nah, sejak itu saya bermaksud mengembalikan image kota ini. Tercetuslah ide untuk menjadikan Solo sebagai sentra budaya. Apalagi saya sendiri adalah orang Solo. Kembali ke Solo, saya merenung, masuk perpustakaan, dan ngobrol dengan para sesepuh.
Saat kecil, saya sudah mendengar tentang sosok 'Patah Ati' atau 'Matah Ati'. Memang ada dua versi nama tersebut. dan memiliki arti yang sama. Sama-sama dari Desa Matah, Wonogiri. 'Matah' sendiri artinya melayani. Kalau dalam acara perkawinan, biasanya ada anak-anak kecil yang mengipasi sang pengantin. Nah, itu yang namanya 'matah'. Jadi, nama kecilnya adalah Rubiyah dan setelah diambil istri oleh Raden Mas Said menjadi Matah Ati. Artinya 'melayani hati'.
Saya akhirnya melakukan riset. Saya sampai minta data-data ke seorang profesor di Michigan, Amerika Serikat, yang juga melakukan riset tentang Matah Ati ini. Ada juga narasumber dari beberapa sejarawan, termasuk Sudharmono dan Sukamto yang khusus dari keraton. Juga sumber-sumber dari Belanda. Dari semuanya itu saya tidak salah dengan sosok Matah Ati ini. Ia adalah seorang gadis desa biasa, penari, juga panglima perang prajurit perempuan yang kemudian dipersunting oleh pangeran dan mengikuti perang pemberontakan sang suami selama 16 tahun. Satu hal juga yang harus dicatat, Matah Ati adalah seorang jurnalis. Dia mencatat semua perjalanan tersebut dalam buku hariannya selama 16 tahun. Jadi dari hari ke hari selama 16 tahun tersebut diceritakan dalam buku harian.
Semua orang tentu tahu bahwa perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo ini sangat luar biasa sampai akhirnya mendapatkan kekuasaan Mangkunegaran. Semua itu karena perlawanannya terhadap Belanda. Nah, karena Belanda kewalahan dalam menghadapi Pangeran Samber Nyowo ini akhirnya terjadi perjanjian Kandigo. Dari perjanjian ini Pangeran Samber Nyowo diberikan kekuasaan Mangkunegaran. Selama ini orang hanya tahu Pangeran Samber Nyowo, Raden Mas Said. Tapi, siapa sosok di belakang keperkasaan Raden Mas Said ini? Siapa orang yang membantunya? Tak ada yang tahu. Nah, salah satunya adalah Rubiyah ini.
Bagaimana ceritanya bertemu dengan Jay Subiyakto?
Setelah sekian lama meriset dan mencari narasumber, saya bertanya-tanya, kira-kira siapa yang cocok dengan pemikiran saya? Saya inginnya menampilkan Matah Ati dalam kemasan tradisi bercampur dengan kontemporer. Sebenarnya tradisi dan kontemporer sama saja, hanya butuh komunikasi untuk menyambungkan ruh-nya. Setelah bertanya-tanya, semua orang bilang bahwa orang yang cocok dengan ide spektakuler dan gila-gilaan adalah Jay Subiyakto. Sebelumnya saya sudah tahu Jay, tapi sekedar kenal dan belum pernah kerjasama. Nah, Saya lantas ketemu dan bicara dengan Jay. Dia langsung klik. Saya ajak audisi ke Solo dan Jakarta dengan banyak penari yang datang. Dari audisi sampai proses terakhir Jay selalu mengikuti. Namun, kita tidak pernah dialog apa yang menjadi keinginan kita masing-masing. Tidak pernah. Saya membebaskan pemikiran dia dan dia membebaskan pemikiran saya. Saya bikin kostum kayak apa dia monggo saja. Namun memang yang mengejutkan adalah ketika panggung miring itu datang. Kami semua shock! Para penari, kan, biasanya 'tancep bumi'. Ini bagaimana mau menari? Apalagi di situ ada gerakan salto, loncat, muter, dan lain-lain. Dengan lantai miring seperti itu, ketetesan keringat saja bisa licin dan terpeleset. Jadi tantangan dan kesulitan dalam menari menjadi sangat luar biasa. Para penari sempat ngedumel. Tapi, setelah semuanya terbiasa, begitu panggung miring diberangkatkan dan latihan dengan lantai flat malah kehilangan ruhnya. Mereka malah kangen. Kapan, ya, latihan di panggung miring lagi? Ha-ha.
Ada beban moral ketika menampilkan cuplikan sejarah leluhur Anda?
Benar itu kekayaan yang sekian lama terpendam, walaupun harus mengeluarkan nanti di buku acara akan ada fakta dan sejarahnya, mungkin akan menyinggung dan membuka luka lama. Tapi ini hanya sejarah. Itu, kan dulu. Dan saya merasa tidak terbebani. Saya justru merasa menghormati para leluhur saya dengan mengenengahkan atau shared kepada anak-anak muda bahwa ada pejuang yang sedikitnya mereka memiliki kepedulian pada bangsa ini pada masa lalu. Untuk memerangi keangkaramurkaan Belanda juga mencari keadilan. Sosok ini benar-benar berjuang karena melihat desanya hancur lebur. Akhirnya dia berperang melawan belanda. Saya tidak memiliki beban secara moral. Menurut saya ini penghargaan kita kepada pejuang. Saya shared pada masyarakat yang belum tahu. Di Aceh memang ada Cut Nyak Dien dan di Jawa abad 16 pun ada kesetaraan gender dan diapun pemimpin perang.
Perlu meminta izin kepada pihak keraton untuk mementaskan kisah ini?
Tidak juga. Ini, kan, leluhur saya sendiri. Hahaha. Dan, sejarah tersebut menjadi bagian bangsa ini. Siapapun boleh memetik pelajaran dari keraton mana atau daerah manapun. Ya, tentu saja saya meminta izin kepada para sesepuh karena mereka juga narasumber. Saya juga membawa semua anak-anak (pemain dan penari) napak tilas dan ke makam Matah Ati. Ini bukan konotasi klenik, ya. Justru saya mengajak mereka bernapak tilas ke situs-situs atau artefak-artefak lokasi dahulu para leluhur berperang untuk menyerap semangat dan energi mereka dahulu. Saya minta mereka membayangkan bagaimana perjuangan mereka, naik-turun bukit dan berperang. Sehingga pada saat mereka pentas, menari, dan berekspresi semangat tersebut muncul dalam diri para pemain dan penari. Selain itu pula karena proses di Matah ati sendiri bukan semata soal kepenarian tapi olah rasa atau nata rasa yang saya ajarkan kepada mereka.
Disajikan secara keseluruhan dalam bahasa Jawa. Tidak ada keinginan meng-Indonesia-kan demi menghindarkan kesalahfahaman dari penonton yang akhirnya cuma menikmati visual semata?
Tidak. Semuanya sudah ada di buku program. Dalam buku tersebut sudah ada sinopsis dan penjelasan scene per scene yang menerangkan sedemikian rupa supaya mereka bisa menangkap maksud pementasan ini. Kalaupun sampai penonton tidak mengerti, kami sudah mengusahakan penyajian cerita yang mudah dimengerti alurnya, dari gerakan sampai perpindahan scene-nya. Itu belum lagi dengan kehebatan visual yang disajikan Jay serta kostum, dan lain-lainnya.
Anda merangkap produser, sutradara, penulis naskah, bahkan penata kostum. Kewalahan?
Sejujurnya saya kepepet. Saya sendiri mengambil peran sebagai produser, sutradara, penulis, bahkan kostum. Itu semua karena kepepet. Kami juga sudah mencoba mengambil sutradara lain, tapi beda persepsi dan konsep. Soal kostum, kami sudah mengajak designer, dari yang terkenal hingga yang tidak terkenal. Tapi, hasilnya malah seperti ketoprak. Jadi, akhirnya karena sudah kepepet, 3 bulan sebelumnya saya menangis sejadi-jadinya. Saya masuk perpustakaan dan melakukan riset lagi tentang semuanya itu. Pokoknya tidak keluar pakem, tapi bagaimana bisa dibawa ke ruang modern dan cepat. Anak-anak ini—apalagi banyak dari mereka yang double scene—di setiap scene-nya diharuskan bisa mengenakan kostum secara cepat, kurang lebih 3 menit untuk mengganti pakaian. Bayangkan bagaimana mengenakan kostum yang demikian lengkap hanya dalam 3 menit. Untuk latihan memakain pakaian saja mereka perlu 2 bulan. Akhirnya saya melakukan banyak penyiasatan untuk memudahkan. Bahkan ada scene terakhir yang benar-benar total dodot, tanpa risleting dan peniti lengkap dengan paes, konde, dan lain sebagainya harus bisa dikenakan hanya dalam 6 menit. Sampai akhirnya saya harus memanggil pakar dodot untuk membantu menyiasati. Nah, dari situ kami belajar banyak hingga akhirnya bisa menampilkannya secara sempurna.
Memilih pantas di Singapura lebih dulu. Rencananya malah akan tur asia. Nah, desakan apa yang mendorong akhirnya Matah Ati pentas di Jakarta?
Jay sendiri sebenarnya tidak setuju pentas di Jakarta dulu. Jay maunya keliling dulu baru home coming di Jakarta. Tapi karena begitu banyaknya e-mail yang masuk ke saya—sampai-sampai banyak yang memaki dan mencap kami sombong—akhirnya saya jadi berpikir. Padahal rencana semula kami inginnya tur asia termasuk Malaysia dahulu. Tapi, bisa dibayangkan reaksinya kalau pementasan ini singgah duluan di Malaysia, bisa-bisa lebih banyak yang marah terhadap kami. Saya fight dengan Jay agar bisa tampil di Jakarta lebih dulu. Akhirnya saya yakinkan Jay dan berhasil. Tapi sejujurnya, main di jakarta bebannya lebih besar. Kenapa? Kebiasaan penonton kita lebih menyoroti kekurangan suatu pementasan ketimbang kebagusannya. Kalau ada 90 persen yang bagus dan 10 persen yang tidak bagus, ya yang 10 persennya itu yang dibahas. Semuanya indah, namun bila ada satu saja yang cacat maka itulah yang dibicarakan. Penonton kita di sini lebih senang mencari kesalahan atau kekurangan. Memang tidak ada sesuatu pun yang sempurna. Pasti ada kekurangannya. Setiap mata penonton memiliki kualitas masing-masing. Faktor beban lainnya adalah bahwa di sini ada banyak pakar: pakar musik, tari, gamelan, dan lain-lainnya. Saya sudah melakukan semaksimal yang saya bisa, menyajikan apa yang saya tahu. Mereka boleh saja memiliki pandangan masing-masing, tapi inilah pandangan dan pemikiran yang saya punya. Tidak bisa disamakan satu sama lain. Saya yakinkan bahwa saya tidak merusak pakem. Saya hanya memberikan sesuatu yang modern, kontemporer, dan canggih. Semuanya saya lakukan untuk menarik anak-anak muda supaya tidak takut pada tradisi. Membikin mereka bisa memahami tradisi secara kekinian. Jika ini bisa digarap dan suguhkan dengan baik hasilnya akan sangat positif. Bukan instan. Dan bila ditekuni, suguhan tradisi ini bisa menjadi bisnis yang baik juga. Saya bicara seperti ini supaya para pengusaha tidak segan untuk mendukung gelaran tradisi. Tapi juga jangan tradisi-tradisi yang membikin orang mengantuk. Kenapa pengusaha-pengusaha itu enggan memberi sponsor? Karena yang disajikan yang begitu-begitu saja. Nah, saya ingin mengubah image ini. Tradisi bisa dibawa kekinian dan menjadi bisnis. Tolong ingatkan ini kepada para pengusaha.
Dengan tampil di Jakarta seperti malah membuktikan tabiat penonton kita yang lebih semangat menyaksikan pentas yang lebih dulu sukses di luar negeri?
Iya itu. Penonton kita lebih penasaran menyaksikan pentas yang sukses di luar negeri. Nah, begitu juga dengan Matah Ati. Belum tentu kalau waktu itu Matah Ati premiere di Jakarta, mereka pasti akan bilang, opo kui? Giliran Matah Ati sukses di luar barulah mereka semangat. Begitu juga dengan gelaran tradisi yang dibawa orang asing dari luar seperti teater atau balet, padahal ngantuk dan nggak ngerti, tapi tetap saja dibilang bagus karena nama terkenal atau orang asing yang rambutnya putih. Itu juga yang saya agak kesal. Nah, bagaimana tradisi kita bisa mendunia. Digarap dengan benar.
Kalau Jakarta Teater belum ada, kira-kira akan dipentaskan di mana di Jakarta ini?
Saya tidak tahu akan pentas di mana, hehe. Jakarta Convention Center (JCC)? Tapi, kabarnya JCC untuk nembang kurang bagus akustiknya. Saya sih kepinginnya di Monas. Hahaha. Waktu itu saya pernah bermimpi, kapan kita bisa show di Esplanade. Itu mimpi saya, lho. Tahun 2005. Waktu itu saya nonton Miss Saigon. Saya berpikir pasti akan sangat luar biasa bila Indonesia bisa show di sini. Sebenarnya banyak yang melamar untuk show di sana, tapi tidak diterima karena standar kualitasnya sangat tinggi. Kita saja latihan dipantau terus. Tidak dilepas sama sekali oleh pihak Esplanade.


Comments
Be the first to comment.