HOT SEAT

Sujiwo Tejo

July, 11th 2011 |  by  Tim Redaksi Area  | Comments: 0

Kartolo Mbalelo: Simbolisme Pemberontakan dan Ideal Indonesia

Kartolo Mbalelo: Simbolisme Pemberontakan dan Ideal Indonesia Kartolo Mbalelo: Simbolisme Pemberontakan dan Ideal Indonesia

Photo by: Dokumentasi Istimewa

Sujiwo Tejo, sang dalang edan, yang kini rajin tampil dengan balutan jas dan topi layaknya 'Don', tengah disibukkan dengan 'mainan' baru, menyiapkan sajian bertajuk Kartolo Mbalelo yang akan dipentaskan 2-3 Juli mendatang di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta Pusat. Di sebuah rumah makan, Putri Ningrum dan Hapis Sulaiman dengan penuh dag-dig-dug menemui 'si mbah' yang Agustus mendatang akan berulang tahun yang ke-48 dan memaksanya berkisah.


Siapa tak kenal polah Sujiwo Tejo? Sosok yang 'nyeleneh' dalam laku dan kritis—bahkan seringkali kelewat kritis—dalam menanggapi segala dinamika yang terjadi di masyarakat. Sujiwo dengan segudang titel ini bukan orang yang sembarangan. Sikap kritis dan kreativitasnya lahir sebagai wujud kepeduliannya kepada bangsa ini. Demikian halnya dengan rencana gelaran Kartolo Mbalelo yang akan dihelat bulan mendatang. Ini menjadi salah satu cara Sujiwo merealisasikan secara nyata kapasitasnya sebagai seniman.

Siapakah Kartolo Mbalelo?
Kartolo adalah seorang legenda yang masih hidup dan tinggal di Surabaya. Kalau di musik, mungkin ia bagaikan Chrisye. Jadi, sebenarnya Kartolo biasanya tampil berempat dengan Ning Kastini (istrinya), Cak Basman, dan Cak Sapari. Kami berpikir untuk membuat sebuah cerita, Kartolo Mbalelo. Mbalelo itu artinya 'membangkang'. Jadi Kartolo Mbalelo adalah pembangkangan Kartolo!

Ada alasan tertentu untuk mementaskan Kartolo Mbalelo?
Ini adalah rangkaian dari Indonesia Kita. Setelah Yogyakarta ada Maluku dan kemudian ludruk (Jawa Timur). Nah, kalau mau mementaskan ludruk dengan seorang legenda, nggak ada pilihan lain selain Kartolo. Mungkin ada Kirun. Tapi, Kirun tidak pure ludruk, kadang di wayang kulit, wayang orang, dan ketoprak. Selain itu, Kirun juga tidak selama Kartolo jam terbangnya. Lalu, dari Agus Noor, saya dapat judul Kartolo Mbalelo. Kenapa 'mbalelo'? Karena, ludruk adalah seni politis. Umumnya, lakon-lakon ludruk adalah lakon pemberontakan.Tapi, tanpa janjian dengan Agus Noor, muncul Kartolo Mbalelo.

Apakah Kartolo Mbalelo merupakan simbolisme pemberontakan ala Sujiwo Tejo terhadap sekitar?

Ya! Saat saya kuliah, kira-kira 1983, saya membentuk Unit Loedroek yang masih bertahan sampai sekarang. Kenapa saya membuat itu? Karena saat itu lembaga yang mengumpulkan mahasiswa, Dewan Mahasiswa, telah mati disebabkan oleh peraturan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef, yaitu NKKBK (Normalisasi Kehidupan Kampus melalui Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau lebih dikenal sebagai program sterilisasi kampus dari politik). Lalu, saya berpikir bahwa tidak ada lagi kesenian yang mencerminkan pemberontakan selain ludruk. Jadi, saya akhirnya membuat ludruk. Nah, saya hanya mau bilang, mungkin memang nasib saya adalah sebagai pemberontak! Saya di keluarga, kampus, dan politik juga memberontak!  Mungkin pemberontakan memang paling dekat dengan saya!

Lalu, bagaimana proses kreatif di balik rencana gelaran Kartolo Mbalelo?
Ludruk itu kesenian rakyat sehingga proses penyutradaraannya beda dengan teater dan seni modern. Ludruk sangat kerakyatan sehingga harus dihargai semua pemikiran tiap-tiap orang. Di sini, sutradara lebih tepat disebut sebagai pengatur laku dan meskipun saya punya konsep tetapi mereka tidak bisa langsung menjalankan. Semua orang, mulai dari Kartolo, penari Remo, waria Jakarta termasuk Merlyn, Mahfud MD, hingga Pramono Anung, dan saya sebagai sutradara punya ‘bahan’. Di sini, tugas saya sebagai penengah. Proses kreatifnya adalah nge-mix antara keinginan saya dengan mereka! Contohnya, Kartolo tidak ingin ceritanya tentang pemberontakan. Namun,  akhirnya setelah dicari jalan tengah, saya menyarankan ia untuk memberontak, tapi di akhir ditutup dengan kembali menata rumah tangga masing-masing karena percuma menggugat semua lembaga. Sampai detik ini belum latihan secara gabungan. Dan, saya harus ke Djaduk Feriyanto untuk proses kreatif dan lain sebagainya. Semua ini sangat penuh improvisasi, jadi harus agak telaten! Draft naskah ada, tapi tidak detil. Musikal ludruk-an bak musikal Broadway dengan semangat ndeso, ha-ha-ha!

Apa kesulitannya?
Nggak sulit! Karena saya dari kecil di ludruk dan melihat bagaimana Bapak saya menyutradarai. Mungkin untuk orang-orang yang dilahirkan di dunia seni modern akan kaget, tapi saya tidak!

Apakah ada konflik?

Ada sih pasti. Apalagi saya memiliki 'dua kaki', di dunia seni tradisional dan modern.

Apa ada pertimbangan dalam menentukan partisipan yang tergabung dalam Kartolo Mbalelo?
Islam saja bermacam-macam. Jawa, apalagi! Kesenian dan kebudayaan yang ada beragam. Secara garis besar yang ingin ditampilkan adalah tentang kebudayaan Jawa Timur. Misalnya, Surabaya dan Malang saya satukan dengan Tari Remo dan di ujung yang ada pengaruh Bali, juga saya tampilkan. Ada beberapa kesenian yang tidak bisa saya gantikan! Ide besarnya adalah Malam Jawa Timuran, supaya penduduk Jakarta tahu kalau kesenian Jawa Timur itu sangat beragam, tak terkecuali dengan kuliner. Di acara tersebut kuliner kami angkat juga.

Ini bisa dibilang sebagai usaha untuk mengangkat gambaran ideal Indonesia melalui cara sederhana?
Iya. Saya dekat dengan Sofyan Wanandi, pengusaha. Dia selalu bilang, “pemerintah itu tidur saja, deh.” Karena pertumbuhan justru berhasil dicapai oleh sektor swata. Lalu, di program Kick Andy, mereka selalu menampilkan orang-orang yang melakukan tindakan riil. Saya selalu iri. Maka, melalui Indonesia Kita, daripada protes dengan Indonesia yang kebarat-baratan, cara inilah yang kami tempuh. Meskipun saya tetap protes, tapi ini bagian dari tindakan konkrit kami. Kami seniman dan bukan pengusaha, maka inilah cara kami untuk membuktikan kebanggaan kami akan Indonesia.

Secara pribadi, bagaimana Anda melihat Indonesia?
Saya selalu ingin punya presiden seperti Naga Bonar. Kerjaanya setiap hari cuma merobek-robek surat kerjasama Internasional karena semuanya  sebenarnya merugikan kita. Kalau saya ke Vietnam atau Thailand, di sana banyak sekali produk dalam negeri. Kenapa kita tidak bisa? Presiden harus yang kurang ajar sehingga kita bisa bangga! Bayangan saya tentang Indonesia, tuh, warganya seharusnya bersikap jujur, blak-blakan, dan jangan munafik! Seperti tabiat warga Jawa Timur atau Jawa Majapahit yang egaliter dan saat belum kalah dengan Belanda! Jawa sekarang malah sering menjadi bahan ejekan! Padahal dulu tidak seperti itu! Nah, itulah bayangan saya tentang Indonesia dan warganya di masa yang akan datang.

Menurut Anda masih adakah harapan untuk Indonesia yang lebih baik?
Agak susah, tapi masih ada! Indonesia sekarang masih terlalu simbolik! Misalnya, hormat bendera itu haram atau tidak. Lalu, Garuda atau merah putih ditaruh di pantat itu nggak boleh sementara kalau tidak mengindahkan sila-sila dari Pancasila boleh! Cara berpikir kita masih di permukaan! Karena kita masih munafik! Saya tidak tahu berapa tahun lagi, tapi saya optimis kalau suatu hari kita akan menemui suatu titik kejenuhan.

Apakah hal itu yang membuat Anda memilih menjadi  nyeleneh?
Tanpa bermaksud untuk SARA, tapi kita sebenarnya bukan seperti ini. Marilah kita bersama-sama mencari kebudayaan akar. Aslinya, kita semua pasti egaliter. Aku nyeleneh karena mungkin dilihat dari kacamata Jawa Mataram.
Ludruk Kartolo Mbalelo antara lain pasti akan menampilkan yang seperti itu. Ini pertunjukan tradisional bukan on script. Ide yang akan kami sampaikan: ‘yuk kita memberontak tapi secara paradigm!’

Anda tidak ingin menjadi anggota Dewan?

Saya tidak punya bakat. Saya tahu diri cukup hanya menjadi seniman yang tukang ngomong saja lah! Lebih baik sekarang kita ‘main hakim’ ramai-ramai.

Apakah titel nyeleneh kini jadi tuntutan bagi Anda?
Saya punya 4 album dan keempatnya berbeda. Kalau saya hidup dalam tuntutan masyarakat pasti saya akan hidup dalam album ‘Anyam-anyaman’! Nah, coba kalian lihat saja sendiri apakah saya terbelunggu dengan titel nyeleneh! Nyeleneh bagi saya itu sebenarnya sesuatu yang spontan. Saya suka main-main dan nyeleneh ini bagian dari main-main! Mungkin, sekian persen tuntutan, sekian persen kebutuhan, dan sisanya untuk membuat anak-anak saya tertawa, ha-ha-ha!

Pernahkah Anda menemui hambatan dalam kreativitas?
Sering! Terutama, kadang saya terpikir ada gunanya gak semua yang saya lakukan. Tapi, kalau sedang sampai pada titik itu, saya selalu berusaha mengingat salah satu bait dalam sajaknya Goenawan Moehammad, ‘lumut itu akan selalu ada disitu apapun gunanya’. Itu yang selalu memicu saya!
Selain itu, melihat orang-orang yang melakukan tindakan yang konkrit selalu bikin saya minder dan frustasi.

Ada apa antara Sujiwo Tejo dan Twitter?
Selama ini ide muncul dan kita telan sendiri. Melalui Twitter, saya dapat menyebarkan percikan ide tersebut melalui Twitter. Nah, saya juga suka dengan jurus mabuk Jackie Chan dan ingin menerapkannya di Twitter. Celakanya, banyak yang salah tangkap ketika saya sedang ngomong ngalur-ngidul padahal tujuan utamanya adalah Pak SBY.

Target Anda ke selanjutnya?

Saya sedang dibuatkan acara oleh Metro TV “Follow Mbah Tejo” jadi mungkin saya akan mengurus itu.




Comments

Be the first to comment.

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.